
Mischa merasa begitu senang disanjung oleh sang suami. Namun, dia tetap tak ingin merasa tinggi hati.
"Ya, aku begitu karena yang hebat itu kan Kuya, Bukan aku. Walaupun aku udah nikah sama Kuya, latar belakang aku sebagai anak petani kan nggak bisa hilang. Itu akan tetap ada sampai kapanpun. Aku juga nggak mau Kuya dihina sama orang. Karena kelakuan aku. "Sok banget istri Gavin, padahal dulu cuman anak petani!" aku nggak mau kejadian begitu Kuya." jelas Mischa.
"Hmmm... jadi gitu ya?" Gavin manggut-manggut
"Tapi juga juga orang baik kok.
Gavin mendelik. Kenapa ngomong gitu?"
"Aku tahu Kuya itu dicap Arogan sama semua karyawan. Tapi mereka tetap memuji Kuya dalam beberapa hal. Kayak gaji yang layak dan jenjang karir yang bagus. Selama karyawan tersebut bekerja dengan baik, mereka bakalan punya kesempatan untuk pindah ke kantor NINE MEDIA COPERATION GROUP yang mana gajinya lebih besar lagi. itu sebabnya mereka tetap menghargai kuya." jelas Mischa.
"Oh ya? Kuya baru tahu ini emang benar, kadang-kadang mereka muji Kuya. Hari-hari mereka cuman julid aja ke Kuya. Mischa membenarkan.
" Iya loh, Kuya. Makanya mereka pada betah bekerja di situ. Walaupun Kuya galak suka marah-marah. Nggak pernah muji pekerjaan karyawan. Tapi reward yang mereka dapatin setimpal.
"Berarti bener ya?"
"Benar apanya?" tanya Mischa bingung
"Kuya juga berpikir hal yang sama selama Kuya kasih reward untuk mereka. Kuya bebas bersikap kayak gimanapun terhadap mereka? tapi Sekarang Kuya sadar kalau itu salah.
"Masih belum terlambat untuk berubah jadi bos yang baik, Kuya." memberikan semangat.
Gavin tersenyum. "Iya, kalau Kuya enggak ketemu sama kamu, Kuya Pasti bakalan terus jadi bos Arogan dan menyebalkan. Kalau istri Kuya bukan kamu, tapi karyawan lain bisa jadi dia bakalan sok berkuasa di kantor dan Kuya enggak akan mempermasalahkan kelakuannya itu."
"Jadi apa itu artinya kita memang diciptakan untuk satu sama lain?" tanya Mischa setengah menggoda
"Iya benar sayang, kamu memang benar benar jodoh Kuya, yang dikirimkan Allah kepada Kiya."ucap Gavin.
Gavin mengecup bibir istrinya sekejap. Mereka kemudian saling bertatapan bibir keduanya kembali bersatu dengan kejauhan mesra yang berubah panas. Melupakan seluruh rasa lelahnya, Gavin menginginkan istrinya itu sekarang juga.
****
"Larissa...."
Larissa tersentak saat Nyonya Aurora memanggilnya dengan setengah berteriak.
"Iya, Tan ada apa? tanyanya panik
"Kamu kenapa? Nyonya Aurora justru bertanya balik dengan cemas. Dari tadi tante panggil tapi nggak dengar. Kamu sakit? kok malah bengong
__ADS_1
Larissa memang sakit. Tetapi bukan sakit fisiknya. Sejak pernikahan Gavin yang dia saksikan secara langsung di Instagram hingga kini dia masih belum berselera melakukan apa-apa. Untungnya dia sudah memiliki tim manajemen yang baik sehingga usahanya bisa terus jalan dengan lancar tanpa dipegang langsung olehnya.
"Nggak apa-apa kok, Tan. Aku cuman mikirin bisnis aja." Larissa berkilah
"Kenapa bisnis kamu, ada masalah?" tanya Nyonya Aurora khawatir .
Larissa menggeleng seraya tersenyum. Nggak kok Tan, justru aku lagi mikir mau bikin usaha yang baru.
"Kamu sudah punya butik, salon, dan Cafe, Memangnya mau bisnis apa lagi Larissa? jangan terlalu banyak atuh, nanti kamu kerepotan sendiri ngurusnya. Kamu kan harus jaga kesehatan juga." Nyonya Aurora memberi nasehat.
