Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Bertengkar


__ADS_3

Ciuman Nathan turun ke leher jenjang Helen, amarah dan rasa takut kehilangan membuat Nathan seperti lupa diri. Di dalam otaknya hanya Helen harus menjadi milik nya.


"Nathan jangan Nat," ucap Melanie sambil menampar wajah Nathan, ia melakukan ini agar Nathan sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Maaf," ucap Nathan.


"Aku tau aku salah, tapi kamu rela sampai aku rusak karena diri mu sendiri," kata Helen.


"Aku hanya takut kamu pergi meninggalkan ku, aku tidak ingin kamu pergi ay, kamu sudah bosan kan dengan ku," ucap Nathan.


"Aku tidak bosan dengan mu nat, aku hanya takut kamu marah berlebihan jika aku jujur kalau aku pergi sepulang kantor, aku hanya tidak ingin membuat mu repot nat."


Nathan mendekati wajah Helen, mereka berdua sama sama saling menatap. Nathan masih bisa merasakan cinta di mata Helen tetapi ntah kenapa rasa cinta di mata Nathan seperti memudar, tatapan Nathan tidak sedalam seperti sebelumnya.


"Nat kamu jatuh cinta dengan wanita lain," tanya Helen.


"Tidak ay, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Tatapan mu berbeda pada ku nat."


"Aku hanya sedang marah dan kesal pada mu, aku tida Terima pacar ku duduk sebelah dengan pria lain berfoto dengan pria itu, hati ku benar-benar hancur Ay," kata Nathan.


Helen memeluk Nathan dengan erat, ia sangat takut Nathan meninggalkan nya, ia sudah merasakan cinta yang begitu dalam, jika Nathan pergi meninggalkan nya ia tidak tau harus apa. Ia pasti tidak bisa menemukan seseorang seperti Nathan.


"Aku tak akan pergi meninggalkan mu, ay aku sangat mencintaimu aku tidak akan pergi meninggalkan mu. Sudah lupakan ini semua, kita mulai semuanya dari awal lagi, jangan sampai karena hanya masalah ini hubungan kita jadi hancur."


Sama seperti Helen, Nathan juga sangat takut kehilangan Helen.


Setelah beberapa saat perasaan mereka berdua membalik, mereka berdua sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Nathan dan Helen sudah seperti biasa nya.


"Ay di kamar ini nanti malam pertama kita," kata Nathan.


"Kamu ada ada saja, malah bahas malam pertama," ucap Helen.


"Hehehe ya mau bagaimana lagi."


"Ay ingat ya, kalau ada masalah di hubungan kita jangan berpikir sedikit pun untuk pergi meninggalkan hubungan ini, aku ingin kita sama sama dewasa, aku ingin hubungan ini menjadi hubungan yang sehat, tak saling menyakiti satu sama lain."


"Iya nat, maafkan aku," ucap Helen.


Calvin membawa Marcel ke dalam kamar Nathan, ia ingin menitipkan Marcel sejenak pada Nathan karena ia ingin pergi sebentar.


"Nathan," ucap Calvin.


"Calvin.. Kau diam saja jangan bilang bilang yang lainnya."


"Kalian pacaran, kau membawa wanita ke kamar mu, sudah pasti kalian berdua pacaran," kata Calvin.


"Iya kami pacaran, kau jangan cepu. Ada apa?"

__ADS_1


"Paman." Marcel langsung berlari ke arah Nathan.


"Titip ya."


"Beres, dia aman bersama kami," kata Nathan.


"Kamu hati hati dengan Calvin dia suka memakan wanita," ucap Calvin dan langsung pergi meninggalkan kamar itu.


"Dia benar," kata Helen.


"Ay aku tidak seperti itu."


"Paman, dia siapa," tanya Marcel.


"Calon istri paman. Kau semakin tampan saja, nanti besar nya jadi seperti ku," kata Nathan.


"Jangan dong, ayah nya tadi tampan, jangan seperti mu seperti ayah nya."


"Ay jangan merusak kebahagiaan ku," ucap Nathan.


"Paman Marcel mau cerita," kata nya.


