
Jaya melihat ke arah Intan yang memilki ide jenius ini. Tapi dalam hati Jaya akankah ini bisa berhasil. Jaya yang belum mengenal kak Intan, tidak tahu kenapa kak Intan seperti mengenal tempat ini dengan baik. “Apa kak Sandra tahu soal ini?,”hati kecil Jaya.
Intan yang melihat ke arah Jaya yang sedang termenung menghampirinya.
“Jaya apa yang sedang kamu pikirkan?,”kata Intan didepan matanya.
“Kak,”ucap Jaya yang sedikit terkejut.
“Tidak ada, apa sudah selesai membersihkan racunya,”kata Jaya mengganti topik pembicaraan.
“Sudah hanya saja apa tanaman sari bunga putih ada tidak ya. Aku membutuhkanya untuk memberishkan kulit ini dengan sati bunga putih,”ucap Intan.
“Ada sih kakak, tapi tidak terlalu banyak,”ucap Jaya yang sudah memeriksa.
“Ada berapa yang ada,”kata Intan.
“Satu kantung saja. Tapi kalau bibit masih ada, apa mau menanam ini dulu. Tapi butuh waktu lama kalau mau mekar juga,”ucap Jaya.
“Tidak masalah setenah kantung saja, nanti kita mencari tempat lain untuk menamam bibit sari bunga putih,”ucap Intan. Jaya yang memberikan setengah kantung sari bunga putih kepada Intan. Karena masih belum ada air bersih mereka meminta naga untuk mengambil air bersih di daerah yang sudah aman.
Setelah air sudah ada dan sari bunga putih juga sudah disiapkan. intan mencampurnya di satu tempat yang besar dimana air dicampur dengan sari bunga putih. Selesai mencampurnya dengan rata. Intan dibantu dengan para monster memasukkanny ke dalam air yangs udah tercampur dengan sari bunga putih.
“Kita tunggu dau hari biar racunnya dalam kulit sudah bersih.
“Hai kak bagaimana dengan monster yang lain,”ucap Jaya.
“aku tidak tahu, tapi untuk sekarang ambil saja para monster di dalam laut agar kita bisa membersihkan laut,”ucap Intan.
“Apa perluh kita membuat penampungan tempat bangkai monster ini,”ucap Jaya.
__ADS_1
“Itu juga bagus,”kata Intan yang setuju. Setelah disepakati mereka membuat tempat larangan untuk dimana bangkai itu ditempatkan. Bangkai monster yang sudah mati akan ditempatkan satu lokasi. Hanya saja bangkai monster akan di tempatkan pada sesaam jenis yang sama atau satu jenis agar mereka kapan saja bisa mengambilnya dengan aman. Tanpa ribet jika suatu saat nanti mereka membuntuhkannya.
Selesai mengangkat monster ke darat dan sudah ditelusuri dari ujung sampai tempat mereka berasal. Sudah tidak ada lagi monster.”Kurasa tidak ada lagi kak.Apa sekarang kita tabur obat ini ke laut,”ucap Jaya. Intan yang menganggu saja sampai Jaya dan naga mulai menaburkan obat ke laut.
“Apa hanya dengan sebotol itu saja bisa membuat laut bisa bersih kembali,”kata monster yang bersama dengan Intan.
‘Bisa, kiat lihat samapi besok saja,”kata Intan yang duduk karena sudah lelah. Dimana Itan bisa berbaring melihat langit yang berwarna kemerahan.Tapi Intan juga sedang berpikir bagaimana kondisi Sandra apa dia baik-baik saja disana.
Di tempat lain Sandra bersama dengan naga yang sudah meleeati kumpulan monster yang berjaga di pusat hutan monster.”Mereka tidak bisa matikah saat penyerangan,”ucap Sandra.
“Mereka tidak akan bisa karena mereka asli dari penghuni monster tempat dunia ini terbentuk. Jadi tidak ada yang berani untuk datang ke sini,”kata naga.
“Tunggu dulu tadi kamu berkata kalau mereka adalah asli penduduk dunia ini. Tapi bagaimana dengan penduduk yang lain,”ucap Sandra yang sedikit bingung.
“Karena dulu memang ada manusia tapi berbandingannya sangat berbeda,”ucap Naga.
“tepat seklai. Tapi bagaimana kamu bisa tahu,”ucap Naga.
