
"Kuya Carlos?
Kasih baru saja ingin menolak. Tapi kasir sudah menggesek kartu tersebut.
"Terima kasih Pak, Bu, Selamat berbelanja kembali." ucapnya.
Kasih hanya bisa diam dan menerima. Dia pun mendorong mengikuti Tuan Carlos Antonio.
"Terima kasih Kuya, udah dibayari." ucap kasih.
Tuan Carlos Antonio menoleh ke belakang. "Kenapa mengucapkan terima kasih? Kamu kan punya hak untuk itu."
Kasih kembali diam. Hal ini terjadi di luar dugaan. Biasanya dia selalu berbelanja kebutuhan rumah, melalui aplikasi belanja daring. Namun, kali ini dia ingin pergi ke swalayan untuk melepas penat dari pekerjaan kantor yang menggunung.
Ternyata dia malah bertemu dengan Carlos Antonio di sini.
"Kuya lagi apa di sini?" Kasih celingukan mencari seseorang. Nganterin Aurora belanja ya?
Carlos Antonio menggeleng." Aurora nggak pernah belanja keperluan rumah tangga. Semua asisten rumah tangga yang belanja.
"Terus ngapain dong di sini?" tanya Kasih yang entah kenapa benar-benar ingin tahu
"Swalayan ini sebentar lagi akan diakuisisi NINE MEDIA COPERATION GROUP. Mereka udah nggak mampu membiayai keperluan operasional dan bayar gaji karyawan. Kuya ke sini untuk ngecek kondisi gedung dan laporan keuangannya. jelas Tuan Carlos Antonio.
"Tapi kenapa harus Kuya yang turun tangan langsung? kan bisa orang lain."
"Mungkin karena kita memang ditakdirkan bertemu." jawab Tuan Carlos Antonio santai.
Kasih sadar, seharusnya tidak usah terlalu banyak bertanya. Hal itu malah menjadi blunder bagi dirinya.
"Kuya bukannya nggak percaya sama bawahan, tapi dari dulu Memang udah kebiasaan ikut turun tangan ke lapangan. kuya nggak suka jadi bos yang cuman goyang-goyang kaki aja di kantor.
Kasih percaya itu. Sejak kuliah, dulu pun karena selalu bisa diandalkan meski dirinya tak selalu menjadi ketua pelaksana. Kegiatan Carlos adalah senior terfavorit nya saat itu.
"Kamu mau langsung balik ke kantor atau masih ada waktu?" tanya tuan Carlos Antonio menghentikan langkah Kasih.
"Niat aku mau sekalian makan siang kuya,
"Mau makan siang bareng? tanya Tuan Carlos Antonio.
Di satu sisi, kasih ingin sekali menolak dan langsung saja memesan makan dan di makan di kantor seperti biasa. Akan tetapi di sisi lain dia juga merindukan saat makan berdua bersama Carlos.
__ADS_1
"Nggak usah takut digosipin. Kalau kita makan bareng di jam makan siang begini, orang-orang pasti mengira kita relasi bisnis, Tenang saja." ucap Tuan Carlos Antonio
"Boleh Kuya." Kasih akhirnya setuju setelah berpikir cepat
"Sini Kuya bantuin bawain."
Kasih tak menolak saat Carlos mengambil alih troli dan mendorongnya menuju parkiran. wanita itu menurut saja tanpa banyak bicara.
"Kuya lagi lihat-lihat kerjaan kasir. Pas nggak sengaja melihat kamu tadi. Kamu teleponan Sama siapa sampai senyum-senyum begitu?" tanya Carlos yang baru memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil Kasih.
Entah perasaan Kasih saja, atau memang ada nada cemburu dalam pertanyaan Carlos.
"Teleponan sama Mischa Kuya." jawab Kasih jujur
"Ooh."
Kali ini terdengar nada lega dalam suara Tuan Carlos Antonio.
"Kamu kayaknya sering teleponan sama Mischa ya, Tapi kok nggak pernah angkat telepon dari kuya?"
Kasih mati kutu. Dia sama sekali tak bisa menjawab. Pasti sudah terlihat jelas kalau dia memang menghindari Tuan Carlos Antonio.
Nggak apa-apa Kuya, Aku cuman nggak tahu aja kita harus berbicara apa."
"Maksud kuya, walaupun kita nggak bisa balik kayak dulu lagi, setidaknya kita bisa jadi teman. Apalagi kamu dekat sama Mischa Kan, kamu juga bisa sering bertemu sama Gavin tanpa rasa canggung." Tuan Carlos Antonio kembali membuka suara setelah mereka memesan makanan.
