
Mischa benar-benar bingung. Dia sendiri paham dirinya siapa. Mana mungkin seorang gadis kampung yang miskin bersanding dengan seorang pria kaya dan terhormat. Apalagi pria itu orang yang berpendidikan. bukan anak orang kaya yang nakal dan berandal.
"Bos sendiri tahu hubungan kita nggak mungkin, kan?"tanya Mischa setelah menghapus air mata. "Kalau gitu saya bakalan resign. Supaya Bos bisa benar-benar lupa sama saya, dan menemukan orang lain.
Gavin terdiam. Mischa menurunkan kedua tangan pria itu dari lengannya. Dia beranjak keluar ruangan. Untungnya kantor mulai sepi karena malam sudah menjelang. Dia tidak perlu takut dilihat habis menangis dan sebagainya.
Gavin mengejar Mischa dengan cepat.
"Kalau resign kamu mau kerja di mana?"suara terdengar begitu khawatir.
"Di mana saja. Atau saya bakalan balik ke Antipolo dan kerja di sana,"jawab Mischa tanpa menoleh.
"Mischa Tolong jangan gegabah,"pinta Gavin sambil yang menarik tangan Mischa agar Gadis itu berhenti melangkah.
"Terus saya harus bagaimana, bos? tanya Mischa penuh selidik.
"Saya kasih kamu waktu buat berpikir. Saya mau memperjuangkan kamu. Saya akan berusaha meyakinkan mama. Tapi kamu boleh kasih jawaban iya, atau enggak. Saya nggak bisa maksa perasaan kamu, kan?"Gavin berusaha memberikan solusi.
Mischa sudah kembali ke mode penurut. Kini dia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Gavin tanpa melawan lagi.
"Kalau besok kamu datang untuk kerja, itu artinya kamu jawab iya. Tapi,kalau kamu mengirim surat resign...."
Gavin diam sejenak. Rasanya berat sekali mengatakannya. "Itu artinya kamu menolak saya."
Mischa menarik nafas dalam-dalam kemudian mengangguk. "Baik, bos! Terima kasih sudah ngasih saya waktu. Saya pulang dulu."
"Kamu mau diantar? tanya Gavin berharap Mischa menjawab mau. Akan tetapi Gadis itu justru menggeleng.
"Saya mau sendiri, Bos."
Berat hati Gavin melepas tangan Mischa. Gadis itu pun segera beranjak meninggalkannya. Tuan Carlos Antonio menatap putranya dengan sedih. Tidak sering Gavin memiliki perasaan khusus pada perempuan, tetapi sepertinya dia akan menerima penolakan.
Kedua anak dan ayah itu pulang bersama. seorang sopir mengantarkan mobil Gavin ke rumah. Nyonya Aurora tidak terlihat di manapun, sepertinya belum pulang. Tuan Carlos Antonio jadi punya kesempatan untuk ngobrol dengan Gavin. Di mobil anaknya itu hanya bisa melamun. Tuan Carlos Antonio jadi merasa kasihan.
__ADS_1
"Gavin...."Panggil Tuan Carlos Antonio ketika anaknya ingin menaiki tangga.
"Ya, pa?"jawab Gavin lemas.
"Kita ngobrol sebentar, ya. Mumpung Mama belum pulang,"ajak Tuan Carlos Antonio.
Gavin menurut. lalu mengikuti sang ayah menuju halaman belakang tempat kolam renang berada. Keduanya duduk di kursi yang berbeda di tepi kolam. Tak ada pelayan yang berani menawarkan apapun, karena melihat kibasan tangan Tuan Carlos Antonio. Mereka benar-benar ingin bicara berdua saja tanpa ada yang mengganggu.
"Kamu serius mau menikahi gadis itu? Mischa ya, panggilannya? tanya Tuan Carlos Antonio penuh selidik menata putranya dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Gavin menghela nafas."Papa setuju nggak?"
Tuan Carlos Antonio tertawa pelan."Papa kan sudah pernah bilang. Sama siapapun kamu mau menikah, asalkan dari keluarga yang baik Papa setuju setuju saja. Apalagi tadi Papa lihat kayaknya kamu yang suka banget sama dia bener nggak!
"Kelihatan banget ya, Pa?" Gavin bertanya balik sambil tersenyum malu.
