
Helen tampak kebingungan karena Vino malah menerima nya dan anak nya. Kesalahpahaman ini pasti akan tetap berlanjut jika tidak di selesai kan sekarang juga.
"Tapi tuan, kesalahpahaman ini pasti akan terus berlanjut jika tuan tidak menjelaskan semua nya pada Nathan. Saya senang Edward mendapatkan kasih sayang seorang ayah, tapi saya juga tidak bisa terus membohongi nya."
"Untuk itu biarkan saja Edward menanggap Vino sebagai ayah nya. Untuk Nathan nanti aku akan berikan penjelasan jika Edward bukan anak nya, kau tenang saja Nathan pasti akan tetap menyayangi Edward seperti anak kandung nya."
"Sudah sayang, istirahat sana. Pernikahan kalian akan segera di urus," ucap Citra.
"Me.. menikah."
"Iya sayang menikah, kamu akan menikah dengan Nathan kan," kata Citra.
"Sudah tenang Helen, semua nya akan baik baik saja. Nathan sudah yakin dengan pilihan nya, kami tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada Nathan," ujar Marvin.
"I.. iya.." Helen pergi meninggalkan ruangan itu dengan kebingungan.
Ia berjalan ke kamar Nathan, ia sudah pernah di bawa Nathan ke kamarnya satu tahun lalu. Tidak ada yang berubah dari tata letak kamar Nathan. Semuanya masih sama seperti sebelumnya, wangi maskulin tatap mendominasi kamar itu.
Helen melihat Edward sudah tertidur dengan lelap di atas ranjang. Di sana tidak ada Nathan pemilik kamar itu, Helen mendekati Edward dan duduk di samping nya.
"Sayang seperti nya kehidupan mu akan lebih baik seperti ini," ucap Helen.
"Pasti akan lebih baik Helen, bukan hanya kehidupan nya tetapi kehidupan kita berdua," kata Nathan.
"Nathan." Helen langsung membuang arah wajahnya ke sembarang arah.
Nathan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang nya saja, ia baru selesai membersihkan diri nya.
"Hahaha maaf maaf." Nathan berjalan ke ruang ganti untuk memakai pakaian nya.
"Helen kau malu melihat nya seperti itu, dulu saja kau membantu nya bercukur, kenapa kau malu," ucap Helen.
Nathan kembali keluar dari dalam kamar hanya menggunakan celana pendek saja. Helen sudah tidak heran karena dulu saat di Jepang Nathan selalu memakai celana pendek jika di apartemen.
"Kau agak kurusan nat," ucap Helen.
__ADS_1
"Apa iya? aku sudah menggemukan nya lagi, sebelum nya aku lebih kurus lagi," kata Nathan.
"Sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Tapi...
"Tapi apa?? otot-otot ku lebih terlihat dengan jelas kan," ucap Nathan.
"Tidak," kata Helen.
"Hahaha jangan malu, aku sudah tau semuanya. Oh iya apa yang kau bicara kan dengan ayah ku," tanya Nathan.
"Banyak hal nat," jawab Helen.
"Salah satunya," tanya Nathan.
"Pernikahan kita berdua, kau yakin ingin menikah dengan ku nat," tanya Helen.
"Yakin lah, kenapa tidak," jawab Nathan.
"Kau menyayangi Edward dengan tulus Nat?"
"Aku sangat menyayangi nya Helen, kenapa kau bertanya seperti itu. Helen aku serius dengan keputusan ku, aku akan menyayangi kalian berdua sepenuh hati ku," ucap Helen.
"Aku tidak tau kapan aku terakhir memelukmu seperti ini, yang aku tau aku masih mengingat rasa itu, rasa hangat dan cinta di dalam pelukan ini," ucap Nathan.
"Nathan, bagaimana dengan Cindy," tanya Helen.
"Cindy, siapa Cindy?"
"Kau tidak tau. Hmmm mungkin memang kalian tidak melanjutkan perjodohan itu," kata Helen.
