
Nathan memesankan hotel yang berbeda dari nya, ia tidak mau teman nya itu heboh karena diri nya tinggal satu ruangan dengan Helen, bisa bisa ia menjadi bahan perbincangan teman nya selama berhari-hari.
Setelah selesai menyusun pakaian dan barang nya. Nathan keluar dari dalam kamar nya, ia menunggu Helen yang tidak kunjung keluar dari dalam kamar.
"Kenapa lama sekali, memang wanita itu sangat ribet," ucap Nathan.
Nathan membuka kulkas yang ada di dapur, ia ingin melihat isi kulkas itu, mana tau ada makanan dan minuman yang bisa ia ambil. Memang kulkas itu banyak berisi minuman dingin dan makanan kemasan.
"Nathan." Helen memeluk Nathan dari belakang.
"Jika ingin memeluk ku dari depan saja," kata Nathan.
"Malas nanti otak mu mesum."
"Hahaha mana tau aku jadi ingat pas di hutan itu,x kata Nathan sambil membalik tubuh nya.
"Mau minum apa," tanya Nathan.
"Ada apa, brown sugar," tanya
Helen.
"Ada ini." Nathan memberikan nya pada
Helen.
"Kita mau belanja apa Helen," tanya Nathan sambil duduk di dekat kompor.
"Pertama sayuran yang tahan lama, terus ayam, ikan, seafood, makanan instan dan lain lain lah, kau hanya menemani ku belanja saja."
"Ada syaratnya," kata Nathan.
"Lah syarat apa, kan untuk makan mu juga Helen.
"Cium," kata Nathan.
"Cium apa, no no no," tolak Helen.
"Kenapa tidak," tanya Nathan.
"Kita tidak berpacaran," jawab Helen.
"Oh iya, kenapa kita tidak berpacaran saja," tanya Nathan.
"Kau pikir bisa seenak itu, ayo lah jangan lama lama," ucap Helen.
"Sudah ayo." Tangan Nathan menggandeng tangan Helen.
"Aku ambil dompet dulu," kata Helen.
"Untuk apa? aku ada Helen, kalau jalan dengan mu jangan membawa dompet, itu menyinggung ku," ucap Nathan.
"Tapi aku ti...
"Sudah aku katakan itu menyinggung perasaan ku," ucap Nathan.
__ADS_1
"Iya iya." Helen pun hanya bisa menuruti apa yang Nathan katakan.
Nathan dan Helen pergi ke supermarket terdekat dari hotel mereka. Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Di sana sudah sangat lengkap yang membuat Nathan dan Helen tidak perlu berpindah pindah supermarket.
"Telur," ucap Helen.
"Aku punya dua," kata Nathan.
"Dimana? kapan kamu membelinya," tanya Helen.
"Ini selalu aku bawa, ku dapatkan dari mommy dan daddy ku," jawab Nathan.
"Nathan aku serius, aku tidak bermain main," kata Helen.
"Hahaha maaf, iya iya aku ambil," ucap Nathan.
Setelah mengambil beberapa telur mereka kembali berjalan ke depan. Dari belakang Nathan memeluk Hely yang sedang asik memilih sayur sayuran.
"Ini suka tidak," tanya Helen.
"Apa yang kamu masak pasti aku makan, kamu saja bisa aku makan," jawab Nathan.
Nathan mencium beberapa kali pundak Helen, seperti nya rasa bucin sedang Nathan rasakan saat ini. Dan juga seperti nya Helen sudah terbiasa dengan Nathan yang suka memeluk nya tanpa arah.
"Nathan lepas dong, bagaimana aku bisa memilih sayuran jika kamu memeluk ku begini," kata Helen.
"Hehehe maaf aku selalu merindukan mu," ucap Nathan.
Kegiatan berbelanja ini seperti ajang memperlihatkan kemesraan mereka berdua di publik. Nathan benar-benar sangat manja dah romantis pada Helen, hal itu benar-benar membuat
Helen salah tingkah sendiri.
"Apa ini," tanya Helen.
