Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 33. SALAH KOSTUM _YOU & ME


__ADS_3

"Jadi maksud kamu yang murah itu yang harga berapa? karena Bagi saya satu atau dua juta itu sudah termasuk murah." tambah Gavin.


Bisa-bisa Mischa pingsan mendengar penuturan bosnya. Saat menjadi sekretaris Gavin, Gadis itu menerima gaji sebanyak sepuluh juta rupiah. Ternyata gaji sebulan yang dia dapat, hanya bisa membeli satu stel pakaian untuk ibu sang Bos.


"Ya ampun Bos, saya beli baju harga seratus ribu saja tidak pernah." ucap Mischa jujur.


"Serius? tanya Gavin tidak percaya


"Serius bos, banyak mikirnya kalau mau beli di atas harga seratus ribu.


"Hm.... seratus ribu itu, harga satu alat makan di rumah kami." ucap Gavin


"Okey, sudah cukup. Mischa benar-benar bisa pingsan mendengar pameran kekayaan Bosnya itu. Ya sudah, terserah Gavin mau membelikannya baju harga berapa saja.


"Selamat datang." sapa seorang pramuniaga yang berdiri di depan toko.


Gavin mengangguk lalu menunjuk ke arah Mischa. "Mau cari pakaian untuk dia, Ate. pilihkan yang oke ya."


"Baik Tuan." Silakan duduk


Pramuniaga mengarahkan Gavin untuk duduk di ruang vas. Sedangkan Mischa diantar untuk memilih pakaian yang dia inginkan


Waktu kita, tidak lama. Pilih saja salah satu yang kamu suka, lalu coba ya." Gavin mengingatkan.


"Baik bos."


Setelah di luar jangkauan pendengaran Gavin, Mischa berbisik pada pramuniaga tersebut.


Ate, saja yang pilihkan ya. Pokoknya yang sepadan untuk jalan bersama bos saya." Pinta Mischa.


"Oh baik Ate, sebentar saya pilihkan."


dalam hati Mischa membatin. "Jangan lihat harganya, jangan lihat harganya."


Gavin tidak menyadari bahwa Mischa sudah masuk ke ruang pas. Karena sibuk mengecek akun media sosial perusahaan.


"Bos...." sapa Mischa Setelah berganti pakaian


Gavin mendongak dan tak sadar menjatuhkan ponselnya.


"Apa mulut Gavin sedang menganga?


Gadis di hadapannya bukanlah karyawannya. Gavin tidak salah orang kan? Ke mana perginya gadis bersetelan kerja tadi, hanya ada seorang gadis manis dengan gaun berwarna maron selutut, sekarang.

__ADS_1


"Bagus tidak bos, atau saya ganti dengan yang lain?" tanya Mischa Serayu menunjukkan keseluruhan penampilannya.


"Wah Ate nya, terlihat berbeda dari yang tadi. gaun itu bagus banget di badan Ate. ukurannya pas." puji pramuniaga. Kainnya juga adem, cocok untuk musim panas kayak sekarang."


Pramuniaga membantu Mischa untuk menyempurnakan tampilannya.


Bagaimana kalau gaunnya dipadukan sama tas dan sepatunya yang ini, pasti dia lebih cocok, Ate."


Sepatu hak setinggi lima cm dan sebuah tas bahu diberikan kepada Mischa untuk dipakai. Gadis itu pun mencoba dan ternyata benar. Penampilannya, sudah sempurna sekarang. untungnya dia sempat memoles hiasan di wajahnya yang kebetulan tampak cocok dengan warna gaun yang dikenakannya.


"Bagaimana bos? tanya Mischa lagi. Sejak tadi Bos terus memperhatikan tanpa berkomentar.


Gavin mengatupkan bibir, kemudian mengangguk. "Ambil saja semua."


Mischa ikut mengangguk dan tersenyum


"Baik bos."


Gavin berdiri, lalu berjalan ke meja kasir. Dia seperti orang linglung. Bagaimana mungkin seorang gadis kampung dapat berubah drastis, hanya karena satu pakaian. Gadis itu bahkan tidak merias diri di salon, pasti akan ada banyak wanita yang iri melihat kecantikan yang natural.


"Kamu cantik, beneran cantik." Puji Gavin.


"Kalau begini, saya sudah pantas Jalan berdampingan dengan bos kan? tanya Mischa sambil mengembangkan senyumnya.


