
Naun yang bersama dengan Wildan telah selesai dengan para monster membawa bangkai tersebut untuk dimanfaatkan sesuai dengan catatan Sandra. Tapi di lain tempat Sandra bersama dengan yang lain melihat pemandangan yang tidak asing yang hampir sama dengan dibawah.”Kenapa tempat ini sangat sama dengan dibawah,”ucap Sandra.
“Aku juga tidak tahu. Aku kira tempat ini akan berbeda. Tapi jika itu mereka kapan saja pasti akan ada yang iri dan dengki bukan,”ucap dewa penghakiman.
“Sudah untuk apa kalian perduli dengan mereka. Lebih baik kita lanjutkan perjalanannya,”kata orang asing.
“Itu bagus. Tapi bagaimana kita melanjutkannya karena didepan sana adalah hutan berduri,”kata dewa penghakiman.
“Kenapa ada hutan berduri di pulau apung,”ucap Sandra.
“Bukan itu wajar saja kita ada hutan berduri. Di sini sama saja dengan pulau yang lain bukan,”kata orang asing.
“Iya juga sih,”kata Sandra.
“Tunggu dulu kenapa kalian terlihat santai saja. Tapi bagaimana kita bisa berjalan di hutan berduri itu. Jika kita masih melanjutkna perjalanan menuju pinggiran kota,”kata dewa penghakiman.
“Kamu tidak belajar,”ucap mereka berdua kepada dewa penghakiman.
“kenapa kalian menatapku seperti itu. Pohon berduri itu sangat beracun apa kalian tidak tahu. Jika kalian masih saja santai saja,”kata dewa penghakiman.
“Kami tahu,”ucap merela berdua.
“Jika kalian tahu bagaimana kita bisa melewatinya,”kata dewa penghakiman.
“Di sini siapa yang bodoh sebenarnya,”kata orang asing. Sandra yang juga berpikir seperti itu hanya bisa menghela nafas saja.
“Kamukan dewa penghakiman. Tentu saja kamu bisa terbang bukan atau meringankan tubuh kamu untuk melewati jalan atas pohon berduri,”kata Sandra. Dewa penghakiman yang baru sadar tersenyum dengan wajah malunya.
“Sudah berapa lama kamu disini sampai otak kamu tidak diasah,”kata orang asing.
“Maklum saja aku seperti ini.Aku juga terjebak kalau disini hanya untuk dua orang dewa yang belum aku temukan,”kata dewa penghakiman. Mereka bertiga melepaskan aura mereka dan melewati pohon berduri. Tapi pada saat yang sama Wildan dan Naun merasakan aura dewa yang ada di dekat pinggiran kota.
__ADS_1
“Wildan,”ucap Naun. Wildan yang juga merasakannya hanya mengangguk dan mereka segera pergi ke pinggiran kota untuk mengecek. Sementara Sandra bersama dengan kedua orang yang sudah melewati pohon berduri. Menyembunyikan aura dewa mereka dan melajutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Tapi mereka bertiga berpapasan dengan kelom[ok Wildan yang sedang mencari tahu tentang aura dewa yang datang.”Kenapa tidak ada siapa-siapa disini,”ucap Wildan. Sampai Wildan memberitahukan kepada Naun yang ada disebelah lain.
Naun yang juga tidak menemukan apa-apa berkumpul dengan Wildan di satu rumah makan. Wildan yang sudah sampai melihat Sandra yang memberikan catatan itu kepadanya.
“Naun,”cuap Wildan yang melambai tangannya kepada Naun. Tapi Wildan yang melihat tatapan Naun sedikit tertuju ke arah lain. Wildan yang penasaran melihat ke arah mata Naun tertuju dimana Wildan melihat tiga orang yang sedang menuggu makanan mereka.
Wildan yang merasa penasaran menghampiri Naun dan menepuk punggungnya.”Apa yang kamu lihat Naun,”ucap Wildan yang sudah ada disampingnya.
“Wildan kenapa kamu ada disini,”kata Naun yang tidak sadar.
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu berdiri saja disini,”kata Wildan.
“Kamu ingat tidak catatan yang aku berikan itu diberikan kepada siapa. Itu orangnya bersama dengan kedua orang itu,”kata Naun.
“Jadi salah satu dari ketiga orang yang duduk itu adalah pemilik catatan yang diberikan kepada kamu,”kata Wildan.
