
Mischa sedikit terperanjat. Gavin jarang sekali meninggikan suara, sebab bicara datar saja sudah bisa membuat perasaan orang lain tak karuan.
Apalagi dibentak seperti itu. Penasaran dia melihat ekspresi para karyawan dari perusahaan induk. Mereka benar-benar ketakutan semuanya berdiri saling mendekat ke satu sama lain, dengan kepala menunduk.
"Ma...maaf Pak, saya dan tim benar-benar minta maaf." ucap Lisa tergagap.
"Jangan cuman minta maaf, kalian tidak boleh seperti itu lagi pada karyawan karyawan saya, maupun karyawan dari kantor cabang yang lain. Mengerti!!!! titah Gavin.
"Mengerti Tuan, jawabnya serentak dengan suara takut. Gavin kemudian menarik tangan Mischa menjauh dari sana. Keduanya berjalan menuju ruang VIP menghindari keramaian orang-orang. Gavin memindai sebuah kartu, sehingga pintu bisa dibuka. Mereka pun masuk ke ruangan tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin khawatir setelah menutup pintu.
Mischa mengangguk. "Tidak apa-apa Bos."
"Beneran tidak diapa-apakan, oleh mereka?
Mischa tidak paham, kenapa bosnya begitu khawatir pada karyawan biasa sepertinya. Juga tangannya masih di dalam genggaman Bosnya itu. Dia berusaha menariknya, tetapi Gavin tidak melepaskannya.
"Bos? tanya Mischa heran.
"Kenapa kamu sering sekali terlibat masalah sama orang?
Kecemasan yang dirasakan oleh Gavin tampaknya tidak main-main.
"Tapi saya memang tidak ada mengganggu mereka Bos. Mereka tiba-tiba mendatangi saya, lalu marah-marah." jawab Mischa memelas.
"Itu maksud saya, Kenapa orang baik seperti kamu selalu di jahati orang lain?
Mischa terperangah. Ada apa ini, kenapa Bos sangat peduli padanya begini?
Maksud Bos apa?
Gavin menahan perasaan sekuat tenaga. Tetapi sia-sia, sejak terakhir kali mengantar Mischa pulang, sesuatu yang aneh menghantui hari-harinya. Mati-matian dia menolak mengakui kalau dia ada perasaan rindu
"Kalau kamu diganggu atau dijahati orang di manapun, itu tidak hanya di kantor. Kamu harus segera menghubungi saya. Paham! Pinta Gavin.
Nada bicaranya sangat lembut dan serat kecemasan. Berbeda dengan saat dia membentak karyawan perusahaan induk barusan. Mischa mengangguk, Mischa bilang apa yang sedang terjadi.
"Ya sudah, sekarang kita kembali bekerja. Matteo dan Kayla akan membantu kamu. Okey?
Mischa kembali mengangguk. Gavin akhirnya melepaskan pegangan tangan mereka. Pria itu membiarkannya keluar lebih dulu.
Sejenak kemudian, barulah Gavin menyadari dia benar-benar nekat. Sungguh menggenggam tangan Mischa, sejak tadi. namun mau bagaimana lagi, dia terlalu kesal melihat perlakuan buruk secara bertubi-tubi yang Gadis itu dapatkan. Memang dia adalah salah satu pelakunya, akan tetapi dia sudah berjanji akan berubah. Dia akan bersikap lebih baik pada Mischa.
"Hai Mischa, Aku nyariin kamu dari tadi." sapa Matteo saat Mischa menghampirinya dan Kayla.
Tadi ngobrol bentar sama bos, Kuya. Ada yang perlu dibahas." jawab Mischa berbohong.
Apalagi yang perlu disiapkan Mischa? Aku tadi nemu catatan ini, jatuh di lantai." ucap Kayla seraya menyerahkan catatan milik Mischa.
__ADS_1
Sangking kacaunya, tadi Mischa sampai lupa kalau catatan itu, ikut terjatuh bersama dirinya dan lupa diambil kembali.
"Wah, terima kasih Ate, aku benar lupa." ucap Mischa setengah panik.
Santai saja, Mischa. Yuk lanjut kerja." ajak Kayla bersemangat.
Matteo mengangkut dan tersenyum ikut merasa bersemangat. Mereka pun melanjutkan pekerjaan mempersiapkan properti dan memasang spanduk X di beberapa lokasi.
Setelah semua selesai, Matteo menghela nafas lega. Sambil membersihkan tangan dengan menepuknya.
"Bos tadi bilang apa Mischa?" tanyanya, begitu mereka duduk di stan ALC seraya meminum jus jeruk yang sudah tersedia.
Mischa yang sedang menyusun barang ke dalam kardus, menjatuhkan setumpuk gulungan spanduk X yang terpakai. Ketika mendengar pertanyaan Matteo, Kayla menatapnya heran dan menghentikan aktivitas minumnya.
"Maaf Kuya, Ate ( maaf mas, mbak ) ucap Mischa panik. Lalu mulai mengutip gulungan spanduk X
Matteo dan Kayla ikut membantunya, menganggap itu hanya kecerobohan biasa. Setelah itu, tanpa sengaja Mischa melihat ke lantai dua di mana Gavin dan pimpinan NINE MEDIA COPERATION GROUP berdiri bersisian mengamati jalannya acara.
