
Mawar sudah selesai bersiap siap. Ia lupa menyiapkan pakaian Narendra tadi, karena takut Narendra marah pada nya. Mawar langsung masuk ke dalam kamar Narendra tanpa permisi lagi pula Narendra juga tidak akan marah hanya karena menyiapkan perlengkapan nya sendiri.
"Maaf aku lupa mempersiapkan pakaian mu," ucap Mawar.
Narendra mengerutkan dahinya. Ia sudah selesai mandi dan hanya ingin memakai pakaian bebas saja. Melihat Mawar yang asal masuk membuat nya memiliki rencana khusus.
"Siapa yang meminta mu untuk masuk." Narendra mendorong Mawar ke tembok, setelah itu membalik tubuh Mawar dan menempel kan tubuh nya dengan tubuh Mawar.
"Narendra..." Jantung Mawar benar-benar tidak aman. Tatapan mata Narendra benar-benar sangat tajam dan menusuk hati nya.
"Kenapa? Bagaimana wajah ku di lihat dari dekat apakah tampan," tanya Narendra.
"Tampan sekali..."
"Apa??? Katakan dengan jelas, aku tidak dengar..."
"Tidak aku tidak berkata apa apa..."
Narendra menaikan wajah Mawar. Ia tersenyum melihat Mawar yang begitu gugup, ia bisa merasakan jantung Mawar mulai berdetak dengan kencang.
"Kau suka dengan ku," tanya Narendra.
Tidak, aku tidak mungkin suka dengan mu," jawab Mawar.
"Jadi menurut mu aku tida layak kau sukai," tanya Narendra.
"Bukan bukan begitu, aku tidak pantas untuk pria yang sempurna untuk mu," jawab Mawar yang semakin gugup tidak menentu.
"Oh begitu, kalau menurut ku kau layak bagaimana?"
"Narendra apa ini, jabatan begini," ucap Mawar.
Tangan Mawar Narendra pegang dan ia letakan ke dua dada bidang nya. Dari tangan Mawar Narendra dapat mengerti jika Mawar benar-benar sangat gugup sekali. Apalagi saat tangan Mawar berada di atas ke dua dada bidang nya.
"Gila, ini benar-benar sangat seksi, aku tidak bisa..." Mawar benar-benar tidak bisa melakukan apa apa, tangan nya dan tubuh nya seakan-akan membeku.
Tangan Mawar tidak sengaja menyenggol ujung dada Narendra. Yang sebenarnya ia juga miliki, sangat keras tidak seperti milik nya.
"Ahh.." Ntah kenapa Narendra malah mengeluarkan suara itu.
__ADS_1
Narendra benar-benar sangat malu sekali, tetapi wajahnya tetap ia pasang seperti sebelumnya, cool dan sangat menusuk lawan bicara nya.
Wajah Narendra bergerak mendekati kuping Mawar.
"Kau sangat seksi, aku menginginkan mu, jika kau tidak pergi dalam hitungan ketiga.."
"Satu...
"Dua...
"Tiga...
"Narendra bagaimana aku bisa kamu saja menjepit ku," teriak Mawar.
"Itu artinya kau mau..." Narendra menggendong Mawar dan membawanya ke ranjang.
"Jangan Narendra, kau keterlaluan," ucap Mawar.
Narendra tidak menggubris apa yang Mawar katakan. Mereka berdua sama sama jatuh ke atas ranjang yang empuk.
"Aku akan bertanggungjawab," ucap Narendra.
"Kau sudah berani menggunakan kata kau, kau siapa Ha..." Bentak Narendra yang membuat Mawar terdiam seketika.
"Narendra..."
"Menikah dengan ku yuk," ucap Narendra.
"Menikah dengan mu? aku tidak mau, yang ada aku makan hati.."
"Hahaha apa begitu buruk nya aku di mata mu," ucap Narendra.
"Sudah pakai baju mu kita berangkat sekarang, lihat sudah jam setengah sembilan, bukan nya kita berangkat jam 8," kata Mawar.
"Kau benar." Narendra bangkit dan langsung kembali ke ruang ganti untuk memakai pakaian nya.
"Terkadang dia aneh, aku tau dia hanya mempermainkan ku," ucap Mawar dengan kesal.
"Dia tau aku mempermainkan nya," batin Narendra.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai bersiap siap, mereka berdua pun langsung pergi ke tempat Narendra akan bertemu dengan Laila. Ia juga sudah memberitahu teman teman nya untuk datang, mana mungkin ia mau bertemu berduaan dengan Laila.
"Di sini," tanya Mawar.
"Hmmm, mendekat," ucap Narendra.
"Maksudnya," tanya Mawar.
"Kau tuli, mendekat aku bilang."
Mawar yang tidak tau apa apa hanya bisa melakukan apa yang Narendra katakan.
Dengan cepat Narendra membabat habis bibir Mawar, ia sangat ganas sampai membuat Mawar gelagapan tidak jelas.
Setelah puas Narendra melepaskan Mawar dan langsung turun dari mobil sebelum Mawar memakai nya.
"Narendra kau pria gila," teriak Mawar.
Narendra berjalan mendekati Laila yang sudah menunggu nya sejak setengah jam lalu. Pakai yang Narendra pakai dengan yang Laila pakai sangat bertolak belaka. Narendra seperti ini nongkrong dengan teman teman nya sedangkan Laila seperti ingin bertemu dengan pacar nya.
"Narendra bibir mu ada lipstik," ucap Laila.
Narendra mengambil tisu untuk mengusap lipstik yang menempel di bibir nya. Tetapi seperti nya tidak semudah itu.
"Dia habis mencium siapa," batin Laila.
"Pakai ini." Laila memberikan cairan khusus.
Narendra mengambil nya dan langsung membersihkan dirinya.
"Terimakasih," ucap Narendra.
"Dimana yang lainnya??"
"Yang lainnya? kan kita hanya makan berdua," ucap Laila.
"Aku tidak bisa, panggil yang lainnya atau aku pergi," kata Narendra.
"Iya iya. Tunggu." Laila tidak ada pilihan lain.
__ADS_1