"Iya Kuya, Aku paham, aku cuman butuh waktu karena dia puluh delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar, seperempat abad lebih.
Tuan Carlos Antonio mengangguk. "Iya Kasih, Kuya bakalan kasih kamu waktu sebanyak yang kamu perlu."
Keduanya kembali diam, saat pramusaji datang, menunggu sampai minuman mereka dihidangkan.
"Oh ya, Apa efek kecelakaan masih ada, atau kamu udah pulih total? tanya Tuan Carlos Antonio khawatir.
Kasih tersenyum. "Syukurnya Aku benar-benar pulih Kuya, tempat terapi itu memang bagus. Jadi nggak enak juga aku tiba-tiba kabur begitu."
"Kamu masih belum mau kasih tahu alasannya?" tanya Tuan Carlos Antonio penuh harap. Kasih tahu maksud dari pertanyaan Tuan Carlos Antonio. Namun dia sudah menganggap itu semua sebagai masa lalu. Dan Tak ingin mengungkitnya lagi. Entahlah kalau nanti setelah hatinya sudah terbuka kembali.
"Kita sudah punya kehidupan masing-masing Kuya. Aku bisa dekat sama Gavin dan Mischa aja sudah senang, walaupun mereka nggak tahu siapa aku sebenarnya. Aku masih belum berani berhadapan sama Gavin kalau dia tahu aku adalah mamanya."
"Iya, kamu benar. Kita butuh waktu untuk bisa kasih tahu Gavin yang sebenarnya. Apalagi dia sedang menunggu kelahiran anak pertama. Mungkin setelah cucu kita lahir, Kita bisa mulai cerita sama Gavin." usul Tuan Carlos Antonio.
__ADS_1
Kasih mengangguk setuju." boleh kuya, biar dia fokus dulu sama kehamilan Mischa.
Setelah itu, mereka membahas mengenai pekerjaan. Saat makan Kasih menceritakan pengalamannya saat masih berada di luar negeri.
"Oh ya, Papa sama Mama udah tahu nggak aku ada di Manila Kuya?
Tuan Carlos Antonio menggeleng. "Kayaknya belum. Waktu ulang tahun perusahaan, Mereka berdiri agak jauh dari kita. Jadi kayaknya mereka nggak tahu, kalau kamu datang kalau mereka tahu pasti mereka udah nanyain Kuya.
Kasih mendesah lega. "Baguslah Kuya, jangan kasih tahu dulu ya, Aku juga belum berani bertemu dengan Papa dan Mama.
"Iya Kasih, kamu tenang saja. Kuya gak akan maksa kamu kok, take your time.
Keduanya selesai makan dan harus kembali ke pekerjaan masing-masing.
"Terima kasih ya, Kuya untuk belanjaan dan makan siangnya." ucap Kasih
"Jangan bilang terima kasih dong, Kuya Memang harus ngelakuin ini sebagai seorang suami.
Kasih hanya bisa tersenyum. Rasanya memang aneh sekali. Setelah sekian lama menanggung jawab diri sendiri, rasanya canggung mengalami hal seperti ini.
"Aku balik dulu ya kuya, selamat kembali bekerja."
Tuan Carlos Antonio mengangguk. "Kamu juga, ya."
Kasih beranjak meninggalkan Tuan Carlos Antonio, yang masih setia memandanginya sampai benar-benar keluar dari swalayan.
Menaklukkan Kasih memang tidak pernah mudah. Kini Tuan Carlos Antonio harus mengulangi lagi dari awal untuk mendobrak pintu dengan ratusan gembok di hati wanita itu.
"Eh hujan." gumam kasih dalam perjalanan kembali ke kantor
Dia kemudian ingat saat pertama kali Tuan Carlos Antonio menyatakan cinta padanya dulu. Waktu itu juga hujan seperti ini
Tuan Carlos Antonio datang ke panti asuhan untuk menemuinya, lelaki itu datang menaiki motor dan tak membawa jas hujan. Seluruh tubuhnya basah kuyup, termasuk setangkai bunga mawar yang ingin diberikan untuk Kasih. Kasih tersenyum mengingat kenangan itu. Mawar itu tak layu, tetapi berapa kelopaknya telah rontok di serang hujan. Tampaknya Itu adalah sebuah pertanda, tetapi baik dirinya maupun Tuan Carlos Antonio tidak menyadarinya.
Di lain tempat, Nyonya Aurora termenung dengan ponsel berada di tangan, dalam keadaan layar yang menyala. Setetes air mata lolos dan jatuh ke pipinya.
Dalam layar ponselnya terlihat foto Tuan Carlos Antonio dan Kasih sedang makan bersama.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN