Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Bab 22


__ADS_3

Pagi hari nya, Edward kembali ke kamarnya, ia sudah hampir dua minggu tak masuk kantor dari ia menikah sampai sekarang Edward belum menginjakkan kaki nya ke perusahaan yang ayah nya berikan pada nya. Hari ini Edward ingin kembali bekerja normal seorang biasa nya, ia tak ingin menjadi beban di keluarga nya.


"Sayang." Edward memeluk Salsa yang baru saja selesai mandi.


"Kamu sudah bangun, hari ini mau ngapain," tanya Salsa.


"Aku akan bekerja, kamu sudah mandi ya, padahal aku ingin satu ronde di pagi hari," ucap Edward.


"Ayo, aku nanti mandi lagi," kata Salsa dengan sangat semangat, melayani suami nya adalah hal yang sangat menyenangkan untuk nya. Ia sangat di manja oleh Edward, di bisikan kata kata cinta, dan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara, kapan pun Edward membutuhkan nya ia sangat siap.


"Sayang sayang, kamu ini wanita yang aneh, kamu tak malu apa," tanya Edward.


"Aku malu dengan suami ku sendiri tak akan lah, kamu sudah tau setiap inci tubuh ku, aku juga sudah tau setiap inci tubuh mu juga. Terus untuk apa malu lagi? ini kan kewajiban ku sayang," jawab Salsa.


"Nanti antar kan makan siang ku ya, aku ingin mandi dulu." Edward mengecup dahi istri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Ini yang ingin Salsa rasakan dari dulu, di manja dan di sayang oleh Edward, pria yang sangat ia cintai. Perjuangan dan perorangan nya untuk mendapatkan Edward tak sia sia, Edward sekarang sudah menerima diri nya sepenuh hati.


Berbeda dengan Edward, pagi ini Jack sudah di tinggal istri nya, ia tak peduli juga karena ia harus kuliah. Untung saja sebelum pergi perlengkapan Jack sudah di siapkan Jesika, hal itu membuat nya tak terlalu kesal.


"Sial semua uang cas ku di ambil," ucap Jack.


Dari pada ambil pusing, Jack turun ke lantai dasar untuk menarik uang di ATM nya. Rumah ini memiliki ATM khusus yang di sediakan pihak bank, anggota keluarga yang banyak dan pengeluaran yang besar membuat mereka harus senantiasa memegang uang.


"Mau kuliah Jack," tanya Bryan.


"Iya yah, wih narik banyak ni, minta yah."


"Hahaha malas, kau sudah aku berikan uang bulanan tadi malam," ucap Bryan.


"Ya ya ya, paman Nathan juga memberikan ku uang, lumayan untuk bayar hutang pada Nabila."


"Kau punya utang pada Nabila," tanta Bryan.


"Punya 15 juta," jawab Jack.


"Jack jangan macam macam dengan Nabila ya. Kau di minta menikah dengan nya tak mau, sekarang malah selesai ini."


"Aku tak macam macam yah, aku hanya pinjam uang pada nya," kata Jack.


"Cukup kali ini saya, ayah tak mau mendengar kau mengutang pada Nabila," ujar Bryan.


"Iya iya iya." Balas Jack dengan wajah kusam nya.


"Nah satu juta saja." Bryan memberikan uang pada Jack, tak mungkin anak nya meminta uang ia tak memberikan nya.


"Begini dong, aku jadi tak perlu menarik lagi. Sudah cukup untuk uang jajan."


Jack langsung berlari ke arah mobil nya, mobil sport mewah hasil malak ayah nya, jika tidak malak ia tak akan di berikan mobil mewah seperti ini.


"Hadeh meskipun kepala ku ada bekas jahitan tetap tampan kok," ucap Jack.


"Jack." Nabila mengetuk kaca mobil itu.


"Hmmmm." Jack menurunkannya.


"Ada apa," tanya Jack.


