Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Menikah


__ADS_3

Setelah selesai makan, Cherry dan Helen membereskan semuanya. Sedangkan Nathan dan Riko duduk berdua di ruang tamu. Sebenarnya ada yang ingin Nathan tanyakan pada Riko. Ia takut semuanya terlambat.


"Dia belum kau goyang kan," tanya Nathan.


"Sudah lah, mana tahan aku tidak menggoyang nya," jawab Riko.


"Apa!!! kau serius?? bagaimana mungkin? Cherry mau?"


"Ya mau lah, dia cinta pada pada ku. Kenapa tenang aku pakai pengaman dia tidak akan hamil."


"Enak sekali kau mengatakan nya, dia adik ku, kau merusak nya." Nathan sedikit terpancing emosi.


"Hahaha tidak tidak aku bercanda, aku menjaganya dengan baik, mana mungkin aku merusak nya," ucap Riko.


"Nah begitu dong, aku saja sudah tidur satu kamar tahan kok," kata Nathan.


"Sudah dp saja dulu, setelah itu baru ajak menikah, kalau tidak dapat restu kan sudah terlanjur jadi pasti akan di restui."


"Kau tau hubungan ku dengan Helen seperti mu belum mendapatkan restu, ya kalau sampai tidak dapat restu dp saja dulu. Tapi dia itu sulit sekali."


"Hahaha dia tidak mau, kalau Cherry kebalikan nya. Dia sangat mencintai ku dan mau saja apa yang aku minta, asalkan aku bertanggungjawab," kata Riko.


"Hahaha Helen sangat sulit, tapi meskipun begitu Cherry jangan sampai kau gitukan ya. Aku tidak Terima," ucap Nathan.


"Hey itu urusan ku, yang terpenting aku bertanggung jawab," kata Riko.


"Jangan Riko, kau ya otak kotor."


"Pacaran tanpa n*fsu itu tidak ada Nathan. Do'akan saja lah iman ku kuat dengan semua godaan ini," kata Riko.


"Pacar mu cantik," ucap Riko.


"Memang, hot juga dia," kata Nathan.


"Iya depan belakang besar," ucap Riko.


"Mata mu, jangan memandangi nya," kata Nathan.


"Nat, gaya dari belakang pasti mantap."


"Mata mu Riko, aku congkel ya," kata Nathan.


"Hahaha maaf, jadi Cherry ingin tinggal disini," tanya Riko.


"Iya, kau juga boleh tapi ya tau diri saja lah," jawab Nathan.


"Nah itu, bagus aku juga ingin tinggal di sini," kata Riko.


"Tidak papa, hitung hitung sebagai teman ku."


Helen dan Cherry berjalan mendekati mereka berdua.

__ADS_1


"Sudah sayang," kata Helen.


"Sudah yok berangkat," ucap Nathan.


"Ayo."


"Kalian di sini kan, kalau mau pergi pergi saja, tapi ingat yang aku katakan tadi Riko."


"Yayaya kau seperti lebih tua dari ku, kau masih bocah," ucap Riko.


"Hey aku akan menjadi abang mu."


"Iya abang Nathan."


Nathan dan Helen pun pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Riko dan Cherry.


"Kamu membuat ku malu sayang." Riko menarik ke atas pangkuan nya.


"Maafkan aku," kata Cherry.


"Lain kali bertanya dulu ya, kan aku jadi malu pada Nathan, padahal aku sudah janji pada nya," ucap Riko.


"Maaf, kamu boleh meminta apapun sebagai permintaan maaf ku."


"Itu." Riko menaikan satu alis nya.


"Aku takut," kata Cherry.


Nathan dan Helen ingin menyelesaikan semua nya dengan cepat hari ini juga. Mereka berdua sudah tidak sabar untuk liburan berdua. Pasti semua nya akan sangat mengasikkan. Setelah semuanya selesai Nathan akan langsung membicarakan semua nya pada Vino.


"Ay, hmmm kalau kita menikah nanti kamu tidak usah bekerja ya."


"Ha!! mana mungkin bisa, aku mempunyai perusahaan sayang, tidak mungkin aku tidak bekerja."


