
Nathan benar-benar sudah banyak berubah setelah kecelakaan yang menimpa diri nya. Akhlak nya seperti terbentuk dengar sangat baik tidak seperti sebelum nya. Ini juga yang membuat Helen mau menikah dengan Nathan, menurut Helen Nathan sudah jauh berubah dari sebelumnya. Ia merasa Nathan sudah sangat sanggup menjadi kepala rumah tangga yang baik.
Setelah banyak bicara tentang kehidupan bersama dengan Bryan. Ada hal yang ingin Nathan sampai kan pada Helen, ia rasa Helen pun akan setuju dengan keputusan nya kali ini.
"Sayang, Hmm kamu masih suka dengan rumah ini," tanya Nathan.
"Ya masih lah, aku membeli rumah ini dengan uang hasil keringat ku sendiri."
"Hmmm bagaimana aku membeli nya dari mu, dengan harga dua kali lipat dari harga yang kamu keluarkan dulu untuk membeli rumah ini," ucap Nathan.
"Sayang untuk apa kamu ingin membeli rumah yang sebenarnya juga rumah mu..."
"Aku ingin memberikan rumah ini untuk Bryan dan istri nya sayang," ucap Nathan.
"Hahaha karena itu, sayang aku sudah berencana untuk melakukan itu. Ketika kita sudah mendapatkan rumah aku akan memberikan rumah ini pada mereka. Aku sudah tidak membutuhkan rumah ini lagi, kan sudah ada kamu. Jadi dari pada aku menjualnya lebih baik aku berikan pada sahabat baik ku," kata Helen.
"Nah itu baru istri ku yang baik, aku sangat senang kamu berpikir seperti itu. Jadi aku tidak perlu membeli rumah ini dari mu," tanya Nathan.
"Tidak lah untuk apa kamu membelinya dari ku, kamu ada ada saja sayang," jawab Helen.
"Hahaha ya sudah kalau begitu. Oh iya aku akan berangkat ngegym bersama dengan Bryan, Edward tidak aku ajak, nanti kalau dia mencari ku katakan saja aku pergi sebentar."
"Iya hati hati, buat tubuh kamu semakin berotot aku sangat suka mempunyai suami dengan tubuh yang indah," kata Helen.
"Siap sayang, aku pergi dulu."
"Sayang lusa aku boleh bekerja," tanya Helen.
"Sayang untuk apa si kamu bekerja, uang kita udah sangat banyak sayang."
"Sayang aku bosan di rumah. Edward akan aku masukan ke sekolah. Aku jadi bosan di rumah, sayang aku mohon." Helen benar benar berharap Nathan memberikan nya izin.
"Ya sudah aku memberikan mu izin. Tetapi ada beberapa hal yang harus kamu lakukan. Pertama kamu tidak boleh kelelahan, kedua saat aku berangkat dan pulang dari kantor kamu sudah ada di rumah, ke tiga jangan membawa pekerjaan ke rumah, keempat aku tidak mau mendengar hal buruk yang terjadi pada mu. Kamu paham sayang," ucap Nathan.
"Paham sayang, aku akan melakukan semuanya dengan sangat baik, aku tidak akan mengecewakan mu sayang. Rumah tangga ku tetap nomor satu di dalam hati ku, tidak ada yang bisa menggantikan keluarga kecil ku ini," kata Helen.
"Aku berangkat dulu." Helen mengecup wajah Helen dan pergi meninggalkan kamar itu.
Nathan bukan tipe pria yang betah diam tidak melakukan apapun. Ia lebih suka melakukan banyak kegiatan dari pada hanya diam yang pasti menghabiskan waktu nya tanpa melakukan hal yang bermanfaat.
"Sudah ayo," ucap Nathan.
"Ayo, dimana kita akan ngegym," tanya Bryan.
"Di rumah ku saja lah, lebih aman dan ter privasi," jawab Nathan.
"Rumah mu jauh nat," tanya Albar.
"Lumayan jauh lah, tapi itu lebih baik dari pada di tempat lain. Lebih terjamin, dan mungkin jika beruntung kau bisa bertemu dengan Calvin."
"Hebat juga aku ya, bertemu dengan abang sepupu bos ku sendiri," ucap Bryan.
"Hahaha aku rasa pun Calvin tidak tau karyawan nya. Jangan bersikap formal jika bertemu dengan nya di luar kantor. Kau akan tau sifat asli nya bagaimana."
