Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Ayah...


__ADS_3

Helen yang juga melihat kehadiran Nathan langsung pergi ke belakang, ia tidak mungkin bertemu dengan Nathan lagi. Ia sudah melupakan semuanya, ia tidak mau luka lama nya kembali muncul.


"Ada apa Helen, ayo bawa makanan itu ke sana," ucap Zahra.


"Kau ada masker tidak," tanya Helen.


"Ada, untuk apa?"


"Ada seseorang yang harus aku hindari, mana masker mu."


Tanpa banyak bertanya, Zahra memberikan masker pada Helen. Dengan memakai masker Nathan jadi tidak mengenali diri nya. Helen tidak tau jika tidak memakai masker pun Nathan tidak akan kenal diri nya.


"Nathan," ucap Marvin.


"Iya?"


"Perut ku sakit, aku lupa membawa obat, aku akan kembali ke Vila," kata Marvin.


"Ya sudah kembali sana, nanti aku akan menyusul mu, lagi pula pertemuan nya sudah selesai. Hanya tinggal makan siang saja," ucap Nathan.


"Aku pergi dulu." Marvin langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Nathan melihat kearah Helen yang mendekati nya. Ia tau jika wanita di balik masker itu adalah wanita yang lari karena melihat nya kemarin. Jika tidak ada apa-apa mana mungkin wanita itu pergi meninggalkan nya begitu saja, sampai seperti orang yang melihat setan.


"Kau," ucap Nathan.


"I.. iya.."


"Aku perlu tisu basah," ucap Nathan.


"Saya ambilkan tuan." Helen buru buru pergi dari sana.


Nathan merasa harus menemui wanita itu, ia ingin menanyakan kenapa ia seperti menghindari diri nya. Mungkin saja wanita itu berasal dari masa lalu nya.


Setelah selesai makan siang. Nathan tetap berada di sana, ia masih mengincar wanita itu. Helen tau jika Nathan seperti memperhatikan nya, padahal ia sudah harus pergi untuk menjemput Edward sekolah, Helen takut Nathan akan mengejar nya.


"Helen Edward sudah menunggu mu, kasihan dia," ucap Zahra.


"Iya aku pergi dulu, sore nanti kita bertemu lagi," kata Helen.


Sebelum pergi Helen mengganti pakaian nya, tetapi masih tetap memakai masker. Ia pergi dari pintu belakang agar Nathan tidak melihat nya.

__ADS_1


Apa yang di lakukan Helen percuma, karena memang Nathan sudah menunggu Helen berada di luar menunggu nya. Ia mengikuti Helen diam diam agar Helen tidak kabur lagi dari nya.


"Sekolah anak anak," ucap Nathan.


Edward berlari mendekati Nathan, ia sudah menunggu mamah nya tetapi malah bertemu dengan Nathan yang tidak jauh dari nya.


"Paman," ucap Edward.


"Hey kita bertemu lagi," kata Nathan.


"Paman menjemput ku sekolah," tanya Edward.


"Iya, paman menjemput mu sekolah, tadi mamah mu sudah datang, dia pasti sedang mencari mu," jawab Nathan.


"Mamah dan paman berteman?"


"Tidak, tidak..."


"Paman ayah Edward?"


Edward berpikir seperti itu karena Nathan sudah dua kali bertemu dengan nya di waktu yang tepat. Saat ia kebingungan mencari mamah nya dan saat ia menunggu mamah nya.


"Kata teman Edward, ayah Edward akan datang ketika Edward sedang membutuhkan nya. Dan paman datang, apa paman ayah Edward?"


"Edward, kamu membuat mamah khawatir." Helen langsung memeluk Edward. Ia pikir Edward ntah pergi kemana.


"Mamah ini ayah, ini ayah Edward," tanya Edward sambil melompat lompat, ia benar-benar sangat senang.


Helen melirik ke arah Nathan. Nathan hanya tersenyum bingung pada nya. Helen merasa ada yang berbeda dengan Nathan, karena Nathan seperti tidak kenal dengan nya.


"Dia anak ku," tanya Nathan dengan polos nya.


"Tidak, dia anak ku," jawab Helen sambil menarik Edward pergi.


"Ahh tidak tidak ayah..." Teriak Edward sambil melepaskan tangan Helen dan berlari ke arah Nathan.


Nathan semakin bingung, ia menggendong Edward dan membawa nya ke Helen, yang juga kebingungan.


"Dia anak ku," tanya Nathan sekali lagi.


"Tidak nathan dia anak ku," jawab Helen.

__ADS_1


"Kau tau nama ku, berarti kita dulu saling mengenal, siapa nama mu," tanya Nathan.


"Dia kenapa, apa yang terjadi pada nya," batin Helen.


"Hey." Nathan membuyarkan lamunan Helen.


"Ayah ayah sudah selesai bekerja," tanya Edward.


"Hmmm iya iya." Nathan hanya menganggukkan kepala nya.


"Mamah ayah sudah pulang bekerja, ini ayah Edward," ucap Edward.


Helen semakin bingung saja, ia tidak tega mematahkan hati anak kecil ini. Ia sudah sana ingin bertemu dengan ayah nya, dan seperti ini lah yang terjadi. Ia juga bingung pada Nathan yang seperti linglung, Nathan sama sekali tidak mengenal diri nya.


"Berpura-pura lah menjadi ayah nya," bisik Helen pada Nathan.


Demi sang anak Helen harus rela membuka luka lama nya, melihat Nathan saja sudah sangat sakit untuk nya, tetapi demi Edward Helen mengabaikan rasa sakit itu. Senyuman Edward membuat separuh hati nya yang terasa sakit, seperti sembuh seketika.


"Dia anak ku kan, kau menculik nya, atau kau istri ku," bisik Nathan.


Helen merasa setelah ini ia akan menjelaskan pada Nathan, ia tidak mau Nathan berpikir yang tidak tidak, begitu juga dengan Edward yang benar-benar menganggap Nathan anak nya.


Helen membawa Edward dan Nathan pulang ke rumah. Nathan dan Edward terlihat begitu dekat, memang seperti ayah dan anak, walaupun memang mereka berdua tidak mempunyai hubungan darah.


"Kalian tunggu sini, aku ingin masak," kata Helen.


"Dia mamah mu," tanya Nathan.


"Iya, kenapa yah?"


"Dia seperti nya galak," kata Nathan.


"Kau." Helen memberikan tatapan tajam pada Helen dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Galak," ucap Nathan.


"Ayah punya banyak uang," tanya Edward.


"Punya lah, ayah kan bekerja," jawab Nathan.


"Kenapa tidak membawa hadiah untuk ku?"

__ADS_1


"Ayah lupa sayang, nanti ayah akan memberikan mu hadiah."


Sebenarnya Nathan kasih bingung dengan semuanya, ia tidak yakin Edward benar-benar anak nya. Hati nya terasa kuat seperti memiliki hubungan dengan Helen bukan dengan Edward. Wajah Helen seperti ada di kepala nya, tetapi tidak bisa ia ingat.


__ADS_2