
Intan yang merasa kalau Sandra sedikit berbeda.”Tidak biasanya dia memutuskan alat komunikasi. Apa terjadi masalah dengan dia?,”ucap hati Intan. Tapi setelah itu Intan yang membawa alat komunikasi yang baru. Pergi untuk bekerja, tapi saat menuju ke ruang bawah. Intan melihat Intan bersama orang tuanya. Yang memamerkan baju yang mereka beli.”Kamu mau kemana Intan,”ucap Iranta.
“Aku akan berangkat kerja. Tapi kakak itu pakaian kamu dapat uang dari mana dan perhiasan itu,”ucap Intan yang mencari informasi.
“itu bukan urusana kamu sana pergi kerja. Aku ingin uang dari gaji kamu berikan kepadaku besok. Karena aku akan menghadiri pesta bersama Sandra,”ucap Iranta yang merasa bangga.
“Sandra. Kakak sudah akrab saja dengan Sandra,”ucap Intan yang tersenyum. Intan yang merasa tidak perduli dengan apa yang mereka lakukan. Berjalan menuju pintu keluar. Di mana Intan merasa tidak cemburu dengan kakaknya. Karena Intan sudah tahu Sandra yang bersama dengan Iranta adalah palsu. Yang asli yang tidak muncuk berapa minggu ini membuat Intan merasa gelisah.
“Kemana dia pergi ya, apa dia baik-baik saja disana,”ucap hati kecil Intan. Sampai Intan di lokasi kerja. Dimana Intan mulai bekerja, waktu terus berjalan sampai hari telah sore. Dimana Intan dipanggil oleh pemilik toko. Untuk mendapatkan bayaran dari pekerjaan yang selama ini Intan lakukan. Intan yang merasa senang mengambil beberapa koin untuk dia simpan. Sebagian lagi Intan berikan kepada orang tuanya.
Selesai di tempat yang satu Intan pergi ke tempat kedua dimana Intan kerja. Seperti biasa Intan bekerja sampai larut malam dan mendapatkan bayaran dari kerjanya. Sama seperti gaji pertama intan kerja. Intan menyisishkan uang untuk dia bawa. Di perjalanan yang gelap dan tidak ada siapa-siapa Intan pulang ke rumah.
__ADS_1
Langit malam yang indah dengan suasana malam yang sunyi. Intan pulang dari kerja sampai didepan pintu Iranta yang bersama dengan orangtuanya sudah menuggu Intan.”Mana uangnya,”ucap ayah Intan. Intan yang tanpa melawan memberikan uang dari gaji yang dia miliki kepada orang tuanya.
Setelah mendapatkan uangnya mereka pergi menuju butik yang masih terbuka. Intan yang melihat mereka bertiga pergi hanya bisa menghela nafas saja.”Kenapa hidupku selalu dipermiankan ya,”ucap Intan yang masuk ke dalam rumah. Dimana saat intan masuk tidak ada siapa-siapa. “Kapan mereka akan menyangiku ya,”kata Intan sambil menyentuh wajahnya.
“Apa aku tidak di terima di keluarga ini karena wajahku yang tidak cantik dengan kakak,”kata Intan yang ingin melupakan semuanya. Dimana Intan berjalan menuju dapur melihat apa ada bahanya yang dia bisa gunakan untuk membuat makanan. Intan yang mencari hanya ada tepung, telur, gula, dan kentang saja.
Intan yang tersenyum bisa membuat makanan dengan bahan yang ada itu. Dimana Intan mengupas kentang yang ada selesai Intan kupas Intan mencuci sampai bersih lalu dia masukkan ke dalam air yang mendidih. Sambil menuggu matang Intan memecahkan telur dan mencampurkannya dengan tepung. Tapi Intan juga tidak lupa untuk menyisihkan dua telur yang dipisahkan putihan dan kuningan telurnya. Setelah tepung dan telur yang tadi sudah tercampur merata, Intan mengocok putih telur yang sudah dikasih gula untuk membuat krim putih.
