Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 33. BERBOHONG _YOU &, ME


__ADS_3

"Kamu tidak ada rencana lain kan?" tanya Gavin, begitu mereka keluar dari area bioskop.


Mischa menggeleng. "Biasanya dia weekend saya cuman tidur saja bos.


"Begitu ya?


Mischa terus mengikuti kemanapun Gavin melangkah. Agenda menonton sudah selesai. Tapi Bosnya itu masih belum menyuruhnya untuk pulang. Jadi dia menurut saja, saat mereka memasuki sebuah tempat makan di areal mall.


"Sudah pernah makan di sini?" tanya Gavin.


Mischa menggeleng. Sepertinya Gadis itu, bahkan tidak pernah mencoba makanan yang harganya terbilang terjangkau untuk karyawan sepertinya.


"Kalau makan Ayam Adobo, seringnya dibeli yang di pinggiran jalan saja bos." Mischa memberitahu


Kalau begitu kamu harus coba Ayam Adobo di sini. Pilih mana saja yang kamu mau." tawar Gavin. Dia pun kemudian memanggil pramusaji dan minta dibawakan bermacam-macam Ayam Adobo.


Tiga pramusaji mendatangi meja mereka membawakan varian Ayam Adobo beberapa diantaranya, Gavin untuk memilih. Karena begini menunjukkan terlalu sedikit para pramusaji mengangguk dan berjanji akan kembali lagi membawakan Ayam Adobo yang masih panas.


"Apa tidak kebanyakan Bos?" tanya Mischa. lagi lagi Mischa merasa tidak enak hati, tadi saja harus merogoh kocek sebanyak lima belas juta untuk membeli pakaian tas dan sepatu.


"Kamu takut saya jatuh miskin, karena sering mentraktir kamu?"


"Bukan begitu maksud saya bos."


"Kamu kan partner nonton saya hari ini, jadi saya harus memperlakukan kamu dengan baik.


Tak bisa menahan rona yang muncul di wajah saat mendengar penuturan bosnya. Hampir tiga bulan berada di kota Manila, sudah merasakan banyak kebaikan dari sang Bos. Berbeda sekali dengan saat dirinya masih di kampung. Dulu bukannya ditolong, kebaikan dan kepintarannya malah justru sering dimanfaatkan.


"Ayo dimakan."


"Baik bos."


Bisa menggunakan sumpit dan dengan cekatan seakan-akan sudah dari kecil dia menggunakan alat tersebut.


"Saya sering memperhatikan cara kamu makan. Baik waktu prasmanan, makan steak makan pakai sumpit Kamu tempatnya lihai sekali."Puji Gavin


"Saya pernah ikut pelatihan table manner Bos." Mischa memberitahu.


"Oh ya, tanya Gavin tak percaya. Kok bisa?


maklum saja Gavin bertanya begitu. Sebab pelatihan tata krama di meja makan tidaklah berharga murah.

__ADS_1


"Karena prestasi sejak SD, saya sering ikut pelatihan gratis berbagai bidang Bos. Saya juga punya beberapa sertifikat keahlian khusus, walaupun tidak dipakai semua. Tapi saya senang mempelajarinya." jelas Mischa.


"Sudah cantik, pintar, berbakat pula. Kalau bukan karena gengsi, pasti puji-pujian tersebut sudah meluncur dari bibir Gavin.


Selain status sosial, tidak banyak wanita seperti itu yang bisa dijumpai. Tentu ada beberapa yang cantik dan pintar. Contohnya Larissa, namun kebanyakan dari mereka tidak berperilaku baik. Apalagi ke orang-orang yang status lebih rendah dari mereka.


"Kita pulang." ucap Gavin setelah Mischa menghabiskan makanannya. Dia bahkan memesan beberapa bungkus untuk gadis itu bawa pulang. "Kamu harus biasakan makan malam untuk menjaga kesehatan."


Entah apa yang merasuki bosnya hari ini pikir Mischa. Bosnya itu terlalu perhatian padanya. keduanya keluar dari restoran dan berjalan menuju lift.


"Saya pulang sendiri saja bos." kata Mischa. Dia tidak mungkin ikut turun perubahannya. tempat mobil di parkir jika pulang naik Bus kan?


Baru saja Gavin ingin bicara, suara seseorang mengejutkan dirinya.


"Gavin sama siapa kamu ini?


