
Sesampainya di Indonesia. Nathan dan Helen sudah harus berpisah. Mereka berdua sudah di jemput oleh supir masing-masing. Helen di jemput oleh Tiara sahabat nya sendiri. Rasa nya Nathan tidak ingin berpisah dengan Helen, ia sudah sangat nyaman bersama pacar nya itu. Jika berpisah sekarang, pasti sangat sulit untuk bertemu kembali. Kesibukan mereka lah yang membuat semua nya sulit untuk bertemu.
"Aku tidak mau pulang," ucap Nathan sambil memeluk Helen.
"Aku ingin pulang, hahaha aku lelah sayang. Besok sudah mulai bekerja," kata Helen.
"Ay nanti mungkin aku akan, kita jadi jarang bertemu, jangan nyaman pada pria lain, cukup dengan ku saja."
"Iya sayang."
"Sudah hentikan kebucinan kalian aku ingin pulang," kata Tiara.
"Tunggu sebentar." Nathan membawa
Helen masuk ke dalam mobil sejenak.
"Apa nat," tanya Helen.
"Cium." Nathan mendekati bibir dan langsung melahap nya. Ia tidak rela tidak mendapatkan ciuman ini sebelum mereka berpisah.
Setelah beberapa menit Nathan melepaskan Helen. Helen tampak diam menatap mata Nathan.
"Jangan genit sayang," ucap Helen.
"Pasti ay, kamu yang jangan genit," kata Nathan.
"Aku tidak genit nat, jelas jelas kamu yang muda nemplok sana sini."
"Hehehe." Nathan mendekati leher Helen dan memberikan tanda kepemilikan nya.
"Ahh Nathan."
"Hahaha ini tanda dari ku, jangan di tutup agar semua pria tau kalau kamu sudah mempunyai pacar."
Sebelum Helen ngeromet pada nya Nathan memilih kabur. Helen hanya bisa tersenyum melihat kelakuan absurd pacar nya.
"Cieee," ucap Tiara.
"Apaan." Helen mengambil alat make up nya untuk menutupi jejak di leher nya.
"Habis di garap ya," kata Tiara.
"Hahaha apaan si Tiara," tanya Helen.
"Ya biasa Helen pria memang seperti itu, jika tidak diberikan pasti mereka akan mencak mencak, bisa jadi mereka selingkuh karena tidak diberikan yang dia mau."
"Apa benar? pria muda selingkuh," tanya Helen.
"Ya benar lah, pria sangat mudah untuk selingkuh," jawab Tiara.
...☘️☘️...
Pagi hari nya. Nathan sudah tampil tampan dengan pakaian kerja nya, ia sudah siap melanjutkan langkah terakhir agar diri nya naik ke posisi CEO d perusahaan daddy nya. Vino yang melihat semangat Nathan yang semakin baik saja membuat Vino merasa sangat senang, Vino seperti tidak terpaksa menggantikan nya sebagi seorang CEO
"Sudah siap nat," tanya Vino.
__ADS_1
"Hahaha iya dong daddy, aku sudah sangat siap," jawab Nathan.
"Aku suka semangat mu," kata Vino.
"Jangan terlalu menggebu-gebu sayang," ucap Citra.
"Mommy tidak hamil kan," tanya Nathan.
"Tidak sayang, kenapa bertanya begitu," tanya Citra.
"Tante Vira sudah hamil lagi," jawab Nathan.
"Sial Kevin nyebut sekali," kata Vino.
"Daddy jangan begitu, pasti daddy langsung memikirkan untuk membuat adik lagi."
"Kalau iya kenapa? apa urusan mu, yang membuat daddy kau yang sibuk. Nanti malam sayang." Vino membawa Nathan pergi dari sana.
"Daddy," rengek Nathan.
"Diam, burung burung ku kau yang sibuk, yang membiayai nya hidup kan aku bukan kau," kata Vino.
"Tak potong ya burung ayah, emang masih bisa berdiri," tanya Nathan.
"Ya bisa lah, kau pikir daddy mu ini impoten," jawab Vino.
"Pasti sudah tidak keras kan dad, sudah seperti jeli," kata Nathan.