Nathan membawa Bryan ke rumah nya, sebenarnya Nathan tidak boleh membawa orang asing ke rumah nya, tetapi ia sangat percaya dengan Bryan, tidak mungkin Bryan mempunyai niat buruk pada keluarga nya. Ia saja belum lama kenal dengan Bryan.
Sesampainya di rumah nya. Nathan langsung membawa Bryan masuk ke dalam ruang gym yang terhubung langsung dari samping rumah. Bryan benar-benar terpanah dengan rumah yang super duper besar dan mewah ini. Ian rasa jika ia mempunyai anak 20 pun masih cukup untuk menempati rumah ini.
"Wah lengkap ya nat, pantas saja kau lebih suka olahraga di rumah, orang semua nya sangat lengkap sekali," ucap Bryan.
"Hahaha iya lah, kalau tidak lengkap tidak mungkin aku membawa mu ke sini. Mulai pemanasan lah, aku ke atas sebentar. Jika ingin minum atau pun memakan snack ambil saja di kulkas itu."
"Iya terimakasih," ucap Bryan.
Nathan naik ke atas untuk bertemu dengan Calvin, ia ingin bertanya tentang kehamilan Nila, ini anak ketiga Calvin dan Nila jika benar Nila sedang hamil. Nathan mendapatkan informasi Nila hamil dari Edward sendiri.
"Calvin," ucap Nathan.
"Iya Nathan, kau ke sini sejak kapan???"
"Barusan, apa adik ku hamil lagi," tanya Nathan.
"Hahaha iya adik mu hamil lagi, kebobolan Nat," jawab Calvin.
"Kurang anjar, aku saja belum mendapatkan satu kau sudah nambah lagi."
"Gas lah apa lagi, sudah punya istri kok."
"Ya ini sedang usaha, kau bisa cepat. Oh iya sibukk tidak?"
"Tidak, ada apa, mau mengajak ku kemana?"
"Ngegym bagaimana???"
"Boleh dimana???"
"Ya di rumah lah, dimana lagi," ucap Nathan.
"Ya sudah aku siap siap dulu. Bawa Marcel ke bawa, biarkan dia berolahraga," kata Calvin.
"Anak kecil itu mana, dia menghasut Edward agar cepat memiliki adik," ucap Nathan.
"Hahaha dia di kamar nya."
Nathan masuk ke dalam kamar Marcel dan langsung menangkap anak itu yang sedang fokus dengan mainannya.
"Paman," teriak Marcel, ia sangat kesal dengan Nathan karena Nathan lego yang ia susun jadi hancur berantakan.
"Hahaha rasakan, kau mainan saja," ucap Nathan.
"Dimana Edward," tanya Marcel.
"Di rumah nya lah, kau akan mempunyai adik lagi kan. Kau berkata pada Edward agar Edward segera mempunyai adik laki-laki."
"Edward ingin adik, aku hanya berkata saja," ucap Marcel.
Jika seperti ini wajah Marcel dan seperti tanpa dosa. Wajah babyface nya terkadang membuat Nathan ingin mengigit nya.
"Ayo turun kita olahraga," ucap Nathan.
"Aku ingin berlari," kata Marcel.
"Ya ayo, mau aku gendong atau jalan kaki??"
"Gendong." Marcel melompat ke atas tubuh Nathan.
"Untung kau anak adik ku," ucap Nathan.
__ADS_1
Nathan kembali ke ruang Gym tempat Bryan berada Bryan sudah mulai mengangkat beban beban kecil untuk melatih otot nya.
"Ayo yang besar," ucap Nathan.
"Hahaha nanti lah, anak siapa itu," tanya Bryan.
"Anak nya Calvin," jawab Nathan.
"Bos kecil ku, aku harus hati hati dengan nya, bisa bisa aku di pecat oleh nya," kata Bryan.
"Hahaha benar, kau harus hati hati dengan nya."
Calvin bergabung dengan mereka. Calvin terkejut Nathan membawa teman. Tidak Nathan jika tidak melanggar peraturan, padahal sudah jelas mereka tidak boleh membawa orang asing masuk ke dalam sini.
"Siapa Nat," tanya Calvin.
"Teman ku, dia juga bekerja di perusahaan mu," jawab Nathan.
"Oh karyawan perusahaan ku, aku tidak pernah melihat nya."
