Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 90. DI KIRA PSK_ YOU & ME


__ADS_3

Gavin tertawa ngakak. "Kamu ini kayaknya alergi banget sama orang kaya. Ternyata malah jadi orang kaya.


"Iya juga ya, Mischa mengiyakan.


Hening sesaat sebelum Gavin kembali membuka suara.


"Pasti nggak mudah bagi kamu untuk beradaptasi, kan?"


"Aku pernah dengar, orang bilang dari miskin jadi kaya itu mudah. Tapi dari kaya jadi miskin itu yang sulit. Ternyata keduanya sama-sama susahnya."


"Yang mudah jadi orang kaya itu duitnya, lebih banyak saja.


"Iya benar, aku lihat mama cuman di rumah saja. Tapi pakaiannya kayak mau pergi ke mall. Di rumah sehari-hari, aku cuman pakai baju biasa. Kadang cuman pakai daster, nah sekarang udah nggak bisa gitu lagi. Aku harus selalu pakai baju bagus di rumah. jelas Mischa.


"Setahu Kuya, Mama emang nggak pernah pakai daster. Dia selalu takut ada yang nyebut dirinya jelek. Dia takut banget kalau Papa selingkuh." ucap Gavin


"Bukannya semua wanita juga takut suaminya selingkuh Kuya?" tanya Mischa heran.


"Iya, tapi Mama agak beda. Kadang kuya rasa ketakutannya itu berlebihan. Sampai sekarang setiap papa kerja, mama bakalan video call setiap 2 jam sekali. Kecuali waktu rapat. Selesai rapat, Papa harus video call mama. sekretaris papa itu pernah hampir dipecat tanpa alasan, bahkan Mama berkali-kali minta sekretaris Papa diganti sama laki-laki


"Segitunya Kuya?" Mischa terperangah tak percaya


"Iya, makanya aneh kan? padahal Papa tuh nggak pernah macam-macam sama sekali. Papa selalu setia sama mama. Tiap Papa pergi dinas ke luar kota, atau ke luar negeri Mama harus ikut. Padahal istri rekan-rekan Papa banyak yang memilih tinggal untuk jaga anak atau berkegiatan sendiri. Setiap habis meeting, Papa harus langsung balik ke hotel nggak boleh duduk ngopi lagi baring rekan-rekannya." lanjut Gavin.


"Terus, Papa nggak pernah ngerasa risih atau apa gitu?" Mischa ingin tahu.


Gavin mengedipkan bahu. "Papa selalu diam saja, mau mama posisi apapun, Papa nggak pernah protes. Walaupun diledekin sama teman-temannya, papa juga diam aja. Kuya sendiri juga nggak ngerti.


Mischa tak ingin menerka-nerka. Akan tetapi mendadak dia ingin menarik benang merah dan mencari korelasi antara foto masa kecil Gavin dengan sikap posesif Nyonya Aurora terhadap Tuan Carlos Antonio. Pasti ada sesuatu. Dan dia yakin akan hal itu. Namun, apa Mischa masih bertanya dalam dirinya sendiri.


"Kuya kok udah lapar, ya?"


lamunan Mischa buyar saat Gavin bangkit dan berniat untuk kembali ke kamar


"Kita makan di sini saja, atau cari makan di luar Ya?" tanyanya sambil berjalan.


Mischa mengakori suaminya. Dia tidak mengikuti pembicaraan Gavin yang membahas tentang makanan. Dia ingin mencari tahu masa lalu dari keluarga Tuan Carlos Antonio yang begitu mengganjal menurutnya.


"Besok aja kita jalan-jalan, sambil beli oleh-oleh ya. Malam ini makan di restoran hotel aja." ucap Gavin seraya menyemprotkan parfum


"Ok, Kuya."

__ADS_1


Gavin dan Mischa berpakaian santai mengunjungi salah satu restoran di dalam hotel yang menyediakan fasilitas outdoor. langit sedang cerah dan tidak ada tanda-tanda akan hujan. Mereka pun memilih duduk di kursi jejer dengan pemandangan yang menghadap ke gedung-gedung di depan sana.


"Banyak banget." tanya Mischa setelah pramusaji mencatat seluruh pesanan.


"Kamu lapar ya, nggak pakai banget. iya? kayaknya cowok sama cewek beda Kuya. habis gituan, jadi lapar banget. Terus biar kuat juga buat nanti malam." Gavin menggoda Mischa dengan menaik turunkan alisnya.


