
"Kamu ngapain bertemu dengan dia?" tanya Nyonya Aurora kepada Mischa.
"Mischa kemarin ikut lomba yang diadakan sama perusahaan yang dipimpin beliau ma. Mischa menang, terus beliau ngajak ketemuan." jelas Mischa
"Ketemuan untuk apa?" Nyonya Aurora masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh menantunya itu.
"Nggak ada sih, ma. cuman ngobrol aja." jawab Mischa jujur
"Beneran cuman ngobrol?"Desak Nyonya Aurora
Mischa mulai bingung. Tetapi tetap menjawab dengan anggukan.
"Mama kenal?" tanya Gavin
"Hah!"Nyonya Aurora merespon cepat kemudian tertawa dengan kikuk.
"Nggak kok enggak kenal."
"Kok kayak penasaran gitu?" lanjut Gavin
"Nggak kok, cuman basa-basi saja." dusta Aurora
Mischa dan Gavin saling tatap sejenak lalu melanjutkan makan.
"Mama sudah kenyang, mau ke kamar dulu, ya." pamit Nyonya Aurora.
Gavin menatap piring Ibunya, dan isinya hanya tersentuh sedikit matanya mengikuti langkah sang Ibu sampai menghilang di atas tangga. "Ada apa sebenarnya, apa Ibu sedang ada masalah?kenapa tidak cerita? Gavin selalu lupa ingin menanyakannya.
Nyonya Aurora menutup pintu kamar, dengan tangan gemetar.
"Kasih bohong! katanya nggak punya niat balas dendam. Buat apa ngajak Mischa ketemuan?"
Nyonya Aurora mulai bermonolog sendiri. Dia pun berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil menggigiti kukunya karena panik.
Aku nggak bisa ngelarang Mischa buat ketemu sama dia. Aku nggak punya alasan yang kuat jangan sampai Mischa nyebutin nama wanita itu di depan Kuya Carlos bisa gawat.
Nyonya Aurora kemudian duduk di sofa dan benaknya mulai berkelana ke masa lalu.
Flash back
sekita dua puluh sembilan tahun yang lalu, dirinya adalah seorang wanita yang hampir tak punya lagi semangat hidup. Pria yang paling dia cintai sejak masa kuliah. Telah menikah dengan berbahagia dengan wanita lain, tampaknya Carlos benar-benar sudah melupakannya, sebab saat sang ayah berpulang Carlos bahkan tak datang hanya untuk mengucapkan bela sungkawa.
Nyonya Aurora mengambil mangkok dan menuangkan serealia dan susu cair. aktivitasnya tak pernah berubah setiap pagi.
Tunggu! ini sudah tidak pagi, ini malah sudah jam sebelas siang. Dia akan selalu tidur pada pukul empat pagi, dan terbangun di siang hari. Benar-benar tidak produktif.
Aurora menyalakan televisi untuk menemaninya sarapan. Dia memang tak berniat untuk menontonnya hanya untuk menambahkan kebisingan saja.
Sebuah kecelakaan terjadi di antara truk dan mobil. Diketahui rem dari truk tersebut blong, sehingga tak terkendali dan menabrak ekor mobil yang sedang melintas di depannya. tiga korban dalam mobil mengalami luka-luka. sopir dan bayi di dalam mobil berhasil selamat tanpa luka berarti. Namun, Ibu dari bayi yang memiliki identitas Kasih istri dari Tuan Carlos Antonio, masih tidak sadarkan diri.
Nyonya Aurora mendongak matanya, membulat, ketika melihat foto kasih terpampang di televisi. Dia mendengarkan dengan seksama, sampai reporter berita menyebutkan Rumah Sakit. Tempat kasih dilarikan. Serialnya dia tinggal begitu saja, segera dia berganti baju dengan cepat lalu menuju rumah sakit.
Suasana di rumah sakit sudah gaduh, saat dia tiba. Dia pun mengikuti arah para perawat berlarian karena pasti mereka sedang merawat kasih.
Aurora kemudian bertemu dengan Carlos di depan ruang operasi.
"Kuya Carlos." panggilnya
__ADS_1
lutut Aurora mendadak lemas belum pernah dirinya melihat Carlos begitu menderita air mata tumpah ruah di wajah pria itu dia menangis tersedu-sedu
"Aurora."ucap Carlos
"Ayah dan ibu Carlos juga ada di sana, sang Ibu ikut menangis dan suaminya mencoba menenangkan.
"Bagaimana kejadiannya Kuya, Aku tadi lihat di berita." tanya Nyonya Aurora.
Mereka baru pulang dari rumah sakit, Kasih baru saja selesai bersalin. Kuya sibuk di kantor, Papa Mama juga. Jadinya Kasih sama Gavin pulang dijemput sopir, terus mereka ditabrak
Tangis Carlos kembali pecah. Hati Aurora berdenyut melihatnya.
"Kasih masih ditangani sang dokter." lanjut Carlos
"Terus anak kuya gimana?" tanya Aurora
"Anak Kuya nggak papa. Bahkan nggak ada luka. Sekarang lagi di ruangan bayi." jawab Carlos
"Ruangannya di mana Kuya?"
Carlos meminta pada salah satu perawat Untuk mengantarkan Aurora kepada Gavin. wanita itu pun mengekor dengan cemas, lalu saat pertama kali melihat bayi tampan itu, hatinya segera dipenuhi dengan rasa kasih sayang.
