
Larissa melipat kedua tangan di depan dada. "betul sekali!"
"Sinting!"umpat vinka frustasi
"Aku pulang dulu ya," ucap Riska tanpa alasan
"Mau ke mana Riska?"tanya Larissa
Riska tidak menjawab.
"Kelakuan kamu yang mau jadi perebut suami orang begini bikin Riska sedih larissa. Kamu lupa Ayah Riska punya simpanan? cewek yang jauh lebih muda yang namanya sama kayak dia. Kamu bayangin betapa stress-nya dia!"pekik vinka.
"Itu adalah masalah rumah tangga Ibu Riska dengan ayahnya, bukan urusan aku ."balas larissa
Vinka mengepalkan tangan dengan geram. "Benar-benar sudah nggak waras kamu Larissa. Selama kamu belum mengubah sikap kamu sampai saat itu, aku nggak mau temenan sama kamu."
Teman-teman yang lain hanya bisa terdiam melihat Vinka meraih tas dan keluar dari butik. Tidak ada satupun di antara mereka yang mampu menghentikan kedua temannya. Mereka juga tak mampu melarang Riska untuk pergi.
"Halo semua fotonya sudah masuk? bagaimana, bisa dibuat persis kayak gitu nggak? aku bakalan bayar berapapun biayanya. Oke terima kasih ya!"
Larissa menutup telepon setelah menghubungi tukang jahit yang akan membuat pesanannya. Dia kemudian kembali duduk bersama teman-temannya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Simpanan Ayah Riska Memangnya umur berapa?" tanyanya Seraya meminum teh.
"Sekitar 23 tahun." jawab Yuyun pelan
"Aku kira masih ABG, umur segitu mah emang udah sewajarnya dijadiin istri." komentar larissa.
"Jangan ngomong gitu dong Larissa, kalau Ayah Riska beneran nikahin simpanannya Bagaimana?" sela yang lain.
"Iya berarti Riska punya mama tiri yang namanya Riska juga. Gitu aja kok bingung." balas Larissa.
Semua orang terdiam. Mereka tahu Larissa memang tidak berperasaan. Tetapi tak menyangka akan separah ini.
"Kalau Vinka dan Riska nggak mau main sama kita lagi Bagaimana?" tanya Yuyun.
Larissa tertawa sarkas. "Dunia nggak akan kiamat kalau mereka nggak mau gabung lagi sama kita. Sudah deh, kenapa pada murung gitu jadinya? Kalian kan ke sini mau senang-senang."
Semuanya saling bertukar pandang. Kalau bukan karena masing-masing dari mereka punya utang Budi pada Larissa, sudah pasti sejak tadi mereka menyusul Riska dan juga Vinka pergi.
***
"Bos, Pak Gavin ada di sini, bawa gaun yang kemarin,"ucap salah satu karyawan Herman
"Gavin bawa gaun?"Herman seketika terlihat panik.
" Apa ada yang rusak ya?"
Herman pun bergegas menemui Gavin dengan tampang gugup.
"Ada apa Vin? ada bagian gaun yang rusak?"
"Kita boleh bicara berdua saja Kuya?"pinta Gavin.
Herman pun memberi gestur menyuruh pergi karyawannya. Kini mereka hanya berdua saja dengan maneken yang menemani.
"Aku mau Kuya lelang gaun ini. Terserah berapa aja lakunya aku terima. Nggak mesti balikin duit aku semuanya." ucap Gavin.
Herman terkejut bukan main. "loh kenapa dilelang Gavin?"
__ADS_1
"Istri aku nggak mungkin pakai gaun yang udah dicoba orang lain kuya."
Wajah Herman berubah pucat pasi.Jadi Larissa ketahuan mencoba gaun itu?
"Aku tahu Larissa orangnya gimana. Makanya aku nggak mau nyalahin Kuya. Tapi gaun ini tetap nggak bisa istri aku pakai." jelas Gavin.
"Maaf ya Gavin, beneran maaf banget." ucap Herman ketakutan.
"Harusnya dia lebih takut pada apa yang sanggup Gavin lakukan daripada ancaman Larissa."
"Ya sudah kuya, aku sama istri juga nggak mau ribut. Istri aku orangnya baik banget, jadi aku nggak mau ngecewain dia, walaupun aku bisa marah. Kuya lelang aja gaun ini sebagai permintaan maaf."
Gavin kemudian beranjak begitu saja tanpa berpamitan. Herman menggigit kuku dengan cemas. Dia pun segera menghubungi Larissa untuk memberitahukan hal tersebut.
"Say kamu ketahuan ya pakai gaun istri Gavin?" tanya Herman begitu Larissa menjawab telepon
"Cewek kampung itu ngadu ke Kuya? Larissa justru bertanya balik.
"Aduh say, ini tadi Gavin balikin gaunnya ke sini. Terus nyuruh aku buat lelang gaunnya.
