Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Bab 29


__ADS_3

Nabila kembali masuk ke kamar Jack setelah selesai bersih bersih, ia merasa tak tenang jika tak berada di dekat Jack jika sedang seperti ini. Itu sebabnya Nabila buru buru menemui kekasih tercinta nya itu.


"Sayang," ucap Nabila.


"Hmmm." Jack merentangkan tangan nya agar Nabila masuk ke dalam pelukan nya.


"Sayang, kamu tidur dengan ku kan," ucap Jack.


"Aku tak mungkin meninggalkan mu dengan kondisi mu seperti ini," kata Nabila.


"Bangus, ini baru pacar ku," ucap Jack sambil mengusap rambut Nabila.


"Jack kamu sudah pernah berhubungan dengan Jesika," tanya Nabila.


"Sayang aku menikah dengan nya, ya tak mungkin aku tak menyentuh nya. Aku sehat kok, aku tak mungkin terkena HIV hanya karena berhubungan dengan nya."


"Ya tak begitu juga," kata Nabila.


"Hahaha sudah jangan pikirkan apa apa, kita akan bahagia setelah menikah," ucap Jack.


Keesokan harinya mereka sudah harus kembali ke rumah. Jack sudah lebih baik setelah mendapatkan perawatan maksimal dari kekasih nya. Jack sangat senang Nabila seperti sudah sangat menerima nya, sebenarnya lagi hubungan nya dan Jesika selesai. Dan setelah itu ia akan langsung menikah dengan Nabila.


"Kalian sudah siap," tanya Edward.


"Sudah lah, ayo aku sudah ada kelas nanti sore," jawab Jack.


"Gaya sekali kau.."


Mereka pun pergi meninggalkan hotel dan langsung ke jet pribadi yang sudah menunggu mereka berdua.


Jesika pun juga pergi meninggalkan Bali, tetapi ia tak pulang ke rumah langsung Jesika ingin pergi ke Singapura untuk menghabiskan uang yang


Jack berikan pada nya. Menikah dengan Jack memberikan banyak nya uang yang membuat nya bahagia, walaupun ia tak mencintai Jack dengan sungguh sungguh.


Sesampainya di rumah Jack dan Nabila masih berada di dalam mobil. Mereka berdua menunggu Edward dan Salsa turun lebih dulu dari mereka Ada hal yang ingin mereka berdua bicarakan dan hal ini sangat lah penting.


"Kalian mau apa," tanya Edward.

__ADS_1


"Bahas urusan kuliah nya Jack," jawab Nabila.


"Makan nya pinter, jangan membuat adik ku report Bodoh sekali."


"Sudah ayo sayang, kenapa malah marah marah adik ku," ucap Salsa.


Setelah ke dua nya pergi baru lah Jack dan Nabila bisa berbicara.


"Ingat sayang, rahasia untuk sementara waktu," ucap Jack.


"Iya, cepat selesai kan semua nya. 1-2 minggu," kata Nabila.


"Iya sayang." Jack menarik Nabila dan mencium bibir nya dengan sangat ganas. Tangan nya mulai memegang megang tubuh Nabila. Sama seperti pria pada umumnya, tak sah kalau berciuman tak memanfaatkan tangan.


"Kamu ya.."


"DP dulu bagaimana," ucap Jack.


"Jangan harap." Nabila keluar dari kamar dan pergi meninggalkan Jack.


Di dalam Narendra dan Edward berpapasan, selama kepergian Edward, Narendra tidur di rumah orang tua nya. Ia tak tau jika Edward pulang hari ini, jika taj ia pasti akan pergi dari rumah sebelum Edward datang.


"Lepaskan," ucap Narendra.


"Kau kenapa? ada masalah apa kau pada ku," tanya Edward.


"Masih tanya? Dimana otak mu," jawab Narendra.


"Maaf, aku tak bisa menepati janji ku."


"Kau mencintai nya," tanya Narendra.


"Dia istri ku, dia berhak mendapatkan cinta ku, dan aku wajib mencintai nya," jawab Edward.


