
Beberapa hari setelah kejadian itu. Nathan dan Helen baru ingin bertemu untuk menyelesaikan semua masalah mereka. Beberapa hari ini juga mereka tidak saling menghubungi, semua ini demi agar tidak ada pertengkaran lagi di antara mereka.
"Ay aku sangat merindukanmu." Nathan memeluk Helen dan mencium wajahnya.
"Aku juga." Saling merindukan lah yang mereka rasakan saat ini.
"Ay kenapa kamu menarik pria itu," tanya Nathan.
"Apa aku mempunyai pilihan lain? sedangkan kamu di tarik lebih dulu oleh nya?"
"Dia hanya kenal dengan ku ay, itu sebabnya dia menarik ku."
"Ya begitu juga dengan ku, aku juga mengenal Albar, jika kamu sudah di tarik oleh wanita itu, ya aku hanya bisa menarik nya," kata Helen,
"Sudah berarti tidak ada lagi yang harus di perdebatkan," ucap Nathan.
"Iya." Helen mengendelamkan wajah nya ke dada bidan Nathan.
Ternyata jika ke dua nya sama sama bisa mengerti tidak akan ada pertengkaran seperti sebelumnya. Bersikap dewasa memang yang terbaik untuk saat ini.
"Ay buat anak yok," ucap Nathan.
"Hmmmm," gumam Helen.
__ADS_1
"Aku bukan nya tidak mau sayang, aku sudah memberikan nya pada mu, nanti kamu tidak jadi menikahi ku dan malah pergi meninggalkan ku bagaimana," kata Helen.
"Tidak akan ay. Kamu bisa percaya aku, aku tak ingin kehilangan mu," ucap Nathan.
"Nathan tidak ah, aku takut," kata Helen.
"Apa yang kamu takutkan ay, aku saja sangat senang jika kamu mau membuat anak," ucap Nathan.
"Ya kamu yang senang, kamu hanya menyiapkan peluru sedangkan aku sesuatu yang kamu tembak."
"Hahaha begitu kah, oh iya ay, lusa pelantikan ku sebagai CEO, nah kamu datang ya, jangan sampai tidak datang."
"Aku boleh datang, bukan nya itu untuk umum," tanya Helen.
"Kata siapa, malah banyak media yang datang, kamu di undang kok oleh daddy ku, kan kamu juga berjasa," jawab Nathan.
Tangan Nathan membuka beberapa kancing baju Helen, ia tidak takut ketauan siapapun karena saat ini ia sedang berada di dalam kamar Helen, mereka bertemu bertemu di rumah Helen.
"Nathan mau apa," tanya Helen.
"Aku tidak bisa menahannya Ay." Nathan mencium leher Helen dengan lembut tangan nya tidak berhenti bergerak membuka kancing baju itu.
"Nathan jangan nat, kata kamu tidak ingin merusak ku," kata Helen.
__ADS_1
"Tidak akan rusak ay," ucap Nathan.
"Ay mau menikah sirih dengan ku terlebih dahulu," tanya Nathan.
"Untuk apa," tanya Helen.
"Agar kamu tidak kabur dari ku, ketika kita sudah memiliki ikatan kita tidak akan pergi saling meninggal kan."
Nathan menarik Helen pergi dari atas kasur. Ia membawa Nathan ke dalam kamar mandi.
"Masuk selesai kan dengan tangan mu, kau mengajak menikah sirih dengan ku karena nafsu." Helen mendorong Nathan masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci nya.
"Ay kamu jahat pada ku ya."
"Hahaha iya aku memang jahat, kamu ingin lebih tau bagaimana kejahatan ku," kata Helen.
"Buka sayang, adik ku sudah siap tempur ni."
"Tidak mau, kau tempur saja sendiri."
"Oke oke beri aku waktu 25 menit, semoga saja tangan ku tidak pegal," kata Nathan.
"Rasakan Nathan, aku tidak peduli," ucap Helen.
__ADS_1
"Sangat jahat, awas ya kalau kita sudah menikah, tida bisa jalan kamu ay."
"Aku tidak takut sayang."