
Aurora seakan-akan melihat hantu meski hanya sekelebat, Tetapi dia percaya dengan apa yang ia lihat. Kedua kakinya dipaksa berjalan untuk mengejar sosok wanita itu. Dia harus memastikannya lagi.
Harus!
"Ma."
Nyonya Aurora berhenti melangkah. Di depannya ada Mischa yang menatapnya dengan heran.
"Mama mau ke mana?
"Apa dia salah lihat?"Apa mungkin, yang dia lihat tadi adalah Mischa bukan wanita itu?"
"Mischa...."lirih Nyonya Aurora
"Ya, Ma?"
Nyonya Aurora menggeleng pelan. "Oh enggak. Mama nggak mau ke mana-mana kok."
Mischa memandangi Ibu mertuanya yang tampak seperti orang linglung.
Mama nggak enak badan? mau istirahat sebentar, ngak? tawar Mischa soalnya Mischa baru nganterin Ibu ke lift, katanya mau istirahat sebentar di kamar.
"Huh?"Aurora merespon dengan kikuk. "Nggak bisa, Mama harus menyambut keluarga yang datang. Mama nggak bisa istirahat."
"Sebentar saja ma, nanti balik lagi."
Nyonya Aurora menggeleng kemudian tersenyum. "Mama nggak apa-apa kok beneran. Kamu balik segera ya nanti dicariin sama kamu yang mau salaman.
Mischa pun ikut tersenyum. "Iya Ma."
Aurora memegangi dadanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Dia pun melihat sekeliling mencoba mencari eksistensi seorang yang tak terduga muncul di pesta itu.
"Nihil
Jang Aurora !"
Nyonya Aurora mengalihkan pandangan pada nyonya Riana dan yang lain
"Oh udah pada datang?" ucapnya.
Larissa pun tampak hadir bersama Nyonya Riana, dan rekan-rekan seperkumpulan mereka. Wajahnya terlihat lesu. Aurora paham Kenapa wanita muda tersebut bisa tampak seperti itu.
"Hai Larissa...., gaun kamu cantik banget." Puji Nyonya Aurora
Larissa tersenyum. "Terima kasih Tante."
Dia memakai gaun yang dijahit oleh Herman. gaun yang gagal diambil berkali-kali.
"Ayo ayo makan dulu." ajak Nyonya Aurora.
__ADS_1
para wanita bergaya sosialita tetapi itu pun, mengikuti nyonya Aurora dan setelah memilih beberapa makanan Nyonya Aurora mengantarkan mereka ke sebuah meja kosong.
"Jeng, nggak bisa nemanin lama-lama, Harus sambil keliling menyambut yang lain." ucap Nyonya Aurora
"Iya tenang saja Jeng, Kita paham kok." sahut Nyonya Riana
"Ya udah, silakan menikmati hidangannya ya."
Nyonya Aurora beranjak untuk menghampiri tamu tamu yang lain. Tuan Carlos Antonio pun melakukan hal yang sama. Dia tampak duduk berbincang dengan kerabat jauh dan menyempatkan diri untuk hadir.
"Sudah Larissa, jangan dilihatin sampai segitunya. Kamu itu cantik, Kevin dan yang lainnya saja tergila-gila kepada kamu. Kamu pasti bisa dapatkan yang kayak Gavin." ucap nyonya Riana menyemangati.
"Atau yang lebih dari Gavin." sambung yang lainnya
"Iya Larissa, Kamu ini kan masih muda. Masih besar peluang untuk dapatkan laki-laki yang sesuai yang kamu inginkan." lanjutnya nyari anak.
"Jadi nggak usah jalanin rencana tante Riana? tanya Larissa
Nyonya Riana dan yang lain saling bertukar pandang.
"Ya Itu tergantung Jeng Aurora juga sih." Jawab Nyonya Riana.
Marisa mendengus pelan. Memang tidak ada yang bisa memahami perasaannya untuk datang ke sini saja, butuh niat yang besar. Tidak mudah menyaksikan pria yang dia cintai bersanding dengan wanita lain. Apalagi rencananya untuk mampir lebih cantik dari sang mempelai wanita, telah gagal total. Dia benar-benar iri melihat gaun yang dipakai oleh Mischa. Bahkan lebih bagus dari yang dijahit oleh Herman.
