
"Ya sudah kamu malam ini dengan nya, aku mengantuk ingin tidur." Nabila pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sayang..." Jack ingin mengejar Nabila tetapi Jesika menahannya.
"Kamu kenapa si, aku juga manusia di sini, aku mempunyai hati juga," ucap Jesika.
"Ya kan dia istri ku.."
"Terus aku apa? babu mu? aku juga istri mu Jack, aku berhak atas dari mu, tetapi kau tidak pernah memperdulikan ku. Semua nya hanya tentang Nabila saja."
Jack memilih untuk stay dengan Jesica, Nabila juga sudah memberikan izin, dan dari ekspresi wajah Nabila tadi, ia tidak marah dengan diri nya.
"Jack aku ingin buah buahan segar," kata Jesika.
"Ambil lah di kulkas, di kulkas kan banyak," ucap Jack.
"Jack kamu suami ku loh, kamu tidak memberikan ku pelayanan seperti suami orang lain."
__ADS_1
Jack membuang nafas nya secara kasar, ia berjalan mengambil buah yang Jesika inginkan, jujur ia kurang nyaman dengan Jesika, ia lebih nyaman bersama dengan Nabila.
"Buah apa, ini ada mangga, apel, jeruk, pear, atau apa lah yang kau mau," tanya Jack.
"Apa saja lah, asalkan kamu kupas kulit nya dan kamu potong potong ya, aku ingin makan buah yang sudah siap santap."
"Apa nanti kalau Nabila hamil akan seperti ini juga?"
"Mungkin iya, saat aku hamil mudah banyak hal yang aku inginkan, kamu siap siap saja lah, kalau aku bisa menyiapkan semua nya sendiri, tapi kalau dia pasti memerlukan bantuan mu."
Di dalam kamar Nabila tidak terlalu memperdulikan Jack dan Jesika, ia lebih memilih rebahan sambil menonton televisi, nanti juga Jack akan masuk ke dalam kamar, Jack tidak akan betah lama lama bersama dengan Jesika.
Narendra sudah ingin kembali ke rumah, ia hanya pergi beberapa jam saja, ia mampir ke tukang martabak untu membelikan pesanan dari Mawar, ntah kenapa ia malah selalu mengingat apa yang Mawar pesan kan tadi, ia ingin melupakan pesanan itu tapi tidak bisa.
"Martabak apa ya," ucap Narendra.
"Untuk pacar atau istri yang sedang hamil mas?"
__ADS_1
"Istri ku, tapi tidak hamil, hanya ingin makan martabak saja, buatkan saja lah yang enak," ucap Narendra.
"Siap mas, silahkan di tunggu sebentar."
Baru saja Narendra meletakkan bokongnya di tempat duduk, handphone nya sudah berdering beberapa kali, ia pikir panggilan dari teman atau ayah nya tetapi ternyata panggilan dari istri nya.
"Hmmmm."
"Masih lama," tanya Mawar.
"Masih, jangan menunggu, aku malas membelikan martabak untuk mu."
"Kamu jahat sekali, aku sudah menunggu mu sejak tadi pun," ucap Mawar sambil mematikan sambungan telepon itu. Ia sangat kesal dengan Narendra yang tidak peduli dengan keinginan nya.
Pukul 10 malam, Narendra baru kembali ke rumah, ia tadi memang sengaja lama lama agar Mawar kesal dengan nya, biar saja Mawar marah karena memang itu keinginan nya.
Saat masuk ke kamar, ia melihat televisi menyalah dengan Mawar yang sudah tertidur dengan nyenyak. Ia yang tidak biasa menonton televisi mencoba untuk tidak mematikan televisi itu agar Mawar tidak bangun saat ia mendekati nya.
__ADS_1