Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Mengalah


__ADS_3

Hari sudah sore tapi Nathan dan Edward belum pulang juga. Helen cukup khawatir dengan mereka berdua yang tidak kunjung menampakkan batang hidung nya. Helen ingin menghubungi Nathan tetapi ia tidak mempunyai nomor baru Nathan.


"Aku memblokir nomor nya, tapi apa nomor nya tetap yang itu," batin Helen.


Dari pada tidak melakukan apapun. Helen memutuskan membuka blokir nomor Nathan. Ia menghubungi nomor itu dengan harapan Nathan mengangkat panggilan dari nya.


Nathan merasakan handphone nya berdering. Ia mengambil handphone itu dan melihat siapa yang menghubungi nya, tertulis dengan jelas jika yang menghubungi nya Helen. Nathan terkejut karena a masih memiliki nomor Helen.


"Aku semakin yakin jika Helen memang seseorang yang sangat penting di dalam hidup ku, aku sampai menyimpan nomor nya dengan lope lope," batin Nathan.


Handphone Nathan memang sudah tidak sama dengan yang dulu. Vino mengganti Handphone Nathan dengan yang baru, tetapi kartu yang digunakan tetap sama, Vino tidak mengganti nya karena nomor Nathan pasti sudah banyak terhubung dengan orang orang penting.


"Halo," ucap Nathan.


"Halo nat, kalian dimana? dimana Edward? dia baik baik saja kan?"


"Kami sedang di pantai minum air kelapa, jangan khawatir, kami akan segera pulang," kata Nathan.


Nathan memberikan handphone nya pada Edward agar Edward berbicara.


"Mamah sayang," ucap Nathan.


"Halo mah." Edward mengambil handphone itu.


"Sayang, kamu betah sekali ya. Cepat pulang, mamah sudah masak enak untuk mu," kata Helen.


"Ayah pulang," rengek Edward.


"Ya sudah ayo, kami pulang sekarang."


Helen sudah tenang jika sudah mendengar suara Edward. Ia sangat bergantung dengan Edward, seseorang anak kecil yang mampu menyembuhkan rasa sakit di hati nya. Jika tidak karena Edward, Helen rasa ia tidak mungkin bisa kuat sampai sekarang.


Sebelum pulang ke rumah Helen, karena jaringan internet disana tidak terlalu bagus. Nathan memesan tiket pesawat untuk mereka ke kota besok sore. Nathan sudah menyelesaikan tugas nya hari ini, ia ingin langsung membawa Helen dan Edward bertemu dengan ayah nya.


Sesampainya di rumah Nathan dan Edward membongkar belanjaan mereka berdua. Helen hanya bisa menggelengkan kepalanya. Baru kemarin Edward membeli banyak mainan baru dan sekarang ia sudah membeli nya lagi.


"Sayang berhenti membeli mainan, kamu tidak bisa memainkan semua nya," kata Helen.


"Kata ayah tidak papa, Edward boleh membeli semua mainan yang Edward suka."

__ADS_1


"Itu pemborosan sayang. Emang kamu bisa memainkan semua nya? tidak kan?"


"Bisa mamah, ayah mamah...


"Helen ini aku yang membelikan nya, sudah biarkan saja. Dia bisa membeli mainan saat kecil saja," kata Nathan.


"Pintar ya, sudah pintar mengadu," ucap Helen.


"Besok kita ke kota," kata Nathan.


"Ha untuk apa?" tanya Helen.


"Bertemu orang tua ku, dan bertemu dengan kakek nya Edward," jawab Nathan.


"Tidak aku tidak mau," tolak Helen.


"Edward kamu tidak tidur siang tadi, sekarang masuk ke lamar dan tidur ya. Nanti mainan yang besar akan sampai, setelah kamu tidur kamu bisa memainkan nya," kata Nathan.


"Iya yah." Edward mencium wajah ke dua orang tua nya, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa tidak mau," tanya Nathan.


