
"Iya, ya. Kata ibu, setelah aku lahir Ibu nggak pernah hamil lagi. Padahal nggak KB." Mischa memberitahu.
"Oh, ya? Gavin cukup terkejut. "Tapi nggak apa-apa sih, cuman satu kalau kualitasnya kayak kamu. Rezekinya kayak punya anak seratus."
"Kalau Kuya sendiri, Kok, bisa cuman satu-satunya?" tanya Mischa penasaran.
"Nah, itu juga yang jadi pertanyaan Kuya selama ini. Tapi nggak pernah ada yang mau jawab."
Mischa tampak bingung. Gavin sampai bangkit ke posisi duduk untuk membahas itu.
"Kuya nggak punya foto sama mama waktu lahir. Satupun. Ya, mungkin pada masa itu foto ibu dan anaknya yang baru lahir nggak ngetren kayak sekarang." Gavin mulai cerita. "Foto sama mama baru ada waktu umur Kuya setahun lebih."
"Apa mungkin baru kepikiran mau foto setelah Kuya gedean?
Gavin mengerutkan kening. "Anehnya banyak gitu Kenapa nggak bisa ambil foto satu aja Waktu Kuya baru lahir. Sedangkan foto sama mama setelah usia Kuya setahun lebih itu sampai berabum-album sangking banyaknya.
Mischa pun semakin bingung mendengarkan penjelasan Gavin.
Setiap Kuya nanya, kenapa nggak punya adik, Papa sama Mama selalu mengalihkan pembicaraan. Mereka malah suka bercanda kalau Kuya ini memang pewaris tunggal. Tapi alasan pastinya, Kuya nggak pernah tahu.
Suara bel pintu kemudian berbunyi.
"Eh sarapan kita itu. Kuya ambil dulu ya.
Mischa merasakan ada sesuatu, pasti ada rahasia dibalik keluarga Tuan Carlos Antonio Namun apa itu?
****
Ahhhh...!!!"
Mischa meringis saat Gavin menyentil keningnya. Dia kembali kalah dalam permainan kartu sekarang skornya lima empat, tipis sekali.
"Nggak adil deh, jari Kuya kan, gede-gede Makanya kalau menyentil lebih sakit." protes Mischa tak terima. Dahinya sudah memerah padam setelah disentil lima kali.
"Ya udah, kamu ganti hukuman apa?" Gavin menawarkan
"Kalau Kuya kalah, Aku cubit. Itu baru adil." jawab mischa
"Okey, yuk main lagi.
Ronde ke sepuluh dimenangkan oleh Mischa wanita itu tertawa menyeramkan. Dia pun mencubit tangan Gavin yang langsung berguling kesakitan. Rasanya cubitan Mischa setara dengan capit kepiting.
"Astaga....sakit Banget!"
wajah bisa berubah khawatir, dia pun menghampiri Gavin yang kesakitan. Padahal dia merasa hanya menggunakan separuh kekuatannya.
__ADS_1
"Duh....sakit,ya Kuya?
"Iya, sakit banget." lirih Gavin manja.
Mischa jadi merasa menyesal telah mengganti hukuman dalam permainan. akhirnya mereka pun sepakat untuk berhenti bermain.
Kini mereka memilih untuk bersantai di kolam renang.
"Oh, iya. Aku penasaran Kuya. Kenapa bisa punya tekad waktu nikah dalam enam bulan waktu itu?" tanya Mischa.
Tidak seperti semalam. Kali ini Gavin melepas kaus dan hanya menyisakan celana pendek sebelum mencebur ke kolam. Pria itu tak sadar kalau Mischa sampai menggigit bibir melihatnya.
"Oh, itu...." Gavin terjun dan menjawab setelah muncul ke permukaan.
"Waktu itu, mama ngotot banget mau jodohin Kuya sama Larissa."
Mischa terdiam Apa memang tidak ada wanita lain di dalam hidup Gavin?
"Waktu itu, Papa sakit. Terus Larissa datang jenguk. Mama berkali-kali julukin Larissa sebagai calon mantu. Nah, waktu itu papa juga kayaknya oke-oke aja. Ya udah Kuya bilang kalau, Kuya nggak mau nikah sama dia." jelas Gavin.
"Terus Papa bilang apa? tanya Mischa
"Iya, itu Papa kasih Kuya kesempatan cari istri yang benar-benar Kuya suka. Tapi cuman dikasih waktu 6 bulan. Nah setelah enam bulan Kuya harus nikah sama Larissa kalau misi itu nggak berhasil." lanjut Kevin.
"Kuya nikahin Aku bukan karena yang penting nggak nikah sama Ate, Larissa kan?" selidik Mischa.
