
"Hahaha itu kan menurut mu, kau tak tau sifat seseorang hanya dengan kebaikan nya saja, aku sudah dari bayi bersama dengan nya, jadi aku sudah tau bagaimana baik buruk sifat nya. Dari pada diri mu, aku lebih mengenal Edward," ucap Narendra.
"Ya ya ya, kamu lah yang mengenal nya, memang aku baru kenal dengan dia."
"Itu lah, aku sebenarnya lebih baik dari pada dia, tapi mau bagaimana lagi, karena ulah nya sendiri aku jadi benci dengan nya," ucap Narendra.
"Iya tuan yang baik hati dan tidak sombong, anda memang sangat baik dan tidak sombong," kata Mawar.
Sesampainya di kampus seperti biasa nya. Narendra keluar dari dalam mobil lebih dulu dari Mawar, mereka berdua tidak mau di gosip kan satu kampus. Apalagi Narendra cukup memiliki banyak orang yang dekat dengan Narendra, ya walaupun Mawar tak pernah tau Narendra, diri nya saja yang terlalu kudet.
"Sudah lama sekali aku menunggu nya, tapi apakah benar yang dia katakan. Apa abang ku seperti itu, tapi apa yang di katakan Narendra seperti benar. Ya sudah lah bukan masalah ku juga, itu kan masalah abang dan Narendra. Yang terpenting bang Edward baik pada ku," ucap Mawar.
Mawar keluar dari dalam mobil, ia sudah terlalu lama di dalam mobil. Sebenarnya Mawar itu cantik, apalagi dengan pakaian mahal dan make up yang pas, baru beberapa hari tinggal dengan Edward saja ia sudah banyak berubah. Dulu memang ia tak di lirik oleh orang banyak karena penampilan seadanya.
"Hay," ucap seseorang pria.
"Iya ada apa," tanya Mawar.
"Boleh aku kenalan dengan mu," tanya pria itu.
"Boleh, siapa nama mu," tanya Mawar.
"Perkenalkan nama ku Rey," jawab nya sambil menjulurkan tangan nya.
"Mawar.." Mawar membalasnya.
Mawar yang memang sangat suka berkenalan dengan orang baru santai saja menghadapi pria ini. Mereka berdua berjalan sambil berbicara, dengan cepat mereka berdua juga langsung akrab.
"Ya sudah aku mau masuk kelas," kata Mawar.
"Iya, aku boleh minta nomor mu," tanya Rey.
"Boleh.." Setelah memberikan nomor nya Mawar masuk ke dalam kelas nya.
"Ciee yang sudah punya pacar," ucap Jack.
"Hahaha kau ada ada saja, dia bukan pacar ku ya," ucap Mawar.
"Jadi jika bukan pacar mu, pacar siapa," tanya Jack.
"Ya mana aku tau Jack kami hanya berkenalan biasa saja," jawab Mawar.
"Oh berarti sudah ada yang mendekati mu, wah Narendra mendekati mu, itu juga mendekati mu. Sudah menjadi primadona sekarang diri mu," ucap Jack.
"Kau kata siapa Narendra mendekati ku, aku hanya asisten pribadi nya."
"Lah satu kampus sudah mendengar berita tentang mu dan Narendra, kau menjual nama Narendra saat mendaftar liburan, kau dan Narendra juga tertangkap kamera sedang menggambar bersama. Sudah jangan mengelak, aku sudah lama hidup dengan Narendra, aku tau dia."
"Hahaha semua itu hanya hoax, jangan percaya itu," ucap Mawar.
Mawar terkejut dengan semua ini, begitu pengaruh nya Narendra sampai semua bisa menduga jika diri nya berpacaran dengan Narendra. Niat untuk pacaran saja tak ada, ia yakin hidupnya akan super ribet jika sampai pacaran dengan pria itu.
"Kau ikut pergi Jack," tanya Mawar.
"Tidak, aku harus bekerja. Aku juga memiliki istri, lebih baik fokus bekerja dan menghabiskan waktu dengan istri ku."
Mawar menganggukkan kepala nya, Jack yang ia tau dulu dan yang ia kenal sekarang sudah jauh berbeda, Jack tak lagi buaya dan memikirkan kesenangan nya saja.
"Memang jika sudah menemukan seseorang yang tepat pasti akan tobat," ucap Mawar.
"Hahaha aku dengar, tapi apa yang kau katakan benar si. Kau tau bagaimana aku, dulu kalau tak 5 atau lebih pacar ku, aku memikirkan kesenangan ku Tetapi sekarang aku sudah menemukan satu wanita yang benar-benar cukup, cukup mendapatkan kasih sayang dan cinta. Ya kalau kita sudah menemukan orang yang tepat pasti kehidupan kita akan jauh lebih baik."
"Abang ku dulu juga buaya, aku dengar mantan nya banyak disini."
"Hahaha benar sekali, sama seperti ku dia sudah menemukan wanita yang tepat. Dan sekarang dia benar-benar fokus bekerja dan membahagiakan istri nya."
Narendra masuk ke dalam kelas Mawar, berita tentang kedekatan nya dengan Mawar benar-benar sayang menggangu nya, ia sangat malas mendengar semua berita ini. Ia harus segera mengkonfirmasi jika semuanya palsu.
"Mawar," ucap Narendra.
"Iya.."
Narendra membuka handphone nya dan membuat video.
"Katakan jika kau bukan pacar ku, dan aku tidak mendekati mu."
"Ya aku memang bukan pacar mu, aku di minta ayah mu untuk membantu menyiapkan semua keperluan mu, hanya itu saja. Aku dan dia tidak berpacaran dan tidak saling suka."
Mawar yang juga tak mau ada salah paham menjelaskan semuanya.
"Kenapa harus ada klarifikasi juga si, kalian cocok kok, mana tau Narendra dengan Edward bisa berbaikan," ucap Jack.
"Jack kau bisa diam, ayo ikut aku," kata Narendra.
"Aku ada kelas."
"Bolos saja, sejak kapan kaun memikirkan kelas," ujar Narendra.
"Sejak menikah dengan adik mu," kata Jack.
"Dasar, dan kau jangan melupakan nya," ucap Narendra dan pergi meninggalkan kelas itu.
"Bagaimana Narendra keren kan," tanya Jack.
"Keren bagaimana dia hanya suka mengancam tidak jelas," jawab Mawar.
"Hahaha memang begitu, tapi sebenarnya dia sangat baik. Mungkin dia sedang tak baik baik saja, tapi kalau kau kenal dia lebih dalam kau akan tau bagaimana kepribadian nya."
"Untuk apa mengenalnya lebih dalam, kami hanya sebatas asisten dan bos, tak perlu pakai mengenal lebih dalam."
Siang hari nya. Mawar yang sudah selesai kelas langsung kembali ke mobil. Ia terkejut Narendra sudah siap duduk di kursi dekat mobil. Seperti nya Narendra sudah menunggu nya sejak tadi.
"Maaf lama menunggu ya," ucap Mawar.
"Hmmm, ayo aku harus bertemu dengan seseorang," kata Narendra.
"Kita kemana," tanya Mawar.
"Perusahaan, aku ganti dulu, tutup wajah mu," jawab Narendra.
Ia mengganti pakaian nya di bagian belakang mobil. Sudah menjadi kewajiban untuk nya memakai pakaian kantor jika ke perusahaan, apalagi ada pekerjaan untuk hanya bertemu dengan keluarga masih di perbolehkan memakai pakaian biasa. Narendra salah satu pewaris terkuat keluarga Vins. Hanya satu saingan nya, paman kecilnya sendiri, antara mereka berdua lah yang akan merebut posisi pemimpin yang saat ini di pegang oleh Nathan.
Setelah kembali rapi baru lah Narendra kembali ke depan.
Mawar seperti melihat Narendra dua orang yang berbeda dari sebelumnya. Narendra terlihat sangat berwibawa memakai pakaian seperti ini, aura yang di pancarkan sungguh luar biasa.
"Hey," ucap Narendra.
"Iya, ayo," kata Mawar.
"Tadi Rey ada bertemu dengan mu," tanya Narendra.
"Ada, dia sangat baik, dia mau kenalan dengan ku."
"Adiknya mantan abang mu, hati hati mana tau dia balas dendam pada Edward tetapi melampiaskan nya pada mu," kata Narendra.
"Begitu ya, wah kamu sangat baik sekali ya. Kamu memperingati ku."
Ujung bibir Narendra naik sedikit. Bukan ia baik hati pada Mawar, ia hanya ingin diri nya sendiri yang menyakiti Mawar, bukan orang lain.
Sesampainya di perusahaan. Narendra turun dari dalam mobil. Ia tak mengajak Mawar yang membuat Mawar bingung, ia harus ikut turun atau pulang ke rumah.
"Le... Aku bagaimana," tanya Mawar.
"Pulang, packing pakaian ku," jawab Narendra.
"Jam berapa aku harus menjemput mu," tanya Mawar.
"7 malam, langsung masuk saja, katakan pada satpam jika kau aku suruh untuk masuk ke dalam," jawab Narendra berbohong, padahal ia hanya sebentar di sini, ia akan pergi dengan paman kecil nya ke sebuah tempat.
Mawar pun langsung pulang ke rumah.
"Wanita aneh, aku lama lama suka juga mengerjai nya," ucap Narendra.
"Narendra ayo masuk," panggil Vino.
"Iya kek."
Di rumah agar kerjaan nya tak menumpuk. Mawar langsung menyiapkan pakaian yang akan Narendra bawa liburan. Ia melihat jadwal kegiatan agar tak salah membawa pakaian untuk Narendra.
"Ini ini ini, baru semua nya. Hmmm parfum nya sangat wangi," ucap Mawar.
"Parfum mahal Mawar, kau tak akan mampu membeli nya, kau hanya cocok memakai parfum minimarket 30 ribuan," kata Mawar.
Total nya hanya satu koper saja, semua yang Narendra butuhkan semuanya sudah ada di dalam koper. Mereka liburan hanya 4-5 hari jadi tak perlu membawa pakaian yang lama.
"Sekalian pakaian untuk nya besok," ucap Mawar.
"Baju ini bagus,celana nya ini. Parfum nya yang ini, dan snikers yang ini. Selesai tugas ku selesai, saat nya packing untuk ku." Sambil tertawa Mawar pergi meninggalkan kamar Narendra.
Barang yang Mawar akan bawa akan lebih banyak dari Narendra, Apalagi perlengkapan perempuan pasti akan lebih banyak dan ribet. Untung saja Mawar sudah selesai datang bulan, jadi ia tak perlu khawatir kalau bocor atau ada kegiatan di air.
Narendra bertemu dengan paman kecil nya, anai dari Vino yang baru kembali dari luar negeri. Mereka berdua memang cukup dekat berbeda dengan yang lainnya.
"Kau sudah punya pacar," tanya Maxime.
"Belum ah, jangan bilang kau sudah tau berita yang tersebar?"