"Ya bagaimana kau melihat nya, kau saja jarang ke. perusahaan. Dia suami teman dekat istri ku, kami tinggal bersama," ucap Nathan.
Bryan kikuk berada di depan bos nya. Dari aura yang Calvin pancarkan sudah terlihat dengan jelas jika Calvin bukan orang biasa. Kewibawaan nya terlihat dengan jelas meskipun dia hanya sedang memakai pakaian olahraga.
"Jangan takut dengan nya, aku libas diam dia," ucap Nathan.
"Jangan canggung, di perusahaan aku memang bos mu tapi di sini kau teman ku," kata Calvin.
"Salam kenal, aku Bryan."
"Salam kenal kembali, kau pasti sudah tau nama ku bukan," ucap Calvin.
Mereka pun mulai fokus dengan diri mereka masing-masing. Berolahraga melati otot otot tubuh mereka. Memiliki tubuh yang indah sudah menjadi ciri khas keluarga Vins. Itu sebabnya mereka sampai mempunyai ruang gym pribadi.
Saat mereka sedang fokus berolahraga Nila datang membawa makanan yang ia buat untuk suaminya. Calvin tidak bisa memakan makanan sembarangan, ia memiliki penyakit yang harus dengan baik di tangani. Untuk menjaga kesehatan nya Nila selalu membuat cemilan sehat untuk sangat suami.
"Makan dulu mas," ucap Nila.
"Hey adik ku, apa hanya ada suami mu di sini, kamu juga ada di sini loh," kata Nathan.
"Aku membawa lebih kak, jangan ngambek dong."
Nila meletakkan makanan itu dan membagi nya menjadi tiga bagaian. Calvin memberitahu nya jika Nathan datang dengan teman nya, mana mungkin ia hanya membawa makanan untuk sang suami saja.
"Mamah aku mau," ucap Marcel.
"Tidak boleh sayang, kamu sudah berkeringat saja. Mandi yuk," kata Nila.
"Aku ingin berenang, ayo paman Nathan berenang," ucap Marcel.
"Sana Nat, berenang bersama dengan Marcel," kata Calvin.
"Ayo, tapi aku coba dulu." Nathan mendekati Nila dan mengambil makanan itu, tak lupa ia mengambil untuk Bryan juga.
"Coba lah, ini masalah adik ku, kami kembar," ucap Nathan.
"Terima kasih, tunggu kalian kembar," tanya Bryan.
"Yah sedikit tidak mirip tetapi ya kami memang kembar. Kami kembar tiga, satu lagi ada di luar kota sedang bekerja," jawab Nathan.
"Wah serius, ini sangat keren. Berarti nat, kau ada keturunan untuk mendapatkan anak kembar."
Jika Nathan mendapatkan anak kembar, mungkin ia sudah menggelar acara yang sangat besar. Memang dalam benak nya Nathan cukup ingin mendapatkan anak kembar.
"Bryan, kau di bagian mana," tanya Calvin.
"Devisi 25. Perencanaan," jawab Bryan.
"Aku ingin menaikan mu ke atas mungkin bisa ke 10, tapi kalau ingin lebih naik lagi bisa aku oper ke Vins grup. Di sana bisa masuk 5," kata Calvin.
"Sudah masuk saja ke Vins grup," ucap Nathan.
"Aku pikiran dulu ya Nat, bukannya aku menolak pekerjaan yang lebih baik, tetapi aku sudah
sangat nyaman di sana. Teman teman ku sudah sangat baik juga, nanti kalau aku sudah yakin aku pasti memberitahu mu."
"Itu sayang, gaji dan pangkat bukan segalanya, yang terpenting sekarang itu kenyamanan, kalau kita tidak nyaman dengan pekerjaan kita. Pasti tidak akan bagus hasil nya, aku sangat suka dengan pemikiran orang seperti itu."
"Iya sayang, yang membuat dia nyaman kan perusahaan ku. Berarti aku bagus menjadi seorang pemimpin, pegawai ku saja sampai nyaman," kata Calvin.
Malam hari nya. Mereka semuanya sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Melihat kedekatan Salsa dan Edward menimbulkan ide gila Nathan, yaitu menjodohkan mereka berdua. Ntah kenapa ia lebih merasa aman jika Edward menikah dengan seseorang yang jelas asal usul nya. Nathan tidak mengingat jika dulu ia sangat benci soal perjodohan. Karena menurut nya dulu hidup seseorang di atur oleh keinginan diri sendiri bukan orang lain, yang tau kebahagiaan seseorang adalah diri sendiri bukan orang lain. Tetapi karena ia tidak mengingat prinsipnya itu Nathan malah melakukan hal yang dulu ia sangat benci.
