Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Bab 11


__ADS_3

Salsa bertemu dengan ayah nya, ia yakin ayah nya dapat memberikan nya saran untuk problem yang ia alami. Meskipun sedikit memalukan Salsa sudah biasa seperti ini, tak ada rahasia antara mereka berdua. Salsa juga sangat tau jika Bryan sangat menyayangi Edward, ia sudah lama berharap Edward akan menjadi menantu nya. Apa yang Edward lakukan pada Salsa, kurang lebih nya Bryan tau.


"Ada apa lagi sayang, kenapa dengan suami mu," tanya Bryan.


"Hmmm tak ada ah."


Bryan tertawa mendengar ucapan Salsa, jika Salsa berkata tidak ada, pasti ada sesuatu yang ingin Salsa katakan tetapi dia malu untuk mengatakan nya.


"Kenapa sayang.. Edward belum memberikan mu pelukan hangat di malam hari? atau kurang memberikan mu nafkah batin," tanya Bryan.


"Ayah..."


"Katakan lah, dia berbuat apa lagi? Dia tak kasar kan pada mu," tanya Bryan.


"Tidak... Dia sangat baik pada ku. Tadi dia minta maaf pada ku."


"Tu bagus, dia sudah menganggap mu sebagai istri nya. Jangan lupa sayang, nafkah batin untuk Edward, dia pria pasti sangat memerlukan nya," kata Bryan.


"Ha itu masalah nya," ucap Salsa.


"Hahaha sudah ayah duga, lebih baik kau tanya mamah saja yah. Mamah mu sangat berpengalaman. Kalau Edward nanti ayah yang berbicara dengan nya."


"Begitu, oke ayah ku sayang."


Bryan berjalan masuk ke dalam kamar Edward, ia sudah cukup lama tidak berbicara berdua dengan Edward. Biasa nya mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama.


"Edward paman menganggu," tanya Bryan.


"Eh paman, tidak lah. Sini duduk, Salsa tidak ada, ntah kemana dia tadi."


"Hahaha mungkin dia sedang dengan mamah nya Bagaimana Edward ada problem tentang Salsa?"


"Tidak ada paman, dia gadis yang baik, hanya saja dia..."


"Dia apa? jangan malu, paman sudah tau sifatnya."


"Dia gadis yang garang, hahaha apa aku yang terlalu...


"Hahaha mamah nya juga begitu, memang sudah keturunan," ucap Bryan.


"Oh begitu..."


"Edward sudah memikirkan anak belum. Paman sudah sangat ingin cucu loh."

__ADS_1


"Paman kan akan mendapatkan cucu dari Jack, kalau kami ntalah belum memikirkan nya," kata Edward.


"Jangan begitu Edward, kau tau kan bagaimana paman dengan Salsa dan diri mu, paman sangat ingin sekali mendapatkan cucu dari kalian berdua."


"Bagaimana mungkin aku bisa memberikan paman cucu, aku saja belum menyentuh Salsa," batin Edward.


"Edward..."


"Secepatnya paman, tunggu saja ya. Aku bukan tipe pria yang rakus, aku jarang melakukan nya paman. Ya jadi mungkin akan lebih lama."


"Yakin???"


"Ya... yakin," ucap Edward.


Bagaimana Edward bisa mengatakan hal itu, ia saja belum mencobanya. Hal itu sedikit membuat Bryan hampir tertawa. Ia tidak tau apakah menantunya ini berkata benar atau tidak."


"Edward kau tidak important kan," tanya Bryan.


"Ha tidak lah paman, aku pria normal."


"Dulu di usia mu, hmmm maaf ya, paman bisa tiga kali sehari. Mungkin setiap orang berbeda."


"Maaf paman itu minum obat atau apa, tiga kali sehari, tidak pegal apa," ucap Edward, ia juga hampir tertawa mendengar nya, Edward belum merasakan nya jadi ia tidak percaya dengan apa yang Bryan katakan pada nya.


"Mancing wanita bisa paman, hahaha," jawab Edward.


"Kau saja lah, paman tidak ingin tidur di luar."


"Bercanda paman, oke kita mancing, sambil ngecamp bagaimana?"


"Bisa bisa, di danau yang dulu? "


"Apa masih ada," tanya Edward.


"Ya masih lah, sampai kapan pun danau itu akan tetap ada," jawab Bryan.


"Oke paman, kita ke sana."


Malam hari nya, mereka semua makan malam bersama. Malam ini Jack juga membawa pacar nya yang sedang hamil. Mau tidak mau Bryan sekeluarga menyambut Jesica dengan baik, yang membuat Jesika hamil Jack, tidak mungkin ia menyalahkan Jesika karena Jack yang mempunyai burung.


"Jadi kapan kalian menikah," tanya Bryan.


"Ayah secepatnya lah, aku ingin selalu bersama anak ku," jawab Jack.

__ADS_1


"Ya sudah cepat lah urus semuanya, menikah saja dulu, acara besar nya setelah anak mu lahir," kata Bryan.


"Kau ya, bagaimana bisa seperti ini, ingin rasa nya aku menjitak mu," ucap Salsa.


"Diam jangan ikut campur," bisik Edward.


Nabila tidak keluar kamar ketika tau Jack membawa pacar nya, ia lebih baik makan di kamar dari pada melihat semua nya yang membuat hati nya terasa sakit.


"Sayang," ucap Edward.


"Ha..."


"Kamar yuk, aku sudah selesai," ucap Edward yang membuat semua orang terkejut.


Edward melakukan itu karena malas berada di meja yang sama dengan Jack, ia masih memiliki dendam pribadi pada Jack. Jika tidak di panggil sayang Salsa akan banyak bicara, Edward sangat tidak suka itu.


"Mau apa mas," tanya Salsa.


"Mau tidur, aku malas melihat adik mu," jawab Edward.


"Kan bagus aku di sana, cepat sekali tidur nya."


"He kata mau mau Menganboxing aku," ucap Edward.


"Oh iya aku lupa, kamu berbaring di atas kasur dan matikan lampu nya, tunggu aku ya," kata Salsa.


"Hnmmm." Edward melakukan apa yang Salsa katakan, ia tidak yakin dengan yang apa Salsa katakan, mana mungkin wanita bisa Menganboxing seorang pria kuat seperti nya.


Tak lama Salsa datang, Salsa tersenyum Edward sudah berbaring di atas kasur.


"Pejamkan mata mu sayang," ucap Salsa.


"Iya.." Edward tersenyum sambil melakukan apa yang Salsa minta. Ia masih penasaran dengan apa yang ingin Salsa lakukan pada nya.


Tiba-tiba Edward merasakan tangan nya seperti terikat sesuatu, ia juga mendengar suara besi yang bergesekan.


"Salsa apa yang kau lakukan," tanya Edward.


"Jangan membuka mata mu, atau aku akan mengadu pada ayah ku jika kamu kasar pada ku..."


Edward hanya diam, ia memang sempat kasar pada Salsa, apalagi ia sangat dekat dengan Bryan, ia tidak mau hubungan nya dengan Bryan rusak.


Baru beberapa detik berlalu kaki Edward sudah terbuka, dengan cepat Edward membuka mata nya, bertapa terkejut nya ia saat melihat kaki nya sudah terikat.

__ADS_1


__ADS_2