Aku Bangkit Kamu Pergi

Aku Bangkit Kamu Pergi
ABKP 146


__ADS_3

Iranta yang tidak tahu harus melakukan apa datang menemuia Intan. Tapi sangat disayangkan kalau Penjaga dan pengawal yang menjaga Intan menghalangi Iranta masuk ke dalam rumah Intan. Karena tidak bisa masuk dia mencoba melepaskan diri dan mulai membuat keributan. Semua meja dan kuris sampai para tamu di buat kacau oleh Iranta karena hanya ingin bertemu dengan Intan. Tapi Intan yang ada di dalam rumah hanya melihat. Hanya para penjaga dan pengawal yang membuat Iranta di usir.


Tapi saat hendak di usir penagih utang datang menemui Iranta yang menayakan uangnya. Karena sudah jatuh tempo Iranta harus membayar uang yangd ia pinjam. Tapi karena utang yang dia pinjam juga membuat dia batal bertunangan dengan orang kaya. Karena itu juga Iranta sudah tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kalian ingin uang minta saja kepada adik saya yang ada di dalam rumah itu,”kaa Iranta yang menunjuk ke arah rumah Intan.


“Tapi ini pinjaman atas nama anda nona jika anda tidak bisa membayat kami terpaska menjual rumah yang ada gandekan,”kata penagih pertama.


“Apa, tidak bisa jelas sekali itu atas nama Intan bukan namaku,”kata Iranta. Iranta yang masih tidak percaya meminta bukti kontranya dengan panagih yang datang.”Mana buktinya jika itu adalah namasaya. Jelas saya menulis nama adik saya,”kata Iranta.


Penagih itu memberikan kontrak yang sudah ditanda tangani oleh Iranta. Irata mengambil dengan kasar dan lalu dia membacanya. Saat dia membaca isi kontra pinjam uangnya Iranta sangat terkekut.


“Ini pasti salah,”kata Iranta yang tidak percaya dengan isi kontra yang dia baca.


“Ini tidak salah anda sendiri yang sudah menadatangani surat kontranya,”kata penagih.


“Aku tidak pernah sekalipun menulis nama saya. Kalian semua menipuku ya. Aku tidak akan membayar uangnya yang aku sudah dapatkan,”kata Iranta yang masih saja kerasa kepala.


“Jika nona tidak mau kami terpaksa menjual rumah anda. Tapi jika itu masih kura terpaksa kami akan mebawa anda ke pelelagan untuk menjual anda. Untuk mebayar utang anda nona,”kata Penagih.


“Apa, tidak,”cap Iranta yanag segera pergi dari penagih sebelum dia tertangkap oleh penagih utang. Tapi saat Iranta pergi dia sempat melihat ke arah Intan berada.”Awas saja Intan aku akan datang lagi menemui kamu,”kata Iranta yang segera pergi.

__ADS_1


Iranta yang masih tidak mau membayar masih keras kepala dimana dia sudah sampai di rumah dan mencari barang apa yan bisa dia manfaatkan untuk dia jual. Iranta yang mencari dan mengumpulkan perihiasannya. Dimana mata Iranta tidak tega untuk menjual barang yang dia pakai. Tapi jika tidak bagaimana dia bisa kabur dari reternir. Saat Iranta gelisah dia teringat orang tuanya yang dia usir.


“Kemana orang tuaku sekarang. Mereka tidak datang menemui aku saat aku mengucirnya. Apa orang tuaku ada bersama dengan Intan,”kata Iranta yang malam itu saat kondisi sudah sunyi. Iranta segera pergi keluar rumah dengan kerudung yang dia pakai. Iranta yang mengendam keluar dan pergi ke rumah Intan. Dimana rumah intan yang sunyi dia mencoba masuk dari pintu belakang.


Tapi Intan yang sudah tahu kalau Iranta akan datang sudah mengunci semua pintu dan jendela. Intan yang melihat dari lantai dua menatap ke bawah bersama dengan penjaganya.”Apa kakak nona mau mencuri,’”kata penjaga kedua.


‘Aku juga tidak tahu. Untuk saja sudah diantisipasi sebelumnya,”kata Intan.


“Tapi apa dengan begini dia akan sadar kalau dia sudah salah,”kata penjaga pertama.


