
Mischa cengengesan. Gavin benar-benar mencubit pelan pipinya sekarang. Sementara itu di ruang rias, Nyonya Aurora mengecak semua peralatan rias yang digunakan dipakai oleh Mischa. Dia mengumpulkannya dan membuang semuanya ke dalam tong sampah. Padahal ada beberapa produk yang baru sekali dipakai.
"Aduh, bisa-bisa iritasi kulitku kalau pakai barang yang sama dengan anak kampung itu. ngasih ke dia juga aku nggak sudi!"
Nyonya Aurora kemudian menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kok bisa sih, hasil make up-nya sebagus itu? "apa Iya, dia memang perempuan baik-baik di kampung sana? awas aja kalau aku tahu latar belakang keluarganya nggak beres. Aku remas mulut sombongnya itu!"Nyonya Aurora kini mencoba menenangkan diri.
"Kesel banget, hampir tiap hari sekarang aku marah-marah karena anak kampung itu. Bisa bikin keriput lebih cepat muncul."keluhnya seraya melihat wajah dari berbagai sisi. "Besok mau perawatan lagi deh, Sebelum terlambat."
Semua orang kemudian berkumpul saat jam makan malam tiba. Gavin menganggap ini adalah waktu yang tepat untuk mendiskusikan masa depannya dengan Mischa.
"Papa sama Mama kapan bisa melamar Mischa ke rumah orang tuanya?"
Nyonya Aurora tersedak. Dia sampai ter batuk-batuk lalu meminum segelas air putih hingga kandas.
"Apa? kamu nyuruh Mama pergi ke desa-desa?"tanya Nyonya Aurora tak percaya.
"Kan, emang harus gitu ma,"balas Gavin.
mereka kan, nggak mungkin nikah di sini Aurora, resepsi bisa kita adain di sini. Tapi akadnya harus di rumah orang tua Mischa." Tuan Carlos Antonio menjelaskan.
"Ya sudah, kalau gitu Langsung angkat aja. Biar nggak mondar-mandir ke sana." usul Nyonya Aurora.
"Gitu juga, boleh Tan. Semakin cepat Mischa jadi istri kuya Gavin." komentar Mischa
Nyonya Aurora hampir saja menepuk jidat, menyadari ucapannya blunder. Itu artinya Dia sudah memberikan Restu, kan?
"Orang tua kamu nggak masalah kalau dibuat seperti itu, Mischa? tanya Tuan Carlos Antonio
"Di kampung Mischa nikahan itu dibuat lebih sederhana Om. Soalnya banyak yang nikah di KUA aja,tanpa ada hajatan besar-besaran. soalnya memang cuman orang tertentu saja yang bisa buat hajatan,"ucap Mischa
"Apa nggak jadi gunjingan tetangga?"tanya Gavin khawatir.
Mischa menggeleng. "Aku pribadi sudah lama tutup kuping dari omongan mereka Kuya. Jadi nggak usah dipikirin, mereka ngomong apa.
"Setelah nikah, juga lebih baik orang tua Mischa pindah ke kota. Biar ibu kamu lebih mudah akses berobatnya." saran Tuan Carlos Antonio.
"Nggak sekalian saja bangunkan rumah untuk orang tuanya di planet mars?" sindir Nyonya Aurora.
Tuan Carlos Antonio hanya menggeleng-geleng, sudah terlalu lelah meladeni nyinyiran sang istri.
"Mischa, ikut aja keputusan Kuya Gavin, om dan tante."
Nyonya Aurora mendesis lalu kembali melanjutkan makannya.
"Kalau begitu, kita atur jadwal secepatnya, ya. terus juga kamu nggak mau pindah ke apartemen aja Mischa? Gavin punya apartemen kosong. Memang gak besar, tapi bisa untuk tinggal sendiri. Sedang gak ada yang nyewa kan, Gavin?" tanya Tuan Carlos Antonio pada Gavin dan Mischa.
Mischa yang mengangguk. "Mau pa, Gavin emang udah niat mau mindahin Mischa apartemen tapi dia selalu nolak jawab Gavin.
__ADS_1
"Kenapa nolak? kamu pengennya apartemen yang besar dan mewah?" tanya Nyonya Aurora dengan nada mengejek.
"Karena Mischa nggak mau membebani Kuya Gavin Tan, Mischa udah terlalu banyak ngerepotin Kuya Gavin." jawab Mischa tak ingin terpancing emosi.
"Sudah kamu pindah saja ke apartemen itu. kalau kamu nggak mau ngerepotin Gavin, sekalian jangan bikin malu dia." perintah Nyonya Aurora.
Mischa menghela nafas. "Iya, Tante."
"Oke, udah fix, masalah tempat tinggal sementara ya." kata tuan Carlos Antonio.
