Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Pulang..


__ADS_3

Pagi hari nya, kedua orang tua nya sudah meninggalkan kamar nya. Nathan bergerak dari atas ranjang untuk melihat keadaan Helen, Nathan sudah sangat ingin melihat Helen dari kemarin tetapi daddy dan mommy nya malah melarang diri nya.


"Kaki kenapa sakit sekali," ucap Nathan.


Di dalam kamar Nathan sudah bersiap siap untuk pulang ke rumah nya. Ia tidak enak jika diri nya terlalu lama merepotkan keluarga yang benar benar sangat baik pada nya.


"Helen," ucap Nathan.


"Nathan, ada apa?"


"Kau mau kemana," tanya Nathan.


"Mau pulang lah, aku sudah baik kan," jawab Helen.


Nathan mendekati Helen dan langsung memeluk nya, Helen benar-benar terkejut mendapatkan pelukan mendadak dari Nathan.


"Jangan pergi dulu, kamu masih belum baik," ucap Nathan.


"Hey kau berani asal memeluk ku begini."


"Eh maaf." Nathan melepaskan pelukan nya.


"Aku sudah baik baik saja Nathan, bukan nya minggu depan kita akan ke Jepang, jika aku terus berada di sini kapan aku mempersiapkan semuanya"


"Oke kamu boleh pulang, tapi jangan lupa selalu memberikan ku kabar," kata Nathan.


"Hey kau siapa? pacar ku?"


"Calon pacar mu, ingat perjanjian kita kemarin, kamu tidak masalah aku mendekati mu."


"Ya ya ya, Terima kasih Nathan untuk semua nya. Kau pria yang baik, yang hebat, aku telah salah menilai mu," kata Helen.


"Tu tau, hahaha, Helen coba kau pikir pikir, aku tampan, kaya raya, badan ku juga cukup atletis. Apa kurangnya aku, sudah jangan pikir pikir panjang."


"Hahaha ada yang kurang, memang seseorang yang percaya diri itu bagus tapi kalai terlalu percaya diri juga Tidak bagus, nah itu kau terlalu percaya diri, membanggakan diri mu sendiri seolah-olah orang lain itu tidak lebih baik dari mu. Aku akan suka pada orang itu jika seseorang itu membuat ku nyaman, aman dan tenteram," ucap Helen.


"Apa aku termasuk," tanya Nathan.


"Nah coba kau pikir Nathan, jangan sampai membuat ku ilfil." Helen sedikit mengusap wajah Nathan.


Setelah selesai bersiap siap. Mereka berdua pun turun dari lantai atas. Di bawa satu persatu orang berkumpul di ruang makan. Citra melihat mereka berdua turun, padahal ia ingin memanggil mereka berdua untuk sarapan.


"Sarapan dulu sayang," ucap Citra.


"Iya mom." Nathan pura pura sedikit cool dari biasa nya


Di depan Helen, Nathan tidak ingin terlihat manja, ia ingin terlihat pria yang Mandiri.


"Nathan makan," ucap Vino.


"Iya dad, aku mau makan," kata Nathan.

__ADS_1


"Oh iya Helen, jangan memikirkan pekerjaan dulu ya, istirahat dengan baik, nanti setelah semua nya baik baik saja baru lah kalian melanjutkan pekerjaan kalian."


"Siap tuan," ucap Helen.


"Jangan memanggilnya tuan, paman saja," ujar Citra.


Nathan duduk di samping Marvin dan Calvin, sedangkan Helen duduk di antara Wulan dan Nila. Memang tempat duduk antara pria dan wanita di pisah meskipun sudah sepasang suami-istri istri. Semua ini dilakukan agar mereka fokus makan.


"Cie pura pura cool," bisik Marvin.


"Diam kau."


"Manja seperti mu mana mungkin bisa cool."


"Diam Marvin jangan ganggu aku makan."


"Nathan Marvin!!! bisa diam, ini lagi makan." Vino mengeluarkan suara yang lebih tinggi dari biasanya.


"Iya dad." Mereka berdua langsung diam seketika.


Dari kejauhan Stiven berjalan mendekati mereka semua, setelah waktu yang cukup lama akhirnya ia kembali datang ke rumah ini lagi.


"Wah kalian sedang makan," ucap Stiven.


"Dad, tumben," kata Vino.


"Aku kangen pada nya." Stiven mendekati Nathan dan mencium wajahnya.


Sifat cool Nathan yang sudah ia atur tadi langsung meleleh seketika, apalagi kakek nya sendiri yang mencium nya.


"Ba.. baik kek." Nathan benar-benar sangat malu.


"Bagaimana dengan mu Marvin, anak mu baik baik saja kan," tanya Stiven sambil mengusap rambut Marvin.


"Baik dong kek, dia sedang tidur," jawab Marvin.


"Nila ingin nambah anak lagi?"


"Mau kek," saut Calvin.


"Yang si tanya Nila bukan kau Calvin, anak anak mu masih kecil, mau nambah lagi," ucap Vino.


"Hahaha tidak papa kan kek," tanya Calvin.


"Tidak dong, buat anak banyak banyak agar rumah ini semakin ramai," ucap Stiven.


"Dengar sayang, aku lepas itu ya," kata Calvin.


"Kakek enak mengatakan nya, aku yang mengandung nya," protes Nila. Jika sudah seperti ini Calvin pasti benar-benar ingin menambah anak lagi.


Setelah selesai sarapan satu persatu orang pergi menjalani aktivitas mereka masing-masing. Helen juga sudah harus kembali ke rumah nya, ia mendekati Vino untuk berpamitan.

__ADS_1


"Paman aku pulang dulu, Terima kasih untuk semuanya," kata Helen.


"Iya Helen, jangan lupa istirahat, kau naik apa?"


"Nanti pesan ojek saja."


"Tidak perlu, supir akan mengantar kan mu, jangan menolak nya, paman tidak suka."


"Terima kasih paman, oh iya dimana Nathan," tanya Helen.


"Dia sedang bersama kakek nya ntah kemana, nanti paman sampaikan jika kau sudah pulang."


"Iya paman, Terima kasih."


Nathan memang sedang bersama dengan Stiven beberapa menit yang lalu, sekarang ia sudah du dalam mobil yang akan mengantarkan Helen pulang.


"Itu dia maju ke depan," ucap Nathan.


"Iya tuan."


Helen melihat mobil mendekati nya, ia yakin mobil itu yang akan mengantarkan nya pulang. Saat membuka pintu mobil itu Helen melihat Nathan sudah di dalam sana.


"Nathan," ucap Helen.


"Ayo masuk," kata Nathan.


Helen pun masuk ke dalam mobil itu, ia tidak terkejut melihat Nathan yang sudah di dalam sana. Nathan memang sangat misterius.


"Sudah di dalam saja," ucap Helen.


"Hahaha iya lah, aku ingin mengantarkan mu pulang, setelah ini kita mungkin tidak akan bertemu sampai waktu ke Jepang."


"Kau mau kemana," tanya Helen.


"Biasa aku dan kakek ku sudah ada janji, kami akan pergi," Jawab nathan.


"Kau sangat manja dengan kakek mu ya," kata Helen.


"Sebenarnya si tidak, tapi kakek ku memperlakukan ku seperti anak kecil, ya mau bagaimana lagi," ucap Helen.


Sesampainya di rumah Helen. Nathan mampir sejenak, ia ingin mengantarkan Helen sampai masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah tidak papa, aku bisa sendiri, kaki mu sedang sakit," kata Helen.


"Tidak papa, aku harus memastikan calon istri ku baik baik saja."


"Ada ada saja si," kata Helen.


"Kau jangan malu pada ku, aku sudah merasakan dada mu, maaf."


"Nathan jangan membahas nya, aku malu."

__ADS_1


"Sudah aku katakan jangan malu pada ku, ciuman mu sudah aku dapatkan, dada mu juga sudah aku rasakan, hanya hati mu yang belum aku dapatkan," kata Nathan.


"Kau memang ya, seenaknya berkata, di saring dulu kek," ucap Helen


__ADS_2