Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 97. KALAH TELAK_YOU & ME


__ADS_3

"Hai Hai say, siapa aja namanya nih?" tanya Herman berbasa-basi dengan drama.


"Aku Irma, ini Vika dan yang satunya Valen kuya." jawab Irma.


"Okey ladies, Aku punya beberapa stok baju Jadi. Tapi warnanya nggak banyak. Mau lihat dulu atau udah tentuin warna?" tanya Herman. Irma tidak langsung menjawab. Dia menanyakan hal tersebut kepada Mischa terlebih dahulu.


"Mischa, kita pakai warna apa ya bagusnya?" tanya Irma.


Mischa melihat ke arah Gavin berharap Gavin memberi jawaban.


"Apa saja kalau udah dadakan gini, kan kita nggak bisa banyak milih." jawab Gavin.


Mischa mengangguk menyiakan dia pun menjawab pertanyaan Irma."Bebas aja Ate Irma."


"Okey deh, kita lihat aja dulu Kuya, mana yang cocok Irma membuat keputusan.


"Siap, siap! yuk ladies ikut aku." ajak Herman


ketiga wanita itu berpamitan pada Matteo, Andika, Gavin dan Mischa. Mereka mengikuti Herman yang sejak awal sudah mengocehkan banyak hal.


Di bagian dalam, ketiganya semakin terpukau dengan isi toko milik Herman. Segala macam warna dan model menghiasi dinding dinding kaca. Memberikan ketentraman setiap mata yang memandang.


"Bagus banget Kuya." Puji Vika tanpa sadar.


Herman merasa bangga. "Semuanya hasil jahitan tim aku, tapi kalau soal desain nggak semuanya dari aku. Banyak juga pelanggan yang ngasih ide mereka.


Ketiganya manggut-manggut. Mereka pun disuguhi beberapa model pakaian yang belum memiliki pemilik.


"Karena body kalian mirip-mirip, jadi setiap orang Coba aja satu model atau warna. Nanti bisa dibandingkan mana yang lebih kalian suka." usul Herman


"Boleh juga." Vika menyetujui


Irma memiliki gaun panjang berwarna biru. Vika memilih gaun selutut berwarna krem. Sedangkan Valen memilih satu set atasan dan rok berwarna merah maroon.


Herman menunggu dengan sabar dan memuji penampilan ketiga wanita yang berubah drastis hanya dengan bertukar pakaian saja.


"Sumpah kalian semua kayak bidadari." pujinya bersemangat


Ketiga wanita itu menatap satu sama lain.


"Semuanya bagus Kuya, Kita jadi bingung pilih yang mana. Mending Kuya aja yang nentuin, kan lebih paham." Pinta Irma.


"Okey, Herman kembali memindai dan menentukan satu gaun yang akan dipakai oleh para Bridesmaids.


Sementara di bagian depan, karyawan Herman menyajikan teh untuk Gavin Mischa Matteo dan Andika yang sedang menunggu.


"Kuya, tegur Mischa mengalihkan atensi Gavin yang sedang mengobrol santai dengan Mateo dan Andika.


Gavin mendekat ke istrinya dan bertanya. "Ada apa sayang?"


"Seingat aku kebaya akad kemarin ditaruh di situ." Mischa menunjuk ke sebuah tempat dengan pintu kaca.


"Harusnya gaun resepsi juga ditaruh di situ kan, Tapi kok nggak ada?"


"Mungkin masih ditaruh di dalam kuya Herman, kan nggak tahu kalau kita mau datang." bisik Gavin.

__ADS_1


"Mungkin juga." pikir Mischa


"Aku mau ke toilet dulu ya Kuya." izin Mischa


"Okey Sayang." respon Gavin.


Sebenarnya Mischa tidak khusus ingin ke toilet. Maka setelah selesai buang air kecil, dia pun berniat untuk mengelilingi toko Herman yang cukup besar dan luas itu. Dia masih ingat jalan menuju ruang pas untuk mencoba kebaya akadnya kemarin.


Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah manekin kosong berada di depan ruang pas. Mischa mendekat dan melihat label nama di bagian leher maneken itu.


"Nyonya Gavin."


Keningnya berkerut heran.


"Kenapa menekannya kosong?


"Ke mana gaun resepsi pesanannya?


" Apa gaun belum selesai dijahit?


"Kenapa Herman tidak bilang jika gaunnya memang belum selesai?


Terlalu banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Mischa. Dia kemudian mendengar suara langkah kaki di atas panggung yang merupakan tempat di mana dia muncul. Setelah mencoba ke bagiannya kemarin.


"Sepertinya ada orang di sana. Penasaran, Mischa mendaki tangga perlahan dan menyibak tirai dalam sekali tarikan.


"Matanya membulat Begitu juga dengan seseorang yang ada di balik tirai tersebut.


memulai pantulan cermin bisa menyaksikan Larissa sedang mengenakan gaun resepsi pesanannya.


"Ate mau dibantuin?" tower salah satu karyawan Herman.


"Gak usah Kalian pergi aja, aku bisa pakai sendiri." tolak Larissa.


kedua karyawan yang membawa gaun berlabel Nyonya Gavin itu, hanya bisa saling bertatapan lalu beranjak Pergi.


