Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 112. BERTEMU DENGAN AURORA _ YOU & ME


__ADS_3

Nyonya Aurora mendadak merasa panik.


"Kalau udah baca gimana?


gimana?


Nyonya Aurora bahkan sampai memekik seperti orang kesetanan. Hal ini benar-benar terjadi di luar dugaan.


"Tunggu! berarti yang aku lihat waktu resepsi Gavin kemarin memang dia, Aku nggak salah lihat. Astaga nyaris banget dia ketemu sama Gavin. Anakku, Gavin itu anakku!"


Nyonya Aurora kembali memekik. Dia merasa sangat takut jika Tuan Carlos Antonio atau Gavin Telah bertemu dengan kasih.


Takut sekali


****


Waktu bekerja telah selesai. Dan Kasih memilih untuk pulang. Dia sedang tak berminat untuk lembur meski masih banyak laporan yang harus diperiksa.


Artikel yang tadi memang sudah dihapus, tetapi tetap saja dia merasa ketar-ketir dan membuat suasana hati buruk sampai sekarang.


Kasih menuju parkiran dan berjalan mencari mobilnya. Dia bahkan sudah punya rencana ingin melakukan apa di rumah, rasanya penat sekali dia harus segera menenangkan dirinya.


Baru saja mobilnya berjalan beberapa meter saat sebuah mobil menghadang dan membuatnya harus mendadak. Kasih terkejut.


"Apa-apaan mobil di depan ini!"


Kasih melepas sabuk pengaman dengan setengah kesal, dan segera turun untuk mendengar alasan si pengemudi menghadang mobilnya.


Akan tetapi langkahnya justru terhenti saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut


"Aurora?"


****


Di tempat lain, Mischa dan teman-temannya sedang menikmati menu makanan di sebuah cafe yang lokasinya tidak jauh dari kantor ALC.


"Boleh makan sepuasnya ya, hari ini. Aku yang traktir."


Irma, Vika, Valen dan Andika terperangah lalu bersorak senang, sampai pelanggan restoran lain melirik kemeja mereka.


"Sshhh...."Mischa meletakkan jari di depan bibir, membuat semua rekan yang sekarang adalah bawahannya, langsung terdiam.


Mereka pun tertawa pelan. Karena kebodohan yang mereka perbuat.


"Norak nih, kayak nggak pernah ditraktir aja." ledek Andika semuanya kembali tertawa.


"Bukan norak sih, tapi senang aja karena biasanya kan kita traktir Mischa, Sekarang keadaan udah berbalik lho." respon Irma


"Iya senang banget lihat kamu sekarang Mischa cantik, stylish, banyak duit." Puji Vika.


Mischa tersenyum menanggapi.


"Terima kasih, Ate."


"Eh aku penasaran deh, Mischa kamu pakai kartu kredit warna apa?" tanya Vika.


Semua orang di meja pun ikut penasaran dengan pertanyaan Vika. Irma yang biasanya suka melarang pertanyaan yang aneh-aneh pun tak kuasa menahan rasa ingin tahu


Mischa mengeluarkan dompet dari tas, lalu menarik sebuah kartu dari sana


warna hitam


"Woahhhh!


Mereka kembali bersorak dan kali ini lebih riuh,Meraka sama sekali tak peduli melihat pelanggan lain yang kembali melirik meja mereka.


"Sudah Sudah Ate, Kuya, malu." ucap Mischa mencoba mendiamkan para bawahannya.

__ADS_1


"Enak banget Mischa punya black card juga." ucap Vika


"Jujur aku udah penasaran sama ini dari kemarin, kamu bakalan dapat warna silver apa gold. Beneran nggak nyangka warna hitam pekat. Hu....hu....hu sambung Valen.


"Ya Nggak mungkin lah bos membatasi kebutuhan konsumtif istrinya." Irma menanggapi.


"Justru itu, kayak penghinaan nggak sih kalau Mischa nggak dapat black card juga." respon Andika


"Iya dong, dari Masih pacaran aja Bos sudah sering ngasih Mischa pakai black card-nya nggak mungkin Setelah nikah nggak dikasih punya dia sendiri." sambung Irma.


Vika dan Vallen mengangguk-angguk paham.


Makanya Ate sama Kuya boleh makan apa saja, kalau perlu habis dari sini kita beli jajanan lain, aku yang bayar semua. Tinggal gesek." mischa menirukan gestur menggesek kartu membuat semua orang tertawa.


"Asli ya Mischa, kamu kerja nggak sampai setahun. Kalau orang biasa udah dianggap melanggar kontrak tuh." komentar Andika.


"Iya, tapi kan kontraknya berubah jadi seumur hidup." balas Valen


"Oh iya, juga ya." Andika tertawa menanggapi omongannya sendiri.


"Kalian udah pernah berantem belum Mischa? Bos galak nggak kalau lagi marah?" tanya Vika penasaran


lagi-lagi Irma tak bisa menahan rasa ingin tahu dan ikut mendengarkan dengan seksama.


Mischa menggeleng. Kuya Gavin belum pernah marah sekalipun. Malah selalu baik sama aku


"Sudahlah, udah bucin detected! seru Andika memberi cap pada Bosnya itu."


"Uhhh.... so sweet banget Mischa, aku dengarnya sampai gimana gitu." ucap Irma


"Semoga Ate sama Kuya Matteo bisa lanjut sampai ke pelaminan ya." doa Mischa


Irma tertawa. Amin


Selesai makan siang, sesuai janji mereka membeli jajanan, lalu kembali ke kantor. semuanya pun melanjutkan pekerjaan hingga sore menjelang.