Gavin pun hari ini hanya menggunakan kaos, celana jeans dan sepatu kets jas yang menutupi kaosnya, juga untuk bersantai bukan jas untuk bekerja. Uniknya warna merah maroon gaun Mischa terlihat sewarna dengan kaos yang pakai Gavin. Mereka jadi tampak seperti pasangan.


"Kamu mau makan apa popcorn atau yang lain? tanya Gavin ketika mereka kembali memasuki area bioskop.


"Apa saja bos. Saya tidak akan menolak." jawab Mischa.


lagi-lagi Gavin tersenyum. Dia pun membelikan popcorn dan beberapa cemilan dan dua minuman dingin.


"Sini saya bawakan Bos." tawar Mischa.


"Tidak perlu, saya saja." Gavin kemudian melihat jam tangan miliknya.


"Filmnya sudah mau mulai, kamu mau ke toilet dulu?


"Boleh Bos, izin sebentar."


Gavin mengangguk. Dia juga harus ke toilet terlebih dahulu, namun karena sedang ramai, di dalam pun para pria sedang mengantri. Butuh waktu lebih dari 5 menit sampai selesai, Gavin keluar untuk menemui Mischa


"Hai cantik, sendirian saja nih mau nonton sama kita-kita nggak?

__ADS_1


Melihat Mischa sedang didekati oleh dua orang pria, gadis Itu tampak sedikit cemas. Di kota Manila, hal seperti ini memang sudah biasa. Namun Gadis itu terlalu polos untuk memahaminya.


"Ngak, saya ada teman nonton kok." tolak Mischa


"Mana buktinya, kamu sendirian? tanya salah seorang pria tak percaya.


"Dia nonton sama aku. Lagian sadar diri dong, kamu berdua udah tua. Dia nggak akan mau sama kalian." Karena Gavin muncul tepat waktu dan menyelamatkannya, kedua pria itu pun segera pergi. Mereka tampaknya Takut melihat tampang dingin Gavin.


"Terima kasih bos. ucap Mischa.


"Lain kali kalau bertemu yang seperti itu, balik saja ke toilet. Kamu kan bisa kirim chat ke saya." usul Gavin.


Mischa mengangguk. "Baik bos, tapi mereka tampaknya sudah beristri dan punya anak. Kok mau ngajak saya menonton?


Gavin bingung harus menjelaskan pada Mischa atau tidak, namun kalau tidak dijelaskan bisa-bisa dia malah terjerumus dalam pergaulan yang tidak tidak. Karena ketidak tahuannya.


Nanti setelah selesai nonton, saya jelaskan.


Mischa mengangguk setuju. Tidak mungkin juga ngobrol saat film sedang ditayangkan. Selain akan ketinggalan cerita, tentu bisa mengganggu penonton yang lain.


Mischa tidak pernah berpacaran secara serius. Gavin pernah beberapa kali, mengajak seorang wanita untuk menonton film ada banyak tipikal wanita saat menonton.


Pertama memainkan ponsel dari awal sampai akhir film. Cahaya ponselnya bahkan tidak diturunkan, hingga mengganggu penonton yang lain.


Kedua, menaikkan kaki ke atas bangku di depannya, terkadang terlalu kaya membuat orang suka berbuat sesuka Hati.


Ketiga, mengoceh tentang jalannya alur film. keempat, tipikal yang tidak sabar menunggu film selesai dan membahasnya, saat makan bersama ditempat, meninggalkan sampah bekas makan di studio.


Lalu tipikal yang manakah Mischa?


Jawabannya tidak satupun.


"Sampah makan Bos, biar saya yang kutip." tawar Mischa. Gadis itu dengan sigap mengumpulkan semua sampah makanan mereka, dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Dia kemudian membuang di tempat sampah yang disediakan oleh pihak bioskop sebelum pintu keluar.


"Filmnya bagus ya, Bos? tanya Mischa


Gavin mengangguk. Jujur dia masih merasa kagum dengan kepribadian Gadis itu. Menonton film dengan tenang, dan sopan. Biasanya jika menonton bersama wanita dia tidak bisa menikmati alur cerita film sama sekali. Berbeda dengan hari ini, dia masih bisa mengingat seluruh detail. Bahkan mampu menceritakannya kembali.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak " PERJUANGAN CINTA ABIMAYU"


__ADS_2