"Kalau rusak bagaimana ya?"


"Iya, misal ada satu bagian payet aja copot kalau nggak hati-hati bisa berabe."


"Kita juga yang disalahin. Padahal kita cuman bantu bawa doang."


Keduanya masih berada di sekitar untuk sesaat. Namun mereka juga masih memiliki pekerjaan yang lain. Sehingga akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Larissa sendiri.


Larissa memandangi gaun di depannya dan mulai mengambil foto dari berbagai sisi .Tak ada satupun yang terlewat. Dia begitu terpukau dan terpesona. Seandainya saja ini adalah gaun yang Gavin pilihkan untuknya.


Setelahnya dengan hati-hati, dia tinggalkan gaun tersebut dari maneken dan membawanya ke ruang ganti khusus calon pengantin.


"Anggap aja Gavin duduk di sana dan lagi nunggu aku fitting gaun." gumamnya dalam hati.


Hiasan pada seluruh gaun membuatnya terlihat berat. faktanya gaun tersebut begitu ringan ketika dikenakan. Larissa merasa memakai kapas kualitas gaun tempahan Herman memang tidak perlu diragukan lagi.


Larissa kemudian bersenandung melihat pantulan diri di cermin. Dan berlagak seperti seorang putri. Dia ingin menyibak tirai itu seakan-akan Gavin sedang menantinya muncul dari sana.


"Eh bentar deh, foto dulu."

__ADS_1


dia kembali mengambil foto gaun dari berbagai sisi. Bedanya kali ini dia yang menjadi modelnya bukan maneken.


kemudian tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang menyibak tirai dari sisi ruang ganti yang satunya.


"Ate Larissa!" ucap Mischa heran sekaligus tak percaya melihat gaun resepsinya dikenakan oleh wanita lain "Ate ngapain?


larissa tak menyangka kalau ini akan terjadi. Dia segera berbalik menghadap Mischa memutar otak dengan cepat untuk mencari alasan


"Oh kamu datang ternyata. Ini Kuya Herman minta aku cobain gaun ini. Karena kamu belum datang-datang juga buat fitting, katanya ukuran badan kita sama. Ternyata emang benar.


Mischa mengangguk paham. Larissa tak menyangka kalau wanita di depannya akan langsung mempercayai kebohongan begitu saja.


"Ya ampun aku nggak nyangka istri Gavin sebego ini, kok Gavin mau nikah sama dia?" tanya Larissa dalam hati.


"Sebentar ya, aku lepas gaunnya biar bisa kamu coba."


lagi lagi mischa hanya mengangguk. Males untuk ribut. Dia menutupi tirai dan menunggu di bawah tempat di mana Gavin biasa duduk menunggu melepas gaun.


Larissa Akhirnya selesai berganti pakaian dan menghampiri Mischa


"Kamu jangan salahkan Kuya Herman ya, jangan ngadu ke Gavin juga. Kuya itu kejam, nanti Kuya Herman yang kena." ucap Larissa.


"Ate, kayaknya tau banget sifat Kuya Gavin." balas Mischa. Ate langsung judge Kuya Gavin bakalan kayak gitu."


Larissa mengedipkan bahu. "Aku cuman lihat kebiasaan dia sebelum ini.


Kuya Gavin sudah berubah Ate, Dia udah nggak semena-mena lagi sama orang lain." Bela Mischa.


Larissa tercengang sesaat. Lalu tertawa sarkas. " Jamu ini naif, atau bodoh?"


Mischa tidak menjawab. Dia merasa kalau Larissa masih memiliki sesuatu untuk diucapkan.


"Gavin itu sebelas dua belas sama mamanya. Dia nggak akan bisa berubah sepenuhnya akan selalu ada sisi Arogan dalam dirinya."


"Kalau Ate memang sepaham itu tentang Kuya Gavin, Kenapa tetap gak bisa dapatin dia?"


Deg.


"Pukulan telak menghantam tepat di jantung pelari. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang berasal dari kampung bisa menghadapi wanita metropolitan seperti dirinya?


"Kamu....?"


Emosi menguasai Larisa dengan begitu cepat.


"Jangan kamu kira karena udah nikah sama Gavin bikin kamu itu selevel sama aku. Nggak, sampai kapanpun kamu itu tetap berasal dari tempat entah berantah nggak akan bisa berada di satu tempat yang sama dengan aku, yang udah dari lahir dari orang kota. Kita nggak sama. Paham kamu!"


"Terus apa hubungannya sama Kuya Gavin? aku yang dari kampung ini bisa nikah sama Kuya Gavin. Walaupun menurut Ate nggak selevel. Ate suka sama Kuya Gavin, tetapi kenapa menghina seleranya?


Lagi lagi Larissa diserang oleh Mischa tanpa takut. Larissa mengepal tangan. Sadar bahwa dirinya hanya bisa meledek, tetapi tak bisa menang di pertempuran. Sebab wanita di depannya sudah berhasil dan sah menjadi istri Gavin. Juga mereka pasti sudah tidur bersama, kan?" membayangkan itu membuat mata Larissa memanas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA BARU EMAK " PENGORBANANKU DI HARGAI DENGAN PENGKHIANATAN."


__ADS_2