****


Setidaknya itu pendapat Kasih tentang hari yang dijalaninya sekarang mengecek tumpukan laporan membaca artikel yang diterbitkan tanpa persetujuannya. Dan sekarang malah bertemu dengan mantan madunya.


"Aurora?


Sudah dua kali wanita itu memergoki kehadirannya. Namun, Kasih kali ini tak merasa gentar, karena hanya ada mereka berdua di sini.


"I...ini beneran kamu?" tanya Aurora terbata


Kasih menghela nafas. "Aku ini cuman balik ke Manila, bukan bangkit dari kematian. jangan kayak lihat hantu gitu dong."


"Tentu saja, karena aku udah menganggap kamu mati " pekik Aurora Bertahan


Kasih tak ingin ribut. Jujur saja, namun Aurora tampaknya tak berlaku seperti


"Aku balik ke Manila buat kerja. Kamu nggak usah kuatir."


"Gimana Nggak kuatir, kamu ini sekarang ada di kota yang sama dengan Kuya Carlos dan Gavin. Kamu bisa bertemu mereka kapan saja


"Gavin? tanya Kasih bingung


"Maksudku Gavin Antonio." ucap Nyonya Aurora membetulkan.


"Oh kamu punya panggilan khusus ya buat anakku?"


"Gavin itu anakku." bentak Nyonya Aurora. Aku yang ngurus dia dari kecil sendiri tanpa bantuan baby sister.


"Aurora kamu udah dapatin semua yang kamu mau, kan? Kuya Carlos, Gavin, masuk ke keluarga Antonio yang prestisius. Kenapa kamu masih terganggu dengan kehadiran orang yang cuman pengen menyambung hidup? tanya kasih tak paham


"Dari semua kota di Filipina, Kenapa harus kota Manila? kamu kan bisa bekerja di tempat lain." Aurora tak terima

__ADS_1


"Kasih mengusap wajah, sejak dulu berbicara baik-baik dengan Aurora adalah sesuatu yang mustahil.


"Aku nggak ada niat untuk merebut kembali semua yang kamu punya Aurora."


"Bohong! buktinya kemarin kamu datang ke resepsi Gavin, kan? kamu mau jumpai dia, terus bilang kalau kamu ibu kandungnya, kan? mengaku kamu."


"Aku datang cuman pengen lihat anakku nikah, titik. Aku nggak punya niat apapun lagi." jelas Kasih dengan sabar


Nyonya Aurora menggeleng-geleng, tak percaya. Nggak nggak mungkin kamu balik lagi setelah puluhan tahun. Pasti kamu menyusun rencana balas dendam kan?"


Kasih melongok. "Balas dendam?


"Sama kamu?


"Buat apa?


Karna merebut suami, sama anak kamu!" bentak Nyonya Aurora


"Oh, akhirnya kamu ngaku juga?"


Nyonya Aurora menutup mulut. Dia sampai kelepasan bicara karena dikuasai emosi.


Kasih tertawa ngakak. Bukannya kamu dulu selalu bilang kalau Kuya Carlos Antonio memang berjodoh sama kamu, dan Gavin adalah anugerah dalam hidup kamu?"


Nyonya Aurora masih terdiam.


"Pasti kadang-kadang kamu kepikiran juga kalau udah jadi pelakor, kan? ledek Kasih


"Diam... "lirih Aurora


"Bukan cuman pelakor, sih. Apa ya istilahnya untuk perebut anak orang?


Peranor?


Kasih tertawa terpingkal-pingkal dengan istilah yang dia buat sendiri. Membuat Nyonya Aurora bergidik ngeri seakan-akan melihat tawa seorang penyihir yang berniat menghancurkan keharmonisan keluarganya.


"Aduh ..."Kasih mengadu sambil memegang perut. Kamu ini lucu banget sih Aurora."


"Enggak lucu kasih, sama sekali nggak lucu." lirih Aurora.


"Aku nggak bisa biarin kamu merebut kembali apa yang sudah aku punya selama ini."


Kasih mengangguk. "Iya, aku paham kok. Kan udah aku bilang nggak punya niat macam-macam. Kita tetap jalani aja Hidup masing-masing kayak biasa."


Kasih berjalan kembali ke dalam mobil. Tetapi pertanyaan Aurora menghentikan langkahnya


"Kalau bertemu dengan Kuya Carlos, apa yang bakalan kamu lakukan?"


Tangan yang hampir menyentuh gagang pintu mobil tergantung di udara. Kasih tak langsung menjawab. Jujur dia sendiri pun belum memutuskan sikap jika bertemu dengan suami yang Bahkan tidak menceraikannya secara resmi itu.


Mereka hanya berpisah tidak pernah bercerai.


Kasih jadi paham akan kekhawatiran Aurora. Dia pun berbalik dan menemukan wajah terluka, seakan-akan dirinyalah orang jahat di dalam kisah ini.


"Kamu yang hidup lebih lama bersama Kuya Carlos. Harusnya kamu yang lebih tahu gimana sikap Kuya Carlos, Kalau bertemu sama aku. Gavin gak akan bisa mengenali aku, kamu nggak usah khawatir soal itu. Tapi soal Kuya Carlos, Aku sendiri nggak yakin." jelas Kasih.


Setetes air mata lolos dan mengalir di wajah cantik Nyonya Aurora. Dia benar-benar ketakutan dan Kasih menyadari hal itu. Namun, dia sedang tidak dalam posisi bisa menenangkan wanita itu. Mereka adalah musuh sejak dulu. Bahkan mungkin hingga sekarang.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK YANG LAIN.


__ADS_1


__ADS_2