Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 81. FITTING BAJU _YOU & ME


__ADS_3

"Matteo my brother, seperti biasa bantu handle kerja, ya." Pinta Gavin lewat telepon.


"Ini kalau aku yang nikah, kamu handle balik nggak kerjaan aku?" canda Matteo dari seberang.


"Mohon maaf, ini Bosnya siapa ya?"


Matteo terkekeh, itu tukang jahit apa nggak sakit kuning nyiapin baju nikahan kamu berdua mendadak dangdut begitu."


"Tukang jahit kalau udah profesional satu hari juga bisa kelar." jawab Gavin


"Iya, habis itu masuk rumah sakit." giliran Gavin yang terkekeh.


"Eh udah dulu ya, Mischa udah selesai ganti baju."


"Okey Gavin, Semoga lancar semuanya ya.


Gavin duduk santai. Pintu dibuka oleh dua pegawai butik Mischa muncul dari sana dengan kebaya yang berkilau. Gavin tersenyum lebar tiada henti dengan kecantikan natural yang dipancarkan oleh sang calon istri.


"Wow perfect, Puji seorang pegawai butik yang melihat penampilan Mischa sekarang, yang begitu mempesona.


Pria itu mendekati Mischa untuk mengecek semua bagian jahitan dan juga model kebaya yang dikenakan oleh Mischa


"Kebayanya fix perfectly di body kamu sayang, kamu diet ya?" tanya pemilik butik


"Nggak Kuya, memang aslinya begini." jawab Mischa


"Wow calon istri pewaris NINE MEDIA COPERATION GROUP."memang cetar membahana." pujinya lagi.


Gavin hanya bisa tertawa. Semua orang mengagumi Mischa tanpa tahu latar belakang keluarganya. Seharusnya memang kualitas diri yang dikedepankan bukan Berapa banyak harta yang dia punya.


"MUA nya, orang Antipolo Iya, say?" tanya Herman.


"Iya, Kuya, biar nggak kejauhan." jawab Mischa.


"Nggak apa-apa, yang penting hasilnya bagus. kamu udah bisa kirim foto baju ini ke dia, biar dia sesuaikan sama riasan kamu." saran Herman pemilik butik di mana Mischa dan Gavin melakukan fitting baju.


"Okey kuya."


Mischa memandangi Gavin yang tak henti-hentinya tersenyum. Dia menatap pria itu heran. Tetapi tetap memajang senyuman juga di wajahnya. Selesai mengganti baju itu, Ia segera menghampiri sang calon suami.


"Kenapa sih, dari tadi senyum-senyum melulu?" tanya Mischa


"Ya ampun jadi seorang Gavin serba salah, ya. jutek terus salah, senyum terus salah." ucap gavin.


"Bukan begitu...!


"Sudah sudah Kuya antar pulang sekarang. katanya kalau mau nikah, harus lebih banyak di rumah.


"Iya, iya."


Gavin dan Mischa keluar dari butik dengan bergandengan tangan. Larissa baru saja Ingin turun dari mobil ketika melihat pasangan yang tampak berbahagia itu lewat di depan mobilnya. Dia diam tak berkutik rasanya seperti mimpi melihat Gavin tersenyum, begitu lebar, dan bersikap manis dan semuanya bukan ditujukan untuknya.


Larissa urung turun mentalnya tertohok hebat. Dia kemudian membuka dashboard dan mengeluarkan sebuah undangan nama Gavin Antonio dan Mischa tertera di sana. kenapa? Kenapa bukan namaku yang tercetak di sebelah nama Gavin? Kenapa harus nama gadis dari Entah berantah yang baginya tidak menyamai kualitasnya bahkan hanya separuh saja?Kenapa Gavin lebih memilih gadis yang seperti itu?


Terlalu banyak kenapa, dalam benak Larissa sejak menerima undangan yang dikirimkan ke butik tersebut, untung saja dia tidak bereaksi berlebihan tadi. Dia berusaha menekan emosi di depan semua orang dan kini pertahanannya benar-benar runtuh. Saat melihat sepasang si Jolie yang dimabuk cinta itu.

__ADS_1


Menyesal juga, aku ngambil jahitan hari ini." gumamnya. "Kok bisa mereka jahit baju di penjahit langganan aku? CK.


Larissa mengirim pesan pada Herman, kalau dirinya tidak bisa mengambil jahitan hari ini. dia pun kembali menyetir pikiran berkelana masa SMP saat pertama kali dia menyukai Gavin.


Larissa tiba di butik dan segera naik ke cafe. Dia meminta salah satu botol miras kepada bartender untuk dibuka.


Minum sendirian di jam segini?


suara seseorang menarik atensi Larissa


"Steven?"


pria tampan itu tersenyum lebar Beberapa pelanggan Marisa tampak begitu terpesona melihat pria blasteran itu, lewat di hadapan mereka untuk menghampiri si pemilik Cafe.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Larissa heran.