Nyonya Aurora kemudian membanting sendok dan garpu membuat semua orang terperanjat.
"Setelah nikah kalian nggak boleh tinggal di apartemen itu, Kalian harus tetap tinggal di sini." ucap Nyonya Aurora.
"Iya dong ma, Mama sendiri juga tahu apartemennya terlalu kecil untuk ditinggali satu keluarga." respon Gavin.
"Janji, ya. Mama ngizinin kalian nikah, selama kalian tetap tinggal di rumah ini. Pindah, berarti cerai ." Nyonya Aurora memberi ultimatum.
Mischa mengandung sesuatu. Nyonya Aurora begitu mudah memberikan Restu, setelah perdebatan yang sangat panjang dia mendadak mengalah tetapi memberikan ultimatum pasti ada sesuatu di balik ini semua.
"Ya sudah ma, kalau memang itu yang Mama mau.
Gavin kemudian bertanya pada Mischa
"Gimana Mischa?
"Aku ikut aja ke mana Kuya pergi."
"Oke, masalah tempat tinggal Setelah nikah juga sudah diputuskan."
Makan malam itu diakhiri dengan berbagai keputusan mengenai Gavin dan Mischa. Setelahnya, Gavin pun mengantarkan Mischa pulang ke kos.
"Kamu pindah mulai besok ya." ucap Gavin.
"Mischa mengangguk. "Terserah kuya saja."
"Besok kamu kerja dengan riasan itu nggak?
Mischa Mengernyit. Apa Kuya Memang sesuka itu melihatnya berdandan seperti ini? bukannya langsung menjawab Gadis itu, justru mendekati Gavin, dan berbisik di telinganya.
"Makanya cepat nikahin Aku Kuya. aku bakalan menyambut Kuya tiap pulang kerja dengan riasan ini.
Mischa menjeda kalimatnya.
"Dan tanpa pakaian,"
Imajinasi Gavin berkelana Selama perjalanan pulang. Dia berusaha fokus menyetir, tetapi ucapan Mischa terus bernyanyi yang di benaknya. Saat melihat Larissa berpakaian seksi waktu itu, dia tidak merasakan apapun. akan tetapi baru saja Mischa menjanjikan dengan sebuah ucapan, jantungnya sudah berdebar tak karuan.
"Waduh cewek polos, kalinya tampil menarik benar-benar bikin jantungan." gumam Gavin.
__ADS_1
Gavin tiba di rumah dan langsung merebahkan diri di atas kasur. Matanya Memejam berusaha untuk tidur. Namun, gairah dalam dirinya terus membara membuatnya gelisah tak menentu.
"Mischa kamu pasti nggak tahu kalau ucapan kamu itu bikin kuya jadi nggak bisa tidur."Gavin menggeram pelan.
Keesokan paginya, saat menjemput Mischa untuk kerja, Gadis itu kembali memakai riasan yang biasam Ternyata dia memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kamu benar-benar nggak mau dandan kayak kemarin lagi sebelum nikah?" tanya Gavin setelah mendengus setengah sebel.
Mischa menyeringai. "kuya, kan udah dengar syaratnya."
"Iya, nanti kita pastiin lagi sama Papa dan Mama." janji Gavin.
Mischa yakin calon ibu mertuanya, punya rencana tertentu. Namun, dia tidak akan tahu sebelum sah menjadi istri Gavin. Dia tidak ingin berbuat licik. Hanya mau pertempuran yang adil.
Sesampainya di kantor seperti biasanya Mischa akan masuk lebih dulu, lalu Gavin menyusul 15 menit kemudian.
"MISCHA!"tegur Andika dengan lantang membuat Mischa agak terperanjat.
Valen dan temannya menatap Miska bersamaan.
MISCHA...!
keduanya berlari memeluk Mischa. membuat garis itu keheranan.
"Kamu nggak apa-apa? kita kemarin khawatir banget karena kamu tiba-tiba hilang,"ucap Valen.
"Iya, Apalagi kemarin kamu nggak masuk kerja. Kamu Ada masalah apa Mischa? ? tanya Andika.
Valen kemudian memandangi seluruh sisi tubuh Mischa.
"Kalau dilihat dari keadaannya kayaknya nggak apa-apa. iya kan? Valen meminta kepastian.
bukannya menjawab mata Mischa justru berkaca-kaca.
"Kamu kok nangis Mischa, beneran ada masalah ya? tanya Valen panik.
Mischa menggeleng lalu tersenyum.
"Bukan Ate, aku terharu Ate Valen dan yang lain perhatian banget sama aku.
Gadis itu kemudian merangkul Valen. dan temannya ke dalam pelukannya. Ketiganya kini saling berpelukan dan menangis. Irma menghampiri dan ikut berpelukan. Andika hanya bisa menggaruk kepala, karena tidak bisa ikutan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"
__ADS_1