"Oh perjodohan ku dengan seorang wanita, tidak jadi aku tidak mau," ucap Nathan.
"Kenapa tidak? dia cantik dan seksi, kau suka dengan wanita seperti itu bukan?"
"Hahaha tidak tidak, aku suka wanita seperti mu. Mandiri, tegas dan sudah tentu cantik luar dan dalam. Aku yakin sebelum nya hubungan kita sudah sangat jauh," ucap Nathan.
__ADS_1
Helen meletakkan kepala nya di atas dada bidang Nathan. Jujur memang ia merasa sangat aman dan nyaman. Rasa cinta yang ia sembunyikan kembali muncul kembali kepermukaan hati nya. Rasanya benar-benar sangat indah. Helen seperti jatuh cinta yang ke dua kali nya.
Begitu juga dengan Nathan, rasa cinta nya pada Helen seperti muncul secara perlahan di dalam hati nya. Dokter sudah mendiagnosis nya kehilangan ingatan permanen, ia mungkin tidak akan mengingat masa masa indah nya dengan Helen di masa lalu, tetapi Nathan sangat yakin ia bisa menciptakan kembali masa masa indah yang tidak bisa ia ingat itu.
Aroma tubuh Nathan mengingatkan Helen akan masa lalu mereka. Memang semuanya terasa sangat indah sebelum nya. Helen sangat berharap semuanya akan kembali seperti itu, apalagi saat ini sudah ada Edward di tengah tengah mereka berdua.
Malam hari nya. Nathan mengajak Edward bertemu dengan anak anak Calvin sebagai teman sebaya nya. Ia ingin Edward memiliki teman agar tidak kesepian di tempat baru nya.
"Siapa paman," tanya Marcel.
"Nama nya Edward. Edward ini Marcel kau mau bermain dengan nya," tanya Nathan sambil menurunkan Edward dari gendongan nya.
Edward yang jarang bertemu dengan orang baru merasa takut saat melihat Marcel.
"Halo," ucap Marcel.
Berbeda dengan Edward. Marcel malah sangat senang jika ada orang baru di rumah nya. Apalagi anak kecil seumuran nya, ia yang kesepian sangat membutuhkan teman.
"Halo," kata Edward.
"Marcel dimana adik mu," tanya Nathan.
"Dengan mamah," jawab nya.
"Kalian main berdua ya. Sayang kamu main dengan Marcel ya. Jangan takut dengan nya, dia sangat baik kok, semua mainan ini kamu bisa memainkan," kata Nathan.
Setelah menyatukan mereka berdua. Baru lah Nathan bergabung dengan Vino dan yang lainnya untuk menyelesaikan masalah Edward. Vino juga tidak mau Nathan terus menerus salah sangka tentang siapa Edward.
"Sudah dad, apa yang ingin daddy jelaskan," tanya Nathan.
"Tidak banyak yang ingin aku jelaskan, hanya sedikit hal saja. Nathan Edward itu bukan anak kandung mu, kau dan Helen berpacaran belum lama mungkin hanya sekitar beberapa bulan saja, dan kecelakaan yang menimpa dirimu baru setahun berlalu. Usia Edward sekarang sudah 3 tahun lebih, bukannya itu tidak masuk akal jika Edward anak kandung mu."
"Jadi Edward anak Helen dengan pria lain." Nathan langsung melihat ke arah Helen, ia tidak mau Helen mempunyai anak dari pria lain.
"Tidak dia anak yang aku adopsi dari panti asuhan, setelah kita putus aku pergi meninggalkan kota ini, aku bertemu dengan dirinya saat ini menyumbangkan beberapa persen harta ku di salah satu panti asuhan," jelas Helen yang membuat Nathan lega.
__ADS_1
"Oh begitu aku sih tidak masalah. Mau dia siapa pun aku tetap menyayangi nya. Aku tetap menganggapnya sebagai anakku. Itu tidak salah kan?"
"Sangat tidak, daddy sangat senang kau seperti ini. Jagalah dan sayang dia seperti kau menyayangi anakmu nanti," ucap Vino