
"Ya,Bos!" ucapannya secepat kilat.
"Kamu mau pakai wi-fi kantor besok? Untuk apa? tanya Gavin dari seberang telepon.
"Saya mau lihat tutorial make up bos,"jawab Mischa jujur. Bos bilang, kalau lagi tidak kerja saya harus upgrade kualitas fisik."
Mischa mengira bosnya sudah menutup telepon karena tidak ada tanggapan setelahnya. Baru saja dia ingin mengeceknya, sang Bos kembali berbicara.
"Ya sudah, datang saja. Biasanya juga ada yang lembur di hari Sabtu. Tapi nggak tahu kalau besok soalnya memang nggak ada kerjaan.
Mischa menghela nafas lega. Karena mendapatkan izin dengan mudah. Dia kira Bos akan ngomel terlebih dahulu.
"Jangan pilih make up yang norak ya, biasa kan Orang kampung suka yang norak-norak. lipstiknya warna pink lah, eh eyeshadow-nya warna biru. Kamu jangan begitu ya."
Mischa tersenyum mendengar nasehat dari bosnya. Entah kenapa dia sudah mulai terbiasa dengan julukan kampungan, yang disematkan padanya. Dia tidak lagi merasa tersinggung.
"Baik bos, akan saya laksanakan.
"Ya sudah sampai ketemu hari Senin." mulut Mischa menganga. Apa dia tidak salah dengar? Bos bilang apa barusan, dia seperti bukan berbicara dengan bos yang suka marah-marah. Itu bos juga berbicara dengan bahasa tidak formal dengannya.
Jangan berpikir yang aneh-aneh, sudahlah. lebih baik Aku tidur sekarang. Besok ada hal lain yang harus dikerjakan walaupun tidak ada pekerjaan.
****
Dua hari sudah berlalu begitu cepat. Mungkin karena waktu libur diisi Mischa dengan belajar merias dari YouTube. Di hari Senin, dia mulai berani berangkat ke kantor dengan riasan yang sudah ia pelajari melalui channel YouTube ternama tentang merias wajah.
Pagi ini Gavin tidak minta dibelikan makanan. Karena dia sudah sarapan di rumah. Namun Mischa selalu menghadap bosnya di pagi hari. Untuk tahu apa-apa saja yang perlu dilakukannya hari ini.
Tok ...
Tok ...
Tok ....
suara ketukan pintu terdengar di telinga Gavin.
"Masuk."perintah Gavin ketika mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
Mischa masuk dan berjalan mendekati meja kerja Gavin. Sang Bos mengalihkan pandangan dari laptop, dan sedikit terpesona Apa yang dia lihat.
"Selamat pagi Bos, apa saja yang perlu saya kerjakan hari ini?" tanya Mischa
Gadis itu benar-benar terlihat berbeda. Padahal hanya wajahnya saja yang dirias pakaiannya masih sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu make up sendiri? bukannya menjelaskan daftar pekerjaan Mischa, Gavin malah bertanya balik pada gadis yang ada di depannya.
"Iya Bos, ini jenis make up yang saya pelajari selama dua hari. Kayaknya kurang bagus ya Bos, Apa masih terlihat kampungan?
"Ngak Kamu terlihat cantik, tentu saja pujian itu tidak akan keluar dari mulut seorang Gavin.
Dia hanya berdehem, lalu bilang sudah Ok
Mischa tersenyum mendengarnya
"Next time, perbaiki cara berpakaian kamu. riasan sama bajunya tidak cocok. Kamu lebih seperti karyawan magang ketimbang staf.
" Waduh hutang membeli alat rias saja, belum dibayar. Apalagi membeli baju baru, Mischa tidak punya uang sebanyak itu.
"Baik bos, namun Mischa tetap tidak berani membantah sang Bos.
Saya baru dapat kabar, Kalau Kantor pusat mau mengadakan rapat tahunan. Biasanya saya memang pergi dengan sekretaris saya. jadi kamu juga harus ikut untuk menggantikannya.
"Kapan itu bos?
"Secepatnya, jadwal pastinya belum keluar. Tapi yang pasti di bulan ini juga. Hari ini kamu fokus mengerjakan desain saja.
