Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 88. ANAK BERAPA?" _ YOU & ME


__ADS_3

Mischa sedang memilih buah yang akan dimakan selanjutnya. selain menyewa kamar dengan pemandangan luar biasa ini, Gavin juga memesan makanan yang tak kalah mewah dan enak.


Perut Mischa memang sudah meraung sejak tadi. Orang-orang bilang saat menikah pengantin memang tidak bisa makan dengan puas. Untungnya makanan sudah disiapkan sebelum mereka berdua memasuki kamar tadi.


"Mau dong apelnya, minta Gavin yang sedang berenang menuju Mischa.


Wanita itu belum Ingin turun ke kolam renang, masih kekenyangan saat ini dia masih mencelupkan kaki saja. Dia pun menyuapkan apel untuk Gavin.


"Hm! seru Gavin ketika menggigit buah apel yang di suapkan oleh Mischa


"Manis banget, ya." ucap Mischa


"Iya, tapi tetap kalah manis sama kamu." goda Gavin.


Mischa pura-pura mendesis. Kini dia menikmati buah anggur yang disusun Rapi di sana.


"Aku jarang sekali memakan buah ini, Kuya.


"Oh ya," respon Gavin. " Biasanya makan buah apa?


"Yang umum kayak jeruk, pisang, pepaya gitu-gitu aja sih."


Enak anggurnya?


Mischa mengangguk senang. Rasanya manis tanpa ada asamnya dikit.


"Ayo turun dong, masa Kuya berenang sendirian." ajak Gavin seraya mengeluarkan tangan.


Mischa pun menurut, lalu terjun ke dalam kolam. Airnya tidak dingin walaupun di saat malam seperti ini.


"Ayo lomba menyeberang ke sana yang kalah harus masuk kantor,"ucap Gavin


Mischa menatap Gavin dengan bingung


"Masuk kantor gimana kuya?"


"Kalau kuya kalah, Kuya mengantor kayak biasa. Tapi kalau kamu yang kalah kamu harus gantiin Kuya mengantor jadi bos di ALC." jelas Gavin.


Mischa tercengang. "Memangnya boleh kuya?"


"Kamu kan udah jadi istri bos, Lagian kompetensi kamu juga memungkinkan untuk mengecek kerjaan semua karyawan.


Mischa membentuk huruf o di mulutnya.


"Kamu harus belajar juga, Siapa tahu kuya Ada urusan keluar kota. Kamu bisa gantiin Kuya, tapi kalau kerja Senin sampai jumat, ya Kuya nggak kasih." lanjut Gavin.


"Oh gitu,Mischa mengangguk-angguk paham


menarik juga, ya!"


" Yuk, kita mulai?"


Mischa mengangguk antusias. "Okey siapa takut!"


"Dalam hitungan ketiga, ya." Gavin memberi aba-aba.

__ADS_1


Keduanya pun memasang ancang-ancang sudah siap meluncur kapan saja


"Satu.....Dua....Tiga...."


tepat setelah Gavin menyelesaikan penghitungan, pasangan suami istri itu pun berenang dengan cepat untuk ke seberang. tubuh tinggi Gavin benar-benar menguntungkan dirinya, meski Mischa juga berenang dengan cukup lincah. Namun, tangan Gavin lebih dulu menyentuh dinding kolam ketimbang Mischa.


"Ye...."Kuya menang!" seru Gavin senang


Mischa tertawa meski masih terengah-engah." Berarti aku yang ngantor ya, habis resepsi."


"Yap!"Gavin berenang mendekat pada Mischa. Tapi tetap Kuya yang antar jemput.


"Aku nggak boleh pergi pulang sendiri?"


"Gak boleh, nanti kamu diganggu orang lain."


Mischa memukul pelan dada bidang, seraya tertawa merasa suaminya agak berlebihan.


Nanti Kuya ajarin kamu nyetir, kalau kepepet Kuya yang nggak bisa antar, atau lagi nggak ada sopir, kamu bisa bawa mobil sendiri." janji Gavin.


Gavin betul. Bagaimanapun Mischa haruslah bisa mandiri juga dalam beberapa kesempatan.


"Ya sudah naik yuk, ntar masuk angin. ajak Gavin.


Pria itu naik lebih dulu, lalu membantu dia meraih handuk dan memakaikannya kepada Mischa, baru memakaikan untuk dirinya sendiri dengan handuk yang lain.


Mereka kembali memasuki kamar Mischa segera menuju kamar mandi dan Ingin menutup pintu. Namun, tangan Gavin menahannya.


"Bareng aja, bersihnya." ucap Gavin


ekspresi polos di wajah Mischa membuat Gavin tertawa.


"Kita ini sudah nikah lho Gavin mengingatkan.


"Tapi kan....


sebab Gavin lebih kuat, maka pintu pun kembali terbuka dengan mudahnya. Dia masuk ke dalam dan segera membuka kaosnya.


Meski malu, tak bisa dipungkiri kalau mischa begitu terpesona dengan bentuk tubuh atletis suaminya. Apalagi ketika melihat Gavin bercermin seraya menyisir rambut dengan jari-jarinya. Sejak pertama bertemu Mischa sudah memenangkan sebagai seorang pria tampan. Akan tetapi malam ini rasanya begitu berbeda bukan hanya tampan tapi juga menggoda iman.


Mischa bahkan tanpa sadar menelan ludah


"Kamu nggak mandi? nanti masuk angin." tanya Gavin


pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan berdinding kaca tempat pancuran air berada. ada tirai di sana, tetapi Gavin tidak mau repot-repot menutupnya keran pancuran diputar dan air mulai mengalir di tubuh Gavin. membuat Mischa menelan ludah untuk kedua kalinya.


Gavin kemudian menatap Mischa memberi kode agar istrinya itu segera bergabung dengannya. dengan lutut yang mulai lemas mischapun berjalan dan memasuki bilik pancuran.


Setelah itu, kenikmatan mulai Bergema di seluruh penjuru dinding ruangan.


****


Padi menjelang, misca tersentak karena hasad ingin membuang air kecil memberontak. Mau tak mau dia bangkit meski masih merasa lelah Gavin masih terlelap di sampingnya. Setelah memakai dan mengikat tali piyama bisa berjalan menuju toilet untuk memenuhi panggilan alam.


Begitu keluar Mischa melihat t jam dari ponsel ternyata sudah pukul 07.00 pagi dia pun berjalan mendekati dinding kaca dan menggeser tirainya. cahaya matahari segera merangsek masuk pemandangan di siang hari, ternyata sama bagusnya dengan malam hari.

__ADS_1


Mischa terperanjat saat lengan-lengan Gavin memeluknya dari belakang


"Selamat pagi sayang, bisiknya lembut


Mischa tersenyum. "Pagi juga Kuya, aku pesan ya,sarapannya, mau apa


"Kuya mau sarapan Kamu." jawab Gavin dijeruk leher Mischa


"Jangan bercanda dong Kuya,"


"Nggak bercanda sekali lagi ya. please sebelum sarapan. Pinta Gavin manja


"Nggak mandi dulu?" tanya mischa


"Sambil mandi aja, kita belum coba di Bathtub."


Meski cuma sekali, nyatanya mereka menghabiskan hampir dua jam di kamar mandi. Gavin mengenakan pakaian dengan senyum puas di wajah nya, sedangkan Mischa sudah merintih kelaparan. Dia menelepon pihak hotel memesan sarapan untuk mereka berdua.


Sambil menunggu nonton dulu yuk. ajak Gavin.


Tidak seperti kemarin sore, Gavin sama sekali tidak ada memegang ponsel. Dia benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Mischa tanpa ada gangguan.


Kuya nggak ngecek kerjaan?" Mischa bertanya.


"Nanti saja."


Begitu Mischa duduk di sofa, Gavin pun segera berbaring dan meletakkan kepala di pangkuan sang istri dengan santainya. Dia kemudian mencari-cari film atau serial yang ingin ditonton.


"Kuya ini manja banget ya."


"Ya nggak papa dong, sama istri sendiri kalau sama istri tetangga baru gawat canda Gavin


Mischa tertawa. " Kuya ini belum punya anak, tapi jokesnya udah kayak bapak-bapak."


"Kan emang calon bapak-bapak


"Emang Kuya mau segera punya anak?" tanya Mischa penasaran


"Kamu pikir ngapain Kita gituan, sampai berkali-kali kalau bukan mau cepat punya anak?"


Wajah Mischa bersemu merah. Entah kenapa setiap membahas itu, dia masih merasa malu. Padahal saat sedang melakukannya terkadang dia bisa mendominasi juga.


"Kuya mau punya anak berapa?


Gavin tampak berpikir sejenak. Satu aja juga nggak masalah sih, kita berdua juga sama-sama anak tunggal. Tapi kalau mau lebih rame dua atau tiga juga boleh.


"Berarti nggak matokin ya?


"Nggak semana rezekinya aja."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2