Gavin melihat sekeliling, lalu berakhir ke stan ALC dan melihat Mischa sedang menatapnya. Mereka saling bertatapan selama beberapa waktu, sebelum Gadis itu membuang muka karena malu. Namun Gavin masih belum memalingkan pandangan ke manapun.
Tuan Carlos Antonio ingin berbicara kepada Gavin. Tetapi melihat putranya sedang memandangi stan Di mana para karyawannya berada. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai dia menyadari kalau putranya bukan memperhatikan kinerja karyawannya. melainkan hanya memandangi seorang gadis.
"Memperhatikan apa Gavin?" tanya Tuan Carlos Antonio.
"Hah?"balas Gavin agak gelagapan. tidak menyangka tertangkap basah sedang memperhatikan seseorang.
"Bukan apa-apa Pa,
Gavin mendelik. Kenapa Ayahnya menggodanya seperti itu? apa Ayahnya tahu Gavin sedang memperhatikan Mischa? gawat benar benar gawat.
"Bukan apa-apa kok pa, beneran. Gavin mencoba bersikap setenang mungkin. Agar tak semakin memancing rasa penasaran sang ayah.
"Anaknya manis kok." komentar Tuan Carlos Antonio
"Siapa pa?" tanya Gavin pura-pura bodoh.
"Anak itu, kan yang kamu lihatin Dari tadi? tanya Tuan Carlos Antonio seraya memberikan gestur menunjuk dengan kepala ke arah Mischa.
Ngak kok. Gavin masih mencoba mengelak,
jangan bohong kamu Gavin, Papa juga tadi lihat kamu memegang tangan dia.
Gavin terperanjat meski masih berusaha keras menahan ekspresi keterkejutan di wajahnya. "Kapan pa?
"Tadi waktu kalian masuk ke ruang VIP." jawab Tuan Carlos Antonio.
Tamatlah riwayat Gavin, tindakannya tadi benar-benar nekat. Namun dia berani bersumpah. Semuanya terjadi di luar logika. sebab hatinya lah yang menggerakkan seluruh perbuatannya tersebut.
"Kalau Papa tidak salah orang, dia karyawan yang diincar sama Om kamu, bukan! yang hasil desainnya bagus banget?"
__ADS_1
Waduh dari mana lagi sang ayah bisa tahu tentang hal itu? Di NINE MEDIA COPERATION GROUP dan seluruh cabangnya memang tidak ada rahasia sama sekali.
"Iya benar Pa." jawab Gavin pasrah
"Terus kamu suka sama dia?" tanya Tuan Carlos Antonio to the point.
"Tidak, rasanya perasaan Gavin belum sampai ke sana. Lagi pula setelah sang ayah tahu, kemungkinan besar Mischa akan dipecat atau dipindah tugaskan agar mereka tidak bisa lagi bertemu.
Gavin jadi merasa bersalah sudah bertindak gegabah.
"Kamu suka Gadis itu Gavin?
Pikiran Gavin kembali menerawang mulai saat pulang dari mengantar Mischa setelah menonton dan makan bersama dengan gadis itu.
"Apa kegiatan mereka itu bisa disebut sebagai kencan?
Gavin membanting tubuh ke kasur, lelah sekali. Tetapi hatinya merasa senang dia bisa menonton film dengan tenang, meski bersama seseorang. Dia juga bisa berdiskusi isi film tersebut secara detail berdasarkan sudut pandang masing-masing.
Kalau boleh jujur, Gavin senang pergi berdua saja dengan Mischa.
Ngak, pasti ada yang nggak beres di otak aku." gumam Gavin
Sesungguhnya sejak dia mengajak Mischa menonton pun sudah aneh. Entah apa yang merasuki pikirannya, Kini dia merasa tidak cukup berbicara dengan gadis itu. Rasanya dia bisa menghabiskan waktu seumur hidup untuk mendiskusikan apapun dengan Mischa.
Aku perlu mandi, Siapa tahu habis itu otak aku udah bisa bekerja dengan benar lagi.
Ternyata malah semakin parah, meski sudah mandi minum susu hangat. Bahkan mendengar musik. Gavin tetap tak kunjung terbuai ke alam mimpi, sejak tadi terus gelisah di ranjang. Berbalik ke sana, berbalik ke sini. Terlentang menyamping tetap tak ada posisi yang tepat.
"Apa aku chat saja Ya? tanyanya ke dalam diri sendiri. Dia kemudian menggeleng kuat, ah nggak nggak beneran, udah sinting aku."
Akhirnya malam itu Gavin bermain game PlayStation sampai benar-benar mengantuk.
Sekarang pertanyaan dari Tuan Carlos Antonio berputar-putar di benaknya.
Apakah Gavin suka pada Mischa.
"Gavin memperhatikan dia, karena berbakat pa, nggak lebih." elak Gavin.
Tuan Carlos Antonio tersenyum. Kemudian melihat hilir mudik orang-orang yang menikmati jalannya pameran.
"Kamu tahu kan, Papa ini nggak kayak Mama.
Gavin tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi tidak mau menyela omongan sang ayah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak " PERJUANGAN CINTA ABIMAYU"