"Aku boleh minta antar tidak, ban mobil ku bocor, aku ada kelas pagi," jawab Nabila.


"Kan banyak mobil, kau tak tau saja mobil ayah dan abang mu bertumpuk," kata Jack.


"Tak ada waktu untuk memanaskan nya, aku sudah hampir terlambat."


"Ya sudah ayo masuk." Akhirnya Jack mau mengantarkan Nabila ke kampus nya.


Mereka berdua tak satu kampus tapi satu arah, kampus Jack lebih jauh satu kilo dari kampus Nabila, Nabila malah satu kampus dengan istri nya Jack Jesika.


"Aku sudah mengembalikan uang yang aku pinjam," kata Jack.

__ADS_1


"Iya makasih," balas Nabila.


"Nabila kau pernah dekat dengan Rico."


"Dia mantan ku, ada apa??" Nabila mengerutkan dahi nya atas pertanyaan Jack. Ia tau Jack dan Riko satu pertemanan yang sama.


"Aku lupa memberitahu mu, dia pernah mengatakan pada tongkrongan kami kalau dia dan kau pernah tidur bersama."


"Ha!! mana mungkin...!! Aku dan dia berpacaran hanya satu minggu. Aku menerima cinta nya juga hanya membuat mu cemburu waktu itu, tetapi kau malah tidak cemburu sedikitpun," kata Nabila.


"Aku cemburu dengan mu, hahaha itu hal yang sangat mustahil, kau tau aku bagaimana, sebelum menikah pacar ku hampir lebih dari tiga," ucap Jack.


"Hahaha iya itu kebodohan ku, kau tak mungkin cemburu, tetapi aku tak bisa mengulangi waktu, walaupun hanya seminggu dia tetap mantan ku. Dan tolong kalau dia berkata yang tidak tidak tolong bantah ya, aku tau mau ayah ku marah mendengar hal itu terjadi."


"Aku sudah memukul nya, mana mungkin aku membiarkan wanita satu rumah ku di jelek jelek kan. Aku tau kau, kau tak mungkin melakukan hal itu, ya kecuali dengan ku," kata Jack sambil tersenyum sinis. Jika ia mau ia bisa saja menjadikan Nabila istri ke dua nya, apalagi ia tau Nabila sangat mencintai diri nya.


Sesampainya di kampus, Nabila mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakan nya di saku Jack.


"Makasih, itu bayaran nya." Nabila membuka pintu mobil Jack dan langsung berjalan keluar.


"Untuk apa kau membayar ku," ucap Jack.


"Aku tak mau mempunyai hutang budi dengan muu."


Berbeda dengan Jack dan Nabila yang masih kuliah. Edward sudah menjadi seorang CEO di perusahaan milik mamah nya, meskipun bukan anak kandung keluarga ini, ia tetep mendapatkan keadilan meskipun tidak dari perusahaan ayah nya. Nathan sudah berjanji pada Helen untuk memberikan perusahaan itu saat hamil Nabila dan Narendra dulu.


''Selamat pagi pak..." Para Karyawan kantor menyapa Edward dengan penuh kehormatan, mereka semua sangat mengormati Edward sebagai pemimpin perusaan ini.


"Padi pak..." Sapa Lea, sekertaris Edward.


"Pagi,, apa kabar mu?? Kau baik baik saja kan menangani perusahaan sendiri.


"Saya sangat baik pak, yang tak baik baik saja itu bapak sendiri. Saya sudah menyusun semua berkas yang harus bapak tanda tangani. Dari sebelah kanan yang harus di kerjakan lebih dulu sampai yang kiri, bapak bisa memulai nya sekarang karena waktu kita tak banyak. Vins grup meminta semua laporan perusahaan paling lambat Lusa."


"Wah wah wah, seperti nya aku terlalu lama cuti yang membuat semua nya menumpuk seperti ini, ya sudah seperti biasa nya, kopi pahit dan roti kering, seperti nya aku akan kerja keras hari ini," ucap Edward.


Di kampus teman teman seangkatan Nabila dan Jesika heboh karena mereka melihat Nabila diantar oleh Jack sedangkan Jesika sendiri berangkat sendiri ke kampus, Jesika yang memang sejak awal tak suka dengan Nabila memanfaatkan momen ini untuk ngelabrak Nabila, ia akan membuat Nabila malu di hadapan semua orang.


"Hey ada pelakor di sini," teriak Jesika.


Nabila mengerutkan dahi nya, ia curiga seseorang yang di maksud Jesika adalah diri nya, karena ia yang sedang Jesika tuju. Nabila tak pernah takut dengan Jesika atau siapapun itu. Ia hanya malas membuat nama baik keluarga nya jelek karena nya.


"Apa maksud mu," tanya Nabila saat Jesika sudah berada di dekat nya.


"Masih tanya apa maksud ku?? kau sadar tidak, seseorang yang mengantarkan mu ke kampus itu sudah mempunyai istri, kau tak sadar atau perlu aku sadarkan."


"Ya aku tau, aku tau dia sudah mempunyai istri, tetapi aku tak berniat untuk merebutnya dari mu, aku hanya memintanya untuk mengantarkan ku karena mobil ku bocor, hanya itu tak ada niatan lain. Lagi pula aku membayarnya, aku tak suka gratisan.." Nabila mengatakan nya dengan santai, seperti yang sudah di jelaskan ia tak takut pada siapapun.


"Oh kau membayar suami orang lain, wah wah wah kau memanfaatkan suami orang lain dengan sangat baik ya.. Dasar tak tau malu," ucap Jesika.


Nabila membuang nafas nya dengan kasar, ia tak tau jika jadi seperti ini jadi nya. Tau begitu ia tak akan meminta Jack untuk mengantarkan nya.


"Jesika bukan nya aku membantu mu dan suami mu, kalian pasti membutuhkan uang bukan Apalagi kau sedang hamil, akan banyak memerlukan uang untuk keperluan bayi kalian, seharusnya kau berterimakasih pada ku."


"Kurang ngajar." Tangan Jesika naik untuk menampar Nabila.


Sebelum Nabila menangkap nya. Tangan Jesika sudah di tangkap oleh seseorang.


"Kau jangan gila," ucap Jack.


"Sayang...." Jesika sangat terkejut dengan kedatangan Jack secara tiba-tiba.


"Jack, maafkan aku, aku tak berniat merendahkan mu," ucap Nabila.


"Kau jangan macam macam dengan nya Jesika, kau tau rumah tempat kita tinggal itu milik nya, kau mau di usir dari sana, jangan membuat kegaduhan."


Tanpa dugaan Jack malah memarahi Jesika, hal itu membuat Jesika sangat malu.


"Maafkan ucapan nya, ini handphone mu ketinggalan di mobil ku." Jack memberikan Handphone itu pada Nabila.

__ADS_1


"Iya makasih, aku ada kelas aku duluan." Nabila tak mau ikut campur dalam rumah tangga itu, ia memutuskan pergi dari sana dari pada di bawa bawa dalam masalah ini.


"Kami membela nya, aku istri mu," ucap Jesika.


"Ya terus kalau kau istri ku, apa kau bisa seenaknya. Aku membela nya karena aku menumpang hidup dengan nya, dan dia tak salah, kenapa kau malah asal ngelabrak nya. Kau bisa tanya pada ku dulu. Sampai orang tua nya dengar anak ke sayangan mereka kau gini kan kau bisa terkena masalah. Minta maaf pada nya."


"Aku tak mau," tolak Jesika.


"Kakek nya Vino, dari Vins grup, aku tak tanggung jawab jika diri mu menghilang mendadak dari muka bumi ini." Bisik Jack dan pergi meninggalkan Jesika begitu saja. Hal itu membuat Jesika kesal dan sangat marah, ia juga tak tau harus melakukan apa.