“Jadi itu benarnya. Karena saat kita melakukan penanaman aku bertemu satu rumah yang masih utuh. Tapi di dalamnya ada berbagai jenis buku,”kata Sandra.
“Apa maksud kamu pondok kecil yang kita lihat waktu itu sebelum kita pergi ke dunia manusia,”kata naga.”Iya,”ucap Sandra.
“Tapi apa bisa kita turun ditempat ini sekarang,”ucap Sandra. Karena mereka sudah melewati para penjaga pusat hutan monster. Naga turun ke darat yang dimana Sandra juga turun dan menginjakkan kakinya kedua kalinya.
Perasaan yang tidak asing menyalur ke dalam tubuh Sandra. Sandra berjalan ke arah pohon besar daunnya yang sudah tidak tumbuh karena polusi yang terjadi. Apa lagi Sandra yang melihat pohon besar yang masih saja kokoh.”Apa bisa tumbuh daun lagi?,”kata Sandra sambil berjalan ke arah pohon.
Sandra yang mendekat kearah pohon besar setelah melihat sekelilingnya Sandra menemukan sumber air. Tapi ada yang aneh dengan sumber air mata tersebut. Sandra yang mendekat dan sedikit mengambil samble air tersebut. Tapi tidak lama kemudianada percikan air dari atas.”Kenapa ada hujan disini, tapi sementara di tempat lain tidak ada,”ucap Snadra.
“Itu dewa air yang selalu mengisi sumber air di dekat pohon,”ucap naga.
__ADS_1
“Apa,”kata Sandra menoleh ke belakang.
“Dewa air emang ada ya,”ucap Sandra sedikit tidak percaya. Tapi dengan ada air disini yang tidak tercemar. Sandra bisa memulihkan pohon besar di belakangnya.
Naga yang melihat hanya mengambaikan saja apa yang akan dilakukan oleh Sandra. Karena tidak ada niat untuk menghancurkan pohon tersbut. Naga hanya melihat saja sampai Sandra mengeluarkan pupuk yang sesuai dengan pohon besar. Sandra yang berhati-hati mencampur pupuk dengan tanah yang sumber.
Setelah beberapa jam mencampur Sandra mulai menaburkan merata di sekitar tanah pohon besar. Tidak lupa menyirami tanah dan pohon besar agra bisa sehat kembali. Karena ada sisa dari pupuk yang dibuat. Sandra juga menaburkan disekeliling pohon besar yang terbuka lebar. Hingga Sandra mendengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka.”Hai naga apa ada orang di tempat ini selalin para monster penjaga,”ucap Sandra karena mendengar langkah kaki.
“Mereka adalah penjaga dewa pohon,”kata naga.”Apa bedanya dengan penjaga monster diluar,”ucap Sandra yang bingung.
“Mereka kalau disini adalah peliharaan,”ucap naga.
“Perliharaan,”ucap Sandra. Sampai dia merasakan kalau ada yang datang mendekat. Sandra yang berhati-hati menoleh dan menyapa mereka sebelum mendekat.”Maaf mengganggu penjaga dewa pohon,”ucap Sandra.
“Hai manusia. Apa yang kamu lakukan disini. Kembalilah ke dunia kamu berasal. Ini bukan tempat kamu berada,”ucap dewa tanah.
“Itu benar hanya saja bagaimana aku bisa kembali. Dunia ini adalah tempat tinggalku sekarang,”ucap Sandra.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi dulu.Tapi bagi kami yang masih mudah dan tidak tahu apa yang dilakukan oleh pendahulu kami terhadap kalian. Itu bukan salah kami yang datang ke sini,”ucap Sandra.
“Apa yang kamu ingin katakan,”ucap dewa angin.
“Intinya aku datang ke sini hanya untuk mau memperbaiki kondisi dunia ini untuk kami tinggali. Karena sudah di usir mau bagaimana lagi,”kata Sandra yang masih menaburkan pupuk dan tanahnya secara merata.
“Apa yang kamu lakukan dengan tanah ini. Apa kamu ingin mencemari pohon suci kami,”kata dewa tanah.
“Tidak tapi ingin membuat pohon besar berdaun lagi,”kata Sandra.
“Berdaun,”ucap para dewa yang melihat ke arah pohon tersebut. Tapi dalam hati mereka masih bertanya bagaimana bisa akan berdaun lagi.
__ADS_1