Mata Larissa mendadak berkaca-kaca membuat Nyonya Aurora merasa semakin cemas.
"Loh Kamu kenapa Larissa?
"Seandainya Tante jadi mertua aku, pasti aku bakalan jadi orang paling bahagia di dunia ini. Tante itu baik banget sama aku. Aku bukan menantu tante, tapi Tante segini perhatiannya sama aku. Aku jadi rindu sama mama Setiap lihat tante. Kalian berdua sama-sama wanita hebat." jela Larissa s sambil menahan tangis.
Nyonya Aurora menarik Larissa ke dalam pelukan. Dan membiarkan wanita muda itu menuangkan perasaannya ke bentuk tangisan.
"Aku mau nikah sama Gavin bukan samata-mata karena suka sama dia. Tapi karena aku juga pengen punya mertua kayak tante, gak mudah cari ibu mertua yang baik dan perhatian kayak tante." ucap Larissa di Sela tangisnya .
"Maaf ya Larissa, tante nggak berhasil meyakinkan Gavin untuk mau nikah sama kamu." ucap Nyonya Aurora yang ikut merasa sedih.
Larissa menggeleng. " tante nggak salah apa-apa kok."
"Sudah lebih tenang?" tanya Nyonya Aurora.
"Tante ingat banget kamu bikinan tante teh untuk bikin tante tenang,"
larissa mengangguk. "Sudah kok Tante, rasanya lega banget udah curhat ke Tante. terima kasih ya, Tan."
"Nggak perlu ngucapin Terima kasih Larissa, walaupun kamu nggak jadi nikah sama Gavin Tante udah menganggap kamu kayak anak sendiri. Apalagi tante nggak punya anak perempuan.
"Tapi, sekarang Tante udah punya menantu perempuan."
"Iya sih, tapi rasanya beda gitu. kayaknya Tante masih belum bisa akrab gitu sama dia.
"Tante udah nerima dia? tanya Larissa penasaran
"Ya mau nggak mau, Larissa. sekarang kan kami udah tinggal serumah, tante nggak mau ribut sama dia tiap hari. Jadi kalau lagi malas di rumah, Tante boleh main ke sini nggak?" pinta Nyonya Aurora penuh harap.
Larissa mengangguk antusias. Boleh banget tan, biar aku ada teman ngobrol juga.
__ADS_1
"Aduh kasihan banget kamu, Pasti ngerasa kesepian." ucap Nyonya Aurora perhatiin
Ya gitulah rasanya hidup sebatang kara." lirih larissa.
"Sudah jangan sedih." ucap Nyonya Aurora Seraya menggenggam tangan Larissa.
kamu bisa anggap tante kayak Mama kamu sendiri. lagi pula nggak ada jaminan rumah tangga Gavin langgeng terus, kan? kamu masih punya kesempatan. Percaya sama tante.
Larissa tertawa canggung." Tante kok kayaknya yakin banget gitu sih?"
Nyonya Aurora terdiam Sepertinya dia terlalu bersemangat sampai hampir menceritakan hal yang tidak diperlukan. Dia pun ikut tertawa canggung.
"Nggak Tante cuman asal ngomong.
Larissa mengangguk paham.
"Gavin udah balik dari Antipolo Tan?
"Sudah hari ini. Kayaknya sih ini udah di rumah.
"Loh tante nggak menyambut kepulangan mereka?" tanya Larissa heran.
"Ngapain, Kalau tadi kamu yang jadi istri Gavin baru tante sambut.
Larissa jadi merasa besar kepala. Karena nyonya Aurora tampaknya begitu mendukungnya untuk menjadi istri Gavin. Dia meletakkan cangkir teh di atas meja dan berniat berbicara serius.
"Tante sebenarnya berharap mereka bakalan cerai suatu saat nanti, kan?
Nyonya Aurora menghela napas. "Nggak ada orang tua yang mau rumah tangga anaknya hancur. Tapi beda kasus sama Gavin ini, jujur aja Tante emang pengennya begitu.
"Kenapa Tante nggak coba menerima menantu tante aja? jawab Larisa penasaran.
"Karena tante malu Larissa, apa yang bisa dipamerin dan dibanggakan dari seorang anak petani. Tante kesal karena nggak bisa ngomong tinggi lagi di lingkungan manapun karena pasti orang-orang bakalan ngomong "Alah mantumu aja miskin gitu."ucap Nyonya Aurora.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK.
__ADS_1