"Bunga mawar untuk mu, bunga ini pasti insecure pada mu."
"Ha bagaimana bisa?"
"Dia pasti Insecure dengan wanita secantik kamu, bunga mawar saja kalah cantik dan wangi nya dari kamu. Jangankan bunga mawar hampir semua bunga di sini insecure pada mu."
"Aku memang cantik, tapi tidak sampai seperti itu juga Nathan."
"Ay yang menilai kecantikan mu itu bukan diri mu sendiri tapi orang lain."
"Ay??"
"Ayang, di singkat Ay agar tidak lebay," kata Nathan.
"Ayang? kita belum ada hubungan apapun," ucap Helen.
"Tidak papa hitung hitung latihan," kata Nathan.
"Latihan apa, militer," tanya Helen.
"Hahaha tidak lah, sudah belum ay, aku sudah lapar," jawab Nathan.
__ADS_1
"Sudah ayo kita kembali ke hotel."
Setelah selesai berbelanja Nathan dan Helen pun langsung kembali ke hotel tempat mereka menginap. Helen membereskan semua barang yang ia beli ketempat nya agar tidak berantakan. Sedangkan Nathan menanggung Helen untuk mengisi waktu luang nya.
"Jangan Nathan," ucap Helen.
"Ini masak ikan salmon ini saja," kata Nathan.
"Ya sudah sekarang, kamu duduk di sana tunggu aku masak," ucap Helen
"Siap aku ingin mandi dulu, aku sudah gerah," kata Nathan.
Nathan mengecup wajah Helen dan langsung berlari pergi meninggal Helen. Helen tersenyum sambil menggelengkan kepala nya. Ia rasa hal yang menarik dari Nathan adalah sifat nya.
Helen memasak dengan sepenuh hati, jarang jarang ia memasak untuk orang lain, biasa nya ia memasak hanya untuk diri nya atau pun Tiara sahabat nya, kali ini ada Nathan yang beberapa minggu akan selalu bersama nya.
Helen hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja untuk memasak. Ia sudah siap menyajikan masakan nya di meja makan, tatapi Nathan masih belum menunjukkan batang hidung nya. Karena takut makanan nya dingin Helen memutuskan untuk memanggil Nathan langsung.
"Nathan," ucap Helen.
"Masuk pintu nya tidak di kunci," kata Nathan.
Helen pun masuk ke dalam kamar Nathan, ia melihat Nathan sedang bercukur di depan cermin kamar mandi. Helen bisa melihat Nathan karena pintu kamar mandi terbuka dengan sangat lebar.
"Sedang apa si, makanan nya sudah matang," kata Helen.
"Tunggu sebentar, tanggung ketiak ku belum bersih, ini pertama kali nya aku mencukur nya," ucap Nathan.
"Oh ya sudah aku menunggu mu di luar."
"Ay bantu aku," ucap Nathan.
"Ha!!!."
"Iya bantu aku, tolong aku tidak sampai," ucap Nathan.
Helen berjalan mendekati Nathan, ia terkejut melihat Nathan yang benar-benar sangat bersih, jika seperti itu dia sangat tampan sekali.
"Ini bantu Ay," ucap Nathan.
Helen mengambil pisau cukur itu, ia meletakkan tangan nya di dada bidang Nathan dan mulai mencukur bulu yang tersisa.
"P*ting mu berwarna pink nat," ucap Helen.
"Iya seperti wanita aku tidak suka, kata daddy karena aku putih jadi dia berwarna putih pink," kata Nathan.
"Hahaha, seksi tau tidak," ucap Helen.
"Kau suka," tanya Nathan.
"Suka, tubuh mu sudah sangat pas," jawab Helen.
"Hahaha sudah 1 poin lagi ni," kata Nathan.
"Kau tidak malu hanya memakai handuk seperti ini di depan ku," tanya Helen.
__ADS_1
Untuk apa aku malu, kan tidak menampakan aset ku."
"Kau tak malu tapi aku cukup gerah nat. Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria, apalagi melihat tubuh seksi mu," batin Helen.