Aurora belum pernah menggendong bayi sebelumnya, namun dia merasa begitu cocok saat meraih bayi tersebut dan mendekatnya
"Gavin." gumamnya. Nama yang bagus
Nyaman dalam gendongan Aurora membuat wanita itu terharu.
"Tampan banget kamu Nak." bunyinya.
Dua jam kemudian, lampu berwarna merah di atas pintu ruang operasi dipadamkan. Semua orang berdiri menunggu dokter keluar menyampaikan informasi
"Bener dok." jawab Carlos
"kami berhasil menyelamatkan istri bapak. semua orang mengucap syukur dan merasa lega. Akan tetapi pernyataan dokter ternyata belum selesai.
"Untuk saat ini pak."
"Maksud dokter?" tanya Carlos tak paham
"Bu Kasih, mengalami benturan keras di kepala. Sepertinya dia berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan bayinya, sehingga menjadikan dirinya sebagai tameng. Tadinya sempat ada darah yang menggumpal di bagian kepala, tetapi sudah kami sedot. hanya saja kami tidak bisa memastikan kapan Bu Kasih akan sadar.
Carlos kembali terduduk. Ibu Carlos pun kembali menangis sesungguhkan.
"Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?"
"Kita lihat perkembangannya dulu ya Pak. semoga ada titik terang, dan Bu Kasih segera sadar. Saya permisi dulu." ucap dokter lalu bergegas pergi.
Aurora duduk di samping Carlos dan mencoba menenangkannya
"Yang sabar ya Kuya, Kuya harus kuat demi anak kuya."
Carlos pun mengangguk, hanya saja bagaimana dia bisa mengurus bayinya dalam keadaan seperti ini.
"Kuya harus segera cari baby sister, untuk merawat Gavin. " ucapnya cara yang menelan nafas
Setengah jam kemudian, kasih dipindahkan ke ruang ICU. Tidak ada keluarga yang boleh masuk untuk melihat kondisinya, akan dipantau selama 24 jam dan hanya dokter atau perawat yang boleh masuk.
__ADS_1
"Papa sama Mama pulang saja, biar Carlos yang nungguin di sini. Mama juga kayaknya perlu banget istirahat."ucap Carlos.
"Kamu yakin bisa sendirian Carlos?" tanya Tuan Antonio
Carlos mengangguk. Mudah-mudahan.
"Kalau ada apa-apa segera telepon papa ya."
Carlos mengangguk. Aurora masih berada di sana menemaninya
"Kamu juga pulang aja Aurora." Aurora menggeleng.
"Aku mau di sini Kuya, mau jaga anak kuya."
"Nggak perlu Aurora, ada perawat yang jaga Gavin kok."
Aurora sudah memikirkan ini sejak tadi, dia tahu itu adalah ide gila. Tetapi harus mencoba dulu untuk menyampaikannya.
"Kuya nggak usah cari baby sister, biar aku aja yang merawat Gavin."
Carlos tersentak. "Jangan Aurora, kamu itu nggak punya kewajiban untuk merawat Gavin. kamu datang ke sini aja udah merasa terbantu Kuya nggak mau ngerepotin kamu.
Aurora kembali menggeleng. Niat aku udah bulat Kuya, dan aku nggak merasa repot. Kuya fokus aja jagain Kasih, biar aku yang bantu rawat gavin.
Carlos tampak berpikir. Tetapi dalam keadaan seperti ini, dia sadar tidak punya banyak pilihan.
"Kamu yakin Aurora?" tanya Carlos mencari kepastian.
Aurora mengangguk mantap. "Aku yakin Kuya pokoknya Kuya nggak usah khawatir ya. kuya harus jaga kesehatan, dan tetap kuat supaya bisa jagain Kasih."
Carlos tak punya banyak pilihan selain menyetujui ide Aurora menjadi Ibu asuh bayinya.
Seperti Gavin memahami situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Bayi mungil itu menangis saat lapar saja, selama di rumah sakit. Aurora belajar sungguh-sungguh dari para perawat, Bagaimana cara memandikan bayi mengganti popok, bahkan membersihkan kotorannya.
Aurora belajar dengan cepat. Dalam dua pekan Gavin pun diizinkan untuk pulang, karena para perawat menganggapnya sudah mampu merawat bayi itu sendiri.
"Jadi kamu mau tinggal di rumah kamu?" tanya ibu Carlos
Sebenarnya Aurora juga bingung tante, mungkin Aurora bakal datang pagi-pagi, untuk mandiin Gavin. Terus merawat dia sampai tidur malam. Habis itu Aurora bakal pulang, Jadi harus ada yang jagain waktu malam." jelas Aurora.
Ibu Carlos mengalihkan pandangan suaminya. "Gimana Kuya, kasihan juga Gavin kalau malam nangis minta susu.'
lebih kasihan, karena sang bayi tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif. Sebab ibunya masih terbaring di rumah sakit.
"Tapi apa Mama kamu bakalan setuju, kamu merawat Gavin?" tanya ibu Carlos .
Aurora tidak langsung menjawab. sejujurnya Sejak hari pertama dirinya merawat Gavin, Ibunya sudah mati-matian tidak setuju. Akan tetapi dia tetap teguh pada pendiriannya.
"Aurora rasa Gavin jauh lebih penting daripada itu om."
"Kalau gitu kamu tinggal aja di rumah kami. pergi pulang tiap hari, pasti capek juga. Kalau tinggal di rumah kami, kan kamu bisa istirahat pas Gavin lagi tidur." usul Ibu Carlos.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN