
"Sebenarnya sebanyak apa Kamu kirim uang ke kampung? Gavin masih bertanya saat mereka keluar dari lift. Seperempat gaji?"
Mischa menggeleng."separuh gaji saya bos."sahut Mischa sambil menundukkan kepalanya.
Gavin akui, dirinya cukup terkejut Mendengar hal itu. Biaya hidup di kota Manila ,kan besar. Kamu yakin bisa hidup hanya dengan separuh gaji kamu?"
Mischa tidak langsung menjawab. Karena petugas keamanan sedang menyapa mereka dan membuka pintu mobil.
"Hati-hati Tuan Gavin, Ate Mischa." ucap petugas keamanan itu.
Gavin memencet klakson sebelum melajukan mobilnya.
"Pergi, dan pulang kerja, saya jalan kaki. makan juga cukup sehari sekali Bos. Sehari dua kali, kalau ditraktir sama Ate Irma atau yang lain. Jadi Saya rasa cukup cukup saja jelas Mischa.
"Kamu serius? tanya Gavin seolah masih belum percaya akan apa yang dikatakan oleh Mischa kepadanya.
"Saya sudah biasa makan dengan porsi sedikit. Soalnya bapak lebih sering tidak ada uang, ketimbang ada. Jadi makan di sini, biasanya saya bagi dua Bos. Sisanya Saya makan waktu malam tambah Mischa.
"Dan itu sering? tanya Gavin kembali penasaran
"Tidak terlalu sering Bos, lebih sering tidak makan malam."
Gavin terdiam. Inilah Kenapa tidak boleh berbicara buruk kepada orang lain. Sebab kita tidak pernah tahu, apa saja yang sudah dilalui orang tersebut. Kesusahan, kesedihan Hanya mereka sendiri yang tahu.
Malam ini saya traktir kamu makan sepuasnya ya.
Mischa heran kenapa begitu bos?
"Tidak ada. hanya ingin mentraktir kamu saja.
O.... Mischa membentuk huruf o dengan mulutnya.
"Ada makanan yang lain kamu mau?
Mischa tidak tahu. Hidup susah membuatnya menerima makanan apa saja. Jadi dia tidak pernah terpikir ingin makan sesuatu yang belum pernah dia coba.
"Saya bisa makan apa saja bos, tidak masalah.
"Begitu ya, Kalau begitu kita ke restoran yang juga menyediakan kopi. Kamu harus minum kopi. Di situ menurut saya enak tapi tidak tahu kalau menurut kamu.
Mischa menganggukkan kepalanya."Baik bos."
macet sudah mulai berkurang saat mereka hampir tiba di salah satu restoran ternama di kota Manila.
"Lihat itu, tunjuk Gavin pada sebuah bangunan tinggi itu. Kita akan makan di sana.
__ADS_1
Mischa terpukau restoran itu terletak di sebuah gedung, depan dindingnya terbuka khusus di bagian restoran itu saja.
Lampu-lampunya sudah terlihat dari kejauhan. Semakin dekat, barulah dia menyadari kalau dindingnya terbuat dari kaca bukan dinding kosong begitu saja.
Mischa terus mengikuti Gavin sejak turun dari mobil sampai masuk ke gedung. Takut kalau dia akan tertinggal dan tersesat sehingga merepotkan Gavin juga.
Tinggi banget Bos." ucap Mischa saat melihat Gavin menekan tombol angka 30.
"Kamu takut ketinggian?
"Sedikit Bos."
Gavin tersenyum dia seperti membawa anak kecil yang penasaran akan sesuatu hal yang baru ia ketahui, dan pengalaman baru untuknya
lift terbuka, dan seorang pria menggunakan setelan lengkap menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan Gavin, meja untuk 2 orang Ya? tanyanya sambil mengembangkan senyumnya.
"Betul, di dekat jendela ya." jawab Gavin
"Baiklah silakan ikut saya."
Mischa heran dari mana pria itu bisa tahu nama Gavin. "Kok bisa dia tahu nama bos?
"Saya Pelanggan VVIP di sini." jawab Gavin tanpa menoleh.
