
"Apa alasan mu ingin menikahi ku? kau tidak mengenal ku, tidak mengingat ku."
Nathan membuang nafas nya perlahan. Seperti nya memang ia memiliki kesalahan besar di masa lalu nya, sampai sampai Helen seperti ini pada nya.
"Edward, aku menyayangi nya. Dia sangat menginginkan seorang ayah, jika aku pergi siapa ayah nya, dia sudah benar-benar menganggap ku ayah nya. Aku tidak ingin menyakiti perasaan nya dan membuat nya menangis."
"Lalu bagaimana dengan diri ku, kau pikir mudah untuk ku. Aku harus membuka luka lama ku, kau pikir semua itu begitu mudah seperti perkataan mu," ucap Helen.
"Beri aku waktu, aku tidak langsung menikahi mu, aku pasti bisa membuat mu jatuh cinta pada ku. Dan aku juga pasti akan mencintai mu. Helen aku memang tidak mengingat mu, tapi perasaan ku tidak bisa berbohong, ada sesuatu yang tidak bisa aku mengerti didalam hati ku tentang dirimu. Jujur saat aku bertemu dengan mu, semua nya terasa berbeda, aku seperti menemukan sesuatu yang hilang dari diri ku."
"Aku akan memikirkan nya." Helen menundukkan kepala nya, ia tidak bisa melihat tatapan Nathan yang begitu tulus pada nya. Mau satu tahun, dua tahun ataupun seluruh tahun. Tetap rasa cinta nya pada Nathan, masih tersimpan rapat di dalam hati nya. Hubungan nya dengan Nathan memang sudah begitu jauh.
Nathan berjalan mendekati Helen, ia menaikan kepala Helen dan mencium bibir nya. Waktu seakan berhenti, Helen seperti tidak bisa berkata kata lagi. Harus nya ia marah dan menolak Nathan, tetapi ia malah sangat menginginkan ciuman itu.
Nathan senang tidak ada penolakan dari Helen. Nathan merasa memang wanita ini dulu sangat mencintai. Ia masih penasaran kesalahan apa yang membuat Helen begitu marah pada nya.
"Mamah ayah." Edward berada di tengah tengah mereka berdua. Menyaksikan apa yang terjadi.
Dengan cepat mereka berdua langsung melepaskan ciuman itu. Nathan membalik badan nya karena adik nya sudah mulai bereaksi.
"Itu apa yah," tanya Edward.
"Pakaian ku." Nathan mengambil pakaian dari tangan Helen dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Mamah sedang apa," tanya Edward.
"Tidak ada tidak ada sayang, kamu sudah selesai makan nya," tanya Helen.
"Sudah siap," jawab Edward.
"Kamu mau pergi? kenapa memakai pakaian bagus."
"Edward mau pergi bersama ayah."
"Kemana sayang, kamu mau meninggalkan mamah sendiri di rumah."
"Tapi.... Edward ingin pergi dengan ayah..." Edward tampak bingung mau ikut dengan Nathan pergi atau di rumah bersama mamah nya.
__ADS_1
"Hahaha ya sudah pergi dengan ayah, jangan nakal ya. Menurut dengan apa yang ayah katakan," ucap Helen.
"Edward boleh pergi?"
"Boleh sayang," ucap Helen.
Helen mendekati wajah Edward dan langsung Menghujani wajah Edward dengan ciuman nya.
"Tadi ayah mencium mamah?"
"Tidak, tidak ada."
"Edward akan pergi bersamaku, boleh kan," tanya Nathan yang sudah rapi dengan pakaian yang Helen bawa tadi.
"Jangan membawa nya kabur," ucap Helen.
"Tidak akan, aku hanya bekerja sebentar, setelah itu kami jalan jalan."
"Kau tidak ingin ikut kami," tanya Nathan.
"Tidak, aku ada banyak pekerjaan," jawab Helen.