"Tidak ada, aku hanya tanya saja," ucap Maxime.
"Kau bagaimana? apa kau sudah mempunyai pacar," tanya Narendra.
"Jangan kan punya pacar, bertemu dengan wanita saja aku jarang."
"Hahaha sabar, ayo lah, nanti kita terlambat, ayah ku juga ingin bertemu dengan mu," ucap Narendra.
Malam hari nya, seperti yang Narendra katakan tadi. Mawar benar-benar menjemput nya di malam hari pukul 7 malam. Perusahaan sudah sangat sepi, mungkin ada beberapa orang yang sedang lembur. Mawar sangat takut dengan kegelapan, suara yang tiba-tiba berbunyi dan sudah pasti hantu.
"Masuk saja mbak, tetapi sebelum pukul 8 sudah harus keluar karena semuanya akan terkunci otomatis," ucap Satpam.
Mawar membawa mobil nya ke tempat parkir, malam malam begini masih saja banyak mobil yang terpakir. Mana semua mobil sama dengan yang ia bawa, sudah pasti mobil perusahaan.
Mawar turun dari dalam mobil sambil membawa handphone nya. Ia hanya bisa memegang handphone nya dengan erat karena ia benar-benar sangat takut sekali.
Ruangan Narendra ada di lantai paling atas. Untung saja lift masih berfungsi yang membuat nya tak perlu naik tangga. Mawar juga bertemu dengan beberapa orang yang sedang bersiap untuk pulang, karena batas lembur di perusahaan ini hanya sampai pukul 7 malam. Kalau mereka tak menurut sudah pasti akan terkunci di dalam sana, karena pukul 8 semua nya akan terkunci secara otomatis termasuk lampu yang akan padam.
Mawar sudah berulang kali menghubungi Narendra untuk meminta konfirmasi tetapi Narendra tidak mengangkat telepon dari nya. Mawar tak bisa langsung sampai ke lantai paling atas, ia harus pindah ke lift yang di sebelah nya agar bisa sampai atas.
Di ruangan itu saja suasana nya sangat tidak enak, walaupun masih terang tetap saja sangat seram karena sudah tidak ada orang di dalam sana.
Sesampai nya di lantai yang paling atas, Mawar harus memeriksa satu persatu ruangan yang ada di lantai itu karena ia tidak tau dimana Narendra berada. Memang Narendra tidak ada di kantor, ia sudah di rumah kakek nya sejak tadi sore, Narendra lupa mengabari Mawar jika tadi itu hanya bercanda saja, handphone nya juga sedang ia cas di kamar Marcel, jadi ia tak akan tau jika Mawar berusaha untuk menghubungi nya.
Pukul 7:50 Mawar masih belum menemukan Narendra, ia tak melihat jam karena ketakutan dan sangat bingung kenapa Narendra tak ada di sana, hanya tinggal 3 ruangan lagi yang belum ia periksa.
Saat ingin membuka ruangan terakhir tiba tiba semua lampu padam, terdengar semua ruangan mulai terkunci. Mawar sangat terkejut sekali, ia sampai berteriak dan menangis dengan sangat kencang karena sangking takut nya.
"Narendra handphone mu," ucap Marcel.
"Siapa," tanya Narendra.
"Si bodoh, dia menghubungi mu sudah berulang kali.''
"Mawar, jangan bilang dia benar benar menjemput ku," ucap Narendra.
"Pukul 8 lewat, arti nya semua sudah terkunci." Narendra mengambil handphone nya dan langsung menghubungi Mawar.
Tangan Mawar gemetaran mengangkat telepon dari Narendra, ia benar benar sangat ketakutan.
"Haa...lo." Suara Mawar terdengar gemetaran.
''Kau dimana, jangan bilang kau menjemput ku," tanya Narendra.
Belum Mawar menjawab nya, batari handphone nya sudah habis, panggilan itu langsung terputus seketika.
Narendra yang masih punya hati dan perasaan langsung memutuskan ke kantor, ia sangat takut terjadi apa apa pada Mawar, bukan arena dia perhatian pada Mawar, tetapi ia sangat takut di amuk keluarga nya sendiri. Sesampai nya di kantor Narendra menemui Satpam untuk meminta konfirmasi, apakah ada wanita yang masuk ke dalam atau tidak.
''Tadi si ada mas, tapi kami rasa sudah pergi bersama dengan Karyawan lainnya."
__ADS_1
"Dia masih di dalam, hidup kan semua nya," ucap Narendra.
"Hanya pemimpin yang bisa menghidupkan nya yaitu ayah mas Narendra."
Narendra tidak mungkin meminta ayah nya untuk menghidupkan perusahaan kembali, pasti Nathan akan curiga dan ia dalam bahaya. Narendra hanya meminta kunci setiap pintu yang akan ia lalui sampai dengan lantai atas.
"Mas harus naik tangga darurat kalau mau sampai atas," ucap Satpam.
"Tak masalah, kau pikir aku tak pernah naik tangga darurat."
Narendra pun langsung masuk ke dalam dengan menggunakan kunci manual. Ia mulai naik tangga darurat dari lantai dasar. Narendra pernah beberapa kali naik ke lantai atas dengan menggunakan tangga darurat, semua itu atas human dari kakek nya, jadi Narendra rasa ia tak akan terlalu bermasalah.
Hampir 30 menit Narendra belum sampai juga di atas, ntah sudah lantai berapa ia berada, Narendra terus berlari dengan cepat.
Di atas Mawar sudah tida sadarkan diri karena begitu takut nya, ia sangat takut sekali, semua nya begitu menyeramkan, pingsan memang hal terbaik untuk saat ini.