"Sayang bagaimana kalau Edward kita jodohkan dengan Salsa," ucap Nathan.
"Hahaha aku dan Tiara sudah membicarakan masalah ini, kami berdua si setuju. Tetapi aku malah takut kamu tidak setuju," kata Helen.
"Aku rasa kalau Edward menikah dengan seseorang yang kita kenal, asal usul nya jelas itu akan lebih baik untuk nya. Aku tidak pernah tau kenakalan apa yang dulu pernah aku lakukan, aku takut kenakalan itu malah menjadi boomerang untuk anak anak ku. Karma yang seharusnya aku terima malah jatuh pada anak anai ku. Sebisa mungkin aku ingin mengontrol kehidupan mereka sebelum mereka memiliki pendamping hidup masing-masing."
"Wah seperti nya kamu akan menjadi orang tua yang posesif, aku tau ketakutan kamu tetapi sayang jangan berlebihan ya. Mereka juga memerlukan kebebasan, jangan terlalu mengekang nya, apalagi anak laki-laki, kalau perempuan aku tidak masalah," ucap Helen.
"Hahaha anak laki-laki tidak bisa di rusak, mana anak laki-laki yang ngerusak," kata Nathan.
"Kamu pernah ngerusak wanita tidak," tanya Helen.
"Aku tidak tau sayang, semoga saja tidak pernah," jawab Nathan.
"Aku pun juga tidak tau masa lalu mu, dulu sebelum aku pergi meninggalkan mu kita baru berkenalan beberapa bulan, itu pun kita disibukan dengan pekerjaan, tidak ada waktu untuk menceritakan masa lalu masing-masing dari kita."
"Sayang kamu ada foto foto kita dulu," tanya Nathan.
"Ada di instagram aku arsip kan si," jawab Helen.
Helen membuka handphone nya dan menunjukkan foto foto mereka bersama. Mata Nathan tertuju pada foto mereka berdua yang berada di tengah kota Tokyo. Seperti nya Nathan sedang menembak Helen menjadi pacar nya.
"Ini pertama kali aku menembak mu ya," tanya Nathan.
"Iya sayang, kamu sangat romantis. Kamu menyewa ratusan drone yang sangat keren. Aku dulu benar benar sangat terharu. Setelah itu kamu membawa ku ke hotel," jawab Helen.
"Ngapain?? aku membobol mu," tanya Nathan.
"Menurut mu ngapain sayang, setelah menerima cinta mu dan kita sangat bahagia, enak nya ngapain...."
"Ya ampun sayang, aku membobol mu, maafkan aku sayang. Mungkin dulu aku sangat nakal ya." Nathan sangat takut apa yang ia lakukan dulu malah berbalas pada anak nya.
"Hahaha kamu aneh, malam pertama kita saja kamu baru merasakan kesucian ku kan, bagaimana mungkin kamu merasakan nya jika kamu sudah membobol ku waktu itu. Di dalam hotel kita hanya bersenang-senang dan tertawa sayang, tidak sampai bobol membobol," ucap Helen.
"Oh begitu. Kamu tau satu tempat lagi yang belum aku bobol sayang.."
__ADS_1
"Mana??"
"Belakang sayang," ucap Nathan.
"Tidak boleh, itu berbahaya sayang. Nanti kalau aku kebelet langsung keluar bagaimana, secara itu kamu raksasa," kata Helen.
"Hahaha kamu ngakak sayang, tapi....
"Tapi apa?? seperti tidak ada tempat lain saja, jangan aneh aneh ah, yang tempat asli nya saja kadang nut nutan, apa lagi yang lain," ucap Helen.
"Ya ya ya, aku mengerti."
Seperti biasa Malam ini mereka akhiri dengan gempa lokal yang harus terjadi setiap hari nya.
...☘️☘️☘️...
Minggu demi minggu telah berlalu, Nathan dan Helen sama sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Meskipun Helen sudah mulai sibuk dengan pekerjaan nya, ia tidak melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri, ia tetap berangkat bekerja setelah Nathan pergi bekerja dan pulang sebelum Nathan pulang. Untuk masalah Edward, Edward sekolah di tempat yang sama dengan Salsa. Ada Bryan yang selalu menjemput mereka setiap sore hari nya.