"Ya enggak dong, sayangku. Ya benar sayang sama kamu. Kita emang udah berjodoh, makanya bisa bertemu dalam waktu 6 bulan."
Terus kalau waktu itu, aku jawab enggak gimana Kuya Pasti sedih. Karena harus nikah sama Ate, Larissa kan?
Gavin Magelang. Wajahnya menunjukkan keseriusan. Kamu salah sayang. Kuya, bakalan sedih karena nggak bisa dapatin kamu. Bukan karena nikah sama Larissa.
Mischa masih menampakan wajah menyelidiki
"Coba pikirin, Kamu kira Kuya mau capek-capek nyiapin ini semua kalau Kuya nggak cinta sama kamu? terus Kuya juga bisa nawarin mereka kontrak atau semacamnya. Bisanya kan, emang gadis-gadis dari kampung gampang dibohongi soal kawin kontrak. Tapi nggak sayang, Kuya rela lakuin apa saja demi kamu. Gavin benar-benar berusaha meyakinkan istrinya bahwa perasaannya memang tulus.
Wajah Mischa melunak. Dia pun mengangguk dan tersenyum. "Maaf ya, kuya. Maaf karena sudah ngeraguin kuya.
Gavin tersenyum lega. Nggak perlu minta maaf Sayang. Kuya paham kok kegelisahan yang kamu rasain.
"Bukan cuman soal ini sih, tapi ada yang lain.
"Oh ya, apa? kini Gavin yang merasa penasaran
"Jadi sebelum kita berangkat. Kemarin malamnya ada Larissa nge-Dm aku di Instagram. Gavin mendengarkan dengan serius. Dia bahkan sampai naik dan duduk di tepi kolam. "Terus?
__ADS_1
"Dia ngajak ngobrol. Aku iyakan. awalnya dia nanya Kuya pernah bahas tentang dia nggak sama aku. Iya, aku jawab aja Iya. Karena kan kita emang pernah beberapa kali ngobrolin dia.
"Perasaan Kuya gak enak nih." sela Gavin
Mischa mengangguk. Setelah itu, masa tiba-tiba dia nanya gini. "Gimana pendapat aku tentang berbagi suami?"
"Hah?"seru Gavin terkejut dia nanya gitu ke kamu?"
"Iya, kuya. Tapi setelah itu pesannya dihapus sama dia. Dia minta maaf karena udah ngomong gitu ke aku. Setelah itu nggak aku balas lagi.
Gavin menepuk jidat. Ada-ada saja kelakuan Larissa pikirnya.
"Kamu Kenapa baru kasih tahu Kuya sekarang? kenapa kamu memendam ini sendirian? akhirnya kamu jadi kepikiran dan imbasnya ragu ke Kuya kan?" tanya Gavin lembut sembari menggenggam kedua tangan istrinya.
"Maaf Kuya, aku cuman nggak mau Kuya ikut kepikiran gara-gara ini." ucap Mischa.
Gavin menggeleng. Justru semuanya harus kita hadapi sama-sama. Kamu harus janji sama kiya. Apapun yang terjadi pada kamu, Kuya harus tahu. Ada masalah apapun itu, kamu harus libatkan Kuya dalam mencari solusi. Itu gunanya menikah sayang, untuk saling berbagi dalam hal apa saja.
Hati Mischa luluh setiap hari ada saja alasan untuk semakin mencintai suaminya.
"Iya Kuya, Kuya juga harus gitu Ya. Apapun yang Kita hadapi, harus Kuya bagi sama aku."
Gavin tersenyum perlahan senyumannya berubah menjadi sebuah seringai. Dia melompat ke kolam dalam posisi masih menggenggam tangan Mischa. Wanita itu terperanjat dan tanpa bisa dihindari ikut tercebur ke dalam kolam.
Gavin tertawa sejadi-jadinya. Sedangkan Mischa harus berjuang menarik nafas dengan posisi hidung kemasukan air.
"Kuya!" pekiknya," awas ya kalau dapat, aku cubit!"
Mereka pun saling berkejaran di dalam kolam. Gavin terus tertawa-tawa. Karena Mischa tak pernah berhasil mendekatinya.
langit mulai berubah keemasan saat matahari akan tenggelam. Keduanya mengeringkan diri dengan berjemur di atas sun lounger. kacamata hitam pun bertengkar di hidung keduanya.
"Aku nggak pernah pakai kacamata hitam loh Kuya, baru ini." ucap Mischa berterus terang.
"Kenapa?" tanya Gavin bingung
"Nggak tahu kenapa, Aku rasa orang-orang yang pakai kacamata hitam itu sombong." jawab Mischa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA teman emak.
__ADS_1