
Seperti yang Nathan harapkan malam ini benar-benar ia habis kan dengan penuh kenikmatan. Peluh keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua, tetapi hal itu tidak membuat mereka berdua berhenti, tak ada hal yang mampu menghentikan Nathan untuk membuat adik Edward. Satu dua tiga ronde terus berlalu. Helen sudah benar-benar kehabisan tenaga. Nathan membawa nya ntah kemana mana dengan berbagai macam gaya aneh, dari atas, bawa, belakang, samping dan lain sebagainya. Ini memang kesempatan Nathan, jika tidak sekarang mungkin ia tidak bisa mencoba semuanya karena pasti Edward yang akan menganggu.
"Yah aku suka posisi ini benar-benar nikmat. F*ck." Nathan terus menggempur Helen tanpa henti.
Helen membuka mulutnya sambil menggelengkan kepala nya, memang terasa sangat nikmat tetapi ia benar-benar sudah tidak tahan anggota tubuh nya sudah seperti mati rasa.
"Ah sayang," teriak Helen.
Kedua nya jatuh di atas kasur bersama sama. Mereka sampai di puncak indahnya surga dunia Nafas mereka benar-benar sedang tidak beraturan. Nathan menyingkir dari atas tubuh istri nya dan berusaha mengatur nafas nya. Ronde ketiga ini membuat nya sangat lemas, ia rasa ia sudah tidak memiliki benih yang tersisa.
"Aku mencintaimu," ucap Nathan.
"Kamu... kamu benar-benar gila," ucap Helen.
"Hehehe maafkan aku sayang, memang aku gila malam ini, besok kan aku keluar kota, satu minggu sayang," kata Nathan.
"Pergi lah, aku ingin istirahat dengan nyenyak..."
"Hahaha kamu marah sayang, kamu marah pada suami mu yang menggemaskan ini." Nathan menarik tubuh Helen dan menciumnya yang membuat Helen merasa geli.
"Hahaha sayang sayang ya aku tidak marah pada mu sayang, berhenti ah ini sangat geli," ucap Helen.
"Nah begitu dong, oh iya sayang aku akan pergi bersama dengan Cindy," kata Nathan yang membuat Helen menatap Nathan. Ia sangat trauma dengan apa yang terjadi pada nya dulu.
"Kamu ingin pergi dengan nya," tanya Helen.
"Iya sayang, bukan ingin si, tapi memang sudah ketentuan perusahaan, dia perwakilan perusahaan dari keluarga nya."
Helen langsung diam seketika, masalahnya dulu saja Helen belum mendapatkan penjelasan, kenapa Nathan tiba-tiba Bertunangan deng Cindy dan lain sebagainya, rasa percaya nya masih belum bisa 100 persen tubuh.
"Sayang," ucap Nathan.
__ADS_1
"Iya??"
"Bagaimana kamu mengizinkan ku," tanya Nathan.
"Tidak," jawab Helen.
"Tidak? kenapa?" tanya Nathan.
"Harus ada alasan nya, aku tidak mengizinkan mu, aku tidak kamu bertemu dengan nya dengan alasan apapun."
"Sayang ini urusan pekerjaan aku tidak bisa tidak pergi, aku sudah berjanji pada daddy ku."
"Kamu memilih istri mu atau pekerjaan mu. Jika kamu pergi sendiri aku tak masalah, jangan dengan nya aku tidak bisa, aku masih trauma dengan masa lalu kita. Kamu tau sampai detik ini aku sama sekali belum mendapatkan penjelasan apapun tentang pertunangan mu dengan Cindy. Aku sudah berusaha untuk tidak mengingat nya, karena percuma saja kamu tidak akan mengingat nya, tetapi kenapa kamu malah ingin membuka lama ku. Bukan nya aku sudah pernah mengatakan hal ini pada mu. Aku tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan mu, aku tida pernah ingin mengekang kehidupan mu, satu hal yang aku minta jangan pernah kamu lakukan...
"Sayang....
"Aku belum selesai Nathan.."
"Ya sudah pergi, tapi jangan menyesal jika kamu tidak melihat ku dan Edward lagi."
"Sayang, oke oke aku tidak pergi. Jangan bertengkar malam malam seperti ini, kita baru selesai menggapai indah nya cinta," ucap Nathan.
"Ya sudah jangan membuat masalah," ucap Helen.
"Iya iya sayang maafkan aku, aku tidak akan pergi," kata Nathan.
"Terserah mu, kamu mau pergi atau tidak bukan urusan ku," ucap Helen.
Helen membelakangi Nathan, ia cukup kesal dengan Nathan. Nathan membuang nafas nya dengan kasar. Ini pertengkaran pertama nya dengan Helen setelah menikah.
"Sayang jangan ngambek seperti ini," ucap Nathan.
__ADS_1
"Terserah ku, kau tidak ada hak untuk Mengatur ku," kata Helen.
"Helen aku suami mu, jangan keterlaluan. Ya aku mengaku aku salahkan, aku tidak memberitahu semuanya pada mu sebelum aku mengambil pekerjaan ini, tapi kan aku sudah meminta maaf dan aku tidak berangkat. Jangan seperti ini aku sama sekali tidak suka dengan sikap kekanak kanakan mu," ucap Nathan.
Nathan memakai pakaian nya dan pergi meninggalkan kamar nya. Memang lebih baik ia pergi dari kamar untuk menenangkan perasaan ke dua nya. Dari pada ia semakin bertengkar dengan Helen.
Saat berjalan di dapur Nathan melihat suami Tiara sedang memasak. Bule satu ini terlihat begitu rajin.
"Sedang apa kau," tanya Nathan.
"Kau tidak lihat aku sedang memasak spaghetti, aku lapar," jawab Bryan.
"Bagaimana rasa nya enak tidak?"
"Mana aku tau, aku belum mencoba nya, tetapi aku rasa enak, aku sudah biasa memasak."
"Rajin sekali bule satu ini."
"Hahaha mau bagaimana lagi, istri ku sedang hamil lebih baik aku masak sendiri. Kasihan membangunkan nya, dan sekarang kau kenapa keluar malam malam," tanya Bryan.
"Jangan kepo, aku juga lapar, aku boleh meminta nya," tanya Nathan.
"Boleh. Tunggu sebentar ya," ucap Bryan.
"Kau sering sering lah keluar malam malam begini, aku tak ada kawan bicara. Setelah bertempur aku sangat lapar, pasti aku masak sendiri."
"Hahaha iya iya, aku senang memiliki teman," ucap Nathan.
"Apalagi aku, biasa nya aku sendiri dan sangat merasa bosan, semenjak ada kau lumayan lah. Aku bisa ada teman menonton Bola," kata Bryan.
"Hahaha kalau aku sedang tidak sibuk aku juga suka nonton bola dengan sepupu ku," ucap Nathan.
__ADS_1
"Bagus aku mempunyai teman nonton," kata Bryan.