Hari ini Nathan dan Helen pulang siang hari. Mereka berdua di undang makan siang di rumah utama, yang mengundang mereka Vino langsung. Seperti nya ada hal yang ingin Vino sampai kan pada semua orang.
"Sayang kamu baru pulang," ucap Nathan yang lebih duluan sampai dari Helen.
"Maaf maaf, aku terlambat pulang," kata Helen.
"Sudah lah tidak usah berkerja. Aku tau kamu pasti sangat capek sekali, wajah kamu sangat lelah," ucap Nathan.
"Sayang mulai lagi deh," kata Helen.
"Bukan begitu, aku takut kamu kelelahan. Belum sampai satu bulan kamu bekerja kembali semua sudah mulai terlihat sayang. Bukan nya selama ini aku tidak memperhatikan kamu ya, aku sangat memperhatikan kamu. Kamu tau makanan yang aku bawa tadi milik Edward, dan Edward membawa bekal ku. Aku harus ke sekolah Edward untuk menukar nya, kamu tidak memberikan uang jajan pada Edward tadi sayang. Bukan hanya itu, beberapa kali kamu salah menyusun keperluan mu, dari pakaian sampai hal yang seharusnya itu sudah di luar kepala kamu."
"Jangan anggap aku seperti ini marah pada mu, tidak aku tidak marah, aku hanya tidak ingin kamu kecapekan sayang, jangan membuat suami mu ini khawatir pada mu," ucap Nathan.
Bruk... Tiba tiba tanpa di duga Helen jatuh ke lantai Hal itu benar-benar membuat Nathan terkejut. Dengan cepat Nathan menggendong Helen dan membawa Helen ke kamar.
"Sayang sayang bangun sayang, jangan seperti ini sayang." Nathan berusaha membangunkan Helen tetapi Helen tidak kunjung bangun.
Dengan terpaksa Nathan memanggil dokter ke rumah nya. Sebenarnya Nathan sudah tidak ingin berurusan dengan Dokter setelah apa yang terjadi pada nya beberapa tahun ini, tetapi mau bagaimana lagi ini semua demi kebaikan istri nya.
Tak lama Dokter datang dan Helen langsung di periksa. Dokter menjelaskan jika Helen kekurangan nutrisi dengan kelelahan. Nathan semakin di buat kesal pada Helen, karena semua itu akibat Helen yang kembali bekerja.
"Dok sekalian apa dia hamil," tanya Nathan.
"Tidak, dia tidak hamil. Bagaimana bisa hamil jika ibu nya saja tidak dalam kondisi yang baik," jawab Dokter.
"Begitu dok," ucap Nathan.
Rasa geram Nathan pada Helen membuat Nathan harus bertindak lebih, ia sudah tidak mau hal ini terjadi lagi. Nathan menelepon seseorang untuk membereskan semuanya.
"Ini yang terbaik untuk mu," ucap Nathan.
Baru beberapa menit handphone Nathan berada di atas meja Handphone itu sudah kembali menyalah. Nathan mengambil handphone itu dan langsung mengangkat nya.
"Iya daddy ku," ucap Nathan.
"Sayang dimana? hanya kau dan istri mu yang belum berkumpul," kata Vino.
"Maaf dad, aku tidak bisa datang. Istri ku sakit, maafkan aku ya, sekarang daddy katakan saja kenapa kami semua daddy minta untuk datang"
"Tapi istri mu tidak papa kan," tanya Vino.
"Tidak papa dad," jawab Nathan.
"Daddy ingin memberikan mu informasi jika Mommy mu sedang hamil. Dan kau akan mempunyai adik lagi," ucap Vino.
"Apa!! mommy hamil.." Tangan Nathan terasa lemas seketika, ia sangat sedih mendengar hal ini, ia bukan tidak suka mommy nya hamil lagi, tetapi karena ia ingin Helen hamil lebih dari dulu dari mommy nya, sekarang Mommy nya sudah hamil dan Helen masih belum hamil juga sampai sekarang.
"Nathan kau kenapa? kau tidak suka mommy mu hamil," tanya Vino.
