
Hari berganti malam dimana Sandra yang dalam kondisi tidak baik sednag tertidur nyenyakk. Kawan yang lain yang sedang beristirahat dan ada juga yang sedang bersantai jalan-jalan bersama dengan Kara dan Koro.
Jaya yang tidur disamping Sandra sampai kondisi Sandra membaik. Di malam hari tepat di tengah malam dimana Jaya tidak sengaja tertidur di samping Sandea. Revin datang masuk ke kamar Sandra dan Jaya.”Kenapa kamu tidur disana?,”ucpa Revin yang berjalan mendekat. Revin lalu memindahkan Jaya ke kasur.
Tapi pada saat yang sama Sandra membuka matanya melihat langit-langit yang tidak asing baginya.
“Kamu sudah bangun Sandra,”ucap Revin mendekat. Sandra melihat ke arah suara dan melihar Revin. “Kenapa kamu ada di sini?,”ucpa Sandra dengan nada lemah karena baru saja bangun. Tapi kondisi Sandra masih saja belum membaik.
“Aku datang untuk melihat kondisi kamu. Apa ada yang sakit di tempat lain?,”ucpa Revin duduk disampingnya.
“Aku baik saja jadi tidak usah khawati. Tapi kenapa kamu baik dengan kami berdua. Siapa kamu?,”ucap Sandra yang merasa matanya sudah mulai lelah.”Kamu sebaiknya istirahat dulu saja, kondisi kamu masih belum dalam keadaan baik,”kata Revin yang memeriksa dahi Sandra.
“Kurasa kamu masih panas sebaiknya kamu segera tidur lagi,”ucap Revin. Tapi belum sempatRevin berkata Sandra sudah tertidur di saat Revin menyentuhnya. Revin hanya menghela nafas melihat Sandra yang sudah tertidur.
“Kurasa Sandra baru saja tidur ya Revin,”ucap Ibu Revin. Revin menoleh karena mendengar suara dari ibunya.
“Ibu kenapa ada di sini?,”ucap Revin.
“Ibu hanya ingin melihat keponakan ibu saja,”ucap ibu Revin.
“Apa maksud ibu keponakan. Apa mereka berdua adalah suadara kita, tapi kenapa aku baru saja bertemu dan melihat mereka,”kata Revin yang tidak percaya.
__ADS_1
“Itu karena dia adalah keturunan dari kakak ibu yang hidup bersama di dunia manusia. Kamu sudah tahukan kalau ibu dan saudara ibu pernah berpisah karena bencana ini,”ucap Ibu Revin.
“Apa benar mereka adalah keturunan dari kakak kamu Jeni,”ucap ayah Revin yang bernama Richal.
“Ayah juga ada disini?,”ucap Revin. Jeni yang melihat ke arah Richal dengan senyumannya. Tapi respons yang diberikan oleh Richal adalah helaan nafasnya saja sambil merangkul dari samping. Tapi Revin yang melihat kemesraan mereka berdua membuat Revin merasa bosan.”Ayah ibu bisa tidak jangan romatisan di sini. Kita bicara diluar saja bagaimana?Biarkan mereka berdua istirahat,”kata Revin.
Revin yang berjalan menuju pintu ia membuka dan hendak keluar. Tapi Jaya yang tidak sengaja mendengar perkataan mereka membuka mata.”Apa aku boleh ikut dengan kalian, apa benar kalian kenal dengan kakek saya,”ucap Jaya yang sudah dudul dikasur.
Revin bersama orang tuanya menoleh ke belakang.”Jaya kamu sudah bangun,”ucap Revin.
“Iya tapi apa yang baru saja kalian katakan itu benar atau tidak kalau kamu adalah saudara dari kakek,”kata Jaya yang memastikan. Jeni berjalan mendekat ke arah Jaya.”Jaya kamu tidur saja dulu, besok kita bisa bicara banyak. Kalau kamu pergi bagaimana dengan kakak kamu yang sedang berbaring sakit disana,”ucap Jeni.
“Kakak,”ucap Jaya.
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku adalah adiknya kakek kamu. Kitakan tidak pernah bertemu,”ucap Jeni.
“Ohh soal itu ya. Aku lupa,”ucap Jaya mengambil satu buku album yang dia bawa.
“Disini ada foto yang sama dengan anda,”kata Jaya memperlihatkan fotonya.”Aku mengambilnya di kamar kakek sebelum aku pergi bersama dengan kakak keluar dari akademik,”kata Jaya.