"Silakan Tuan Gavin, menu akan diantar sebentar lagi. Gavin mengangguk dan langsung duduk sedangkan Mischa menunggu kursinya digeser oleh pria yang menyambut mereka. Bahkan pelanggan wanita pun diperlakukan lebih baik di sana.
Kebetulan sekali kamu pakai setelan itu." ucap Gavin sembar menunjukkan pakaian yang Mischa kenakan, Itu adalah salah satu dari tiga setelan yang Miska beli dengan uang Gavin jadi saya tidak malu bahwa kamu ke sini.
"Iya Bos, sayang juga tidak dipakai. Jadi sepakan sekali atau dua kali saja, saya pakai bajunya." jelas Mischa.
Gavin mengangguk-angguk "Boleh juga."
seorang pelayan wanita mengantarkan buku menu kehadapan Gavin dan juga Mischa. silakan Tuan, nona."
"Kamu mau pilih sendiri atau saya yang Pilihkan seperti biasa? tanya Gavin kepada Mischa.
"Bos saja yang pilihkan." jawab Mischa tanpa menyentuh buka menu
Okey
Gavin pun menyebut nama makanan dan kopi yang dia katakan sebelumnya kepada Mischa Pelayan wanita segera pergi setelah mencatat seluruh pesanan.
"Pemandangannya bagus kan? tanya Gavin seraya menunjukkan keluar
__ADS_1
"Bos sepertinya sering makan di sini ya? tanya Mischa penasaran
"Lumayan, tapi lebih sering sendirian
"Kenapa begitu bos?
"Sebenarnya saya datang ke sini, kalau ingin menyendiri. Makan atau minum kopi, sambil melihat jalanan di bawah sana juga melihat gedung-gedung.
"Loh, tapi malam ini Bos mengajak saya apa tidak mengganggu? tanya mischa tak enak hati. Sebab dirinya, bos jadi tidak bisa menikmati waktu sendiri.
"Entahlah bawa kamu seperti tidak terlalu bising.
Mischa tidak paham, apa maksudnya sejak tadi dia terus mengoceh, menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan dari mana pula datangnya tidak bising.
Beberapa wanita yang saya kenal, suka berbicara berlebihan untuk menarik perhatian. beda sama kamu. Yang apa adanya." jelas Gavin.
"Berarti Bos pernah bawa teman wanita juga ke sini? Mischa Malah semakin penasaran.
Gavin Magelang. "Belum pernah, baru kamu. Mama saya saja tidak pernah saya ajak ke sini. Papa dan Mama saya punya restoran favorit sendiri. Kalau kami ingin makan bertiga juga tidak pernah di sini.
Mischa mengangguk paham. Dia kemudian melihat keluar jendela. Dulu sewaktu kecil dia suka mendaki bukit, dengan beberapa teman di malam hari. Untuk melihat pemandangan hamparan lampu dari rumah-rumah di kaki bukit. Di sini tidak terlalu repot-repot mendaki cukup hanya dengan menaiki lift saja.
"Kamu tidak merasa tersipu? Karena saya ajak ke sini. Ini tempat favorit saya sendiri loh. tanya Kevin menarik perhatian Mischa. Mischa tidak mengerti maksud dari pertanyaan bosnya. Kenapa saya harus tersipu Bos?
Gavin mengusap wajahnya, lalu tertawa pelan. Baru kali ini Mischa melihat bosnya tertawa seperti itu. Biasanya hanya wajah ketat dan kesal yang dia tampakkan setiap hari.
"Kamu tidak pernah pacaran ? Gavin bertanya lagi
Mischa menggeleng. dari kecil saya sudah sibuk belajar bos. Jadi tidak pernah punya waktu untuk pacaran secara umum. Tampilan karyawannya ini memang biasa saja. Namun jika dipoles, maka dia akan terlihat cantik dan membuatnya dikejar oleh para kaum Adam.
Gavin yakin akan hal ini.
"Okey, saya ubah pertanyaannya. Kamu pernah suka sama cowok?
Kali ini Mischa mengangguk. Itu sudah pasti pernah Bos.
"Terus kamu tidak pernah berusaha mendekatinya?
Mischa kembali menggeleng. Tidak bos, karna dia sudah memiliki kekasih.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak
.