
Dunia Nyonya Aurora seakan runtuh mendengar penuturan tersebut. Apa kata Gavin?
"Calon istri? Mama nggak salah dengar? tanya Nyonya Aurora tidak percaya.
"Betul, ma. Mama nggak salah dengar kok."
"Tunggu tunggu! tapi, dia ini siapa? Kamu kenal di mana?"tanya Nyonya Aurora lagi.
"Mischa ini karyawan Gavin, ma."lagi lagi Gavin menjawab tanpa ada keraguan.
"Apa? karyawan kamu? nggak salah kamu ini?"
Suara Nyonya Aurora mulai meninggi, membuat Mischa terperanjat. Gavin menggenggam tangannya semakin erat untuk menenangkannya. Nyonya Aurora berusaha untuk tenang. Apalagi saat Bu Rasmi datang membawakan dua cangkir teh untuk Gavin dan Mischa. dia juga menambahkan kudapan untuk dua orang itu.
"Okey, Mama sekarang mau nanya Mischa,"ucap Nyonya Aurora setelah Bu Rasmi pergi. "Kau tinggal di mana?"
Takut takut Mischa menjawab."Mischa di sini ngekos, aslinya dari Desa Pao Pao Antipolo Tante."lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sapaan tersebut. Sebab, tampaknya dia lebih pantas memanggil wanita itu dengan sebutan Nyonya ketimbang tante.
"Ngekos? bukan tinggal di apartemen?"
Mischa melihat segelas wajah Nyonya Aurora yang mulai menatapnya jijik. Dia pun menggeleng sebagai jawaban.
"Terus, kerjaan orang tua kamu apa?"
"Aurora..."Panggil Tuan Carlos Antonio."nggak sopan dong, nanya soal privasi begitu."
"aku perlu tahu anak kita mau nikah sama perempuan yang asal usulnya dari mana, Kuya!"
Deg....
Seperti ditikam belati, hati bisa merasa begitu sakit. kalau bukan karena Gavin yang bersekukuh menahannya, Mungkin dia sudah kabur saat ini juga.
"Orang tua kamu kerja apa?"kembali Nyonya Aurora menanyakan hal yang sama kepada Mischa.
"Bapak Miska petani,tante. Ibu Mischa nggak bekerja,"jawabnya jujur dengan suara pelan. Nyonya Aurora melongo tidak percaya. dia menatap Mischa dan Gavin bergantian.
"Petani? yang menanam padi di sawah itu?"
"Memangnya kerjaan petani yang lain apa, Aurora?"tanya Tuan Carlos Antonio mencoba berkelakar. Namun, tampaknya tidak mempan membuat istrinya itu tertawa.
"Tunggu, Kuya, Kok santai banget gitu responnya? harusnya, Kuya kaget juga kayak aku."Nyonya Aurora kemudian menyadari sesuatu.
"Kuya sudah tahu sebelumnya?"
__ADS_1
"Mischa ini karyawan berbakat dan teladan. Aris saja berkali-kali mau membawa dia ke kantor induk tapi Gavin nggak ngasih."jawab Tuan Carlos Antonio.
"Aku nggak peduli soal itu, kuya! Kuya sudah tahu Gavin mau nikah sama perempuan ini apa belum?"tanya Nyonya Aurora mulai Tak sabar.
Tuan Carlos Antonio menghela nafas. "Kuya cuman tahu Gavin mengejar dia. Ini juga baru tahu kalau ternyata mau segera nikah."
"Kamu yang ngejar dia?"tanya Nyonya Aurora pada Gavin. "Bukan dia yang kegatalan godain kamu?"
"Ma!"
"Aurora!"
Gavin dan Tuan Carlos Antonio menegur Nyonya Aurora bersamaan.
"Mischa ini gadis baik-baik, Ma. Dia nggak kayak gitu."Bela Gavin
Mischa menahan diri untuk tidak sakit hati. Dia paham hal seperti ini pasti akan terjadi. Hanya saja setelah dijalani, rasanya jauh lebih menyakitkan dari sekedar membayangkan.
"Lagian, apa dia seberpakat Larissa? sampai kamu lebih memilih dia ketimbang Larissa?
hati Miska terasa ditusuk dua kali. Belum apa-apa, tetapi calon ibu mertua sudah membanding-bandingkannya dengan orang lain.
"Kok, jadi bahas Larissa sih, Ma? orangnya saja nggak ada di sini,"keluh Gavin. lama-lama jengah juga mendengar nama itu dari mulut ibunya.
Suasana mendadak hening. Nyonya Aurora menyebut teh dengan anggun lalu kembali mencoba menenangkan diri.
"apapun penilaian Mama tentang Mischa, Gavin bakalan tetap nikahin Mischa,"ucap Gavin memecah keheningan.
Amarah Nyonya Aurora kembali memuncak, tetapi urung dia keluarkan. dia pun menghela nafas.
"Itu cuman perasaan sesaat aja, Gavin. Mama paham, saat ini kamu sedang mengagumi. tapi lama-lama Kamu akan sadar kalau status sosialnya nggak sederajat sama kita. Kamu bakalan bosan sendiri akhirnya,"tugas Nyonya Aurora.
Mischa sudah tidak tahan lagi. ucapan Ibu Gavin terlalu menohok dan menghina, membuatnya ingin menghamburkan air mata. Akan tetapi, dia sadar. terlihat lemah bukanlah solusi. Justru, dia harus terlihat tegar dan tak terperangah oleh ucapan calon ibu mertua itu.
"Dari kecil, Mischa selalu bisa mempelajari apapun dengan cepat Tante. Jadi Mischa janji bakalan belajar apa saja yang dibutuhkan untuk jadi pasangan yang tepat buat Kuya Gavin. ucap Mischa percaya diri.
Bukan hanya Gavin, Tuan Carlos Antonio tampak takjub dengan konfrontasi yang dilakukan oleh Mischa. Gadis itu benar-benar pemberani meski terlihat lemah lembut.
"Waktu pertama kerja, Kuya Gavin nyuruh Mischa belajar make up. dalam 2 hari Miska langsung bisa dan Kuya Gavin memuji hasil riasan Mischa,"lanjut Mischa.
Harga diri Nyonya Aurora mulai terusik. Belajar merias diri hanya dalam waktu 2 hari katanya? dia saja butuh waktu untuk bisa tampil cantik dan anggun seperti ini.
"Benar Ma. riasan Mischa juga tidak terlihat norak,"Bela Gavin.
__ADS_1
Nyonya Aurora berdehem lalu kembali menyeruput tehnya yang mulai dingin. Perasaan kesalat semakin menggerogoti hatinya. Akan tetapi, tampaknya sang suami lebih berpihak kepada Gavin ketimbang dirinya. Dia pun memutar otak dengan cepat.
Apa yang harus dia lakukan untuk menjauhkan Gavin dari Mischa?
****
Mischa memandangi kolam renang yang memantulkan cahaya bulan dari balkon kamar. Suasananya begitu tenang, tidak seperti di kosnya yang selalu terdengar suara selama hampir 24 jam. Suasana tenang ini mirip seperti di kampungnya.
"Ini, Mischa ."
Mischa melihat pada Gavin yang kembali dengan membawakan segelas coklat hangat.
"Capek? tanya Gavin
Mischa tertawa."tur rumah Kuya kayak keliling Mall. Bedanya tidak ada orang jualan aja.
Gavin ikut tertawa. Mereka kemudian sama-sama menyeruput coklat pelan-pelan.
"Kuya yang bikin?"tanya Mischa.
"Enak? Gavin bertanya balik.
"Sepertinya diracik sendiri, ya?" bukan beli bubuk yang udah jadi,"tebak Mischa.
Gavin tampak tertarik."Kenapa bisa mikir?"
"Soalnya di kampung hampir semua kebun ada. aku sama teman-teman pernah mengolah biji kakao sendiri untuk dijadiin coklat batangan sama minuman. Rasanya mirip kayak gini, beda dengan bubuk yang sudah jadi,"jawab Mischa.
Gavin tertawa kagum. Mischa memiliki banyak wawasan.
"Benar, ini hasil olahan salah satu anak perusahaan NINE MEDIA COPERATION GROUP. produksi bubuk minuman coklat. Kuya selalu minta dikirimin dikit sama mereka untuk konsumsi di rumah,"jelas Gavin.
"Wah, nggak pernah beli, dong? Mischa terkaget.
Gavin kembali tertawa. "Mungkin itu salah satu keuntungan dari punya banyak anak perusahaan di berbagai sektor. Supaya bisa menikmati produknya secara gratis."
"Pantas ya, waktu Hari pertama kerja aku diusir sama satpam. katanya keluarga Tuan Gavin bukan cuman punya asuransi, tapi sekaligus punya perusahaannya. Aku dikira menawarkan asuransi,dong!" kenang Mischa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"