Jeni yang melihat ablum foto yang di tunjukan oleh Jaya. Membuat kenangan bersama kakakanya dan orang tuanya teringat. Jeni yang melihat sampai meneteskan air mata. Jaya yang ada disampingnya hanya menghapus air mata tersebut.”Nenek jangan nangis,”ucap Jaya tiba-tiba. Sementara Richal yang melihat Jeni langsung memeluknya dan Revin hanya terdiam melihat saja. Akrena Revin tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk ibunya.
__ADS_1
“Jika nenek mau bisa dibawa, kita nanti akan bertemu lagikan,”kata Jaya yang memberikan buku albumnya kepada Jeni.”Terima kasih ya Jaya,”ucap Jeni yang mengambilnya didampingi Richal mereka keluar dari kamar bersama dengan Revin.
Di luar Jeni yang masih didampingi oleh Richal menuju kamarnya. Tapi Revin yang ada disampingnya hanya menatap saja.”Ibu ayah apa album itu ada foto ibu,ucap Revin yang sedikit ragu.
“Apa kamu mau melihatnya,”ucap Jeni sambil tersenyum. Revin hanya mengangguk saja.”Jika kamu mau ayo ikut ayah dan ibu melihat bersama,”kata Jeni.
“Bagaimana sayang tidak apa-apakan,”kata Jeni lagi. Richal hanya tersenyum saja yang menandakan kalau tidak masalah Richal ikut dengan mereka masuk ke kamar mereka berdua. Di dalam kamar mereka melihat album yang dibawa oleh Jaya. Satu halaman mereka melihat dan dimana Jeni juga mnejelaskan kepada Richal dan Revin tentang siapa saja yang ada di dalam foto tersebut.
Hingga pagi datang mereka tertidur karena asik melihat foto. Tapi pada saat yang sama Jaya melihat kondisi kakaknya. Ada perasaan yang tidak enak membuat Jaya merasa harus waspada.”Kenapa perasaan ini muncul lagi,”ucap Jaya yang mulai waspada.
Jaya melihat sekelilingnya kalau tidak ada yang membuat dia curiga. Tapi pada saat dia hendak membuka pintu kamar Jaya mendengar langkah kaki. Jaya sedikit membuka pintu untuk melihat. Tapi yang terlihat adalah seorang berbaju hitam, tapi dari kelaguannya orang itu bukan berasal dari tempat ini.
“Siapa mereka, ada lebih dari lima orang yang masuk ke tempat ini,”ucap Jaya. Jaya yang tidak tahu harus bagaimana hanya bisa menggunakan kemampuannya untuk memberitahu yang lain kalau ada penyusup. Jaya yang sedang berkonsentrasi dengan kemampuannya dengan pikiran tenang dan tetap waspada Jaya memberitahukan kepada yang lain. Kawan yang lain yang sedang dalam kondisi mencari informasi dan ada juga yang terbangun dari tidur, ada yang mandi dan memperbaiki peralatan. Mendengar suara Jaya pada saat yang bersama kalau ada penyusup yang datang.
Pada saat yang sama mereka bergerak dan melihat kondisi diluar kamar mereka. Kalau emang ada yang tidak beres. Mereka yang sudah mendapatkan kabar itu dari Jaya mulai bersiap. Tapi dengan hati-hati merela yang sudah keluar dan bertemu dengan yang lain. Mulai membentu rencana untuk memberitahkan kepada para tetua dan kepada penghuni rumah lainnya.
Setelah membentuk beberapa kelompok mereka mulau berpencar. Tapi belum sempat berpencar mereka sudah dihadapkan dengan sembilan orang yang mengempung mereka.”Kurasa kita harus menghabisi para tikus itu lebih dulu sebelum pergi dari sini,”kata Sega.
Yang lain hanya tersenyum saja dan bersiap untuk bertarung satu sama lain. Tapi di tempat lain Jaya yang sedang berjaga dihadapkan lima orang.”Kenapa kalian datang ke sini untuk siapa kalian ke sini?,”uap Jaya yang berubah ekspresi. Dimana Jaya mengeluarkan barang yang selalu dia bawa. Tapi untuk keamanan kakaknya Jaya memasang pelindung disekitar kasur Sandra.
“Tidak aku sangka kamu masih hidup,”ucap berbaju hitam yang melepaskan topeng. Jaya yang melihatnya sedikit terkejut dengan pemandangan didepanya.
__ADS_1
“Jadi itu kamu,”ucap Jaya yang mencoba untuk tenang.