
"Aku nggak pernah mau jadi musuh Ate. Kita bahkan nggak saling kenal sebelumnya. Tapi kalau Ate terus-terusan kayak gini, aku juga bisa melawan."
Larissa masih tak ingin kalah. Di dalam kamusnya kekalahan tak pernah terdaftar.
"Kamu jangan bangga dulu bisa nikah sama Gavin. Baru juga beberapa hari, kamu kira Gavin nggak bisa berpaling dari kamu?"
"Aku tahu, tapi setidaknya aku akan berusaha sebaik mungkin sampai saat itu." ucap Mischa yakin
"Makanya tadi aku nanya kamu ini naif atau bodoh?" ledek Larissa
"Ada apa ini!
kedua wanita yang sedang berdebat itu mendapat Gavin yang sedang berjalan ke arah mereka
"Larissa, Ngapain kamu di sini?" tanya Gavin bingung. Dia kemudian memandangi Mischa dan Larissa bergantian.
"Nggak ada apa-apa Kuya. Kita cuman ngobrol sebentar." ucap Mischa.
Entah kenapa bukannya merasa diselamatkan, Larissa justru muak melihat sifat sok baik wanita di depannya.
"Aku mau ambil jahitan sama Kuya Herman dulu, bye."
Larissa beranjak pergi begitu saja. Gavin merasa ada sesuatu yang terjadi dan memilih untuk bertanya lagi.
"Kamu jangan bohong sama Kuya, ada apa?" tanyanya lembut Seraya menyentuh kedua lengan istrinya.
Larissa melihat pemandangan itu dengan perasaan cemburu yang nyaris tumpah. "Apalagi ketika melihat Gavin memeluk sang istri dengan penuh rasa cinta. Hatinya sungguh sakit. Dia ingin dirinyalah yang berada di sana. Di dalam pelukan hangat pria yang dicintainya dari dulu. Sejak lama dia rela membuang apa saja dan menukarnya untuk bisa bersama dengan Gavin.
"Kuya Kok bisa ada di sini?" tanya Mischa Seraya mendongakkan kepala untuk menatap Gavin yang masih mendekapnya.
"Kamu cuma izin ke toilet, karena lama banget Kuya jadi khawatir. Terus Kuya cari sampai ke sini." jawab Gavin
lain kali kabari Kuya kalau kamu mau ngelakuin hal yang lain. Jangan bikin Kuya cemas.
Mischa mengangguk patuh. " Maaf ya Kuya."
"Iya nggak apa-apa, Yang penting kamu baik-baik saja."
Guratan sedih terlihat di wajah Mischa.
"Dia bilang apa ke kamu?" tanya Gavin
Mischa pun menceritakan isi perdebatan dengan Larissa sebelumnya.
"Nggak usah diambil hati. Dia mau memanas-manasi kamu. Jangan sampai ucapannya yang enggak bertanggung jawab itu, bikin sikap kamu berubah sama Kuya. Kuya sayang banget sama kamu. Kamu percaya, Kan?"bujuk Gavin.
Mischa mengangguk dan akhirnya tersenyum "Aku percaya sama Kuya seratus persen"
Gavin ikut tersenyum lega. Dia kemudian mengecup singkat bibir sang istri.
Darah berdesir di dalam dada Mischa. Meski Bukan Yang pertama, dia masih merasakan getaran luar biasa saat Gavin menciumnya.
Larissa hampir saja meninju dinding sangking cemburunya. Dengan mata yang kembali memanas, dia benar-benar meninggalkan ruangan itu untuk pulang tanpa mengambil jahitan maupun berpamitan pada Suherman.
"Sedikit aja, ya. Kalau mau yang panjang dan lama nanti di rumah."goda Gavin membuat rona merah merambat di pipi Mischa.
"Ih Kuya, udah ah. Nanti ada yang lihat." ucap Mischa malu.
"Memang kenapa kalau ada yang lihat? kita kan pasangan halal."
"Sudah ah, Ayo balik!"
Gavin menarik tangan Mischa yang hampir saja beranjak. "Kamu kan, mau Fitting gaun, kita tunggu aja di sini. Nanti Kuya Herman sama karyawannya yang kemarin.
__ADS_1
Mischa kemudian sadar. Dia benar-benar merasa malu. " Oh iya, aku lupa."
Gavin tertawa. Selalu saja gemas melihat sifat polos Mischa yang masih sering muncul tiba-tiba. Sepertinya hal itu akan selalu ada dan tinggal di dalam diri Mischa meski dirinya telah menjadi istri seorang konglomerat.
Tak lama kemudian, Herman dengan tampang setengah panik. Dia Celingukan seakan mencari sesuatu.
Larissa sudah tidak ada di sana.
"Kuya cari apa? gaunnya kan di situ." ucap Mischa
"Oh iya say. Duh Aku, kok lupa ya." Herman berucap dengan canggung.
Mischa tahu ada sesuatu di balik Larissa mengenakan gaun itu. Dia tidak percaya kalau seorang profesional seperti Herman yang menyuruhnya.
larissa yang memaksa untuk mengenakan gaun tersebut.
Gaun itu sangat mahal dan cantik. Mungkin saja jika tidak menikah dengan Gavin, memakainya hanya bisa dalam mimpi. Namun, Mischa tidak merasa bersemangat. Tidak seperti saat mencoba kebaya akadnya.