Steven menaikkan bahu. "Mau makan di Cafe kamu?"


Larissa kemudian tersadar bahwa dirinya adalah pemilik dari Cafe ini bukan pengunjung.


"Sorry pikiran aku lagi nggak enak. Ayo duduk Larissa menepuk kursi di sebelahnya.


"Mau segelas juga ya, kuya," pinta Steven seraya menunjukkan minuman Larissa.


bartender menyiakan dan dengan lihai menyajikan segelas whiskey dengan es batu.


"Aku kira kamu di Singapore, Larissa meneguk minumannya setelah bersuara.


"Aku ada proyek di Manila mungkin selama 2 atau tiga tahun bakalan di sini." jawab Steven


Steven kemudian melihat sesuatu muncul dari tas Larissa. Penasaran dia pun mengambilnya, Larissa tidak menyadarinya sampai Steven bertanya.


"Gavin mau nikah?


Larissa menatap Steven dan melihat undangan pernikahan Gavin berada di tangan pria itu.


"Jangan bilang kamu minum-minum di siang hari, karena galau Gavin yang mau nikah." tanya Steven tepat sasaran.


Larissa tidak bisa menjawab..Steven tertawa pelan


"Kamu masih suka sama Gavin Dari SMP sampai sekarang?


Steven tak juga menerima jawaban namun dari ekspresi yang ditampakkan oleh Mischa sudah tahu apa jawabannya.


Walaupun gak pernah bilang kalau kamu jelek?" akhirnya mereka mengenang masa lalu.


Hari kelulusan tiba. Larissa menyisir rambut dengan senang karena sebentar lagi dia akan resmi menjadi anak SMA. Selain itu dia sudah menetapkan hati untuk menyampaikan perasaannya kepada Gavin anak laki-laki yang dia sukai Sejak pertama kali masuk SMP.


Pokoknya waktu SMA nanti, Aku harus sudah punya pacar dan orang itu harus Gavin." gumam larissa seraya menyemprotkan parfum.


Orang tua Larissa memanggil dan dia pun segera keluar dari kamar. ketiganya berkendara menuju sekolah untuk menghadiri acara kelulusan. Sekolah sudah ramai di antara siswa dan orang tua masing-masing ketika ketiganya tidak.


"Hai Steven." panggil Larissa saat sedang duduk di depan sebuah kelas.


"Hai, Larissa! Steven menyapa balik.

__ADS_1


" mama kamu mana? tanya Larissa


"Itu."Steven menunjuk pada wanita yang duduk di samping seorang pria


"Wah jadi papa kamu benar bukan orang Asia? tanya Larissa kagum.


Steven tertawa. Kamu pikir aku albino?"


Larissa pun ikut tertawa. Mereka kemudian berbincang dan Larissa mengungkap keinginannya untuk menyampaikan perasaannya pada Gavin.


"kamu mau nembak Gavin ?"Steven terkejut.


Larissa mengangguk antusias." Iya biar nanti waktu SMA aku resmi punya pacar.


"Kamu yakin mau, soalnya aku nggak pernah dengar dia cerita soal cewek.


"Oh ya, terus bagaimana ya bagusnya?" Larissa jadi bingung.


Coba aku bahas tentang kamu sama dia Ya, ntar kita lihat ekspresinya bagaimana."usul Steven


"Kamu mau bantu aku?"tanya Larissa dengan mata berbinar


"Santai, kalau kamu berdua jadian kan aku ikut senang juga." ucap Steven.


Tanpa menunggu lama, Steven pun segera mencari keberadaan Gavin yang kebetulan sedang duduk sendirian di dekat taman. tersenyum ketika Steven menyapanya.


"Sendirian aja?" tanya Steven


"Aku lagi nggak enak badan Steve, makanya duduk di sini kalau misalnya makin pusing. aku bisa cepat naik mobil,"jawab Gavin


"Oh pantesan, soalnya semua teman kita kumpul di depan kelas masing-masing." Steven memberitahu.


Meski tidak sekelas, setiap siswa saling kenal dan berteman dengan baik.


Hari ini kita, udah resmi lulus nggak ada cewek yang pengen lo ajak jalan?" atau apa gitu? tanya Steve


Gavin menggelengkan kepala. nggak ada nggak kepikiran juga.


"Sama sekali nggak ada. Kan, ada banyak yang cantik-cantik tuh.


"Oh iya, siapa?" tanya Gavin


"Iya, kayak Larissa gitu."


Gavin tertawa. Steven bahkan sampai terkejut karena itu terjadi secara tiba-tiba. Dia pun menatap Gavin dengan bingung


Larissa kamu bilang cantik?jelek kayak gitu.


Steven terdiam.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"


__ADS_2