
"Kuya berdiri dong, jangan gitu pinta Mischa.
Gavin tidak menurut dia malah meminta tangan dan Gadis itu pun memberikannya. Cincin yang berada di dalam kotak, kini telah melingkar di jari putih Mischa yang mungil. pas sekali!
"Syukurlah pas ditangan kamu."ucap Mischa lega.
Gavin berdiri dan menatap Mischa yang tampak begitu terpesona, dengan cincin yang melingkar di.
"Kamu suka?
"Mischa mengangguk senang."suka banget Kuya terima kasih!
Gadis itu menghambur kepelukan agama yang terperanjat mendapat pelukan tiba-tiba seperti itu. Namun dia segera membalas pelukan Mischa dengan tersenyum senang sekali rasanya melihat mereka Bahagia. Seperti ini, keduanya kini duduk di ruangan Gavin membuatkan kopi untuk mereka berdua.
Tapi Kuya, yang lain pasti bakalan nanya dari mana aku dapat cincin ini. Apa selama kerja aku lepas saja." tanya Mischa bingung
"Benar juga." pikir Gavin. Namun dia merasa tidak rela jika Mischa harus melepas cincin itu. Meski hanya sebentar Dia sangat suka melihatnya berada di jari Mischa.
"Kamu bilang saja menang giveaway." saran Gavin
Emangnya ada giveaway yang ngasih hadiah, sama hal ini." tanya Mischa tak percaya Gavin mengedipkan bahu lalu tertawa ringan. Nggak tau juga kuya nggak pernah ikut."
"Iya, ya justru harusnya aku ya, yang adain giveaway.
Gavin terdiam membuat Mischa terheran-heran. Pria itu kemudian menjentikkan jarinya
"Ide bagus, itu belakangan ini ada beberapa produk yang kurang diminati pelanggan kayaknya perlu ada energi. Supaya rame lagi bener nggak tanya Gavin.
Mischa mengangguk setuju kasih hadiah yang lagi trend juga Kuya, kayak iPhone keluaran terbaru atau voucher ojek online dan lainnya.
"Iya, ya nanti deh, Kuya ajuin ke divisi pemasaran.
"Bukan Tuan Aris pemimpinnya?
Gavin menyemburkan kopi yang baru saja disebutnya. Mischa terkejut dan segera menarik beberapa lembar tisu dan memberikannya kepada Gavin.
"Ya ampun, Kuya, sampai trauma dengar nama Om Aris." ucapnya sama-sama bersihkan cipratan kopi.
Mischa tertawa merasa itu benar-benar lucu.
"Kamu ngeledek Kuya, ya?"tanya Gavin
Mischa masih tertawa serasa mengibaskan tangan. Gavin pun ikut tertawa melihatnya.
"Kamu memang belum ada rencana mau pulang kampung?"tanya Gavin mengalihkan pembicaraan
Belum ada Kuya, kenapa?
"Kuya kan harus segera menemui bapak dan ibu."
Mischa terdiam sejenak secepat itu kuya?
__ADS_1
"Semakin cepat, semakin baik kan pernikahan itu, Hal yang baik. Jadi jangan dilama-lamain. Gavin kemudian teringat dengan usia Mischa Yang masih bisa dikatakan cukup muda, atau kamu belum mau nikah sekarang, nggak mau nikah muda?
Mischa menggeleng. "Bukan itu kok Kuya. di kampung aku, perempuan itu tamat SMA langsung pada nikah. Bahkan sebagian nggak tamat sekolah malah yang seumuran, aku itu udah di cap perawan tua."
Berarti masalahnya bukan itu. "Terus apa dong?" tanya Gavin penasaran.
"Wajah Mischa berubah serius. Kuya nggak minta izin ke mama Kuya dulu. Bukannya itu yang lebih penting sekarang
Mischa tidak salah. Gavin pun sudah memikirkan tentang itu.
"Jadi kamu duluan yang mau ketemu sama mama."Kuya
Hmm...
Ngak apa-apa. Kalau Papa orangnya lebih santai, dia nerima saja. papa Kuya sudah bilang iya.
"Serius? tanya Mischa tak percaya.
"Papa, malah nunggu jawaban dari kamu."
Mischa terperangah. Benarkah semudah itu? Tuan Carlos Antonio benar-benar menyetujui hubungannya dengan Gavin begitu saja?
"Papa itu beda dengan mama. Semua orang juga mengakui kalau Papa orangnya dermawan dan humble. Beda dengan mama yang bisa dibilang sombong dan suka mengkotak-kotakkan status sosial."
"Jujur, Kuya juga terikut dengan sifat mama. baru sejak ketemu sama kamu perspektif Kuya berubah status sosial itu sekedar status. Nggak bisa menjadi patokan kualitas seseorang jelas Gavin."