Mischa tertawa. "Cowok sedingin apapun bisa jadi gini juga ya."


"Ya bisa dong, Kan Kuya normal."


Mereka pun bercanda. Beberapa saat sampai tiba-tiba Gavin merasakan sesuatu.


"Kuya kayaknya harus BAB nih, Kamu nggak apa-apa sendirian dulu di sini?" tanya Gavin.


Mischa mengangguk. "Nggak apa-apa, kok Kuya, merantau sendirian ke manila Aku berani. Apalagi di sini daerah asal aku.


"Oh iya, juga ya. Gavin kemudian tertawa. "Ya udah, nanti kalau makannya datang Sebelum kuya balik kamu makan duluan aja ya.


"Okey Kuya. Mischa mengiyakan.


Begitu Gavin pergi, Mischa hanya sendirian saja di sana. Pelanggan lain memilih untuk duduk di meja. Yang berhadap-hadapan, Tak lama kemudian seseorang duduk di sampingnya. Dia mengira bahwa itu adalah Gavin sehingga tersenyum padanya.


"Sendirian aja, nih?"


"Mischa mengerutkan kening, berusaha mengingat siapa pria yang berbicara padanya itu. Namun, dia tetap merasa tidak mengenal pria tersebut


"Siapa ya?" tanya Mischa heran


"Wow! pria itu tertawa "Agresif banget langsung nanya nama."


Mischa semakin heran. "Agresif apanya?"


"Berapa?" Tanya pria itu


Mischa semakin tidak paham apa maksudnya.


"Apanya yang berapa? ya ampun dia benar-benar bingung


"Maaf ya, Anda ini siapa kita kenal?" tanya Mischa masih berusaha untuk sopan.


"Loh kan nggak perlu saling kenal kalau cuman buat one night stand."

__ADS_1


Mata Mischa membulat. "Apa-apaan ini?"


"Maaf saya sedang menunggu suami saya." Mischa berusaha mengusir pria itu dengan halus


"Suami? pria itu tertawa lepas. PSK zaman sekarang suka halu ya, biasanya open BO aja sok-sok punya suami."


"Tolong jaga bicara Anda ya, saya bukan perempuan seperti itu!" tegas Mischa


"lah jadi kamu ngapain duduk sendirian di sini, kalau bukan untuk cari Mangsa?"


"Saya ke sini dengan suami saya, dan kami berhak duduk di mana saja selama membayar makanan." jelas Mischa.


Pria itu manggaruk tengkuk yang tak gatal. "Udah gini aja, kayaknya Kamu ngerasa aku nggak sanggup bayar. Makanya jual mahal begini. Sebutin aja berapa, kan bisa nego dulu."


Mischa menunjukkan jari manisnya ke hadapan pria tersebut. "Ini cincin nikah Saya! masih belum percaya saya punya suami?"


Pria itu melihat dengan seksama. "Ah cincin begini yang palsu dan murah juga banyak. emang benar tukang halu ini PSK paling tarifnya juga dua ratus peso semalam. Tapi tingkahnya selangit.


Mischa malah ribut dengan orang yang tidak dia kenal lebih baik. Dia pindah saja ke tempat yang lebih ramai. Dia pun turun dari kursi dan berniat pergi.Tetapi dengannya segera ditahan oleh pria itu.


"Lepas nggak!" Mischa berusaha melepaskan diri dari cengkraman si pria asing.


"Aku selalu dapatin apa yang aku mau. Aku mau one night stand sama kamu malam ini, terserah kamu itu PSK apa bukan." pria itu memaksa


"Oh orang ini dari Manila ternyata. Berani banget dia nyari ribut di kampung orang." pikir Mischa


"Aku nggak selera sama kamu, cari yang lain saja." lawan Mischa.


cengkraman pria itu semakin kuat. Mischa yang merasa terdesak harus melakukan sesuatu saat pria itu ingin menariknya Mischa melayangkan tendangan ke bagian ************ sang pria.


"Aduh...!


pria tersebut memetik, menarik atensi pelanggan lain. Dan para karyawan restoran Mereka pun beramai-ramai menghampiri untuk mencari tahu ada kegaduhan apa.


"Dasar perempuan murahan, tinggal bilang berapa sok jual mahal." teriak pria itu membuat mata semua orang sudah tertuju pada Mischa.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2