“Aku juga tidak tahu. Tapi mau bagaimana lagi dia keras kepala,”kata Intan.


“Hai Intan buka pintunya aku tahu kalau kamu masih terbangun. Dimana ayah dan ibu, kamu yang menyembunyikannya bukan,”kata Iranta yang berteriak. Tapi Intan hanya mendengarkans aja dan tidak membuka mulutnya.


“Sekarang bagaimana nona?,”kata penjaga pertama. Intan yang melihat membuka mulut dan berkata kalau ayah dan ibu tidak ada di rumah ini. Tapi Iranta tidak percaya masih ingin melemparkan batu di tangannya. Tapi pada saat yang sama pejaga kedua membuka pintu dan menangkap batu yang dilemparkan oleh Iranta.


“Apa ini kakak?,”kata Intan dari balik tubuh penjaga kedua.


“Akhirnya kamu keluar juga,”kata Iranta yang hendak merobos masuk. Tapi tidak bisa karena dihalangi oleh penjaga kedua dan pertama.


“Apa yang kalian lakukan cepat menyingkir. Kamu tahu tidak aku ini kakaknya Intan,”kata Iranta yang angguh.

__ADS_1


“Lalu kenapa jika anda kakaknya nona. Kamu tidak disambut di rumah ini. cepat pergi,”kata penjaga pertama.


“Apa kamu mencoba melawanku,”kata Iranta yang hendak masuk. Tapi tetep saja tidak bisa dimana dia menatap ke arah Intan yang melihat dari belakang tubuh dari kedua penjaganya.


“Kakak kamu ini mau apa sebenarnya. Sudah mengacukan rumah dan mengganggu ketertiban dan kenyaman di wilayah ini. Kakak tidak malu,”ucap Intan.


“Apa tidak tahu malu itu kamu Cepat bawa ayah dan ibu aku tahu kalau mereka ada di rumah kamu bukan,”kata Iranta.


“Kenapa kakak mencari ayah dan ibu di rumahku. Bukan mereka bersama kakaknya,”kata Intan yang tidak tahu apa-apa. Tapi Iranta yang melihat wajah Intan kalau dia benar tidak tahu kalau ayah dan ibu sudah dia usir dari rumah.


“Kenapa diam saja. Apa kakak mengusir ayah dan ibu kerena ego kakak,”kata Intan.


“Mana mungkin aku tahu kalau ayah dan ibu sering berkunjung ke rumah kamu saja. Aku hanya ingin menjemput mereka pulang saja. Mana sekarang,”kata Iranta.


“Ayah dan ibu tidak ada di sini, mungkin saja ayah dan ibu kerja di tempat lain. Tapi jika hanya itu saja yang kakak datang membuat keribuatan. Kakak pergi saja, aku sudah lelah,”kata Intan yang masuk ke dalam. Tapi Iranta yang melihat Intan masuk berkata.


“Kamu harus membayar utangnya. Karena utang yang kamu pinjam aku dikejar oleh reteernir tahu tidak,”kata Iranta.


“Utang apa yang kakak masuk. Aku tidak pernah meminjam uang kepada reternir,”kata Intan.


“Kamu tidak usah polos aku tahu usaha kamu ini dari uang pinjaman bukan,”kata Iranta. Intan hanya tersenyum saja.”Bukan itu kakak yang meminjam uang. Tapi kenapa kakak menuduh aku yang melakukannya. Kakak tidak tahu malu ternyata. Uang dari usahku ini bukan uang pinjaman. Tapi uang yang aku datatkan dari nol. Saat kakak mengusirkan dan hendak membunuhku saat di rumah dulu. Apa kakak tidak sadar dengan kelakukan kakak perbuat,”kata Intan.

__ADS_1


“Kamu menuduh aku membunuh kamu. Mana buktinya?,”kata Iranta.


“Bukti ada kok, buktti kakak yang meminjam uang kepada reternir,”kata Intan. Iranta yang tidak percaya hanya tersenyum dengan licik.”Kamu tidak pandai berbohong adiku sayang. Sudah jelas yang meminjam uang itu adalah kamu tapi kami memberikan kepada kakak kamu yang sudah kaya ini. kamu benar tidak tahu malu,”ucap Iranta yang masih saja keras kepela melampiaskan semuanya kepada Intan.


__ADS_2