"Tapi ay, aku ingin kamu fokus menumbuhkan benih yang aku tanam. Untuk apa bekerja aku saja sudah bekerja."


"Tidak bisa Nathan, itu urusan nanti saja lah, jangan membahas nya dulu," kata Helen.


Ini salah satu hal yang Nathan pikirkan. Mereka berdua sama sama memiliki perusahaan, jika kedua nya bekerja pasti mereka berdua akan sangat sibuk, hal itu bisa membuat hubungan mereka akan renggang.


Di rumah...


"Sayang, bagaimana dengan kabar Nathan," tanya Citra.


"Ya mungkin baik baik saja, terakhir aku tanya daddy mereka baik baik saja. Nathan sempat pergi menemui teman nya yang terluka," jawab Vino.


"Aku ingin berbicara dengan nya," kata Citra.


"Sayang buat adik untuk Nathan yok, anak anak kita sudah dewasa semua," ucap Vino.


"Bukan nya setiap hari kita membuat adik untuk Nathan."

__ADS_1


"Sayang itu berbeda, kalau yang itu tidak jadi," kata Vino.


"Mau yang jadi? apa Nathan memperbolehkan nya."


"Aku tanya saja dulu." Vino mengambil handphone nya dan langsung menghubungi Nathan Via video call.


"Daddy," ucap Nathan.


"Angkat lah," kata Helen.


"Halo dad," ucap Nathan.


"Wah anak daddy sangat tampan kalau rapi seperti itu. Bagaimana kabar mu sayang," tanya Vino.


"Sangat baik dad, bagaimana dengan daddy dan mommy," tanya Nathan.


"Sangat baik juga sayang. Daddy dan mommy ingin membuat adik untuk mu, apa boleh sayang," tanya Vino.


"Ha!! tidak boleh, aku tidak mau, jangan membuat adik lagi daddy. Sudah cukup daddy."


"Lah kenapa tidak," tanya Vino.


"Mommy sudah tua dad, jangan sembarangan ah, aku tak mau," jawab Nathan.


"Hahaha apa nya yang sembarangan, boleh ya..."


"Tidak boleh daddy."


"Sayang daddy ingin menggendong anak lagi."


"Izinkan aku menikah," ucap Nathan.


"Tidak ada, kau boleh menikah tapi tidak dengan waktu yang cepat."


"Ya sudah tidak boleh." Nathan mematikan sambungannya telepon itu.


"Nathan, kita tidak boleh menikah," ucap Helen.


"Bukan tidak boleh tapi belum boleh, pasti nanti akan boleh."


"Itu tadi katak nya, sebenarnya kenapa si kamu tidak boleh menikah cepat, kamu sudah siap, jadi menunggu apa lagi."


"Menunggu aku menjadi seorang CEO, setelah itu aku pasti akan menikah. Tidak lama lagi ay, aku pasti akan menikahi mu," kata Nathan.


"Janji? ini pertama kali nya aku berharap," ucap Helen.


"Kamu sudah sangat benar berharap pada ku ay, jangan ragu untuk berharap pada ku. Aku pasti akan meng wujudkan harapan itu," kata Nathan.


Memang seperti nya. Nathan akan menghancurkan tembok yang menghalangi mereka berdua, itu sudah menjadi tekat Nathan saat ini.


Pekerjaan mereka semua nya di lalui dengan sangat muda. Sisa waktu yang tersisa mereka gunakan untuk berlibur di kota Tokyo. Mereka ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama untuk bersenang-senang. Setelah kembali nanti pasti semuanya akan sibuk dengan urusan masing-masing.

__ADS_1


Nathan akan fokus dengan perusahaan nya. Proyek ini telah selesai dan ia sudah siap menggantikan ayahnya. Sedangkan Helen pasti akan jauh lebih sibuk, ia sudah cukup lama meninggalkan perusahaan, belum lagi efek proyek yang berhasil membuat perusahaan nya pasti mengalami kemajuan yang sangat cepat. Semua itu benar-benar menjadi harapan Helen selama ini.


__ADS_2