Sejak tadi Mischa memaksakan senyum di hadapan karyawan Herman, yang membantunya memakai gaun tersebut. Terbesit rasa iri muncul. Larissa bisa mengenakannya sendiri, tanpa bantuan Mischa tidak berani melakukannya. Takut ada bagian gaun yang rusak, karena tindakannya.
"Setelah selesai, seperti biasa tirai dibuka dan wajah puas Gavin adalah yang pertama Menyapa Mischa.
"Cantik banget istriku Ya."puji Gavin di depan para karyawan toko yang tersenyum-senyum.
"Pak Gavin itu romantis banget ya."
"Iya, udah gitu baik banget. Tiap bantuin istrinya Fitting baju, pasti selalu kasih tips yang lumayan."
Bisik-bisik karyawan toko terhenti saat Herman menghampiri dan mengecek setiap bagian jahitan. Dia merasa bersyukur karena Larissa tidak merusak kaum itu saat memakainya.
"Cantik bange, cocok banget di kamu say gaun ini memang tercipta untukmu." Puji Herman.
"Tidak."
Gavin merasakan ada yang aneh, meski terus tersenyum Mischa seakan tertekan memakai gaun indah itu.
"Nyaman nggak dipakai? tanyanya
Mischa mengangguk dengan wajah masih tersenyum. Nyaman kok Kuya, bagus banget.
"WOW.. Mischa!" pekik Vika dan Valen bersamaan.
Mereka sudah selesai mengepas pakaian dan tinggal dibayar saja di kasir.
"Kayaknya bukan Mischa dari Desa Pao Pao ya kamu, memang orang kota. Puji Vika
lagi-lagi Gavin merasakan respon Mischa terlihat berbeda. Dia seperti tidak puas dengan hasil karya Herman. Padahal kebaya akad yang digunakannya juga karya Herman dan dia dengan senang hati memakainya.
"Harganya berapa ini Kuya?" tanya Vika yang kemudian disenggol oleh Irma.
Vika terdiam tetapi sudah terlanjur bertanya.
Herman tertawa sebelum menjawab
"tiga ratus lima puluh juta say,"
Vika Dan Valen terperangah. Benar-benar terkejut mendengar harganya. Keduanya kemudian menarik tangan dari gaun yang dikenakan oleh Mischa. Ia khawatir akan merusaknya.
"Nggak apa-apa say, jangan takut rusak. Kalau cuman dipegang doang mah nggak apa." ucap Herman seakan mengetahui ketakutan yang dihadapi dua wanita itu.
Mischa menghela nafas harganya. Terlalu mahal untuk dibatalkan. Dia tidak ingin membuat Gavin kecewa kepadanya.
Gavin membayar semua gaun, dan mereka pun bersiap untuk pulang.
__ADS_1
"Bos Terima kasih banyak bajunya mahal banget. Jujur kita tak akan sanggup bayar sendiri. ucap Vika.
Gavin tersenyum. Membuat Andika, Irma, Vika, dan Vallen terperangah. Seumur-umur bekerja dengan Gavin belum pernah Mereka melihat Gavin tersenyum seperti itu.
"Sama-sama, semoga suka ya."
"Pasti suka Bos, suka banget." balas Vika bersemangat.
"Ya udah, aku mau anterin mereka pulang sekalian Fitting baju Andika ya." pamit Matteo.
"Okey Matteo, hati-hati Ya semuanya." ucap Gavin pada semua karyawannya.
"Bos juga hati-hati." Bye Mischa...
"Bye, jawab Mischa Seraya melambaikan tangan dan tersenyum hangat.
"Ayo sayang kita pulang." ajak Gavin
Miska mengangguk dan ikut berjalan dalam rangkulan sang suami.
"Kamu mau makan dulu?" tanya Gavin setelah menyetir keluar dari parkiran toko.
"Nggak kuya, mau pulang aja." jawab Mischa yang kemudian hanya melihat keluar jendela Selama perjalanan pulang.
Begitu tiba di rumah, Dia pun segera membaringkan tubuh di ranjang. Persis seperti orang yang tidak bersemangat untuk hidup. Gavin ikut berbaring dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Kamu kenapa?"
Mischa tidak menjawab.
"Pasti ada hal lain yang terjadi waktu kamu sama Larissa tadi kan?
Sayangnya tebakan Gavin tempat sasaran. bingung harus menyampaikan pada Gavin atau tidak.
"Kalau kamu nggak kasih tahu ke Kuya Ada apa? Kuya bakalan datangi Larissa dan mengobrak-abrik tempatnya." ancam Gavin
Mischa mendelik
"Kuya nggak suka lihat kamu jadi begini. karena itu bilang sama Kuya dia ngapain kamu?
Mau tak mau Mischa pun membuka suara.
"Gaun resepsi Aku dipakai sama dia Kuya.
Gavin terperanjat. Dia kemudian bangkit dan meminta Mischa untuk melakukan hal yang sama, mereka duduk berhadapan sekarang.
"Maksud kamu?
"Bukan aku yang pertama nyobain gaun itu. tapi Ate Larissa." lanjut Mischa.
"Kok bisa?" tanya Gavin yang masih tak paham kenapa itu bisa terjadi.
Mischa mengedikan bahu. "Dia bilang Kuya Herman yang menyuruh untuk tes gaun itu, karena aku nggak kunjung datang buat nyobain. Tapi aku yakin banget kalau dia yang maksa-maksa Kuya Herman untuk bisa cobain gaun itu lebih dulu, daripada aku."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA teman emak.
__ADS_1