"Kau yang memberikan ku harapan kau juga yang menghancurkan. Kau tau manusia yang paling aku benci sekarang adalah diri mu sendiri. Jika tak bisa menepati janji untuk apa kau berjanji pada ku!!!..."


"Maaf Narendra aku..

__ADS_1


"Maaf maaf kau pikir dengan maaf mu itu hati ku bisa kembali baik. Jika kau tak berjanji pada ku, aku tak akan berharap sampai sejauh ini. Kau tau Edward penyesalan terbesar ku apa?? mempercayai mu.."


Narendra berjalan pergi meninggalkan Edward.


"Tunggu, jangan begini ayah bisa marah.." Edward menahan tangan Narendra.


"Ayah?? ayah siapa? dia ayah ku bukan ayah mu. Kau anak pungut, jangan memanggil ayah ku dengan mulut kotor mu.."


"Narendra!!!." Helen yang mendengar hal itu langsung menghampiri mereka berdua.


"Plakk..." satu tamparan mendarat di wajah Narendra.


"Siapa yang mengajari mu seperti itu," ucap Helen.


Perkataan Narendra tadi benar benar menusuk hati Edward, ia sadar memang diri anak pungut di keluarga ini. Ia sadar ia tak berhak memanggil Nathan ayah, karena memang Nathan bukan ayah nya.


"Sayang jangan dengarkan adik mu, kamu anak ayah dan mamahh."


"Dia bukan abang ku mah, abang yang baik tak mungkin melakukan hal buruk pada adik nya. Dia bukan abang ku, aku tak sudi memiliki abang seperti nya. Anak pungut tetap lah anak pungut, mau bagaimana pun kau tetap anak pungut Edward, kau tak berhak apapun di rumah ini."


"Narendra!!!!." Karena pertengkaran mereka berdua, hampir semua orang datang mendekat. Termasuk Nathan dan Vino.


Mereka semua terkejut mendengar perkataan kasar Narendra.


"Apa maksud mu berkata seperti itu? jangan macam macam pada ayah," ucap Nathan.


"Narendra, jangan begitu. Edward abang mu, kalian memang tak memiliki ikatan darah, tetapi mau bagaimana pun Edward tetap abang mu. Dia sangat menyayangi mu." Vino memeluk Narendra, ia tau cucu nya ini hanya sedang emosi.


"Edward jangan dengarkan dia ya. Kau berhak atas apapun di sini, dari pertama ayah bertemu dengan mu kau sudah menjadi anak ayah, semua yang ayah miliki juga milik mu."


"Yang Narendra katakan benar yah, aku anak yang tak dinginkan oleh ke dua orang tua kandung ku. Aku memang anak pungut, anak yang mamah pungut dari panti asuhan, aku memang tak memiliki sedikit pun hak di keluarga ini, termasuk kasih sayang kalian."


"Tidak itu tidak benar sayang. Ayo ikut mamah."


"Kau masih memiliki masalah dengan mamah, nanti malam datang ke kamar," ucap Helen sambil menatap tajam Narendra.


Helen membawa Edward pergi dari sana. Sedangkan Vino dan Nathan menyidang Narendra, perkataan Narendra sudah di luar batas. Nathan tak pernah berpikir jika mereka berdua bisa sampai bertengkar seperti ini.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan itu pasti menusuk hati nya. Bagaimana kalau dulu ayah dan mamah tak ada saat kau lahir, dan kau di adopsi oleh keluarga, anak dari keluarga itu memperlakukan mu seperti kau memperlakukan Edward tadi, bagaimana perasaan mu? sakit bukan. Seharusnya kau bersyukur memiliki orang tua yang lengkap. Jika bisa memilih pasti Edward juga ingin hidup dengan keluarga kandung nya. Dia tak salah, dia tak ada pilihan. Ayah benar-benar sangat kecewa pada mu. Ayah rasa percuma saja ayah mengirimkan mu ke London untuk S2. Kau saja seperti ini, tak. pernah bisa menghargai orang lain."


__ADS_2