"Ya aku tidak mau, kau siapa memaksa ku," tanya Helen.


"Dia bukan anak mu, sudah berulang kali aku katakan dia bukan anak mu, jangan bodoh Nathan," bentak Helen.


"Dia anak ku Helen, berhenti membual." Nathan juga bisa meninggikan suaranya. Ia tidak suka jika Helen membentak nya.


Nathan menarik Helen masuk ke dalam kamar. Ia takut Edward kembali mendengar pertengkaran mereka berdua.


"Lepas," ucap Helen.


"Kau mencintai ku bukan," tanya Nathan.


"Rasa cinta ku pada mu sudah mati," jawab Helen.


"Bagaimana mungkin bisa, tatapan mu menunjukan kau masih mencintai ku."


"Aku sudah mempunyai calon suami Nathan, berhenti memaksa ku untuk menikahi mu," kata Helen.

__ADS_1


"Calon suami kata mu? itu masih calon, bukan suami. Aku yang akan menjadi suami mu Helen." Sifat keras Nathan masih tetap ada di dalam diri nya. Jika sudah menginginkan sesuatu pasti Nathan harus mendapatkan nya.


"Tidak, aku tidak mau menikah dengan mu."


Nathan mendekati telinga Helen...


"Edward menginginkan adik, siap memberikan nya adik," tanya Nathan.


"Nathan jangan gila," ucap Helen.


"Sssttt aku sering mendengar cerita itu dari Marvin. Mungkin sekarang aku bisa melakukan nya kembali, membuat adik untuk Edward."


Nathan mendorong Helen sampai Helen jatuh ke atas ranjang. Nathan merangkak naik ke atas tubuh Helen, rasa marah dan kesal bersatu di dalam tubuh Nathan. Ia sangat marah mendengar Helen sudah mempunyai calon suami lain.


"Nathan jangan gila nat, aku tidak ingin melakukan nya di luar pernikahan," kata Helen.


"Tidak ingin, kita hanya berpacaran, tapi sampai mempunyai Edward, itu bukan nya hal yang luar biasa," ucap Nathan.


Helen tidak tau harus bagaimana lagi agar Nathan mengerti jika Edward bukan anak nya.


"Aku akan menikahi mu sayang." Nathan mendekati bibir Helen dan mulai mencium nya dengan lembut. Helen menolak ciuman itu, kepala nya ia goyangkan sana sini agar Nathan tidak bisa mencium nya. Satu tangan Nathan memegang kepala Helen agar terdiam, baru lah ia bisa bebas mencium bibir Helen.


Memang awal nya penolakan pada Akhirnya Helen luluh juga. Bagaimana tidak? orang yang ia cintai yang mencium nya, bukan orang yang asing. Meskipun ada rasa benci tetap saja rasa cinta nya pada Nathan masih lebih besar.


Ciuman Nathan turun ke leher jenjang Helen, beberapa kecupan menimbulkan tanda merah di sana. Helen tidak bisa menahan suara nya lagi. ******* lembut keluar dari dalam bibir nya.


"Nat nat." Helen menahan kepala Nathan saat Nathan semakin turun ke bawah.


"Ha??"


"Aku.. akk...


"Jangan takut, aku akan menikahi mu," ucap Nathan.


"Jangan Nat, aku tidak ingin melakukan nya. Oke aku mau ke kota dengan mu tapi jangan lakukan itu nat," kata Helen.


Helen tau jika Nathan menerus kan nya, tubuh dan hatinya tidak bisa menolak nya. Ia hanya bisa memohon untuk yang terakhir kali nya.


Nathan kembali mendekati leher Helen dan mencium nya kembali. Ciuman itu turun perlahan sampai ke atas dada Helen, Nathan memberikan bekas kecupan di sana.

__ADS_1


"Ahhkk Nathan," ucap Helen.


"Oke aku tidak akan melakukan nya sampai di rumah, berjanji untuk mau ikut aku ke kota," kata Nathan.


__ADS_2