Narendra sudah sampai di lantai yang paling atas, saluran nafas nya terasa mau putus karena ia begitu sangat lelah, kalau tidak karena Mawar ia tak akan sampai seperti ini.
''Mawar," teriak Narendra.
Tak ada sautan dari Mawar, ia berjalan mendekati ruangannya, lampu flash di handphone nya yang bisa ia andalkan saat ini. Mata Narendra tertuju pada wanita yang sudah tidak sadarkan diri, ia sangat yakin jika wanita itu pasti Mawar.
"Bisa bisa nya dia tidur di sini, eh tidur atau pingsan ya,'' ucap Narendra.
Narendra membawa Mawar ke ruangan nya, ia ingn membangunkan mawar menggunakan minyak angin yang ada di dalam ruangan nya.
Beberapa tetes minyak angin Narendra letakan di hidung Mawar, dan Mawar langsung tersadar dari pingsan nya.
"Narendra...Aku sangat takut." Dengan erat Mawar memeluk Narendra.
''Dasar wanita bodoh, kenapa kau mengganggap serius ucapan ku, apa kau tak tau yang nama nya joks, baku hanya bercanda, mana mungkin aku berada di dalam sini malam malam begini," ucap Narendra.
"Kan aku salah lagi, Nanat tidak menjemput mu aku salah, dan sekarang aku salah lagi, apa si mau mu, aku hanya ingin bekerja dengan baik, aku tak mau mengecewakan abang ku, aku hanya ingin hidup mandiri.
"Sudah jangan curhat, tak ada yang mau mendengar curhat dari mu, sekarang bagaimana handphone ku sudah kehabisan daya, semua nya sangat gelap. Bagaimana cara nya kita turun."
"Aku takut gelap," ucap Mawar.
"Kau jangan takut, kalau kau takut aku juga takut. Akan ku pecat semua satpam itu, tak ada yang menyusul ku ke sini," ucap Narendra.
"Jadi bagaimana Narendra, jangan membuat ku panik."
"Tak ada pilihan lain, kita menginap di sini, besok pukul 6 semua nya akan menyalah."
"Menginap di sini, kita tidur dimana? jangan aneh aneh Narendra," tanya Mawar.
"Di sini ada tempat tidur. Oh nya bukan nya lampu di sini tetap menyala jika mati, ruangan ku ada lampu otomasi."
Narendra mencari salkar untuk menghidupkan lampu ruangan ini. Dan benar saja memang lampu ruangan ini otomasi. Jadi mereka tak perlu takut lagi. Tetapi lampu itu hanya tahan beberapa jam saja, lampu itu akan mati jika batrai nya habis.
"Kita tidur dimana," tanya Mawar.
"Di ruangan pribadi ku. Ayo.."
Narendra membawa Mawar ke ruangan pribadi nya. Ia membuka pintu ruangan itu agar cahaya bisa masuk ke dalam.
"Sudah tidur lah, aku mau ganti baju," ucap
Narendra.
Mawar merendahkan diri nya di atas kasur yang lembut, ia melihat Narendra yang membuka lemari untuk mengganti pakaian nya.
Baju kemeja panjang lepas dari tubuh nya. Mawar tidak bisa lepas dari punggung kekar Narendra. Ini pertama kali nya ia melihat pria seperti itu di depan nya.
"Sangat keren sekali, dia sudah tampan tubuh nya indah lagi, aku yakin bagian depan nya sudah seperti tahu."
Narendra hanya memakai kaus tanpa lengan, ia yakin pasti ruangan ini akan panas, jadi dari pada ia tak nyaman lebih baik memakai kaus seperti ini saja.
"Hmmm jorok," ucap Mawar.
"Apa yang jorok," tanya Narendra.
"Kamu tak membersihkan ketiak mu."
"Eh ini aset, jangan macam macam dengan ketiak, kalau tak suka jangan di lihat," ucap Narendra.
Mawar membalik tubuh nya membelakangi Narendra, ia tak mau melihat ketiak Narendra yang penuh dengan hutan. Ia juga merasa tak enak tidur dengan pria asing. Biasa nya ia hanya tidur dengan Arya, sama sama pria tetapi pria satu ini sudah terkontaminasi bukan seperti Arya yang masih suci.
"Kalau kau aku gituin bagaimana," tanya Narendra yang membuat Mawar panik.
"Jangan macam macam, aku tak mau menikah dengan mu."
"Ya sudah tak usah menikah," ucap Narendra.
"Kamu sangat jahat sekali ya," kata Mawar.
"Tadi pagi memuji ku baik sekarang malah mengatakan ku jahat," ucap Narendra..
"Jangan aneh aneh Le, aku sangat takut. Nanti kalau aku hamil bagaimana??"
"Ya kau akan mempunyai anak, masih tanya kalau hamil bagaimana," ucap Narendra.
"Bukan itu maksudnya, aku tak bisa aku sangat takut, jangan Narendra aku mohon."
"Hahaha kau kenapa si, kau aneh sekali," ucap Narendra.
"Aku tak sudi menyentuh mu, aku bukan level mu."
"Kamu bukan level ku? maksudnya bagaimana??"
"Eh salah kau bukan Level ku, jangan berharap apa apa dari ku," kata Narendra.
"Siapa yang berharap, aku malah sanga takut."
"Tidur jangan banyak berbicara, kalau lampu itu mati semuanya akan gelap" kata Narendra.
"Ya nama ya lampu nya mati, ya pasti akan gelap," kata Mawar.
"Oh menantang ya, aku matikan ya.."
"Jangan jangan, aku mohon jangan. Aku tidur sekarang."
Satpam perusahaan tak mencari mereka berdua karena para satpam berpikir ini malak yang indah untuk bos mereka. Mereka pernah muda, karena memang usia seperti Narendra memang lagi doyan nya dengan wanita.
Pagi hari nya, pukul 6 pagi hari ke dua nya sudah bangun dengan kegelapan. Jarak di antara mereka berdua masih tetap septi. Tak ada berdekatan sedikit pun. Kalau Mawar hanya bangun sendiri berbeda dengan Narendra yang bangun berdua, pasti kalau pagi ada yang ikut bangun dengan nya.
"Jam berapa hidup nya," tanya Mawar.
"Kau sudah bangun, aku pikir kau belum bangun," ucap Narendra.
"Aku sudah tau kamu bangun, suara nafas mu terdengar kencang, mana gelap sekali," kata Mawar.
"Lampu akan hidup 5:30 sebelum semua orang datang lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini, jangan sampai orang menyebarkan berita yang tidak tidak tentang kita. Untung saja pergi jadwal berkumpul nya jam 11," ucap Narendra.
"Bagus lah, aku jadi tak khawatir terlambat, untung saja aku sudah packing."
"Milik ku??"
"Sudah juga," ucap Mawar.
"Bagus, aku suka cara kerja mu..".
Pukul 5:30 lampu pun sudah hidup Dengan cepat mereka berdua langsung bersiap siap untuk pulang. Narendra tak mengganti pakaian nya kembali karena tanggung, nanti juga ia akan langsung mandi. Mawar masih salah fokus dengan ketiak Narendra, seperti hutan yang tidak pernah di babat. Ia yakin kalau tidak rajin pakai deodoran akan bauk. Tetapi ada satu hal yang mengalihkan perhatian Mawar, otot lengan Narendra benar-benar sangat menyenangkan mata nya.
"Kalau kau diam terus begini, aku tak akan membawa mu pulang," ucap Narendra sambil berjalan pergi meninggalkan Mawar
"Eh maaf." Mawar langsung berlari mengejar Narendra.
Mereka pulang dengan hanya satu mobil nya, seperti biasa nya Mawar yang menyetir mobil karena Narendra sedang malas. Ia memang sangat ingin menjadi raja yang di layani oleh para pelayan nya.
"Aku memanggil mu nama saja ya," ucap Mawar.
"Terserah mu," kata Narendra, ia sudah biasa mendengar Mawar memanggil nama nya. Memang lebih baik seperti itu terasa lebih enak saja di dengar oleh diri nya ataupun orang lain. Malahan kalau tak tau arti nya panggilan yang Mawar buat terdengar seperti panggilan sayang.
Sesampainya di rumah mereka berdua di perhatikan oleh beberapa orang yang sudah turun dari kamar. Mereka bingung kenapa Narendra dan Mawar baru masuk ke dalam rumah. Berarti selama ini mereka berdua tak ada di dalam rumah.
"Narendra dari mana sayang," tanya Helen.
"Perusahaan aku dan gadis ini terjebak di dalam," jawab Narendra.
"Kamu tidak berbuat apa apa kan," tanya Helen.
"Tidak papa ku sayang, dia bahkan tak menarik di mata ku, bagaimana mungkin aku mau berbuat apa-apa pada nya."
"Hey jaga mulut mu, bagaimana kalau dia jodoh mu," ucap Helen.
"Tak akan, ya sudah mamah aku harus mandi."
"Awas saja kamu macam macam, kamu mamah sunat dua kali."
"Iya mamah ku sayang mau di sunat berulang kali pun milik ku sama dengan ayah," kata Narendra sambil pergi meninggalkan mamah nya.
"Jadi ingat milik ayah nya," batin Helen yang senyum senyum sendiri.
Di apartemen..
"Sayang," ucap Nabila.
Nabila mencari suami nya yang ntah berada dimana, ia berjalan keluar dari dalam kamar. Mata nya tertuju pada Jack yang sedang mengusap ngusap perut Jesika. Di wajahnya benar benar terlihat bahagia. Mungkin itu gambaran Jack saat saat dirinya hamil nanti.
"Sayang kamu tidak masuk kuliah," tanya Nabila.
"Tidak sayang, libur 4 sampai 5 hari ke depan," jawab Jack.
"Sudah berapa bulan," tanya Nabila.
"3 bulan," jawab Jesika.
"Sudah minum susu," tanya Nabila.
"Sudah lah, nanti kalau kau hamil kau akan merasakan apa yang aku rasakan, tidak enak sekali," jawab Jesika.
"Jangan begitu, jangan membuat nya takut untuk hamil," ucap Jack.
"Kamu kerja," tanya Jesika.
"Iya lah, kalau aku tak bekerja bagaimana kalian bisa makan. Nanti yang bayar apartemen ini siapa," jawab Jack.
"Aku masak sarapan dulu ya.."
"Tidak usah sayang, Edward mengajak ku makan di luar," kata Jack.
"Ya sudah kamu hati hati, ingat jangan macam macam," ucap Nabila.
"Iya aku berangkat." Jack mencium ke dua kening istri nya.
"Ih kenapa dia juga si," batin Nabila.
"Hahaha memang aku harus berdamai dengan keadaan," batin Jesika.
Jack pulang ke rumah orang tua nya, ia bertemu Edward di rumah itu. Mereka hari ini tak bekerja di kantor, mereka akan berkerja di luar kantor.
