
Setelah pulang dari rumah Tiara. Nathan terbayang bayang dengan apa yang suaminya Tiara katakan. Sedikit banyak nya ia belajar bagaimana cara agar istri nya cepat hamil. Meskipun begitu Nathan masih cukup bingung, ia takut malah Helen takut di malam pertama mereka.
"Kalian membahas apa tadi," tanya Nathan.
"Tidak ada, itu tadi rumah ku dulu. Aku datang karena merindukan rumah ku dan tentu juga merindukan teman ku itu," jawab Helen.
"Ini tanggal berapa," tanya Nathan.
"19," jawab Helen.
"4 hari lagi sayang. Kamu sudah siap menjadi istri nya Nathan?"
"Aku takut, tapi ya mau bagaimana lagi, siap tidak siap ya harus siap," kata Helen
"Untuk apa kamu takut. Hidup mu akan bahagia bersama dengan ku. Kita akan mempunyai banyak anak Helen jangan takut," ucap Nathan.
Sesampainya di rumah mereka berdua masih bisa berpacaran seperti pasangan pada umumnya. Edward sedang bermain dengan saudara saudara nya. Ini kesempatan mereka berdua agar lebih dekat lagi.
"Tadi kata kamu ada yang ingin kamu bicarakan," ucap Nathan.
Nathan duduk di samping Helen dan meletakkan kepala nya di atas paha Helen. Ia menatap wajah Helen dari bawa.
"Hmmm begini, aku ingin kembali bekerja," ucap Helen.
"Bekerja? bekerja bagaimana?"
"Kan aku mempunyai sebuah perusahaan, aku ingin kembali memimpin perusahaan ku," kata Helen.
"Tak bisa sayang. Aku sudah menjadi pemimpin kami cukup menikmati hidup kamu, biarkan aku yang bekerja."
"Sayang aku tidak bisa dirumah leha leha, aku ingin bekerja, aku sudah terbiasa bekerja," kata Helen.
"Ya tidak usah di rumah, pergi berbelanja habiskan uang ku, atau pergi arisan, seperti wanita pada umumnya," ucap Nathan.
"Aku tidak bisa Nathan, aku tidak bisa seperti itu," kata Helen.
"Aku tidak mengizinkan mu bekerja Helen, jangan seperti ini."
"Belum menikah saja kamu sudah seperti ini," kata Helen.
Nathan menghirup nafas nya secara perlahan, memang sebaiknya ia mengalah terlebih dahulu pada Helen, nanti setelah menikah ia akan mengatur istri nya menjadi istri yang penurut.
"Ya sudah boleh," ucap Nathan.
"Serius? kamu mengizinkan ku bekerja," tanya Helen.
"Iya sayang, tapi ingat jangan kelelahan. Aku tidak mau jika aku pulang bekerja kamu belum ada di rumah," jawab Nathan.
"Siap siap," ucap Helen.
__ADS_1
"Aku mulai bekerja besok ya, aku sangat mencintaimu, kamu benar-benar calon suami yang sangat baik," kata Helen.
"Iya iya sayang, boleh aku minta balasan," tanya Nathan.
"Apa itu," tanya balik Helen.
"Cium aku." Nathan memajukan bibir nya.
"Cup.. cup.. cup..." Helen memberikan banyak kecupan di bibir Nathan, bukan hanya bibir wajah pun juga tidak lepas dari kecupan manja nya.
"Aku mencintaimu," ucap Nathan.
"Halo, apa ada orang di sini," tanya Nathan sambil mengusap perut Helen.
"Sayang bagaimana mau ada orang, emangnya benih kamu sudah masuk ke dalam sana?"
"Ya sudah ayo masukan," ucap Nathan.
"Kamu tidak bisa menahan nya selama 4 hari lagi?"
"Tidak bisa." Nathan bangkit dari atas paha Helen dan langsung menggendong Helen. Ia membawa Helen masuk ke dalam kamar nya.
"Sayang jangan ah," ucap Helen.
"Belum apa apa sudah ah," ejek Nathan.
Nathan meletakan Helen ke atas ranjang, saat ingin mendekati bibir Helen tiba-tiba...