"Apa sayang," tanya Nathan.


"Malam tadi, Marcel merasakan gempa, apa ada gempa paman," tanya nya dengan sangat polos.


"Gempa? dimana?"


"Hahahaha terus kamu bangun," tanya Nathan yang mengerti gempa yang di maksud oleh Marcel.


"Tidak paman, aku takut. Kata ayah sebelum nya jika ada gempa pejamkan mata yang kuat, jangan bergerak."


"Tapi mamah berteriak-teriak seperti kesakitan Marcel takut mamah kenapa napa, tapi Marcel tidak berani bangun."


"Itu gempa lokal, kamu jangan bangun. Ayah mu yang sedang membuat gempa dan kamu tanda nya kamu akan mempunyai adik," kata Nathan.


"Adik lagi," tanya Marcel.


"Iya adik lagi, kamu tidak mau punya adik lagi," tanya Nathan.


"Mau...."


"Dia sangat polos dan menggemaskan," kata Helen.


"Jalan jalan yuk," ucap Nathan.


"Kemana, beli mainan," tanya Marcel.


."Iya ayo," kata Nathan.

__ADS_1


"Aku ikut," tanya Helen.


"Jika kamu mau sendiri di sini tidak papa tidak ikut," ucap Nathan.


"Malas, ayo kita pergi."


Mereka pun pergi ke mall terdekat. Setelah bertengkar memang enak nya merefleksikan pikiran dengan berbelanja. Nathan membebaskan Helen untuk berbelanja sesuka hati nya, begitu juga dengan Marcel.


Mereka bertiga masuk ke dalam butik pakaian, Nathan ingin membeli pakaian untuk ia pakai di acara makan malam. Kemarin Vino berkata jika akan ada makan malam dengan orang-orang terdekat. Untuk menunjang penampilan nya Nathan ingin membeli pakaian yang sesuai.


"Ay kami cari pakaian untuk mu dan Marcel ya, aku ingin ke sana dulu," ucap Nathan.


"Iya sayang, ayo Marcel," kata Helen dan membawa Marcel pergi ke tempat pakaian anak.


Nathan berjalan mencari pakaian yang sesuai, saat menemukan pakaian yang menurutnya pas ada seseorang yang mengambil nya juga.


"Milik ku," ucap Nathan.


"Mohon maaf aku yang mengambil nya lebih dulu," kata Albar.


"Aku yang melihat nya, ini milik ku..."


"Aku melihat diri mu, apakah kau milikku, tidak bukan? jangan mentang mentang kau yang melihat nya barang ini milik mu."


Nathan memicing kan mata nya, ia seperti mengenal pria di depan nya ini.


"Kau yang berfoto dengan pacar ku," ucap Helen.


"Pacar mu? siapa pacar mu," tanya Albar.


"Dia pacar ku Helen, jangan dekat dekat dengan nya," kata Nathan.


"Oh jadi Helen berpacaran dengan bocah seperti mu. Mudah untuk ku merebut Helen dari mu," ucap Albar.


"Jangan kurang ngajar, jangan main main dengan ku," kata Nathan.


"Aku tidak takut dengan mu," ucap Albar.


Nathan mendekati Albar dan memukul wajahnya dengan sekali pukulan kuat. Ia sudah sangat gatal ingin memukul wajah Albar, hitung hitung sebagai balas dendamnya pada Albar, karena Albar hubungan nya dan Helen sempat bermasalah.


"Kau bajingan." Albar yang tidak Terima memukul balik Nathan. Bocah seperti Nathan benar-benar sangat berani melakukan hal ini pada nya.


Pertengkaran pun tidak terhindarkan, mereka berdua memporak porandakan butik itu. Tidak ada yang berani memisahkan mereka berdua karena mereka berdua sama sama berasal dari keluarga terpandang.


Kegiatan saling pukul di antara mereka berdua terlihat begitu mengasikkan dan sedikit mengerikan, karena pukulan itu benar-benar terlihat begitu keras.


"Nathan..."


"Albar..."

__ADS_1


Dua wanita berlari mendekati mereka berdua.


__ADS_2