"Suasana pesta cukup lama meski tamu yang hadir tidak sebanyak di sesi pertama. Meski begitu, Gavin dan Mischa hampir tak pernah bisa duduk. Mereka terus berdiri karena banyak tamu yang menghampiri untuk menyampaikan doa Restu. Sebagian juga memberikan bingkisan langsung kepada mereka mungkin supaya lebih diingat.
"Capek nggak?" tanya Gavin
Gavin tersenyum memandangi sang istri. Dia pasti senang karena ada banyak orang yang mendoakan kebahagiaan mereka di sini. Tidak seperti orang-orang di kampungnya
Mendekati pukul lima sore, para tamu pun mulai pulang. Gavin dan Mischa Akhirnya bisa duduk santai. Mereka kemudian beranjak turun untuk menikmati hidangan yang masih ada beberapa anggota wedding organizer mempersilahkan mereka untuk duduk saja. Dan biarkan mereka mengantarkan makanan.
"Padahal aku pengen keliling." ucap Mischa
"Ini kamu yang nikah loh, kalau orang lain yang nikah baru bisa seraya tertawa. Dia kemudian menepuk pelan kepala sang istri.
Mischa..
Mischa mendongak dan mendapati Mischa di dekat meja yang mereka duduki.
Mischa?"
Mischa segera bangkit dan berhamburan memeluk Mischa.
"Wanita itu pun membalas dan mengucapkan Selamat ya, semoga bahagia."
"Terima kasih Ris, Terima kasih banget udah datang." keduanya pun berbincang saat sambil makan.
"Aku bisa kerja nggak ya di kantor suami kamu? tanya Riska
__ADS_1
"Kamu butuh kerjaan Ris?"Mischa bertanya balik
Riska mengangguk. "Sebenarnya aku bukan bekerja begituan Mischa.
Mischa mendengarkan dengan serius.
"Terus?"
Riska menghela nafas. "Aku kerja kantoran kayak biasa, terus CEO nya naksir aku. Tapi dia punya istri dan anak-anak yang umurnya bahkan lebih tua dari aku. Aku jadi simpanan dia Mischa
Mischa terperanjat. "Sampai sekarang?"
Riska mengangguk. "Aku sudah ketergantungan sama dia Mischa. Dia bisa kasih aku uang yang banyak banget. Berapapun yang aku minta, pasti dia kasih. Tapi, ya kamu tahu kan aku harus ngapain
Riska mengangguk sedih. Dia memang berasal dari kampung. Tetapi dia mengerti apa maksud Riska.
Aku mau berhenti jadi simpanan dia. Tapi aku butuh kerjaan baru supaya bisa lepas dari beliau.
"Okey Ris, Nanti aku bilang ke Kuya Gavin ya. supaya dia bisa cariin posisi yang cocok sama ijazah kamu." janji Mischa
Riska tersenyum. Kamu selalu jadi orang baik yang Mischa nggak peduli, kamu udah jadi istri dari orang kaya. Tapi kamu tetap nggak berubah.
"Jangan khawatir, sampai kapanpun aku bakalan jadi anak kampung. Aku nggak akan pernah berubah. Mischa lagi-lagi berjanji.
"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya, beliau nungguin aku di parkiran. Aku janji nggak akan lama soalnya." pamit Riska.
Mischa terlihat sedih. Ternyata untuk datang ke sini pun Riska harus diantar oleh pria itu.
Bu Mischa
Mischa berbalik dan Seorang anggota wedding organizer tersenyum padanya.
"Ada keluarga yang minta foto bareng bisa balik ke pelaminan sebentar?"pintanya
"Oh iya bisa."
Gavin telah menunggunya dan dengan bergandengan tangan. Keduanya kembali ke pelaminan.
"Ini namanya on duty,"janda Gavin.
Mischa tertawa memang sudah sejak tadi banyak sekali tamu yang ingin foto bersama.
Seorang wanita yang sejak tadi bersembunyi di salah satu kamar hotel kembali muncul. Padahal dia sudah mengenakan. Tetapi tampaknya Aurora masih bisa mengenalinya tadi. Itu artinya Tamu yang lain pun bisa saja mengenalinya juga. Dia harus tetap berhati-hati meski sudah banyak yang pergi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN.