Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 129. DI HINA _ YOU & ME


__ADS_3

Gavin kembali ngebut karena sudah pukul sepuluh lewat. Setelah ia berhasil mendapatkan sate madura. Untungnya jalanan sudah mulai sepi. Begitu tiba di rumah, dia melemparkan kunci pada satpam untuk memarkirkan motornya ke garasi dan dia pun berlari-lari masuk ke rumah dan mendaki tangga.


"Ini sayang, Kuya sudah beliin."ucapkan dengan terengah-engah.


Namun, ternyata mischa sudah tidur.


"sayang,"Panggil Gavin.


Mischa tak menyahut, dia benar-benar Sudah terlelap. Gavin membanting tubuh ke sofa dan menghembuskan nafas panjang. rasanya lelah sekali, tapi Mischa malah sudah tidur. dia pun tertawa Pelan, kemudian keluar untuk memasukkan sate madura ke dalam kulkas.


"Besok masih bisa dimakan nanti asisten rumah tangga memanaskannya."gumam Gavin dalam hati.


Keesokan paginya, Mischa bangun lebih siang dari biasanya. Gavin bahkan sudah selesai berpakaian saat wanita itu bangkit ke posisi duduk.


"Loh, sudah mau pergi, Kuya?"


"Iya, sayang. Kamu tidurnya pules banget. jadinya aku ya nggak tega mau bangunin."


Gavin kemudian mendekat dan menaruh meja kecil berisi makanan ke hadapan Mischa.


"Ini sarapan kamu. Terus, ada sate madura pesanan kamu semalam. kan, nggak jadi kamu makan karena ketiduran."


Mischa menatap sate madura tersebut dan tiba-tiba saja perutnya bergejolak. Dengan cepat dia turun dari ranjang menuju kamar mandi.


"Hoekkkk....!


Gavin menghela nafas.


"Padahal semalam kamu yang pengen loh, sayang."


Gavin pun berjalan ke kamar mandi untuk mengecek keadaan istrinya. Mischa merasa bersalah, Tetapi dia memang tak bisa melihat sate itu. Dia sampai harus menutup mulut saat Gavin mencoba menawarinya lagi.


"Beneran nggak pengen lagi ya? tanya Gavin


Mischa mengangguk tanpa membuka mulut.


"Ya sudah, tidak apa-apa."


Gavin pun menyingkirkan sate dan menyisakan nasi putih lengkap dengan lauk pauknya.


"Makan nasi, dan lauk ini aja ya."


Trimester awal Memang agak berat. bukan hanya kata orang-orang, tetapi juga dari artikel yang Gavin baca. Meski begitu, dia berusaha jadi suami siaga saat Mischa maupun ngidam tak kenal waktu.


"Manja banget sih istri kamu itu." ngeledek Nyonya Aurora.

__ADS_1


"Ya, namanya juga lagi hamil muda, Ma."Bela Gavin.


"Nggak segitunya juga kali! kamu sudah beliin makanan yang dia mau, tapi nggak semuanya jadi dia makan."


Gavin hanya diam, tak ingin melawan sang ibu.


"Hamil, kok dijadiin alasan untuk nggak produktif. Seharian di rumah mulu. istri seorang pimpinan kayak kamu itu harus aktif di pergaulan, menambah relasi. Bukan diam di rumah aja kayak orang nggak punya teman. Eh, jangan-jangan dia memang nggak punya teman? tapi iya juga. mana punya dia relasi dari kalangan atas."cacar Nyonya Aurora.


"Makanya, Mama dong yang bawa dia ketemu orang-orang. Mama yang kenalin, selebihnya Miska bisa usaha sendiri bangun relasi dengan mereka."usul Gavin.


"Ya, sudah. Mulai besok dia harus ikut sama mama."Nyonya Aurora menyetujui ide dari Gavin.


Gavin pun menyampaikan hal itu pada istrinya. Mischa memang tidak lemas, dia hanya mual saja dalam beberapa kesempatan. Maka dari itu, esoknya dia mengikuti arahan dari Gavin untuk pergi bersosialisasi dengan ibu mertuanya.


"Kita berangkat bareng ma?" tanya Mischa.


"Nggak usah ya. Naik mobil masing-masing saja."tolak Nyonya Aurora.


Mischa hanya bisa menghela nafas. meski sudah biasa menyetir, Gavin tak mengijinkan bisa berkendaraan sendirian selama hamil. seorang sopir pun mengantarnya dengan mobil yang berbeda dari Nyonya Aurora yang menyetir sendiri.


Sesampainya di tempat, Nyonya Aurora tidak mengatakan apapun. Tidak mengajak, juga tidak bilang harus apa. Mischa pun berinisiatif sendiri untuk mengekori sang ibu mertua.


"Hai, Jeng!"


Beberapa sosialita memenuhi sebuah ruangan dan saling bertukar sapa ketika Nyonya Aurora hadir.


Mischa tersenyum lalu ikut Duduk.


perkumpulan itu terdiri dari beberapa orang dari berbagai usia. Mischa bisa tebak, wanita-wanita seusia Aurora adalah istri-istri dari pimpinan perusahaan, pejabat, maupun orang penting di dalam negeri. wanita atau gadis yang lebih muda adalah anak atau kerabat mereka.


Mischa tak terkejut ketika melihat Larissa juga hadir di sana. Dia sudah menduga sejak awal mengingat Ibu mertuanya sangat dekat dengan wanita itu.


"Jadi gimana jeng, suaminya? masih dekat sama perempuan itu?" tanya seseorang.


Mischa sama sekali tak tahu nama-nama mereka karena tidak ada yang memperkenalkan diri padanya. Padahal di awal tadi dia sudah menyebutkan siapa namanya, tetapi mereka hanya acuh saja.


"Kayaknya sih, si cewek udah nyerah. Soalnya kan, habis berkali-kali dilabrak


"Duh, senang banget ya, ngerusak rumah tangga orang gitu."


"Yang paling kesal nama wanita itu sama kayak nama anakku, Jeng!


"Riska, Jeng!"


Deg

__ADS_1


Ternyata, istri dari pria yang menjadikan temannya sebagai simpanan juga ada dalam perkumpulan ini.


"Iyuh .... orang dari kampung aja namanya sok-sokan kota ya, Jeng!"


"Ya, itu ngeselin banget, kan? emang orang-orang dari kampung tuh, suka nggak tahu diri. Mereka merantau untuk nyari pria kaya biar bisa hidup enak. mana pernah mereka hidup sejahtera di kampung sana. orang kampung itu walaupun derajatnya udah diangkat, tetap aja nggak cocok sama kita-kita yang lahir udah kaya."


Mischa merasa tersindir. apalagi semua orang di perkumpulan tersebut mengamini ucapan wanita barusan.


"Walaupun sudah pakai baju bagus dan tas mahal tetap aja kayak Upik abu kan, Tante?"sahut Larissa


"Iya, bener itu Larissa. mau didandanin kayak gimanapun tetap nggak bisa sama tampilannya dengan yang elegan dari sananya."


Nyonya Aurora ikut tertawa. dia bahkan tidak membela menantunya sama sekali. Mischa kemari bukan untuk jadi bahan hinaan, tetapi sepertinya memang itu yang sedang mereka lakukan.


"Eh, diminum tehnya. Jangan didiamkan aja."


seseorang menawari misca untuk minum teh yang disajikan di depannya.


"Iya, tante," jawab Mischa. dia pun mengambil cangkir teh tersebut dan meminum isinya.


"Ya, setidaknya ada juga yang tahu cara minum teh yang benar."


Ledekan tawak menyambut ucapan tersebut, membuat naskah sempat terkejut Dan hampir saja menjatuhkan cangkir dari tangannya.


"Eh, gimana kalau kita main golf?" usul Nyonya Aurora.


"Wah, ide bagus itu, kita tentukan saja waktunya."


Mischa bingung. Dia belum pernah bermain golf dan tidak tahu caranya. Namun, kalau dia tidak ikut dia tidak akan bisa menjalin relasi dengan orang-orang ini.


Mischa pun menyampaikan hal itu pada suaminya. Akan tetapi dia tidak menceritakan perihal hinaan dan sindiran yang tampaknya ditunjukkan untuknya.


"Kamu datang saja, tapi nggak usah ikut."saran Gavin


"Ya sudah kuya. nanti aku bilang gitu ke mereka."


"Tapi, kamu belum punya baju buat main golf ya. Walaupun gak main gak mungkin juga Kamu pakai baju beda sendiri."


Mischa merasa, menjadi orang kaya terlalu ribet. ada banyak sekali hal yang perlu diperhatikan secara detail. mulai dari memilih olahraga yang tepat, pakaian yang akan dikenakan, perkumpulan yang harus didatangi dan lain-lain.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN



__ADS_2