"Sudah ayo," ucap Edward.
"Kau sudah mendengar berita jika adik mu dengan Narendra di kira pacaran," tanya Jack.
"Aku tak peduli, asalkan Narendra tidak berbuat yang tidak tidak aku bebaskan mereka berdua. Toh kalau sudah berjodoh mau bagaimana pun tetap bersama."
"Kalau aku jodoh adik mu bagaimana," tanya Jack.
"Akan aku bunuh ku hidup hidup, kau mau menikahi kedua adik ku," ucap Edward.
"Hahaha aku kan cuma bertanya," kata Jack.
"Tidak ada bertanya seperti itu, kau tak ikut liburan kampus," tanya Edward.
"Kalau aku ikut aku tak mungkin bersama mu, terkadang dapat kau itu sangat anehh," ucap Jack.
__ADS_1
"Hahaha aku kan hanya bertanya," ucap Edward.
"Tak ada bertanya seperti itu," kata Jack.
"Kau mengulangi ucapan ku.."
Yang awal nya bermusuhan sekarang jadi sangat dekat seperti bestie, itulah Edward dan Jack mereka saat ini benar benar sangat dekat, urusan pekerjaan salah satu faktor yang membuat mereka berdua dekat. Edward seperti memiliki pengganti Narendra versi tidak bisa diam.
Mawar sudah bersiap siap dengan pakaian yang keren, ini liburan pertama nya, ia harus tampil sempurna, Mawar juga tidak mau membuat Narendra merasa malu karena penampilan nya.
Begitu juga dengan Narendra ia selalu suka dengan outfit yang Mawar sediakan semua nya terlihat sangat keren saat ia pakai. Karena waktu sudah mepet ia langsung keluar dari dalam kamar, ia yakin pasti akan lama menunggu Mawar, karena memang wanita itu biasa berdandan sangat lama.
Tetapi tidak untuk Mawar, Mawar sudah dandan dari setengah jam lalu, ia tida mau membuat Narendra menunggu lama. Baru Narendra duduk sebentar di sofa lantai atas Mawar sudah keluar dari dalam kamar nya. Melihat penampilan Mawar, Narendra sedikit tersenyum.
''Sudah ayo," ucap Mawar.
"Koper mu lebih besar dari milik ku," kata Narendra.
"Kebutuhan wanita itu lebih banyak, tenang saja perlengkapan mu sudah sangat aman, aku membawakan semua nya tanpa ke tercuali."
''Awas saja jika sampai ada yang tidak kau bawa, gaji mu akan ku potong lima puluh persen," ucap Narendra.
"Kalian berdua sudah mau pergi," tanya Nathan yang ingin mengantarkan Arya sekolah.
"Kakak." Arya tampak sangat senang sekali bersama dengan Nathan, ia seperti sedang bersama dengan ayah nya sendiri.
"Iyah yah," jawab Narendra.
"Kalian berdua hati hati, jangan macam macam ya, Narendra kau pria jangan sampai dia kenapa napa jaga dia dengan sangat baik. Mawar gaji kamu paman kirim sekarang ya, takut nya kamu membutuhkan uang nya," ucap Nathan.
"Iya paman, terimakasih," kata Mawar.
"Berapa gaji nya,' tanya Narendra.
"100 juta perminggu, makan nya kau jangan macam macam kau pikir murah," jawab Nathan.
"Gila hanya bekerja begitu saja sampai sebesar itu, aku rasa sepuluh juta perbulan pun sudah sangat layak."
"Itu kalau orang lain, kau tak tau siapa yang kau pekerjakan, lagi pula kan aku yang menggaji nya, kenapa kau yang sibuk,'' kata Nathan.
"Hadeh, ya sudah kami berangkat dulu, katakan pada mamah dan abang nya, aku malas abang nya sibuk menghubungi ku," ucap Narendra.
"Iya kanada adik nya, untuk apa dia menghubungi mu."
Narendra dan Mawar pun pergi ke kampus, di sana sudah banyak orang yang sedang menunggu keberangkatan, pertama mereka akan naik bus dulu ke bandara setelah itu mereka baru akan naik pesawat yang sudah di sewa khusus untuk mereka, karena memang siswa yang ikut jumlah nya sangat banyak sekali.
Mawar sudah seperti pengutil Narendra karena ia harus ikut kemana pun Narendra melangkah, teman kampus nya tak ada yang ikut arena mahal nya biaya, hanya anak anak kalangan atas saja yang ikut kegiatan ini, hanya diri nya yang biasa saja karena Narendra yang membayari, oleh karena itu saat ia mendaftar mereka langsung mencatat nama Mawar karena Mawar menjual nama Narendra.
''Wah di ikuti asisten pribadi nya ni," ucap Rizky.
"Halo cantik, jangan terlalu dekat dengan tuan mu, dia sangat galak."
"Sempat kalian berdua berbicara lagi,baku bungkam mulut kalian," ancam Narendra.
"Kalau kau sumpal dengan uang aku si tak papa," kata Zaki.
"Sudah ayo masuk jangan banyak berbicara kalian," kata Narendra dengan emosi. Ia sangat tidak suka di goda seperti itu. Apalagi dengan Mawar, bisa jatuh harga diri nya, jika Edward sampai tau pasti ia akan di rendahkan oleh Edward.
"Kau duduk dekat ku saja," ucap Rizky.
"Dia dengan mu." Rey menggandeng tangan Mawar dan membawa Mawar ke pojok mobil.
"Rey," ucap Mawar.
"Tadi kau sudah janji untuk duduk dengan ku," kata Rey.
"Tapi.."
"Tapi apa kau tak mau menepati janji mu," ucap Rey.
"Iya Iya aku tidak mungkin tidak menepati nya."
Narendra menatap tajam ke arah Mawar. Ia sudah memperingati Mawar untuk tidak jauh jauh dari nya, secara tidak langsung Mawar tanggung jawab nya, ia tak mau sampai Mawar kenapa napa dan ia yang terkena masalah.
"Jangan macam macam dengan nya, kalau kau sampai kenapa napa, jangan salahkan aku." Narendra mengirim pesan itu pada Mawar.
"Hadeh aku juga tak akan meminta tanggung jawab dari nya," batin Mawar.
"Siapa," tanya Rey.
"Abang ku, dia tanya apakah aku dekat dengan Narendra atau tidak, aku tak boleh jauh jauh dari nya."
"Oh begitu, yang aku tau memang Edward sangat dekat dengan Narendra," kata Rey.
"Oh begitu, aku si baru tau, ya secara kan aku baru bertemu dengan nya setelah bertahun-tahun lama nya, aku tak tau kehidupan nya," ucap Mawar.
"Iya dulu mereka sering ke kampus bersama, Edward S2 nya dan aku dan Rey S1. Kau belum ada, jadi tak tau kedekatan mereka berdua," kata Rey.
Bukan nya abang ku tidak kuliah di sini," tanya Mawar.
"Memang tidak, dia hanya sebagai pembicaraan, sering juga datang ke kampus. Makan nya banyak mantan nya di kampus," jawab Rey.
Mawar merasa lebih banyak tau tentang Edward. Meskipun sudah sering mereka berdua mengobrol tak cukup untuk lebih saling mengenal antara Edward dan Mawar.
Sesampainya di bandara. Mawar langsung di tarik oleh Narendra, itu tanda nya ia harus tetap berada di samping Narendra.
"Kamu ya, jangan asal tarik," ucap Mawar.
"Kau kemana mana si, kan sudah aku katakan, jangan macam macam, kau mau aku di marah ayah ku," kata Narendra.
"Aku juga tidak berbuat apa-apa, ya sudah iya maaf membuat mu merasa repot," ucap Mawar.
Mawar terus berada di samping Narendra, saat di dalam pesawat pun Mawar tetap di samping Narendra, la tak mau mengambil resiko lebih, jika Narendra sudah marah akan gawat untuk nya.
Perjalanan mereka sangat lah panjang. Karena kemarin malam kurang tidur Narendra dan Mawar menghabiskan waktu di perjalanan dengan tidur saja. Mereka akan bangun jika ada makanan datang.
"Lama lagi," tanya Mawar sambil melihat ke arah jendela pesawat.
"Lama," jawab Narendra.
"Kalau kaca ini di buka pasti seru," ucap Mawar.
"Kalau mau mati jangan mengajak satu kampus, mati saja sendiri," ucap Narendra.
"Apa kalau di buka kita akan mati," tanya Mawar.
"Apakah kau tidak pernah naik pesawat," tanya Narendra.
"Aku tak pernah naik pesawat sebelum nya, liburan begini saja tidak pernah," jawab Mawar.
"Oh pantas sesekali, kau sangat norak," kata Narendra.
"Mawar kau cantik dari sini," ucap Zaki.
"Makasih kamu juga tampan," ucap Mawar.
"Kau tidak cemburu kan Narendra," tanya Zaki.
"Tidak ada urusan nya dengan ku," jawab Narendra.
Pukul 3 dini hari mereka baru sampai di sana. Mereka bebas untuk memilih memakai hotel dari pihak kampus dengan syarat 3 orang satu kamar atau memesan kamar sendiri. Sudah pasti rombongan Narendra memilih kamar sendiri, ia satu kamar dengan Mawar agar tidak repot sana sini kalau ada sesuatu.
"Jangan macam macam ya," ucap Mawar.
"Ya sudah pesan kamar sendiri, bayar sendiri dan jangan mengadu apa apa pada ku kalau terjadi sesuatu."
"Iya iya, begitu saja ngambek."
"Kalian kalau mau anu anu boleh loh, nama nya lagi di Hawaii bebas," ucap Zaki,
"Mata mu tak bebaskan," kata Narendra.
Narendra dan Mawar masuk ke dalam kamar hotel. Mereka tak perlu takut takut khilaf karena di dalam ada dua kamar tidur. Mawar jadi lebih lega kalau begini.
"Mau makan tidak," tanya Mawar.
"Kau lapar," tanya Narendra.
"Hehehe iya aku sangat lapar," jawab Mawar.
"Lihat lah sana mana tau ada yang bisa kau masak, kalau ada aku mau makan juga, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Narendra dan pergi meninggalkan Mawar.
Mawar meletakkan kopernya ke dalam kamar tidur nya, setelah itu ia mendekati dapur yang tersedia dan melihat apa saja yang bisa ia masak. Seperti nya hotel ini sangat mahal permalam nya, karena kamar hotel ini begitu mewah nya.
"Keren," ucap Mawar.
Mawar mengambil spaghetti instan, ia memilih makanan ini karena tak terlalu berat. Kalau makan yang lainnya ia takut jadi gemuk.
"Ya padahal sama saja, apalagi makan jam segini,x ucap Mawar.
Selagi menunggu masak, Mawar melihat jadwal besok siang. Besok mereka akan berkumpul di pantai. Mawar langsung berpikir kalau memakai pakaian yang sedikit terbuka tidak akan menyiksa nya, kalau pakai yang sangat tertutup pasti akan gerah yang menimbulkan rasa tidak nyaman untuk nya.
"Kalau Narendra, pakai celana pendek, snikers putih dan baju berwarna tosca seperti nya keren. Kalau panas tinggal pakai buka baju, biasanya cowok cowok suka tidak memakai baju di pantai Pasti pemandangan di sana sangat indah, bukan hanya alam nya tetapi juga para manusia nya." Mawar sudah membayangkan yang tidak tidak.
Tak lama makanan yang ia masak jadi, ia memarut keju di atas makanan Narendra, kalau untuk diri nya ia tidak bisa karena energi keju, dari Edward sampai Arya mereka bertiga tidak bisa makan keju langsung. Kalau sudah tercampur makanan baru mereka bisa memakannya.
"Sudah matang," tanya Narendra sambil mendekati Mawar, Narendra sama seperti kemarin memakai kaus tanpa lengan,tetapi kali ini ada yang berbeda karena Narendra tak mempunyai hutan lagi di ketiak nya. Semuanya sudah ia bersih karena kegiatan ini, ia akan malu jika teman teman nya melihat semua hutan lebat nya.
"Mata mu kemana," tanya Narendra.
"Hehehe tidak ada, sudah matang makanan nya, coba saja pasti sangat enak," jawab Mawar.
"Kau tak pakai keju," tanya Narendra.
"Elergi."
"Sama dengan Edward, ia juga tidak bisa makan keju, kata nya akan gatal banyak gaya memang dia," kata Narendra.
"Bukan banyak gaya memang gatal," ucap Mawar.
"Besok kita kemana," tanya Narendra.
"Besok kita ke pantai, seperti nya akan asik," jawab Mawar.
Narendra mengangguk kan kepala nya, jujur makanan yang Mawar masak sangat enak, seperti nya wanita ini sering memasak.
"Oh iya besok aku ingi memakai celana pendek saja, kaus pendek juga dan pakai sandal saja, aku malas ribet memakai snikers," kata Narendra.
"Oke, besok siang aku siapkan, karena memang kumpul nya juga siang hari," ucap Mawar.
Setelah selesai makan mereka langsung kembali masuk ke dalam kamar tidur masing masing. Mawar tidak bisa tidur karena ia sudah terlalu lama tidur di dalam pesawat tadi, jadi waktu nya ini ia habiskan untuk merawat tubuh nya, ia memotong rambut nya sedikit lebih pendek agar tidak panas, di ujung rambut nya ia warnai warna coklat. Mawar ingin merubah penampilan nya di sini, mana tau habis dari sini image nya di kampus berubah lebih baik lagi.
Semua alat dan bahan yang Mawar gunakan ia bawa dari rumah, ia memang sudah merencanakan sebelum berangkat. Memang pada awal nya ia ingin melakukan di rumah tetapi karena terjebak di perusahaan bersama dengan Narendra, ia tida memiliki banyak waktu untuk melakukan nya.
Pukul 6 pagi semua nya sudah selesai, ia membersihkan semua nya dan memutuskan untuk istirahat sejenak, kalau tidak istirahat nanti diri nya pasti akan mengantuk.
Siang hari nya, Mawar langsung masuk ke dalam kamar tidur Narendra, ia menyiapkan pakaian yang akan Narendra pakai, bukan hanya pakaian tetapi perlengkapannya lainnya.
Sebelum Narendra keluar dari dalam kamar mandi, Mawar keluar lebih dulu dari dalam kamar, ia tak mau melihat Narendra tak memakai baju. Narendra keluar dari dalam kamar mandi dengan semangat, ia tak sabar untuk main di pantai dengan teman teman nya, usia nya yang baru 20 tahun memang lagi senang senang nya bermain main.
Ia senang pakaian nya sudah tersedia, perlengkapan yang lainnya juga sudah ada, hanya satu yang kurang ****** ***** Narendra, ia tak menemukan celana d*lam itu, tidak mungin ia tidak memakai celana d*lam saat di pantai, senjata nya akan meneplak dan membuat nya malu.
"Halo, kenapa menghubungi ku," tanya Mawar tanpa wajah yang tidak bersalah, dia tak tau apa apa soal celana d*lam Narendra.
"Dimana celana d*lam ku? bukAn nya kata mu kau sudah mempersiapkan semua nya, kenapa sampai tidak ada hal sepenting ini," tanya Narendra.
"Ah seperti nya aku melupakan nya, maaf... mau pakai celana d*lam ku??"
"Kau pikir aku apa? mana mungkin aku memakai celana d*lam wanita. Jangan aneh aneh dan mencari alasan tidak penting, aku mau celana d*lam ku ada dalam waktu dekat carikan aku celana d*lam!!!" Narendra begitu marah sampai langsung mematikan sambungan telepon itu.
"Ya kenapa aku bisa lupa seperti ini," ucap Mawar.
Mawar tak ada pilihan lain selain mencari celana d*lam Narendra, itu memang hal yang sangat penting untuk Narendra. Pilihan satu satunya tertuju pada Zaki dan Rizky salah satu teman dekat Narendra.
"Apa celana d*lam, hahaha aneh sekali," ucap mereka berdua sambil tertawa dengan keras.
"Ya mau bagaimana lagi, aku lupa hal penting itu kalian ada tidak," tanya Mawar.
__ADS_1
"Ada tenang saja masih baru kok, sebentar aku ambil kan." Zaki mengambil beberapa celana d*lam untuk Narendra, ia masih tidak habis pikir hal seintim itu Mawar juga yang harus mempersiapkan semuanya.