"Tidak dad, tidak begitu, aku sangat suka dan bahagia. Selamat ya dad, aku ikut senang mendengar nya, doakan agar istri ku juga segera hamil," ucap Nathan.
"Iya Nathan pasti daddy akan mendoakan istri mu agar cepat hamil juga."
Setelah mendapatkan panggilan dari daddy nya Nathan terasa sangat lemas, ia seperti tidak bersemangat, rasa nya ia masih tidak Terima mommy nya hamil lebih dulu dari istri nya. Nathan duduk di atas sofa sambil memijat kepala nya yang terasa sangat pusing.
Helen mulai membuka mata nya secara perlahan, kepala nya terasa sangat pusing. Samar samar Helen melihat Nathan sedang duduk di sofa dengan ranjang nya.
"Sayang," ucap Helen.
"Kamu sudah bangun, bagaimana apa sudah lebih enak," tanya Nathan.
"Apa yang terjadi sayang," tanya Helen.
"Kamu masih tanya apa yang terjadi pada diri mu, harus kah aku menjelaskan semuanya. Kamu kelelahan kamu kekurangan nutrisi, kamu tidak lelah membuat ku khawatir pada mu, kamu tidak lelah membuat suami mu ini kesal dengan mu. Kamu tidak lelah membuat ku terus mengeluarkan banyak kata kata untuk mu, kamu tidak lelah melanggar apa yang suami mu katakan. KAMU TIDAK LELAH SAYANG....
"Maafkan aku, maaf mas, aku janji tidak akan seperti ini lagi." Dari tatapan mata Nathan sudah terlihat dengan jelas jika Nathan benar-benar marah pada nya.
"Maaf kata mu, ya aku memaafkan mu. Tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi lagi pada mu. Kata dokter kamu tak akan hamil jika seperti ini, kamu saja tidak bisa merawat diri kamu sendiri dengan baik, apalagi merawat ku, Edward dan anak kita nanti. Bagaimana tuhan memberikan kita kepercayaan untuk menitipkan seorang anak jika kamu seperti ini. Kamu tidak kasihan dengan Edward, dia sudah meminta adik, kamu tidak kasihan dengan ku sayang. Mommy ku sudah hamil lagi, dan kamu yang lebih mudah dan sehat dari nya malah seperti ini, kamu tau kan aku sangat ingin kamu hamil lebih dulu daddy mommy ku, sekarang pasti aku sudah menjadi bahan cerita di rumah ku sendiri."
"Maaf...
"Iya aku memaafkan mu, tapi apa dengan maaf semua nya bisa berubah seperti yang aku inginkan. Mulai detik ini tidak ada bekerja bekerja bekerja lagi, aku sangat membenci mendengar kata kata itu dari mulut mu.."
"Sayang aku...
"Apa!!! aku sudah mengakusisi perusahaan kecil itu, aku sudah mengambil nya, kamu tak akan bisa masuk ke dalam sana. Biarkan perusahaan itu aku yang mengolahnya, jika Edward sudah dewasa aku akan memberikan nya pada nya," ucap Nathan.
Helen hanya diam mendengar hal itu, ia tidak bisa marah pada pada Nathan, karena memang ia sudah mengecewakan Nathan. Semua yang Nathan lakukan demi kebaikan nya juga.
"Lusa kita ke dokter," ucap Nathan.
"Untuk apa sayang," tanya Helen.
"Agar kamu cepat hamil, aku sudah tidak tahan lagi mendengar kapan istri mu hamil Nat, itu merusak gendang telinga ku. Jangan membantah, jangan banyak berbicara, aku sedang kesal pada mu." Nathan bergerak pergi meninggalkan Helen.
"Mau kemana," tanya Helen.
"Menjemput Edward," jawab Nathan.
Dari pada banyak marah pada Helen, Nathan memutuskan untuk menjemput Edward, itu lebih baik dari pada suasana hati nya semakin tidak baik. Edward selalu bisa meredakan emosi nya......
"Ayah," ucap Edward.
Edward sangat senang Nathan datang menjemput nya, biasa nya hanya paman Bryan yang datang menjemput nya.
"Tumben nat," ucap Bryan.
"Hahaha tidak papa, sesekali saja. Dari pada aku tidak di akui Edward ayah nya, lebih baik aku datang menjemput nya. Oh iya terimakasih karena selama ini kau sudah datang menjemput Edward."
__ADS_1
"Iya tidak papa, kan sekalian jalan," ucap Nathan.