Hari ini Nathan menghabiskan waktu bersama dengan Edward, mereka berdua sudah seperti ayah dan sungguhan. Meskipun tidak memiliki ikatan darah sedikitpun tidak menghalangi rasa sayang antara mereka berdua.
Vino berjalan masuk ke dalam kamar nya. Ia ingin membicarakan masalah Nathan dengan Citra yang pasti dapat memberikan nya saran yang bagus. Jika memang Helen dan Nathan sudah di takdir kan berjodoh, Vino tidak akan menghalangi mereka berdua.
"Sayang aku ingin membicarakan hal penting," ucap Vino.
"Apa!! Nathan baik baik saja kan," tanya Citra.
"Ya baik baik saja, tapi ada hal yang lebih penting sayang. Nathan bertemu dengan Helen."
"Bertemu dengan Helen, wanita itu? mungkin memeng mereka sudah berjodoh," kata Citra.
"Ya mungkin saja, tetapi Nathan juga bertemu dengan seseorang anak yang Nathan anggap anak nya sendiri," ucap Vino.
"Apa!! mereka punya anak???"
__ADS_1
"Mungkin saja sayang. Helen dan Nathan pernah menghabiskan waktu bersama di Jepang. Ya kalau mereka berdua khilaf, bisa jadi Helen hamil saat itu," kata Vino.
"Tida tidak, anak ku tidak mata keranjang sayang. Kalau kamu ya mungkin, pertama bertemu dengan ku saja langsung nyosor."
"Kenapa tidak mungkin, orang dia anak ku, ya otomatis sifat nya tidak jauh dari ku, buah jatuh tidak jauh dari pohon nya sayang," kata Vino.
"No no no, kamu salah. Buah yang kamu maksud saat jatuh terbawa oleh angin jadi jauh dari pohonnya."
"Oke itu tidak penting, yang terpenting bagaimana dengan anak itu, apa benar itu anak Nathan," ucap Vino.
"Aku rasa si tidak. Mereka berpisah 1 tahun lebih, ya kalau Helen hamil, pasti anak mereka baru berusia beberapa bulan. Nah anak itu sudah bisa bicara dengan mu kan?"
"Sudah..."
"Berarti bukan anak Nathan. Mungkin Helen mengadopsi anak, nah Nathan pikir itu anak nya dengan Helen. Jika Nathan benar-benar mencintai Helen pasti perasaan nya akan langsung terkait, walaupun Nathan tida mengingat Helen."
"Dan Nathan langsung meminta menikah," ucap Vino.
"Berarti apa yang Nathan katakan satu tahun dulu benar sayang. Mereka berpacaran dan saling mencintai, mereka berpisah karena ulah mu."
"Sekarang, jangan halangi mereka berdua. Toh Nathan sudah cukup umur, sudah menjadi pemimpin, apalagi yang kurang," ucap Citra.
"Iya sayang aku tidak akan menghalangi mereka berdua lagi, dulu juga aku tidak bermaksud menghalangi cinta mereka berdua," kata Vino.
"Ya karena perjodohan yang kamu atur diam diam." Terkadang Citra kesal sendiri dengan suaminya yang selalu mengambil keputusan sepihak.
Nathan kembali membawa Edward ke pusat perbelanjaan setelah berkerja. Nathan ingin membeli pakaian untuk nya, ia masih beberapa hari lagi di rumah Helen. Dari pada mengambil pakaian di Vila lebih baik membeli nya lagi. Sekalian membelikan Helen dan Edward pakaian juga.
"Ayah ayah mau itu," ucap Edward.
"No, itu bukan mainan," tolak Nathan.
"Itu saja bagaimana," tanya Nathan.
"Boleh, itu besar sekali," ucap Edward.
"Boleh dong, nanti kamu bisa naik di dalam mobil itu, mau tidak?"
__ADS_1
"Mau mau mau," teriak Edward.
Jika bersama dengan Nathan, Edward hanya tinggal menunjuk apapun yang ia mau, selagi itu bisa Nathan beli pasti Nathan berikan pada anak nya itu.