"Baik bos."
Biasanya dia harus keluar masuk kantor sekitar tiga sampai empat kali dalam satu hari. Tiba-tiba hari ini dia cuman perlu mengerjakan desain saja. Apakah itu tidak aneh?
"Gue Ngak mungkin langsung ngucapin Terima kasih,Kan? jadi hari ini aku kasih kemudahan saja sebagai ucapan terima kasih." gumam Gavin dalam hati.
dasar Gavin gengsinya kelewatan.
Gavin menghela nafas. Melihat penampilan Mischa yang tak berubah sama sekali.
"Kamu kan, sudah gajian tidak beli baju baru?
Mischa menunduk sambil memainkan jari. Sepertinya Bos memang membenci sekali dengan cara berpakaiannya. Kemeja putih membosankan, yang ukurannya lebih besar dari ukuran asli tubuhnya. Dan juga rok berwarna gelap, yang panjangnya melewati lutut.
Saya beri kamu gaji lebih, karena kamu merangkap jadi sekretaris. Seharusnya uangnya bisa kamu pakai untuk membeli beberapa setelan yang bagus.
Mischa masih diam tak berani membalas sama sekali. Gavin memijat pelipis.
Rapat tahunan dipercepat Ke bulan ini. Mungkin Lusa. Siapkan semua keperluan. pergilah, sana lanjutkan kerjamu." ucap Gavin
Mischa mengangguk. Lalu keluar, dia kembali ke meja dan mendudukkan bokongnya menghadapi setumpuk berkas lagi. Sejujurnya dia merasa sangat lelah. belakangan ini juga dia harus membayar hutang kepada Irma. Baru sebulan bekerja saja sudah membuatnya stress.
__ADS_1
Mischa berdiri sejenak. Dia melihat berkas-berkas karyawan lain yang tidak sebanyak miliknya. Dia tidak pintar mengulur pekerjaan. Padahal sah-sah saja jika ingin lembur.
Akhirnya semua segera diselesaikan. Dan dia pun menyadari kualitas desainnya sedikit menurun. Namun sejauh ini, Bos belum memprotesnya tentang hal tersebut.
"Mischa malam ini Kita nongkrong yuk.ada Cafe baru buka ajak Valen
Mischa menggeleng lemas. "Aku mau pulang saja Ate. Mau istirahat
Irma menghampiri dan memijat pundak Mischa. Gadis itu tidak menolak justru merasa senang.
"Sabar ya Mischa dua Minggu saja kok. setelah ini, kerjaan kamu bakalan jadi lebih ringan." ucap Irma memberikan semangat kepada Mischa.
Kalau begitu, kita tunda saja gush tunggu Mischa bisa aja." saran Andika.
"Eh jangan Ate, Kuya. Kalau mau nongkrong kan, nggak perlu ada aku, pergi aja. Mischa merasa tidak enak.
"Tapi kurang seru kalau nggak ada kamu. soalnya kamu suka bercanda gitu." balas Valen.
"Nah iya, benar." sahut Andika.
Irma....!!!
Irma, Mischa, Valen dan Andika melihat ke sumber suara. Bos menunjukkan gestur memanggil. Irma pun segera datang dan memasuki ruangan Bos.
"Ih kenapa tuh? Irma Ada bikin salah apa? tanya Valen khawatir.
"Ngak tahu deh, perasaan nggak ada ngapa-ngapain selain kerja dari tadi." sahut Andika.
Mischa sudah tidak punya tenaga untuk mengkhawatirkan. Dia menatap komputer sambil menopang kepala. Apa dia perlu menegak obat pusing?
Di dalam ruangan Bos, Irma menanyakan maksud Bos memanggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu Bos?
Gavin meraih dompet dari saku, mengeluarkan sebuah kartu, lalu melemparkannya ke arah Irma. Wanita itu dengan sigap menangkap. Semua karyawan tampaknya sudah terlatih menangkap barang-barang yang dilemparkan olehnya.
Irma menatap bingung pada black card di tangannya. Bekerja sampai mati pun, Mungkin dia tidak akan bisa mengambil benda seperti itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1