"Jika sudah begitu mana mungkin mommy mu berteriak teriak sepanjang malam," ucap Vino.
"Menikah dulu."
"Kapan?"
"Setelah semua nya selesai," kata Vino.
"Nathan, daddy mau ke perusahaan Helen untuk memberikan semua janji yang Daddy katakan."
"Aku saja dad," kata Nathan.
"Kenapa harus kau?"
"Kan aku akan menggantikan daddy. Aku harus biasa kunjungan kemana mana," kata Nathan.
"Benar juga ya, ya sudah pergi lah nanti. Katakan pada nya terimakasih untuk semuanya. Perusahaan untung sangat besar karena nya," ucap Vino.
"Daddy tidak berterimakasih pada ku? aku juga membantu nya," kata Nathan.
"Ya ya ya, terimakasih," ucap Vino.
Sesampainya di perusahaan Nathan langsung mempersiapkan semua nya. Ia sudah tidak sabar untuk ke Perusahaan milik Helen, jujur Nathan sangat penasaran dengan perusahaan pacar nya itu.
"Sudah pergi lah," kata Vino.
"Hahaha siap, aku pergi dulu."
__ADS_1
"Hati hati nat, jangan membuat ku malu," ucap Vino.
Nathan langsung pergi ke perusahaan milik pacar nya.
Sementara itu di perusahaan Helen, mereka sedang mempersiapkan diri untuk menyambut Vino, Helen pikir Vino lah yang akan datang sesuai dengan perkataan nya di handphone tadi pagi. Semua nya di persiapkan dengan sangat baik dan mantang.
"Mereka sudah dalam perjalanan."
"Ha.. Oke aku turun menyambutnya di bawa," kata Helen.
Helen dan para karyawan di perusahaan nya sudah siap untuk menyambut kedatangan orang terpenting di kota tersebut. Nathan yang tiba di perusahaan Helen terkejut dengan penyambutan mereka.
"Tuan muda Nathan," ucap salah satu karyawan yang melihat Nathan masuk ke perusahaan.
"Nathan," batin Helen.
Dengan gaya khas yang terbilang sombong Nathan mendekati Helen. Ia tidak menunjukan senyuman nya sedikit pun pada orang di sekitar nya.
"Jika tidak kenal dia memang terlihat sangat sombong," batin Helen.
"Bagus, kau memberikan penyambutan yang baik untuk ku," ucap Nathan.
"Iya tuan, sebagai kehormatan besar bagi kami," kata Helen.
"Dimana ruangan nya, sudah bisa kita mulai," ucap Nathan.
Helen sendiri saja sampai kucep menghadapi Nathan dengan mode seperti ini. Ia tidak berani menatap mata Nathan sedikit pun.
Mereka pun langsung membahas semua nya di ruang rapat. Nathan memberikan semua yang daddy nya janjikan pada perusahaan Helen, tidak satu pun yang mereka ingkari.
"Terimakasih tuan," ucap Helen.
"Aku ingin berkeliling, kau tidak ingin menemani ku," tanya Nathan.
"Suatu kehormatan untuk saya," jawab Helen.
Nathan dan Helen di ikutin oleh beberapa petinggi perusahaan berjalan keliling. Nathan melihat tulisan ruangan CEO yang artinya milik Helen.
"Aku ingin masuk ke sana, aku dengan dia saja. Kalian bisa bubar," kata Nathan.
Di dalam ruangan itu Nathan langsung memberikan beberapa kecupan manja di waja Helen. Helen langsung lega karena pacar nya telah kembali.
"Kamu sangat menakutkan sayang, aku tidak tau jika kamu yang datang," kata Helen.
"Hahaha maaf ay, aku tidak bermaksud untuk membuat mu takut, aku hanya tidak ingin semua orang curiga dan sudah pasti aku harus menunjukan image ku sebagai seorang pemimpin," kata Nathan.
"Iya aku paham, aku sangat senang karena kamu yang datang," kata Helen sambil memeluk Nathan.
"Dada mu besar ya ay, berasa tau," kata Nathan.
"Mulai mulai lagi," ucap Helen.
"Hahaha maaf ay, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan," kata Nathan.
"Boleh aku memegang nya," tanya Nathan.
__ADS_1