Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 124. TAMPIL CANTIK _ YOU & ME


__ADS_3

"Bagus, ngak?"


Mischa berputar mengenakan gaun berwarna putih polos dengan sepatu hak tinggi dari merk ternama luar negeri. tak lupa di lehernya terpajang kalung berlian yang dihadiahkan oleh Gavin tempo hari.


"Bagus banget!"Puji Gavin.


"Tapi, apa Kuya Herman nggak kecewa kalau kita pindah tukang jahit, Kuya?"tanya Miska tak enak hati.


"Yang kecewa itu seharusnya kita, sayang. Bukan dia."jawab Gavin.


"Bisa-bisanya dia ngasih orang lain nyobain gaun kamu. Padahal kamunya aja belum ada sama sekali pakai gaun itu."


"Iya,sih,"gumam Mischa


"Ini juga bagus kok. Walaupun penjahitnya nggak terkenal Herman. Kamu pakai apa saja juga cantik."Puji Gavin


Mischa tersenyum. "Terima kasihku ya!"


Gavin kemudian melirik jam. "Mama kok belum selesai ya?"


"loh, keluar dari tadi siang ke salon belum balik?"


"Belum. Cewek kalau dandan suka nggak kira-kira. Untung istri Kuya nggak begitu. Kamu dandan sendiri aja udah kelihatan glowing."Mischa mencubit pelan lengan Gavin.


"Gombal!"


"Ouch! nggak gombal loh. Kuya serius."


"Sudah Ah, Ayok! ntar kita sebagai tuan rumah malah telat datangnya."ajak Mischa.


Gavin menurut dan mengikuti istrinya yang berjalan lebih dulu. Tuan Carlos Antonio masih duduk di ruang santai sambil membaca berita ekonomi dari ipad-nya.


"Kami duluan saja atau gimana Pa? tanya Gavin.


"Yah, mau gimana lagi. Nggak mungkin papa ninggalin Mama, kan?"bisa-bisa mukanya mengalahkan singa betina,"canda Tuan Carlos Antonio.


Gavin dan Mischa tertawa. Sebab, jika ada Aurora di sana, pasti mereka bahkan tidak bisa mengulas senyum. Aurora sangat tidak suka bercanda dan cenderung selalu serius.


"Kamu datang duluan saja Gavin. Wakilin Papa untuk menyambut tamu. Nanti kalau mama sudah balik, Papa langsung jalan ke sana."


"Okey, pa. kalau gitu kami duluan ya, pa."pamit Gavin.


Meski terlihat santai, sejujurnya Tuan Carlos Antonio sudah lelah menunggu. Dia bahkan sampai Menggala nafas saat mengecek waktu pada jam tangannya.

__ADS_1


Aurora punya kebiasaan tertentu jika ada acara besar. Sebagai tuan rumah, dia tak ingin ada orang lain yang penampilannya melebihi dirinya dari segi apapun. Baik itu gaun, sepatu, perhiasan bahkan riasan wajah dan tatanan rambut. Dia harus terlihat paling sempurna diantara semua wanita yang hadir.


"Kamu bisa kerja, nggak sih? lihat ini alis saya nggak rata! udah berapa jam, kok masih belum kelar juga bego benar kamu ya?" pekik Nyonya Aurora.


"Ma..maaf, Bu. sebentar saya perbaiki,"ucap salah satu karyawan Salon.


"Ibu-ibu! kapan saya nikah sama bapakmu? Nyonya!"tegas Nyonya Aurora.


"Ba...baik, nyonya."


Karyawan Salon sudah berusaha sebaik mungkin. Hanya saja, Nyonya Aurora memang tidak bisa duduk dengan tenang. Terkadang sambil teleponan, merenggangkan tubuh, melakukan panggilan video, dan sebagainya.


Sebab Nyonya Aurora telah marah-marah, tangan sang pengukir alis malah gemetaran dan hasilnya semakin tak karuan. Dengan kesal Nyonya Aurora mendorong gadis belia itu sampai terpental ke lantai.


"Bego banget, gak bisa kerja kamu iya! saya suruh Larissa ngechat kamu, ya!"


"Ada apa ini Tan, ribut-ribut?"tanya Larissa menghampiri Aurora.


"Ini anggota kamu, mengukir alis saja berantakan. Pecat saja dia Larissa!"jawab Nyonya Aurora murka.


Larissa menatap karyawannya dengan kesal. "Sudah sana pergi kamu! jangan bikin marah pelanggan."


Gadis belia itu bangkit dan beranjak sambil menahan tangis.


"Iya sudah, sini biar aku yang bantu benerin Tan."tawar Larissa.


Larissa masih mengenakan pakaian yang tidak cocok untuk dipakai ke acara resmi.


"Aku, emang niat nggak datang Tan." jawab Larissa.


" Loh, kenapa?"


"Masih sakit hati kalau lihat Gavin sama istrinya."


Nyonya Aurora terdiam sejenak. Dia menunggu sampai Larissa menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah, tenang saja. Tante yakin banget Mereka nggak bakalan langgeng."


Larissa sudah muak mendengarkan kalimat itu. Sejak pertama kali Aurora sudah mengiming-imingi sesuatu yang faktanya tidak akan pernah bisa terwujud.


"Sudah, Tante nggak perlu mikirin aku. semuanya bakalan kembali baik-baik saja suatu Hari Nanti. Sudah selesai Tan. tinggal rapiin rambutnya ya."ucap Larissa.


Aurora pun tak berani lagi membahas tentang itu. Dia kemudian menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Kuya jemput aku aja ke sini,ya. kalau aku pulang lagi takutnya telat. Bajunya sudah aku bawa sekalian kok."


Tuan Carlos Antonio hanya bisa menghela nafas. Sudah menunggu berjam-jam, ternyata malah disuruh jemput ke salon. itu artinya masih belum selesai, kan?


Kegiatan Nyonya Aurora justru jauh berbeda dengan kasih yang sejak awal maju mundur ingin menghadiri acara malam ini. pukul 07.00 saja dia masih mengenakan mantel mandi. Televisi dinyalakan dan dia menikmati sebuah serial yang memang sedang diikutinya beberapa hari ini.


Cemilan di toples telah habis. Kasih tidak lapar, dia hanya ingin makan sesuatu saja.


"Ya sudah deh. Sekalian keluar cari cemilan."


Wanita itu bangkit dan memilih gaun dari dalam lemari. Ada sebuah gaun yang dibeli sebelum kembali ke manila dan belum pernah dipakai. Dia mengenakannya dan berdandan seinginnya saja.


"Sudahlah, yang penting nggak pucat banget."


Dengan malas, Kasih meraih kunci mobil dan mulai menembus jalanan kota Manila yang masih padat merayap. Dia memang berniat datang terlambat supaya tidak terlalu menarik perhatian.


Akan tetapi, dia salah besar.


Setelah Hati Dan logikanya berdebat sejak tadi, kasih memilih kembali ke parkiran dan turun dari mobil.


"Sinting sinting sinting!"umpatnya pada diri sendiri.


Pintu ruangan sudah ditutup, tetapi ada dua orang wanita yang menjaga di luar. Kasih menunjukkan undangan dari ponsel dan dia dipersilakan masuk setelah menandatangani buku tamu.


Pintu dibuka Kasih masuk dengan cemas. Entah berapa kali dia sudah menghembuskan nafas. sepertinya hampir seluruh tamu undangan telah hadir karena suasana yang begitu ramai.


Beberapa orang yang berada di dekat pintu menoleh padanya dan berseru kagum. Tak hanya orang tua, bahkan anak-anak muda juga! Kasih merasa canggung, tetapi memilih untuk acuh saja.


"Kuya ngundang Bu Kasih, nggak?"tanya Miska pada Gavin yang sedang bersiap-siap untuk memberikan kata sambutan sebagai perwakilan dari NINE MEDIA COPERATION GROUP.


Ayahnya baru saja tiba dan lupa membawa naskah pidatonya. Gavin pun mengajukan diri karena sudah terbiasa berpidato secara spontan.


"Kuya undang kok. belum ada kelihatan datang ya?"Gavin bertanya balik.


Mischa celingukan. " Belum ada Kuya."


"Gara-gara kamu kelamaan dan ini, Aurora. Kuya jadi lupa bawa naskah pidatonya."gerutu Tuan Carlos Antonio.


"Ih, kuya gimana sih? ini kan acara besar. masa aku tampil apa adanya! kita bakal masuk ke semua headline berita. Aku harus tampil terbaik di hari ini. sebagai nyonya besar,"balas Aurora.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2