Oh iya, aku juga pengen nanya ini ke Kuya. "Apa sih yang sebenarnya Kuya lihat dari aku, kan banyak wanita yang lebih cocok sama Kuya, ketimbang aku."
"Memangnya kamu nggak cocok sama aku ya?" goda Gavin
Dahi Gavin mengerenyit. Yang mana?
"Yang duduk di meja kita waktu aku ke toilet itu." Mischa membantu mengingatkan.
"Oh Larissa?
"Iya, kenapa aku ya nggak mau sama dia?.
"Ini dia, ini saatnya Gavin bisa bercerita alasan kenapa dia tidak menyukai Larissa.
Gavin memutar ingatan kembali ke masa SMP nya. Dia ingat meminta homeschooling. Tetapi sang ayah tidak mengizinkan karena ingin dirinya bersosialisasi dengan banyak orang sejak dini.
Sedangkan sebagai calon pewaris perusahaan dia juga mendapat banyak sekali pelatihan dan didikan. Hal itu membuatnya jarang sekali ada waktu bermain meski memiliki teman.
"Gavin sudah siap PR belum? Tanya salah satu teman satu kelas Gavin.
"Sudah, dijawab Gavin singkat. Dia mengeluarkan sebuah buku dari tas dan memberikannya kepada temannya.
"Jangan kasih ke siapa-siapa ya, sama kamu aja.
"Aman." sahut temannya Raditya
__ADS_1
Gavin duduk di kursi sambil menopang Dagu terkantuk-kantuk karena kurang tidur. Meski begitu dia selalu berusaha menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh guru.
"Kamu nggak capek, banyak kegiatan kayak gitu?"
"capek banget." jawab Gavin tapi mau gimana lagi."
"Hari ini kamu mau ngapain aja? tanya Raditya lagi.
"Pulang sekolah latihan karate. Habis itu, les piano. Pulangnya table manner, Ya begitulah." jawab Gavin dengan suara.
"Untung aku punya kakak yang jadi pewaris. jadinya ortu nggak ngarep apa-apa dari aku."
"Beruntung sekali Raditya punya saudara." pikir Gavin. Terkadang dia heran kenapa dia tidak memiliki saudara untuk berbagi beban. Rasanya sulit sekali harus menjalani semuanya sendiri. Di usia semudah ini.
"Eh udah dicek laci meja kamu? biasa kan ada surat rahasia."Raditya mengingatkan
"Oh iya, belum."
Gavin meraba isi laci, dan menemukan beberapa surat. Dia membaca semua isinya dan ada satu surat yang menarik perhatiannya. Dalam surat itu ada seorang anak perempuan yang mengajaknya bertemu di kantin saat istirahat.
"Tidak ada nama, si anak perempuan itu juga tidak memberitahu Bagaimana ciri-cirinya. bagaimana dia bisa mengenali anak itu?
Namun Gavin tetap ke kantin saat istirahat. dan duduk di tempat yang mudah terlihat. Sesuai isi surat anak perempuan itu yang akan menghampirinya. Jadi dia menunggu dengan tenang, dan Tak lama kemudian seorang anak perempuan dengan rambut kepang dua duduk di hadapannya.
"Hallo."sapanya
"Hallo." Gavin menyapa balik.
"Aku Riska yang mengirim kamu surat dan mengajak ketemu." ucapnya
"Oh ya, salam kenal Riska.
Gavin dan anak perempuan bernama Riska itu pun makan bersama dan mengobrol beberapa hal meskipun didominasi membahas tentang pelajaran.
Gavin menikmati waktu bersama Riska. namun keesokan harinya saat bertemu di kantin, Riska malah menghindarinya dan seakan-akan tidak kenal padanya. Sejak saat itu, Gavin dan Riska jadi orang asing begitu saja.
Kembali ke masa kini, Mischa masih belum paham Apa hubungan cerita Gavin barusan dengan ketidaksukaannya pada larissa.
"Jadi waktu reuni Akbar SMP Kuya beberapa tahun lalu, Kuya bertemu lagi dengan Riska. dia sudah nikah dan punya anak satu. Tinggal di las Vegas. jadinya udah nggak baper lagi pas ketemu sama Kuya, udah biasa aja di situlah dia baru cerita alasan kenapa tiba-tiba menghindari Kuya."
Mischa mendengarkan dengan serius. Gavin menyeruput kopi sejenak sebelum melanjutkan cerita.
"Dia bilang, setelah ketemu sama Kuya di kantin, dia di jegat sama Larissa dan teman-temannya. Dia dibully habis-habisan terus diancam kalau masih dekatin Kuya. Larissa dan teman-temannya bakal ngelakuin hal yang lebih parah dari itu.
Mischa terperanjat. Masih SMP saja, kelakuan Larissa sudah begitu?
"Jadi Larissa satu sekolah sama Kuya waktu SMP? Terus waktu reuni Akbar itu dia di mana?" tanya Mischa penasaran.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." PERJUANGAN ABIMAYU."