"Apa yang kamu suka dari dia? tanya Tuan Carlos Antonio penasaran.
"Mungkin karena dia punya pandangan yang sama dengan Gavin. Papa tahu kan, Gavin nggak terlalu terbuka ngobrolin apapun dengan siapa saja. Tapi Gavin bisa mendiskusikan isi pikiran Gavin dengan dia."
"Gavin yakin pa. Karena Gavin tahu ngebedain orang yang sok mau nimbrung ke dalam pembicaraan, dengan orang yang benar-benar paham isi pembicaraan itu."
Tuan Carlos Antonio mengangguk-angguk paham. "Memang menyenangkan kalau kita punya pasangan yang bisa nyambung ngobrol apa aja dengan kita. Beruntunglah orang-orang yang bisa memiliki pasangan kayak gitu."
"Makanya itu pa, Gavin mau jadi salah satu yang beruntung itu."
"Kalau gitu Papa doakan Mischa bakalan menjawab iya. Soal Mama kamu, nggak perlu khawatir. Biar nanti papa yang urus,"jawab Tuan Carlos Antonio.
Gavin tersenyum penuh haru. "Terima kasih Pa. Terima kasih sudah selalu berada di pihak Gavin. Gavin bangga banget bisa punya papa."
Kedua lelaki berbeda generasi itu pun saling berpelukan dan menguatkan. Sebab badai yang lebih besar akan segera menerpa di depan sana.
****
__ADS_1
Keesokan harinya Gavin datang ke kantor dengan cemas. Dia segera melihat kemeja tempat Miska biasa bekerja masih kosong. jantungnya berdegup kencang. Padahal lima menit lagi, jam kerja akan dimulai. Pikiran Gavin jadi semakin tidak tenang.
"Bos mau kopi?"tanya Kayla sambil menghampiri Gavin yang masih berdiri di dekat meja kerjanya menatap ke arah meja kerja Mischa.
"Boleh,"jawab Gavin
"Saya buatkan atau beli di luar?"tanya Kayla lagi.
Gavin tidak ingin terlihat cemas seperti ini. Akhirnya dia meminta Kayla untuk membelikan kopi dan cemilan lain di luar kantor.
Tepat pukul 08.00 pagi, Gavin mengintip dari balik tirai jendela kaca ruangannya. Meja Mischa masih kosong. Pupus sudah harapannya. Gadis itu tidak pernah terlambat masuk kerja sekalipun.
Apa itu artinya Mischa menolak dirinya?
Sebelumnya Mischa sampai di kos dan segera membanting tubuhnya ke atas kasur yang baru saja dibeli, setelah pulang dari rumah sakit. Tidak terlalu empuk, yang penting cukup untuk membuat tidur lebih nyaman. menghela nafas, dia kembali mengingat perdebatan dengan bosnya.
Apa Gavin benar-benar serius ingin menikah dengannya?
Mischa merasa galau dan bingung. Sejak Gavin memberikannya uang untuk membeli sepatu, dia justru jatuh hati pada Bosnya itu. Namun dia selalu menekan perasaannya untuk tidak tumbuh. Sebab Dia sangat tahu diri sekali dengan keadaannya.
Akan tetapi yang terjadi barusan, justru membuat prinsipnya kembali goyah.
"Aku nggak pantas buat Bos. Dia lebih cocok sama wanita wanita di restoran kemarin. Tapi bos bilang sukanya sama aku. Aduh Apakah aku harus percaya? Mischa menyerang frustasi.
Berjam-jam dia berbaring dalam posisi itu, memikirkan jawaban yang akan diberikannya kepada Gavin. Barulah menjelang pukul 04.00 pagi dia jatuh tertidur.
Keesokan harinya Mischa terkejut Bukan main, karena baru terbangun pukul 09.00 pagi. Dia sama sekali tidak ingat memasang alarm. Mandi apa adanya. Dia pun bergegas berangkat ke kantor dengan menaiki ojek online.
Syukurnya jalanan sedang lenggang pada jam jam segini. Irma, Valen, dan Andika melongok saat melihat Mischa memasuki kantor. dengan tampang berantakan dan telat 2 jam. Gadis itu segera duduk di kursi dan buru-buru mengerjakan berkasnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." PERJUANGAN ABIMAYU." dan "MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"