Edward berlari mendekati mereka berdua.
"Bagus Edward," ucap Helen, ia merasa seperti di selamat kan oleh Edward.
"Ayah mau apa? kenapa ayah tidak kembali tadi?"
"Hehehe ayah lupa sayang, kamu sudah selesai bermain," tanya Nathan.
"Sudah, aku sudah selesai bermain," jawab Edward.
Ia naik ke atas ranjang dan berbaring diantara ke dua orang tua nya.
"Sayang kamu ingin punya berapa adik?"
"Hmmm dua." Edward memberikan dua jari nya pada Nathan.
"Cukup dua sayang? tidak tiga empat atau lima," tanya Nathan.
"Sayang jangan dengar kan ayah mu, ayah mu enak hanya berbicara, mamah yang mengandung," kata Helen.
"Bagaimana cara membuat adik? Edward mau ikut."
__ADS_1
"Tidak bisa sayang, ini hanya di lakukan oleh ayah dan mamah. Kalau kamu mau adik, kamu harus tidur sendiri, bagaimana kamu berani tidur sendiri?"
"Berani berani," ucap Edward.
"Dia sudah biasa tidur sendiri, tapi di sini tidak ada kamar nya," kata Helen.
"Nanti aku akan membuatkan kamar untuk nya," ucap Nathan.
"Edward mau kamar seperti apa," tanya Nathan.
"Yang banyak mainan ya."
"Itu pasti, dia hanya memikirkan mainan ya," kata Helen.
...☘️☘️☘️...
Hari yang paling Nathan dan Helen tunggu pun datang, hari pernikahan mereka berdua. Saat inis semua keluarga sudah berada di kapal pesiar tempat Nathan dan Helen mengikat janji suci. Dari pihak Helen hanya orang tua Helen lah yang datang. Berbeda dengan pihak Nathan yang semua keluarga nya datang menyaksikan soul oud nya keturunan Vino, Nathan anak Vino yang terakhir menikah.
"Nathan kau tidak gugup," tanya Vino.
"Tidak dad, aku tidak gugup sama sekali, malahan aku sudah tak sabar," jawab Nathan.
"Dulu aku menikah sangat gugup sekali nat, kau hebat tidak gugup sedikitpun. Mana pernikahan kalian sangat mewah," ucap Marvin.
"Hahaha ini semua ide dari Riga, ternyata benar-benar sangat luar biasa."
"Nathan sebentar lagi kau akan memiliki tanggung jawab, daddy yakin kau bisa menjalani rumah tangga mu ini dengan sangat baik, daddy yakin kau pasti bertanggung jawab dengan keputusan mu ini," ucap Vino.
"Pasti daddy jangan khawatirkan itu, aku pasti bertanggung jawab atas pernikahan ku," kata Nathan.
"Bagaimana persiapan malam pertama mu" tanya Marvin.
"Hahaha ya begitu lah, apa yang harus aku siap kan. Hanya burung saja kan," jawab Nathan.
"Bukan hanya burung bodoh, energi mu juga. Jangan loyo," ucap Vino.
"Itu pasti dad, aku tida mungkin loyo," kata Nathan dengan sangat percaya diri.
Di tempat lain. Helen sedang di rias secantik mungkin oleh tim MUA terpercaya. Di sana ada Tiara yang selalu menemani Helen. Ia tau Helen tidak memiliki dukungan lain selain dari diri nya.
"Kau sangat cantik Helen, dada mu besar juga ya," kata Tiara.
"Iya aku tidak nyaman," ucap Helen.
"Tidak papa, sedikit terbuka, nanti kan Nathan langsung bisa melahap nya," kata Tiara.
"Nanti juga akan tertutup nona tenang saja."
"Tu dengar, hanya Nathan yang bisa melihat nya. Oh iya dimana Edward," tanya Tiara.
__ADS_1
"Edward sedang bersama dengan nenek nya, dia sudah di pegang neneknya dari kemarin, kata nya agar tidak menganggu, tapi aku tidak bisa jauh dari nya," ucap Helen.
"Oh begitu, iya si apalagi di malam pertama kalian, pasti jika ada Edward tidak berjalan dengan lancar," kata Tiara.