Mischa menatap wanita yang keluar dari lift itu. Ia bingung. "Bos kenal dengan wanita ini?


Mama..."


"Hah....mama?


Mischa menunduk dan segera bersembunyi di balik tubuh bidang bosnya. Dari puluhan Mall yang ada di kota Manila ini, Mengapa mereka bisa bertemu di sini?


Nyonya Aurora tampak ingin melihat, siapa gadis yang sedang bersama Gavin. Tetapi Gavin juga berusaha untuk menutupi dan melindungi Mischa


"Teman Gavin ma, kebetulan ketemu di sini." jawab Gavin berbohong.


"Tatapan Nyonya Aurora tampak menyelidiki kebenaran. "Cuman teman?


"Kita sama-sama mau ke parkiran ma, makanya jalan bareng ke lift." lanjut Gavin.


Nyonya Aurora bisa menerima alasan itu. namun Kenapa Gadis itu tidak berani menampakkan diri di depan Nyonya Aurora. Gavin menyadari kebingungan ibunya itu.


"Anaknya emang pemalu ma, takut digosipin juga." ucap Gavin.


Nyonya Aurora merasa tersindir. Memang betul dia ingin tahu Siapa gadis itu. Dan menanyakan kepada seluruh orang dalam perkumpulannya, untuk mencari tahu siapa orang tua dari gadis tersebut.


"Oh ya sudah, mama mau belanja dulu ya. kalian hati-hati pulangnya." pesan Nyonya Aurora. "Sampai jumpa temannya Gavin."


"Mischa terkejut, tetapi tetap berusaha menjawab dari balik tubuh Gavin.

__ADS_1


"Sampai jumpa tante."


Mischa meringis. Tak seharusnya memanggil tante kepada Ibu dari bosnya. Akan tetapi dia tidak mungkin memanggilnya Nyonya kan? bisa-bisa terbongkar kebohongan yang sudah dibangun susah payah oleh bosnya.


Nyonya Aurora tersenyum, kemudian berlalu Gavin memastikan Ibunya sudah tidak terlihat baru kembali menekan tombol.


"Uhhh...." rasanya lega sekali. Tetapi itu tadi benar-benar menantang Adrenalin nya mendadak terpacu dan suasana hatinya jadi semakin membaik.


"Bos tidak masuk? tanya Mischa yang ternyata sudah berada di dalam lift.


Gavin terlalu lama melamun, berdehem dia pura-pura bersikap keren. Lalu mengikuti Mischa memasuki lift.


Mischa tersenyum geli, sejujurnya dia pun merasa sangat takut tadi, tidak tahu kenapa pokoknya takut saja.


Bos memang tipikal pemimpin inovatif, bisa memecahkan masalah saat terdesak sesegera mungkin." Puji Mischa.


"Saya hebat kan? Gavin menyombongkan diri.


Mischa mengangguk Sambil tertawa


"Benar Bos, Dia kemudian teringat sesuatu. "Bos sepertinya takut sekali sama mamanya Bos ya?


Gavin tampak berpikir. Sebenarnya bukan takut sih, lebih menghargai. Entahlah di keluarga kami, setiap anak-anak memang di tempah untuk betul-betul patuh pada orang tua, sebagian besar sikap dari keluarga kami sangat buruk, Kelakuannya terhadap orang lain. Tapi sama orang tua semuanya hormat dan tunduk.


"Begitu ya?


Mischa mengangguk-angguk paham.


"Sepertinya sulit dipahami ya. Bagaimana cara kerja keluarga orang-orang kaya?" tanya Gavin


"Kalau yang saya sering lihat, contohnya seperti anak Pak kades. Sama siapapun kelakuannya buruk. Bapaknya saja kadang sering dibentak di depan umum, terlalu manja." jawab Mischa


"Oh ya, Gavin tampak terkejut. Padahal kalau dibandingkan dengan orang kota, juga tidak kaya bersikap seperti itu.


"Betul bos, saya sendiri juga heran kenapa anak-anak Pak kades begitu. Kalau satu sekolah sama mereka tuh, berasa apes. soalnya bakalan jadi tukang suruh-suruh." tambah Mischa.


Ternyata bukan hanya di kota saja, kelakuan orang-orang seperti itu dikerjain. Bahkan dari jajaran pemerintah paling rendah saja anak-anaknya sudah Arogan seperti itu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak " PERJUANGAN CINTA ABIMAYU"


__ADS_2