
Helen memutuskan untuk kembali bekerja, dari pada di rumah menangis apa yang telah terjadi lebih baik bekerja saja. Ia tidak ingin kembali terjebak di kehidupan nya yang kelam. Saat ini ia sudah memiliki putra yang harus ia jaga dengan baik.
"Dimana anak mu? biasanya jika bekerja sore kau membawa nya," tanya Zahra.
"Dia sedang bersama ayah nya," jawab Helen.
"Ha dengan ayah nya, siapa ayah nya? bukan nya kau mengadopsi nya. Berarti orang tua aslinya datang membawa nya?"
"Tidak begitu, panjang cerita nya. Sudah lah aku malas menjelaskan nya. Biarkan dia senang untuk sesaat," kata Helen.
"Kau aneh, anak sendiri di biarkan begitu saja."
Nathan dan Edward sedang berada di pusat perbelanjaan di pulau itu. Nathan membelikan semua hal yang Edward inginkan.
"Yang mana," tanya Nathan.
"Aku bingung, yang ini atau ini ya," jawab Edward.
Wajahnya benar-benar menunjukan ekspresi kebingungan. Hal itu membuat Nathan benar benar sangat gemas, ingin sekali ia mencium wajah gemas Edward.
"Ambil ke dua nya," ucap Nathan.
"Tapi itu sudah banyak nanti mamah marah pada ku," kata Edward
"Kau suka tidak? kan ayah yang membelikan bukan mamah, sudah ambil saja jangan banyak berpikir," ucap Nathan.
"Ambil yah," tanya Edward.
"Ambil sayang, kita penuhi keranjang belanja ini," jawab Nathan.
"Yessss.." Edward mengambil ke dua mainan itu dengan semangat.
"Sudah puas," tanya Nathan.
"Sudah, mamah tidak dibelikan apa apa yah," tanya Edward.
__ADS_1
"Ayah tidak tau apa yang mamah mu sukai, hmmm kita membelikan nya apa ya." Nathan berpikir apa yang harus ia belikan untuk Helen.
"Tas bagaimana sayang," tanya Nathan.
"Tidak tau," jawab Edward.
Nathan mengambil sesuatu asal saja untuk Helen, ia tidak tau apa yang Helen suka, yang terpenting membawakan Helen sesuatu, dari pada tidak sama sekali.
"Untuk mamah yah," tanya Edward.
"Iya, es krim saja cukup," jawab Nathan.
"Ayah ayah, Edward ingin punya adik, adik yang lucu."
"Adik, hmm seperti nya tidak bisa sayang," kata Nathan.
"Kenapa?"
"Tanya saja pada mamah sayang, ayah juga tidak tau," kata Nathan.
"Mamah bekerja yah," ucap Edward.
"Edward tau mamah kerja dimana?"
"Tau tau," ucap Edward.
"Ayo kita ke sana." Nathan meletakkan mainan Edward di teras rumah itu, ia yakin tidak akan ada yang mengambil, setelah itu ia membawa Edward pergi dari sana.
"Ke tempat mamah yah," tanya Edward.
"Iya dong. Edward hmmm katakan pada mamah. Edward ingin adik," ucap Nathan.
"Nanti mamah memberikan Edward adik?"
"Ayah tidak tau, bilang saja lah, mana tau mamah memberikan Edward adik," ucap Nathan.
__ADS_1
"Oke oke."
"Anak ayah pintar." Nathan memberikan beberapa kecupan di wajah Edward.
Nathan lupa jika Helen bekerja di restoran tempat ia makan tadi. Ia baru sadar ketika Edward membawa nya ke restoran itu.
"Mamah," teriak Edward.
"Sayang jangan berteriak, nanti juga mamah melihat kita, sekarang kita makan es krim yang ayah beli tadi," kata Nathan.
"Siap."
Untung saja Nathan membeli banyak es krim, jadi ia bisa makan es krim bersama dengan Edward. Ia hanya menyisakan satu es krim besar untuk Helen.
"Sayang, kamu makan es krim jangan banyak banyak," ucap Helen.
"Mamah, ayah yang membeli," kata Edward.
"Ini untuk mu." Nathan memberikan nya pada Helen.
"Makasih." Helen tidak mungkin menolak rezeki jarang jarang ia memakan es krim enak.
"Dari mana," tanya Helen.
"Belanja dengan Edward," jawab Nathan.
"Mamah ayah memberikan Edward banyak mainan."
"Bilang apa..."
"Makasih ayah. Edward sayang ayah," ucap nya sambil mencium wajah Nathan.
"Ayah juga sayang Edward."
"Aduh bagaimana cara nya memisahkan mereka berdua, mereka berdua sudah sangat terikat," batin Helen.
__ADS_1
"Edward pasti anak ku, dan dia istri atau pacar ku, itu sebabnya dia takut bertemu dengan ku," batin Nathan.