“Itu benar ayo kita hampiri mereka,”kata Naun. Sandra bersama dengan kedua orang yang bersama dnegannya menyadari kehadiran dari kedua orang tersebut.”Bukan dia anak yang tadi kita temui,”ucap orang asing.
“Halo tuan-tuan apa kami berdua bisa bergabung dengan tuan ini,”ucap Wildan dengan sopan.
“Tentu saja. Silakan kalian duduk,”ucap orang asing. Kewaspadaan mereka berdua yang telah sudah meredah mengizinkan mereka duduk disatu kursi yang sama. “Aku dengar dari sepupu saya Naun kalau anda yang memberikan catatan monster tersebut. Kami ingin mengucapkan terima kasih telah menolong kami,”kata Wildan.
“Itu tidak masalah. Itu hanya kebetulan saja untuk apa anda memikirkannya. Tapi anda berdua ini siapa ya?,”kata Sandra.
“Maaf kami belum meperkenalkan diri kami. Saya adalah Wildan dan dia adalah Naun orang yang anda temui saat ekspedisi tadi,”ucap Wildan.
“Naun dan Wildan ya,”ucap dewa penghakiman.
“Iya apa ada masalah tuan,”ucap Naun.
__ADS_1
‘Tidak ada, hanya saja kalian mengingatkan saya pada seorang yang saya kenal saja,”ucap dewa penghakiman.
“Sudahlah, tapi kenapa kalian bertiga ada di sini dna kalian bertiga ingin pergi kemana. Jika kami boleh tahu,”ucap Naun.
“Kami bertiga ingin pergi ke perpustakaan yang ada dipinggiran kota,”kata Sandra.
“Untuk apa kalian bertiga kesana,”kata Wildan yang sedikit curiga.
“Kami datang hanya ingin mengetahui pahlawan yang ada di tengah kota dan sejarah pulau apung saja bersamaan dengan monster yang saya lihat,”kata Sandra dengan santai. Sampai pelayan datang membawa makanan mereka. Dimana mereka makan lebih dulu karean mereka bertiga sangat lapar. Tapi dewa penghakiman yang merasa ada yang aneh dengan kedua orang yang mereka temui membuat dia tidak bisa menahan hawa dewanya.
Sandra yang merasakannya langsung memberikan daging dimulutnya ke arah dewa penghakiman yang terlihat ada aura pembunuhnya.”Apa yang kamu lakukan?,”ucap dewa penghakiman yang melihat ke arah Sandra dengan tatapan tajam.
Tapi Sandra juga memberikan tatapan tajam juga kepada dewa penghakiman sampai dia sadar kalau aura pembunuhnya keluar. Dewa penghakim yang sudah dibantu oleh Sandra merasa berterima kasih dengan dia mengurungkan niatnya untuk memarahinya. Sandra yang sudah melihat dewa penghakim yang sudah kembali normal. Mereka kembali berbincang satu sama lain.
“Jika kalian ingin tahu tentang pahlawan itu kami bisa ceritakan kepada kalian bertiga,”ucap Naun.
“Itu terima kasih, tapi apa kalian tidak merasa terbebani karena kalian terlihat sibuk,”ucap Sandra.
“itu benar. Lebih baik kalian selesaikan saja pekerjaan kalian berdua. Kami bisa mencari tahu di perpustakaan itu,”ucap orang asing.
“Itu benar. Tapi kalian terlihat berbeda dengan pemuda yang lain,”kata dewa penghakiman.
“Apa yang berbeda dengan kami. Kami merasa kami saja saja dengan yang lain,”ucap Naun.
‘Sudah untuk apa kalian membahas yang tidak pasti. Lebih baik isi perutnya dulu dari pada diambil oleh dia,”kata Sandra. Mata mereka tertuju ke arah orang asing yang sedang makan.
“Kurasa teman kalian sangat lapar ya,”ucap Wildan.
“Dia memang kelaperan. Untuk apa apa kalian diam saja ayo makan bersama,”ucap Sandra. Dimana mereka makan bersama selesai makan mereka melanjutkan pembicaraan mereka. Tapi pada saat yang sama anak buah darai Wildan datang memberitahukan kalau ada mosnter yang datang mendekat. Mereka berdua segera pergi dari rumah makan. Sandra dan yang lain masih ditemapt menyelesaikan makanan mereka.
“Terima kasih sudah mengingatkanku,”kata dewa penghakiman.
__ADS_1
“Tidak masalah. Aku tahu kalau kamu merasakan aura dewa pada diri mereka,bukan,”kata Sandra.
“Aura dewa,”ucap orang asing.