Larissa mendelik. "Gaunnya dilelang?"
"Iya say, Untung aja dia nggak marah-marah sama aku, kalau nggak bisa hancur karir aku sampai jadi abu.
"Terus udah kuya lelang?" tanya Larissa penasaran
"Ya belum say, baru aja diantar." jawab Herman lemas.
"Sama siapa ya Aku lelang gaunnya?"
Bagaimanapun, tidak mudah melelang gaun dengan harga yang fantastis itu.
Hening sejenak
larissa telah mengakhiri panggilan secara sepihak.
"Ih sebel aku, udah nggak minta maaf seenaknya aja nutup telepon. Nyesel aku ngasih dia cobain gaun itu aduh....? geram Herman frustasi.
Di tempatnya Larissa mencoba untuk berpikir.
"Kalau gaun itu dipulangkan, berarti istri Gavin pakai gaun apa dong?"
Larissa mendadak merasa kesal. Eencananya untuk memakai gaun yang mirip jadi gagal total!
Berjam-jam dirinya berkutat dengan pikirannya sendiri. Penasaran dia pun menghubungi Nyonya Aurora untuk mencari tahu.
"Gavin mulangin gaun yang udah selesai?"tanya Nyonya Aurora di seberang telepon.
"Loh tante nggak tahu?"tanya Larissa
"Nggak Larissa, tante nggak mau tahu sama urusan resepsi mereka soalnya."
"Tante bisa cari tahu nggak? Aku penasaran banget soalnya Mischa mau pakai gaun apa. jangan lupa tante fotoin ya!"
"Okey sebentar tante tanyain."
Nyonya Aurora yang ikut penasaran segera menghampiri Gavin dan Mischa di kamar. Gavin membuka pintu dan nyonya Aurora tanpa basa-basi langsung menanyakan soal gaun itu.
"Bagaimana persiapan resepsi kalian? gaun yang Mischa pakai udah selesai?
__ADS_1
"Sudah kok ma, udah selesai semua." jawab Gavin.
"Mama boleh lihat gaunnya nggak?"
"Boleh aja sih ma, masuk aja dulu." ajak Gavin.
Mischa baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Nyonya Aurora.
"Mama." sapanya.
Nyonya Aurora hanya mengangguk seraya tersenyum sebagai respon. Keduanya kemudian berdiri dengan canggung. Tak ada satupun yang mulai pembicaraan.
Gavin mendorong maneken dengan hati-hati memperlihatkannya kepada Nyonya Aurora.
"Ini ma, gaun yang bakalan dipakai Mischa.
Nyonya Aurora mengalahkan pandangan dan terkejut Bukan main. Saat melihat gaun yang dimaksud oleh Gavin. Tangannya mendadak tremor dan bibirnya tak mampu berkata-kata.
"Ga...Ga... Gaun ini kan...."
****
Masa lalu yang telah Nyonya Aurora lupakan kembali mendobrak ingatannya. Pertengkaran dengan Tuan Carlos Antonius semalam memperparah keadaan. Dia mencoba memegangi tangannya yang Tremor.
"Bagaimana bisa, bagaimana bisa gaun itu ada di sini." gumam Nyonya Aurora
"Memangnya kenapa ma?" tanya Gavin
"Hah?"Nyonya Aurora merespon
"Oh enggak, gaunnya bagus banget. Dari mana ini?
"Papa yang ngasih ma, katanya gaun lama. tetapi belum pernah dipakai sama sekali." jawab Gavin.
"Oh gitu ya, Nyonya Aurora tertawa canggung. "Mmmm .. Ya udah Mama mau ngerjain sesuatu sebentar."
Gavin dan Mischa hanya saling bertatapan. Nyonya Aurora keluar terburu-buru tanpa menanyakan apapun lagi. Padahal mereka ingin berbagi tentang rencana resepsi yang sudah dipersiapkan.
Nyonya Aurora masuk ke kamar dan terduduk di sofa.
"Gaun itu disimpan sama Kuya Carlos tapi aku saja enggak dikasih paket gaun itu, waktu nikah sama Kuya Carlos dulu." kenangnya.
Kok bisa Kuya Carlos memberikan ke si anak kampung, pakai gaunnya?"
Nyonya Aurora kemudian berdiri lalu berjalan mondar-mandir.
"Aku kira ke mana gaunnya, ternyata selama ini Kuya Carlos simpan di gudang. Apa karena kuya Carlos masih cinta sama perempuan itu?"
Lutut lutut Nyonya Aurora terasa lemas. Dia kira selama ini hati Tuan Carlos Antonio telah menjadi miliknya saja. Namun, tampaknya dia salah.
"Apa Kuya Carlos melihat kemiripan menantunya sama perempuan itu?"
Nyonya Aurora mengeram frustasi. Tanpa sadar menjambak rambutnya yang tertata rapi sehingga tak jelas bentuknya lagi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK