
Pak Komo kembali terdiam. perjalanan Kevin kemarin tidaklah dekat. Itu artinya, pemuda itu butuh jawaban sekarang. dia tidak mungkin kembali berkali-kali demi mendapat jawaban. setidaknya itu yang dipikirkan olehnya semalaman tak hingga tak tidur.
Apakah dia harus melepas kesempatan yang baik ini?
Mischa berpapasan dengan Pak Komo yang ingin pulang ke rumah. dia heran melihat sang ayah yang hanya sendirian.
"Kuya Gavin mana, Pak? Tanyanya.
"Masih di dangau, nak. Bapak duluan ya."Pak Komo terlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.
Tidak biasanya mereka seperti ini. Padahal Ini pertama kalinya Mischa pulang setelah bekerja di kota Manila. Namun, obrolan mereka tidak sehangat biasanya. Ibu gupita Pun lebih banyak diam saat Mischa membantunya memasak dan mencuci piring. rasanya seperti asing dengan orang tua sendiri.
"Kuya, Kok melamun di sini? nggak pulang?" tanya Mischa.
Gavin menatap pada lalu tersenyum. Dia kemudian meminta misca untuk naik ke atas dangau.
"Sini, temani Kuya."
Mischa menurut. mereka duduk agak berjauhan, mengingat di sini mereka hanya berdua dan bisa mengundang prasangka orang-orang.
"Ada apa, Kuya? Mischa merasakan pada sesuatu yang tidak beres.
"Bapak nyuruh Kuya balik ke Jakarta secepatnya,"jawab Gavin tanpa memandang Mischa. dia masih melihat ke satu titik di kejauhan sama.
Mischa menggeret heran."cuma itu?"
Gavin mengangguk. "cuma itu."
"Bapak nggak bilang aku harus ngapain, kuya?"tanya mischa lagi, masih belum puas dengan jawaban yang diberikan.
"Nggak ada. bapak nggak ada bilang apa-apa soal kamu."
Keduanya kini diam. mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Ternyata, baik dari keluarga Gavin maupun keluarga Mischa, sama-sama tidak mudah untuk mendapatkan Restu.
"Terus, kita bagaimana sekarang Kuya?"
Gavin tidak bisa menjawab. dia hanya Diam seribu bahasa.
__ADS_1
Gavin dan Mischa sepakat untuk tidak membahas tentang hubungan mereka lagi selama berada di kampung halaman. Mereka sudah ikhlas saja dengan keputusan yang akan diberikan oleh orang tua mischa. tidak ada paksaan, hanya kerelaan.
"Lihat itu,Kuya. Ada bekicot!"seru Mischa.
Gavin terkejut bukan main. "Besar banget! ini ngisap darah, nggak?
Mischa tertawa terpingkal-pingkal. "ya enggak loh,Kuya! itu jalannya saja lambat banget begitu. kuya kira itu Pacet,apa?"
Gavin tetap saja bergidik ngeri. Selama di sini, dia sudah banyak melakukan hal yang tak pernah sama sekali dia lakukan sejak kecil.
"Kuya jadi kotor begitu, loh."Mischa mengingatkan.
"iya,ya. biasanya Kuya nyumbang dikit aja sudah mual. ini malah nyemplung ke parit kayak begini,"sahud Gavin.
"Tapi, air paritnya bersih dan mengalir, kan? nggak kayak di kota."
"Iya, airnya dingin dan bikin segar juga. mana iya ikan kecilnya tadi?"Gavin kembali menjaring ikan ikan kecil yang berenang di parit.
Setelah berhasil menjaring beberapa ekor ikan, Gavin pun melepaskannya kembali. Murni melakukan hal ini hanya untuk bersenang-senang.
"Kerjaan kantor numpuk, dong?"tanya Mischa
"ada Matteo yang handle semuanya, kalau lagi nggak masak rekrutmen, Kan kerjaannya nggak banyak. karyawan juga belakangan ini nggak ada yang aneh-aneh kelakuannya,"jawab Gavin tanpa membuka mata.
"Kuya beneran berhasil mendisiplikan karyawan, ya. jadinya semua pada kerja dengan benar,"Puji Mischa.
"Iya, sifat Arogan ku yaitu kadang ada bagusnya juga. Tapi, lebih banyak gak bagusnya, sih."Gavin kemudian tertawa.
suara anak-anak yang sedang berlarian di bukit terdengar. Sepertinya mereka sedang berlomba, Siapa yang lebih dulu tiba di atas. Mischa jadi ingat masa kecilnya yang juga suka melakukan hal serupa.
"Aku nggak nyangka Kuya beneran bisa berubah. Tapi, walaupun dulu kuya suka marah-marah, aku selalu lihat Kuya sebagai orang baik,"ucap Mischa.
Gavin membuka mata kini, lalu menatap kepada Mischa. "kenapa gitu?"
"Karena nggak pernah ada orang yang tulus bantuin aku sebelumnya. Aku memang punya teman, Tapi kalau aku ada kesulitan, nggak pernah ada yang mau bantu. Baru sejak berada di kota Manila, aku nemu orang kayak Kuya sama Ate Irma dan yang lain. lihat sepatu aku rusak aja, Kuya Langsung kasih duit untuk beli yang baru."
Mischa mengenang masa lalu dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Dulu waktu kuliah, sepatu aku rusak. di hari itu ada banyak banget kegiatan di kampus. Walaupun temanku tahu, mereka pada nggak acuh. Malah bilang nyeker aja kalau emang sepatunya nggak bisa dipakai. Ya sudah, pulang pulang kaki aku lecet dan melepuh semua."
"Terus kamu nangis?"tanya Gavin prihatin.
Mischa menggeleng. "Bapak sama ibu selalu bilang aku anak yang beruntung. Jadi, setiap ada hal-hal nggak menyenangkan terjadi sama aku, besok-besoknya akan selalu ada berita baik buat aku. Jadi aku nggak pernah mau bersedih,kuya. Karena aku yakin, hari esok pasti akan selalu lebih baik."
Gavin tersenyum. begitu kagum dengan cara Mischa melihat dunia ini. Tidak banyak orang yang muda berserah dan ikhlas seperti itu. pantas saja, Gadis itu pun tidak mempermasalahkan apa yang akan menjadi keputusan orang tuanya tentang masa depannya.
"Aku yakin, Kuya adalah orang baik. Jadi, walaupun bukan sama aku, Kuya akan ketemu sama perempuan yang baik pula,"doa Mischa.
Gavin menghela nafas. Rasanya berat sekali mendengar kata-kata seperti itu. Namun, apalagi yang bisa mereka lakukan jika Restu tak kunjung didapatkan.
"Kuya kira masalahnya cuman di Mama Kuya aja. Tapi, ya sudah. Yang penting kita sama-sama sudah usaha."
Keduanya kemudian diam dan menikmati langit yang semakin lama semakin gelap. Cahaya matahari yang sepenuhnya hilang sejak tadi. Ketika tetes-tetesan air mulai jatuh, Gavin berdiri dan segera berteduh di bawah sebuah pondok di atas bukit. Mischa tidak menyusul. Dia hanya duduk dan menunggu hujan semakin reda.
"Mischa, nanti sakit. Ayo ke sini! ajak Gavin.
Mischa bergeming. Seperti anak-anak yang bergembira menyambut hujan, melakukan hal yang sama. Dia biarkan saja air hujan menyapa dirinya dengan ramah.
Gavin menatap Mischa tanpa suara. Dalam hati merasa begitu tak tenang. Dia sangat ingin menikahi Mischa.Tak bisa diungkapkan seberapa besar perasaan yang dia punya untuk gadis sederhana itu. Namun, Apa mungkin semuanya akan berakhir di sini saja?" dia benar-benar tidak siap kembali ke Manila tanpa Mischa.
"Kuya, ayo, sini!" Panggil Miska sambil tertawa-tawa.
Lagi lagi, Gavin melakukan sesuatu yang bukan merupakan kebiasaannya. Persetan dengan sakit! dia hanya ingin bersenang-senang dengan Mischa selama yang dia bisa.
"Ya ampun, dingin!" keluh Gavin
Mischa tertawa."sebentar aja itu, Kuya. Nanti juga bakalan biasa aja." ayo, kita turunin bukit."
Mischa menarik tangan Gavin dan berdampingan mereka menuruni bukit dengan hati-hati. Bukan hanya Mischa, Tetapi semua yang ada di sini akan dikenang oleh Gavin.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"