Krim yang sudah dibuat sudah jadi Intan berjalan ke arah ketang yang sudah matang. Intan yang mengambil kentang didalam air dengan sendok. Setelah diambil semua Intan hancurkan agar menjadi lembut. Setelah sudah lembut ketangnya. Intan campur dengan adonan tepung yang tadi sudah di ratakan oleh Intan. Tepung telur dan kentang menjadi satu. Setelah semua merata Intan memanaskan minyak dan dan air. Karena Intan membuat adonan kentang itu menjadi dua goreng dan kukus. Setelah semua sudah selesai yang satu adonan dimasukkan ke dalam panji yang sudah ada airnya untuk mengkukus. Minyak yang juga sudah panas Intan masukkan adonan yang sudah di bentuk. Menuggu sampai ke coklatan baru Intan mengangkatkan dan dia iriskan agar minyaknya berkurang. Yang didalam panji yang sudah dikukus yang juga sudah matang Intan ambil.
Intan yang sudah selesai dan semu peralatan sudah besih dicuci. Intan membawa kuenya ke kamar untuk dia makan sambil melihat langit.”Kurasa bagus jika sambil membaca buku,”ucap Intan yang berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Di dalam kamar Intan yang memosisikan tempat agar dia bisa membaca buku sambil menikmati kue yang dia buat. Intan yang memakan satu gigitan sambil membaca buku. Karena rumah yang sepi karena orang tuanya dan kakaknya yang pergi. Intan sendiri yang tidak tahu kemana mereka pergi hanya bisa diam saja.
Malam yang damai Intan rasakan dengan kue dan buku yang dia nikmati. Sampai larut dna kue yang dimakan oleh Intan sudah habis dan buku yang dibaca oleh Intan juga sudah selesai dia baca. Intan menuju kasur utuk tidur. Tapi Intan yang sudah tertidur lelap tidak sadar kalau ada seorang yang membakar rumah orang tua Intan.
Intan yang tertidur lelah merasa ada asap yang membuat dia terbangun.”Dari mana asap ini berasal,”ucap Intan membuka mata. Tapi Intan yang merasa ada yang aneh dengan asap itu melihat cahaya yang keluar dari balik pintu.
“Apa mungkin kebakaran?,”ucap Intan mebuka pintu dan melihat api yang sudah melahap setengah dari rumah.
“Bagaimana bisa rumah kebakarkan. Ayah, ibu dan kakak bagaimana konsisinya?,”kata Intan yang mencari jalan keluar. Tapi hanya ada jendela yang bisa digunakan oleh Intan. Mata Intan mencari tali yang bisa menompang tubungnya turun dengan barang yang sudah pasti akan dibawa Intan melemparnya. Dimaa Intan membuat tali dari kain yang sudah dia jadikan satu. Intan yang hendak turun melihat orang tua Intan dari balik kereta kuda.”Bukan itu ayah dan ibu kenapa mereka bisa ada didalam kereta. Orang yang bersama itu siapa?,”ucap Intan yang melihat kereta kuda dan orang yang bersama orang tuanya pergi.
Intan bisa turun dengan tenang dan melihat rumah yang selalu menjadi tempat belindug dari hujan dan panas sudah terbakar api.”Kenapa bisa ada api?,”kata Intan yang merasa curiga.
__ADS_1
Intan yang menduga kalau orang tuanya yang melakukkannya. Tapi pikiran itu dia hapuskan melihat semua sudah hangus dan pagi datang. Tapi Intan tidak melihat orang tuanya dan kakaknya kembali ke rumah.”Aku di buang,”ucap Intan yang merasa sedih.
“Mereka tega dengan diriku, aku harus tinggal dimana sekarang,”kata Intan yang menatap ke atah depan yang sudah hangus. Intan yang menghela nafas sampai dia merasa ingin menghubungi Sandra, tapi dia tidak ingin merepotkan Sandra. Intan yang mengambil barang yang dia lempar dimana salah satu barang yang dilempar adalah uang yang dikumpulkan oleh Intan selama ini.