Jam istirahat Jesika menghampiri Nabila, ia tak ada pilihan lain selain melakukan apa yang Jack katakan. Ia sudah mendengar bagaimana keluarga Nabila, dari pada ia terkena masalah lebih baik tebal muka untuk menjaga diri nya dari marabahaya.


"Nabila aku minta maaf, aku Mohon jangan bawa masalah ini kemanapun," ucap Jesika.


"Aku sudah memanfaatkan mu, aku tak akan mempermasalahkan hal ini dengan siapapun," kata Nabila.


"Makasih." Jesika langsung pergi dari sana.


Ia tak ada kelas lagi, lebih baik kita pergi jalan jalan ke mall bersama teman temannya. Ia mendapatkan uang banyak dari dompet Jack.


"Wanita gila, aku tak tau kenapa Jack tertarik dengan nya," batin Nabila.


Ia tau Jesika tak tulus meminta maaf pada nya, ia tau kalau Jesika hanya takut jika ia membawa masalah ini ke keluarga nya.


Saat pulang Nabila terkejut melihat mobil Jack yang terparkir di depan kampus. Seorang nya Jack sedang menunggu seseorang.


"Sedang apa kau," tanya Nabila.


"Menunggu Jesika, kau melihat nya," tanya Jack.


"Tidak, tapi kelas nya dia sudah berakhir sejak 4 jam lalu."


"Ah kenapa dia tak memberitahu ku. Kau mau pulang, ayo dengan ku.."


"Tidak ah, nanti aku di labrak istri mu lagi, aku tak. mau mengambil resiko," tolak Nabila.


"Maafkan dia, sudah ayo aku juga mau pulang."


"Tapi aku tak ingin pulang aku ingin ke Grenmedia dulu, ingin membeli buku."


"Begitu, ya sudah ayo, aku antar jangan malu malu." Jack membuka pintu mobil nya.


"Yakin istri mu tak akan melabrak ku lagi," tanya Nabila.


"Hahaha nya, jangan takut. Aku sudah memberikan nya peringatan, dia sudah meminta maaf pada mu kan," tanya Jack.


"Sudah tadi."


"Ya sudah ayo masuk."


Dari pada ia naik taksi, Nabila memutuskan untuk naik ke mobil Jack. Nabila harap tidak terjadi sesuatu seperti tadi. Ia sangat malu di katain pelakor oleh Jesika.


Di rumah Salsa sedang mempersiapkan makanan untuk suaminya. Ia sudah mengirimkan makan siang untuk Edward. Edward menghubungi nya jika ia lembur, dengan istri yang baik Salsa memutuskan membawakan makan malam untuk suaminya. Ia juga membawakan pakaian ganti Edward.


Sesampainya di perusahaan Salsa langsung masuk ke ruangan suaminya. Ia melihat Edward sedang fokus dengan pekerjaan nya. Padahal hampir semua karyawan sudah pergi meninggalkan perusahaan itu, hanya tinggal beberapa saja.


"Sayang berhenti dulu," ucap Salsa.


"Sayang kamu datang, sejak kapan," tanya Edward.


"Sejak kamu sibuk dengan pekerjaan mu, kamu boleh sibuk tapi jangan seperti ini. Ayo berhenti dulu, aku membawakan makan malam dan cemilan enak untuk kamu."


"Tapi kalau aku ingin makan kamu bagaimana boleh," tanya Edward.


"Boleh dong aku selalu siap santap untuk kamu."


Edward menutup laptop nya dan berkas berkas nya. Setelah itu Edward berdiri dari tempat nya. Ia tersenyum melihat Salsa sangat cantik. Salsa tau saja kalau ke tempat kerja nya harus cantik agar ia tak malu.


Edward mendorong Salsa ke atas meja sampai membelakangi nya. Salsa sudah tau apa yang Edward lakukan pada nya.

__ADS_1


__ADS_2