Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 96. MENCOBA GAUN PENGANTIN _YOU & ME


__ADS_3

Senyuman Mischa terkembang lebar. Dia benar-benar sudah melupakan obrolannya dengan Riska tadi. Apalagi teman-teman terbaiknya telah hadir di sini.


"Istri kamu manis banget Gavin, pantesan Kamu demen."Puji Kalvin


Gavin menunjukkan lengan Kelvin


"Nggak salah pilihan Aku, kan?


Kelvin mengangguk.


"Orangnya nggak kecentilan ya. Kayaknya dia juga terlihat jaga jarak sama teman cowoknya,"sambung teman yang lain.


"Anaknya sopan full, ok aku panggil ya.


Gavin memanggil Mischa yang kemudian dikenalkan pada teman-temannya. Mischa menyapa semuanya dengan ramah. Tetapi tidak berlebihan.


"Jangan marah kalau Gavin nanti masih sering nongkrong sama kami Ya." pinta Kelvin.


Mischa tertawa mendengarnya. "Tenang aja Kuya."


"Bukan dia yang marah. Emang aku nggak mau sering-sering lagi nongkrong sama kalian dan ninggalin dia lagi." ucap gavin


"Idih, bucin." ngeledek Bobi.


Semuanya tertawa.


"Ya udah guys, sampai ketemu hari H nya ya. aku mau fitting baju lagi, biar selesai semua hari ini." ucap Gavin


"Okey bro, see you."


Teman-teman Gavin berangkat lebih dulu, kecuali Matteo yang masih tinggal di sana . "Biar Irma dan yang lain berangkat sama aku ke toko Kuya Herman." Matteo menawarkan tumpangan.


"Oh boleh, ide bagus!"


****


Kok baru datang sekarang larissa, kemarin kamu ke mana?" tanya Herman saat melihat Larissa muncul di toko, setelah beberapa hari yang lalu menunda janji.


"Kemarin aku lagi nggak enak badan Kuya. makanya baru datang sekarang." Larissa beralasan.


"Oh ya udah, jangan capek-capek dong, yuk kita lihat hasil jahitannya." ajak Herman. Larissa menurut dan mulai mengekori Herman


"Bajunya mau kamu pakai untuk acara apa sih?" tanya Herman


"Nggak ada acara khusus sih Kuya awalnya, cuman pengen jahit aja. Tapi sekarang aku udah tahu mau pakai di mana bajunya." jawab Larissa merujuk pada resepsi pernikahan Gavin.


Langkahnya kemudian terhenti saat melihat sebuah gaun yang dipajang dengan hati-hati. Karena ditutup oleh pintu kaca


Gaunnya bagus banget Kuya."


Herman berhenti melangkah dan berbalik. Dia mengikuti arah pandangan Larissa pada sebuah gaun berwarna putih.


"Oh iya ,itu tempahan orang mau dipakai untuk resepsi nikahan." jawab Herman


"Oh ya, resepsi siapa Kuya?" tanya Larissa penasaran

__ADS_1


"Itu gaun untuk istri Gavin Antonio."


Degh!!


Jantung larissa seakan berhenti berdetak selama sekian detik. Gaun itu indah mewah dan terlihat luar biasa. Dia bahkan sampai tidak punya satu kata yang cocok untuk mendeskripsikannya.


"Cantik banget kan?" tanya Herman merasa bangga pada hasil karyanya.


"Istrinya sendiri yang memilih modelnya?" Larissa justru bertanya balik.


"Bukan, ini pilihan Gavin. Dia pengen istrinya terlihat Bagus dan cantik supaya nggak ada tamu yang terlihat lebih cantik dari istrinya." jelas Herman


"Kenapa sih? Larissa memburu. Apakah Gavin begitu mencintai istrinya? sampai-sampai segala hal harus dirinya yang mempersiapkan. Jika wanita itu adalah dirinya, Apakah Gavin akan melakukan hal yang sama?


"Kita lanjut gaun kamu Larissa." ajak Herman


"Aku mau ke toilet dulu Kuya, boleh?"


"Boleh dong say, Aku tunggu di sini ya."


Larissa bergegas ke toilet dan menangis di sana.


Pernikahan Gavin memang berpengaruh buruk terhadap kesehatan mentalnya.


****


"Waduh say, mana berani aku kasih izin kamu tes gaun itu."


"Wajah Larissa berubah kesal setelah kembali dari toilet sebuah ide gila muncul untuk mencoba gaun resepsi milik istri Gavin.


"Orang yang punya aja belum ada nyoba sama sekali, masa aku kasih kamu yang coba duluan." lanjut Herman Terlihat agak panik.


"Kamu sih, " Jawab Herman pelan


"Ya udah, kalau Kuya nggak kasih, aku coba gaun itu aku nggak bakalan jahit baju di sini lagi." ancam Larissa.


Herman terperangah. Dia tidak mungkin kehilangan pelanggan potensial seperti Larissa. Selain sering memesan baju untuk dipakai sendiri, wanita itu juga suka menjual hasil karya Herman yang dia desain sendiri. bisnis dengan Larissa adalah yang paling menguntungkan baginya.


"Aduh say, jangan gitu dong. Karir aku loh yang jadi taruhannya. Herman memohon


izin. "Aku cobain gaun itu, atau aku pindah tukang jahit?" Larissa memberi ultimatum.


Herman merasa gelisah dan serba salah. Dia sampai menggigit kuku, karena terlalu bingung. Begitu Larissa beranjak Pergi, dia pun mencoba menahan lengan wanita itu.


"Say Tunggu dulu! Okey okey tapi sebentar aja ya." Herman akhirnya menyetujui permintaan, yang lebih berupa perintah tersebut.


"Namanya juga nyoba, ya udah pasti bentar doang kan?" Kuya tenang aja.


Herman menghembuskan nafas frustrasi. Dia pun menyuruh dua orang karyawan untuk mengeluarkan gaun resepsi yang dibuat khusus hanya untuk istri Gavin seorang. menekan didorong dengan hati-hati ke bawah "Tolong ganti," Larissa melebar lalu mengekor.


Herman hanya bisa berharap tindakannya tidak diketahui oleh Gavin.


Herman mencoba menenangkan diri di ruangannya. Dengan meminum teh, lalu seorang karyawan meminta izin untuk masuk


"Pak Gavin sama istrinya ada di sini Bos."

__ADS_1


Herman menyemburkan teh yang baru saja masuk ke dalam mulut. Dia segera bangkit dengan panik.


"Serius kamu?"


Dengan cepat dia berlari ke jendela dan melihat mobil Gavin telah terparkir dengan manis di bawah sana. Kepanikan segera menyerbunya. Dia berdiri dengan gelisah dan bingung harus melakukan apa.


"Aduh gimana ini, kok Gavin nggak ngasih tahu dulu sih mau datang? mati aku." gumamnya panik.


Herman pun mencoba menenangkan diri dan melihat jam sudah 20 menit. Harusnya Larissa sudah selesai mencoba gaun itu, dia harus mengulur waktu sampai Larissa keluar dari ruang gantinya. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


"Wah pasti mahal-mahal nih baju di sini, mana sanggup kita belinya. Apa bisa dicicil?" tanya Vika yang merasa tidak percaya diri memasuki toko.


"Tenang saja bos yang bayarin semua." Matteo menenangkan


"Serius Matteo?" tanya Irma


"Iya, tadi bos yang bilang ke aku. Kalian silakan pilih baju seragam yang cocok yang ada di sini. Nggak usah pedulian harga. Nanti bos yang urus semua." jelas Matteo.


Vika, Vallen segera bersorak senang membuat Mischa tersenyum melihat tingkah rekan-rekannya.


"Kamu nanti jangan langsung balik ya woi, ikut aku fitting baju groms man." ucap Matteo


"Siap laksanakan." seru Andika.


Herman pun akhirnya datang menghampiri mereka dengan senyuman lebar khasnya.


"Hello, kok nggak pada ngabarin dulu sih mau datang?


"Maaf Kuya Herman, hari ini kami geladi resik resepsi. Ternyata selesainya lebih cepat dari perkiraan, jadinya langsung lanjut ke sini biar bisa selesai semua hari ini." jawab Gavin


"Oh gitu? Gavin kemudian tertawa canggung berharap Larissa segera keluar dan muncul di sana sekarang juga."


"Oh ya Kuya, kami bawa tiga orang Bredesmaid juga. Maaf banget nih dadakan, kebetulan tadi tim WO-nya yang meminta. Tapi seragamnya belum ada. Kuya punya baju jadi yang kira-kira bisa dipakai sama mereka nggak?" itu orangnya. jelas Gavin Seraya menunjukkan ketiga karyawatinya.


Herman melihat sekilas ketiga orang yang dimaksud dan mendapatkan ide.


"Ada dong, ada buat pengantin paling cetar Apa sih yang nggak ada." Herman tertawa genit.


Aku lihat body mereka Langsing nggak ada yang terlalu berisi. Jadi kayaknya bisa pakai baju yang udah jadi.


"Aku urus mereka dulu baru Mischa nggak apa-apa kan?"


Herman berharap harap cemas. Semoga saja Gavin menyetujui idenya.


"Boleh Kuya."


Herman menahan dan tersenyum makin lebar


"Kalau gitu, kalian Duduk dulu ya. entar ada yang nganterin teh. Aku urus mereka dulu oke."


Tanpa membuang waktu, Herman berjalan cepat menghampiri ketiga wanita yang akan menjadi Bredesmaidnya Mischa.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA BARU EMAK " PENGORBANANKU DI HARGAI DENGAN PENGKHIANATAN."


__ADS_2